PLN dari Masa Kelam Menuju Era Terang Benderang

 PLN dari Masa Kelam Menuju Era Terang Benderang

PLN di wilayah terdampak gempa di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Januari 2021. (ist)

JAYAKARTA NEWS – Pernah ada masa Perusahaan Listrik Negara (PLN) jadi bahan olok-olok masyarakat. Disebut perusahaan ‘byar pet’, yang berarti kapan saja bisa mati dan hidup secara mendadak, seenak udelnya. Ada lagi istilah ‘pemadaman bergilir’, soal tagihan yang tidak jelas sampai pelayanan yang amburadul, sudah menjadi makanan sehari-hari pelanggan perusahaan plat merah ini.

Semua itu berlangsung pada masa ‘pra sejarah’. Saat ini, sejak era Presiden Joko Widodo, istilah atau sebutan negatif dan bernada mengolok-olok itu sudah sirna. Berbagai program PLN terbukti mampu menepis semua kisah lama yang buruk dan menggantinya dengan pelayanan yang super prima. PLN bergerak dengan pasti, tidak lagi hanya sekedar mengurusi kelistrikan tapi melebar ke sejumlah hajat hidup orang banyak. Sebut saja program “PLN Peduli”, yang bergerak membantu perekonomian masyarakat. Ratusan atau bahkan ribuan UMKM yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara sudah merasakan manfaat program “PLN Peduli” ini.

Saat ini aksi nyata yang langsung dirasakan masyarakat  adalah ketika PLN terjun langsung ke lokasi bencana, seperti gempa bumi atau banjir bandang. Biasanya setiap terjadi bencana, sistem kelistrikan atau penerangan terkena dampak langsung. Dan jika penerangan menghilang, bisa dipastikan situasi di lokasi bencana seperti kembali ke jaman batu. Jika malam gelap gulita, komunikasi pun otomatis lenyap karena tidak ada daya pendukung. Dalam situasi dan kondisi seperti ini lah kehadiran PLN sangat dibutuhkan. Dan PLN juga sangat menyadari perannya itu dan terbukti dalam sejumlah tragedi bencana perusahaan ini mampu membuktikan jati diri sebenarnya.

Keterlibatan PLN saat bencana alam berupa gempa bumi di Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, banjir bandang di Kalimantan Selatan, Manado, DKI Jakarta serta Jawa Barat membuktikan kalau  perusahaan plat merah ini layak diacungi jempol. Gerak cepat dan kesigapan personilnya menjadi gambaran kalau era kelam itu sudah berlalu, berganti era terang benderang.

Bergerak di Lokasi Bencana

Pengalaman berulang kali terjun ke lokasi bencana membuat PLN sudah sangat sigap melaksanakan tugasnya. Sebut saja saat peristiwa gempa berkekuatan 6,2 skala richter yang menghantam Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat 15 Januari 2021 lalu. Gempa dengan kekuatan besar itu meruntuhkan ribuan bangunan, termasuk melumpuhkan penerangan. Tiang-tiang listrik tumbang, sejumlah gardu pun hancur berantakan.

PLN pun segera melakukan gerak cepat. Hari pertama gempa sejumlah petugas dari berbagai daerah langsung diterjunkan. Tiang listrik yang tumbang dipasang ulang, kabel disambung dan sejumlah gardu diperbaiki dengan cepat.  Apakah pekerjaan memperbaiki kerusakan ini gampang? Tentu saja tidak. Petugas di lapangan dihadang berbagai kendala. Terkadang harus menyeberangi sungai di tengah hujan deras disertai petir bergemuruh. Tetapi petugas pantang mundur sehingga dalam tempo singkat penerangan sudah bisa dihadirkan kembali kepada warga korban bencana.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat (UIW Sulselrabar), Awaluddin Hafid juga sangat mengapresiasi semangat kerja petugas di lapangan.  Diakui Awaluddin, bukan pekerjaan mudah memperbaiki 872 unit gardu distribusi yang terdampak gempa dan pelanggan 90.688 kepala keluarga.

Kerja  keras petugas di lapangan sangat memuaskan. Bayangkan saja, di tengah kondisi wilayah yang porak poranda, pada Sabtu 16 Januari 2021, PLN mampu mengaktifkan kembali 528 gardu listrik. Dampaknya, lebih dari 54 ribu pelanggan di Mamuju dan Majene kembali merasakan penerangan di lokasi pengungsian. Bukan cuma itu, alat komunikasi pun bisa kembali berfungsi.

