Connect with us

Ekonomi & Bisnis

Tempe Tembus Pasar Amerika Karena Tingginya Tren Pangan Nabati

Published

on

Dok Kemendag

JAYAKARTA NEWS – Tempe menjadi salah satu produk Indonesia yang berpotensi menembus pasar Amerika Serikat (AS) seiring tingginya tren pangan nabati.

“Kami melihat minat buyer terhadap tempe sangat tinggi seiring berkembangnya tren pangan nabati di Amerika Serikat,” ungkap Atase Perdagangan (Atdag) RI Washington D.C., Ranitya Kusumadewi dikutip Senin (3/8/2026).

Ranitya mengatakan, Indonesia membukukan potensi transaksi sebesar USD 8,3 juta atau sekitar Rp150,7 miliar dalam pameran pangan Summer Fancy Food Show (SFFS) 2026 di New York, AS.

“Potensi transaksi yang dibukukan pada SFFS 2026 menunjukkan produk pangan Indonesia memiliki daya saing dan semakin diminati pasar AS,” ujar Ranitya.

Ranitya menjelaskan, dari penyelenggaraan SFFS 2026 dan serangkaian pertemuan bisnis dengan calon buyer, tempe dinilai sebagai salah satu produk Indonesia yang memiliki prospek paling besar untuk dikembangkan di pasar AS.

Hal tersebut, lanjut Ranitya, didorong meningkatnya tren konsumsi pangan nabati (plant-based food), makanan fermentasi, dan gaya hidup sehat (healthy lifestyle) yang meningkatkan permintaan terhadap produk berbahan nabati.

“Tingginya minat buyer perlu diimbangi dengan kesiapan pelaku usaha dalam menjaga kapasitas produksi, konsistensi pasokan, pemenuhan standar mutu, serta penguatan kemasan dan strategi pemasaran,” jelas Ranitya.

Dengan demikian, kata Ranitya peluang bisnis yang tercipta dapat berlanjut menjadi ekspor yang berkelanjutan.

Paviliun Indonesia menampilkan produk dari enam pelaku usaha dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) meliputi kopi, kakao dan produk cokelat, makanan ringan, serta mi instan.

Tempe sebagai makanan sehat juga tidak ketinggalan. Demikian juga makanan berbahan dasar kelapa, bumbu dan rempah, madu, gula aren, serta aneka pangan olahan.

SFFS 2026 merupakan salah satu pameran makanan dan minuman terbesar di AS yang diikuti sekitar 2.529 peserta pameran dari 57 negara.

Tidak hanya itu, pameran ini mampu menghadirkan sekitar 14.000 pelaku bisnis, mulai dari importir, distributor, peritel, pelaku jasa boga, hingga investor.

AS merupakan pasar ekspor pangan terbesar kedua bagi Indonesia setelah Tiongkok. Pada 2025, nilai ekspor produk pangan Indonesia ke AS tercatat sebesar USD 5,97 miliar, naik 14,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD 5,23 miliar.

Nilai tersebut berkontribusi sekitar 10,1 persen terhadap total ekspor pangan Indonesia ke pasar dunia yang mencapai USD 59,04 miliar pada 2025.

Dalam lima tahun terakhir, nilai ekspor pangan Indonesia ke AS tercatat berfluktuasi, yakni sebesar USD 5,62 miliar pada 2021, USD 6,03 miliar (2022), USD 4,96 miliar (2023), USD 5,23 miliar (2024), dan USD 5,97 miliar (2025).

Pada periode Januari–Mei 2026, total perdagangan Indonesia dengan AS tercatat sebesar USD 18,44 miliar. Dari nilai tersebut, ekspor Indonesia mencapai USD 12,73 miliar, sedangkan impor sebesar USD 5,71 miliar, sehingga Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar USD 7,02 miliar.

Sementara itu, sepanjang 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD 43,80 miliar, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar USD 30,96 miliar dan impor sebesar USD 12,85 miliar.

Pada tahun tersebut, Indonesia juga mencatatkan surplus perdagangan sebesar USD 18,11 miliar. (yog)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement