Traveling
Sungai Citiis, Surga Tersembunyi Gratis di Kaki Gunung Salak
BOGOR, JAYAKARTA NEWS – Di tengah hiruk pikuk kota Bogor yang tak pernah tidur, tersembunyi sebuah permata alam yang masih alami dan belum tersentuh komersialisasi besar-besaran: Sungai Citiis. Terletak di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, sungai ini menjadi salah satu destinasi wisata gratis yang menyegarkan mata dan pikiran, terutama bagi pecinta alam dan pelancong dengan anggaran terbatas.
Sungai Citiis hanya memiliki luas sekitar 30 meter persegi, namun keindahannya tak bisa diukur dengan angka. Terletak di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (MDPL), kawasan ini termasuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), sebuah kawasan konservasi yang dikenal karena keanekaragaman hayatinya.
Air Jernih dan Udara Pegunungan yang Menyegarkan
Yang menjadi daya tarik utama Sungai Citiis adalah kejernihan airnya yang luar biasa. Saat musim hujan, debit air melimpah dan alirannya menjadi lebih deras—membuat suasana semakin dramatis. Namun, pada musim kemarau, airnya bisa surut cukup signifikan, meski tetap meninggalkan pesona alami yang menenangkan. Aliran airnya yang mengalir di antara batu-batu besar menciptakan panorama alami yang sangat fotogenik.
“Tempat ini cocok untuk yang suka hunting foto alam. Background-nya batu-batu besar, pemandangan bukit, dan udara sejuk. Sangat instagramable,” ujar salah satu pengunjung, Rina (28), yang datang dari Jakarta.
Wisata Murah Meriah, Tanpa Tiket Masuk
Salah satu nilai lebih dari Sungai Citiis adalah tidak adanya biaya tiket masuk. Warga setempat mengelola kawasan ini secara swadaya dan ramah terhadap wisatawan. Pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir motor sebesar Rp 5.000, sementara mobil tidak diperbolehkan masuk ke dalam kawasan demi menjaga kelestarian lingkungan. Bila ingin menggunakan ruang ganti, dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 2.000—biaya yang sangat terjangkau dibandingkan pengalaman yang didapat.
“Selama ini kita kelola sendiri, belum ada pihak luar yang turun tangan. Kami ingin tempat ini tetap alami dan bisa dinikmati siapa saja,” ujar Cecep (40), seorang pedagang makanan dan minuman yang sehari-hari berjualan di sekitar sungai.

Pengalaman Unik: Bertemu Monyet Ekor Panjang
Namun demikian, pengalaman di Sungai Citiis tidak selalu tenang. Di beberapa sudut kawasan ini, sering terlihat kelompok monyet ekor panjang yang berkeliaran bebas. Puluhan primata ini terbiasa dengan kehadiran manusia dan sering menghampiri pengunjung untuk meminta makanan. Sesekali mereka saling bertengkar satu sama lain, memicu kekhawatiran pengunjung, terutama yang datang bersama anak-anak.
Meski begitu, hingga kini belum pernah terjadi insiden serius. “Selama ini belum pernah ada pengunjung yang digigit monyet. Dia cuma minta makanan sama pengunjung, kadang iseng saja,” tambah Cecep sambil tertawa kecil.
Ramai Saat Akhir Pekan
Sungai Citiis dibuka setiap hari hingga pukul 17.30 WIB. Biasanya, lonjakan pengunjung terjadi pada hari Sabtu dan Minggu, saat warga lokal maupun wisatawan dari luar kota memadati lokasi untuk bersantai, bermain air, atau sekadar berswafoto.(Agus Oyenk)