Memasuki hari berikutnya, Minggu 17 Januari 2021, PLN kembali menyalakan 76 gardu. Sebanyak 628 gardu atau sekitar 72 persen dari total 872 gardu terdampak sudah berhasil diperbaiki hanya dalam tempo dua hari. Tercatat lebih dari 64 ribu pelanggan sudah bisa menikmati listrik. Memang  sebagian  besar warga terdampak  masih  berada di lokasi pengungsian guna menghindari  dampak gempa susulan seperti tsunami dan tanah longsor.

Gerak cepat PLN amankan listrik di wilayah bencana dan banjir. (foto: ist)

PLN sempat mengalami kendala pada hari ketiga saat terjadi longsor di jalur Majene sehingga 46 gardu yang sudah menyala kembali mati. Sebanyak 236 personil diterjunkan untuk  melakukan perbaikan. Hasilnya sungguh memuaskan, sebanyak 656 gardu bisa dinyalakan pada hari itu juga.  Dua hari ke depan PLN pun mampu menuntaskan pekerjaannya, menyelesaikan  perbaikan 851 unit gardu dari total 872 gardu terdampak. Sebanyak 16 gardu tersisa belum bisa diperbaiki terkendala kondisi alam. Jalan menuju lokasi gardu belum bisa diakses akibat hantaman gempa. Ke-16 gardu itu berada di Kecamatan Ulumanda, Tapalang Barat, Mamuju dan Kecamatan Malunda.

Seperti biasa, jika terjadi bencana di suatu daerah, PLN langsung menentukan titik perhatian atau titik fokus perbaikan. Sasarannya ke titik vital, fasilitas publik. Misalnya rumah sakit dan kantor pelayanan publik. Khusus di Majene dan Mamuju, PLN langsung ke titik vital RSUD Mamuju dan RS Regional Provinsi Sulbar.

Kepala Bidang Perencanaan RSUD Mamuju, Wahyu, mengaku sempat kelimpungan ketika listrik di pusat pelayanan kesehatan itu tidak berfungsi akibat gempa. Sementara keberadaan listrik sangat dibutuhkan untuk memberikan pertolongan dan perawatan darurat kepada pasien korban gempa. “Nyaris semua pasien yang masuk memerlukan operasi dan tentu saja membutuhkan listrik. Awalnya genset dimanfaatkan. Syukur, PLN bergerak cepat sehingga kami sudah bisa memanfaatkan listrik.  Terima kasih PLN,” ujar Wahyu.

Lokasi vital yang menjadi sasaran PLN satu per satu ditangani. Di antaranya posko-posko pengungsian, Markas Kepolisian Daerah Sulbar, Posko Komando Distrik Militer, Bandara Tampa Padang, Posko Stadion Manakar, lampu penerangan jalan umum di Kota Mamuju, Kantor Telkom, PDAM Rangas, TVRI Sulbar dan kantor Lembaga Pemasyarakatan Mamuju.

Kecepatan gerak PLN di tengah bencana in tak pelak membuat Gubernur Sulawesi Barat, Ali Baal Masdar terharu dan tak henti ucapkan terima kasih dan rasa syukur. Di mata Gubernur, kecepatan kerja PLN memulihkan penerangan sangat luar biasa walau dibayang-bayangi  ancaman  gempa susulan dan pandemi Covid-19.

Bukan Cuma kepala daerah, warga masyarakat juga melihat bagaimana petugas PLN bekerja dengan cepat memulihkan penerangan. Baik warga yang berada di lokasi pengungsian serta yang sudah kembali ke kediaman, semuanya menyampaikan rasa terima kasih kepada PLN. Hidayat, korban gempa yang mengungsi di Posko RSUD Mamuju mengaku berkat PLN dia bisa berkomunikasi dengan keluarganya Sementara Roni, warga  Mamuju, menyatakan  tidak menyangka kelistrikan bisa pulih dengan cepat. Semula pria ini memperkirakan   listrik bisa menyala satu minggu ke depan. “Ternyata perkiraan saya meleset, PLN begitu cepat menyelesaikan,” tutur Roni.

Selain memulihkan kelistrikan, PLN juga memasang VSAT atau stasiun penerima sinyal dari satelit di rumah Jabatan Gubernur Sulbar. VSAT berfungsi sebagai alat komunikasi dan koordinasi antara pemerintah Provinsi Sulbar dengan pemerintah pusat, termasuk dengan Presiden Jokowi. Melalui anak usahanya, ICON, yang bergerak di bidang telekomunikasi, PLN juga memberikan dukungan koneksi internet berbasis optik di rumah Jabatan Gubernur Sulbar. Termasuk pengadaan Wifi gratis di Posko PLN UP3 Mamuju sehingga semua warga bisa memanfaatkannya.

