Sepatu Indonesia Incar Pasar Eropa

 Sepatu Indonesia Incar Pasar Eropa

KEMENTERIAN  Perindustrian mendorong tiga produk unggulan Indonesia yaitu pakaian jadi, tekstil dan sepatu agar lebih memperluas pasar ekspor ke Uni Eropa.

Langkah ini seiring upaya Indonesia yang tengah melakukan negosiasi dengan Uni Eropa terkait perdagangan dan investasi kedua belah pihak.

“Kami melihat potensi dari kedua pihak. Kami juga percaya, kerja sama Eropa dan Indonesia akan terus membaik,” ini sempat dikatakan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto selepas acara forum Diskusi Bisnis Uni Eropa dan Indonesia 2017 di Jakarta.

Negosiasi melalui Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dilakukan, salah satunya untuk mengantisipasi resolusi parlemen Uni Eropa yang dapat mengganggu proses kerjasama kedua belah pihak. Contohnya mengenai kampanye negatif yang digunakan untuk menekan ekspor minyak kelapa sawit Indonesia.

Sambil menunggu penyesuaian standar, kedua belah pihak mesti merundingkan perjanjian dagang agar kesepakatan akhir tercapai.

Salah satu caranya adalah pembahasan komoditas yang sensitif seperti kelapa sawit supaya dibicarakan paling akhir.

“Untuk itu, kami mendorong yang prioritas terlebih dahulu yaitu clothing, footwear, dan tekstil. Mereka juga dorong isu lain,” jelas Airlangga. Ketiga produk tersebut masih dikenakan bea masuk sebesar 12 persen, sedangkan minyak kelapa sawit nol persen, kecuali beberapa produk turunannya yang terkena bea masuk sekitar 10 persen.

Menperin berharap, dengan adanya pembebasan bea masuk, menjadi peluang besar bagi industri Indonesia untuk terus tumbuh dan berkembang. “Karena kita punya daya saing tinggi, sehingga mereka pasang barikade,” jelasnya.

Misalnya, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional telah mampu menunjukkan daya saingnya di tingkat global. Pasalnya, sektor andalan ini telah terintegrasi dari hulu sampai hilir dan produknya dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional.

“Bahkan, khusus untuk industri shoes and apparel sport, kita sudah melewati Tiongkok. Di Brasil, kita sudah menguasai pasar di sana hingga 80 persen,” ungkap Airlangga.

Sebelumnya, Menteri Airlangga meminta perundingan dari Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (IEU CEPA) dapat lebih seimbang untuk kedua belah pihak. Negosiasi ini telah memasuki putaran ketiga yang dilaksanakan di Brussel, Belgia pada September lalu.

“Kami berharap, peraturan-peraturan tersebut dapat menghasilkan keuntungan ekonomis yang terukur, seperti akses pasar yang lebih luas sebagai insentif bagi pihak yang dapat memenuhi kriteria sustainability,” jelasnya.

Menperin mengatakan, perlunya peraturan yang lebih seimbang pada tiga elemen utama di Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa yaitu akses pasar, fasilitasi perdagangan dan investasi, serta kerja sama ekonomi dan peningkatan kapasitas.

“Kami percaya bahwa Indonesia dan Uni Eropa merupakan mitra strategis dalam upaya pembangunan ekonomi,” ujarnya.

Siaran pers Kementerian Perindustrian dalam pada itu menyebutkan bahwa di sektor investasi nonmigas, Uni Eropa tercatat menjadi penanam modal terbesar ke-4 di Indonesia setelah Singapura, Jepang, dan Tiongkok pada tahun 2016, dengan nilai investasi mencapai USD 2,6 miliar atau naik dibanding tahun sebelumnya sebesar USD 2,26 miliar.

Investor dari negara-negara Uni Eropa di Indonesia didominasi antara lain Belanda, Inggris, dan Perancis dengan tujuan utama investasi ke provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Nusa Tenggara Barat. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *