Kabar
Kertajati Berpeluang Jadi Pusat MRO Strategis untuk Pertahanan Nasional
JAYAKARTA NEWS – Pengembangan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) dinilai memiliki arti strategis yang jauh melampaui kepentingan peningkatan utilisasi bandara.
Marsda TNI Dr. Budhi Achmadi, M.Sc., menilai Kertajati berpeluang menjadi salah satu fondasi bagi pembangunan kemandirian industri kedirgantaraan nasional, sekaligus memperkuat basis industri pertahanan Indonesia.
Menurutnya, MRO merupakan bagian penting dalam siklus hidup industri penerbangan. Pesawat, baik yang diproduksi di dalam maupun luar negeri, tetap membutuhkan perawatan, perbaikan, modernisasi, suku cadang, rekayasa, serta dukungan teknis selama puluhan tahun.
“Negara yang hanya mampu membeli pesawat, tetapi tidak mampu merawat dan meningkatkan kemampuannya secara mandiri, pada akhirnya tetap memiliki ketergantungan strategis,” ujarnya.
Budhi menjelaskan, pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa pusat MRO yang kompetitif tidak cukup hanya mengandalkan hanggar dan landasan. Diperlukan ekosistem yang mencakup tenaga kerja terampil, sertifikasi internasional, kemampuan rekayasa, industri komponen, logistik, pendidikan, riset, hingga kepastian regulasi.
Brasil, Malaysia, Singapura, Maroko, Meksiko hingga Afrika Selatan menjadi contoh negara yang mengembangkan MRO sebagai bagian dari ekosistem industri kedirgantaraan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa MRO dapat berkembang menjadi pintu masuk menuju penguasaan teknologi, manufaktur komponen, pendidikan vokasi dan jasa rekayasa.
Kertajati Jangan Sekadar Jadi Tempat Perawatan Pesawat
Menurut Budhi, konsep pengembangan Kertajati perlu diperluas dari sekadar fasilitas perawatan pesawat menjadi aerospace cluster yang mengintegrasikan MRO sipil dan militer dengan pendidikan, pelatihan, engineering, riset, industri komponen, pengujian dan sertifikasi.
“Jika ekosistem tersebut terbentuk, manfaat ekonominya akan jauh lebih besar. Kertajati tidak hanya menciptakan lapangan kerja bagi teknisi, tetapi juga mendorong tumbuhnya perusahaan komponen, jasa rekayasa, logistik, pendidikan vokasi dan penelitian,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya investasi asing. Namun, investasi tidak boleh berhenti pada pembangunan fasilitas dan penciptaan lapangan kerja. Investasi harus menjadi instrumen untuk memastikan terjadinya transfer kemampuan kepada sumber daya manusia dan industri nasional.
Pelatihan teknisi, sertifikasi tenaga kerja, pengembangan kemampuan engineering, keterlibatan industri nasional serta penguasaan teknologi harus menjadi bagian dari desain kerja sama.
“Ukuran keberhasilan investasi bukan hanya berapa besar modal yang masuk, tetapi berapa besar kemampuan yang menetap di Indonesia setelah investasi tersebut berlangsung,” tegasnya.
MRO Berkaitan Langsung dengan Kedaulatan Pertahanan
Budhi menilai perspektif tersebut menjadi semakin penting ketika Kertajati dikaitkan dengan kebutuhan pertahanan nasional.
MRO pertahanan, katanya, bukan sekadar persoalan efisiensi biaya, melainkan berkaitan langsung dengan kesiapan operasional dan kedaulatan negara.
Ketergantungan terhadap fasilitas pemeliharaan di luar negeri dapat menjadi persoalan serius ketika terjadi krisis, konflik, pembatasan ekspor maupun gangguan rantai pasok global.
Karena itu, kemampuan MRO nasional harus dipandang sebagai bagian dari defence industrial base. Setiap pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) semestinya tidak berhenti pada pembelian platform, tetapi juga mencakup bagaimana alutsista tersebut dirawat, diperbaiki dan dimodernisasi sepanjang masa pakainya.
“Pengadaan, transfer teknologi, pengembangan SDM, pembangunan fasilitas MRO, pengembangan komponen, riset dan penguatan industri nasional harus dirancang sebagai satu kesatuan,” jelasnya.
Kertajati Bisa Menjadi Simpul MRO Asia Tenggara
Dengan pasar penerbangan Indonesia yang besar dan posisi geografis yang strategis, Kertajati memiliki peluang dikembangkan menjadi salah satu simpul MRO di Asia Tenggara.
Namun, Budhi mengingatkan bahwa peluang tersebut tidak otomatis menjadikan Kertajati sebagai pusat MRO regional.
Kertajati harus mampu menawarkan kualitas teknisi, sertifikasi internasional, kecepatan pengerjaan, ketersediaan komponen, dukungan rekayasa, kepastian regulasi serta kepercayaan pelanggan.
Jika kemampuan tersebut berhasil dibangun, pesawat dari negara-negara kawasan dapat menjalani perawatan di Indonesia. Kondisi itu berpotensi mengurangi devisa yang selama ini mengalir ke luar negeri untuk kebutuhan MRO sekaligus membuka peluang ekspor jasa.
Lebih jauh, manfaat terbesar justru terletak pada terbentuknya kemampuan teknologi yang menetap di Indonesia.
“Pertanyaan strategisnya bukan hanya berapa banyak pesawat yang dapat ditangani atau berapa besar investasi yang masuk. Pertanyaannya adalah kemampuan apa yang akan dikuasai Indonesia dalam 10, 20 atau 30 tahun mendatang,” ujarnya.
Menurut Budhi, apabila Kertajati mampu melahirkan teknisi unggul, industri komponen yang kuat, kemampuan rekayasa mandiri, sertifikasi internasional dan kemampuan merawat serta memodernisasi alutsista di dalam negeri, maka kawasan tersebut benar-benar layak disebut sebagai proyek strategis.
“Kertajati bukan sekadar persoalan sebuah bandara. Ia adalah kesempatan untuk membangun ekosistem kedirgantaraan Indonesia,” pungkasnya.
Dengan visi jangka panjang, kebijakan yang konsisten, pembiayaan yang jelas, target terukur dan keputusan strategis yang kuat, Kertajati dinilai berpeluang menjadi salah satu fondasi industri kedirgantaraan nasional sekaligus berkembang sebagai pusat MRO regional.
Ukuran keberhasilan Kertajati pada akhirnya bukan sekadar berdirinya hanggar atau besarnya investasi, melainkan lahirnya kemampuan nasional yang sebelumnya harus dibeli dari luar negeri.***/mel