Relawan PLN

Keberadaan relawan PLN dari berbagai daerah bisa jadi merupakan sebuah kunci kesuksesan aksi gerak cepat di lokasi bencana. Kadri, misalnya, petugas kelistrikan asal Palu, Sulawesi Tengah, mengaku  berangkat ke Mamuju dan Majene bersama 24 personil lainnya. Kelompok ini membawa kendaraan dan peralatan mandiri. Menurutnya, aksi ini merupakan bentuk kepedulian petugas PLN dalam membantu pemulihan kondisi kelistrikan di lokasi bencana. “Pasca kejadian kami langsung berkordinasi dengan tim di Mamuju dan kemudian memutuskan segera  berangkat,” tutur Kadri.

Bukan hanya Kadri, sejumlah relawan PLN dari berbagai wilayah berdatangan ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan. Terus terang, seperti diakui Kadri dan teman-temannya, rasa persaudaraan yang kuat menjadi pemicu semangat untuk saling membantu. Memang beban pekerjaan di lapangan sangat berat, semua tim hampir 13 sampai 14 jam setiap hari harus berkutat memperbaiki kerusakan. Mulai pukul 07.00 sampai pukul 20.00 mereka bekerja, malah ada yang harus  sampai tengah malam.

Kondisi medan bekas gempa juga tidak mulus. Beberapa daerah malah merupakan wilayah pegunungan dengan jurang di sekelilingnya. Medan yang berat ini juga sempat membuat  tiga petugas yang ingin melakukan perbaikan jaringan di perbatasan Majene dan Mamuju mengalami kecelakan sehingga menderita luka berat. Mobil operasional yang mereka tumpangi terperosok ke dalam jurang. Dan menyikapi keberadaan relawan PLN ini, Manager Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan PLN Mamuju, Setiawan, mengatakan pihaknya sangat terbantu. “Relawan ini sangat membantu kami di Mamuju dalam upaya  mempercepat pemulihan,” kata Setiawan.

Kelistrikan memang domain PLN. Tapi di lapangan, khususnya di lokasi bencana, PLN juga melibatkan diri di bidang lainnya. Dalam peristiwa gempa di Majene dan Mamuju, PLN juga membuka dapur umum sejak hari pertama bencana. Personil PLN juga piawai memasak sehingga sekitar 2.000 porsi makanan mampu mereka bagikan kepada masyarakat terdampak bencana. “Pasca gempa penjual bahan makanan masih tutup. Memasak pun sulit. Kami mencoba memenuhi kebutuhan utama tersebut,” kata General Manager PLN Unit Induk Wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UIW Sulselrabar) Awaluddin Hafid yang membuka dapur umum di Posko Kantor PLN UP3 Mamuju dan Rumah BUMN Majene.

PLN juga Bantu Evakuasi Warga Terdampak Banjir Februari 2021. (foto: ist)

Bencana Awal Tahun

Mengawali 2021, Sejumlah bencana menghantam Indonesia. Usai gempa di Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, banjir bandang parah tercatat menghantam Manado, Kalimantan Selatan serta DKI Jakarta dan Jawa Barat. 

Di Manado, Sulawesi Utara, hujan lebat menyebabkan beberapa titik di kota Manado terendam. Kondisi ini membuat PLN terpaksa menghentikan sementara operasional 805 unit gardu listrik demi keamanan masyarakat. Memang penonaktifan gardu hanya berlangsung sesaat karena air sudah surut. Minggu, 24 Januari 2021 pagi sistem kelistrikan sudah normal, seluruh gardu terdampak sudah dinyalakan. “Kami mengimbau agar masyarakat tetap waspada jika hujan kembali turun,” ujar Leo Basuki, General Manager PLN Unit Induk Wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo.

Dituturkan Leo, dalam upaya pemulihan pihaknya mengerahkan tim gabungan dari Unit Layanan Pelanggan (ULP) Manado Utara, ULP Manado Selatan, ULP Amurang dan ULP Paniki. “Sebanyak 50 personil bekerja kerjas mengupayakan pemulihan listrik dengan cepat,” urainya.

Aksi serupa juga berlangsung di Kalimantan Selatan. Tercatat sebanyak 1.627 unit gardu distribusi yang sebelumnya padam terdampak banjir, berhasil kembali dinyalakan. “Kerja keras petugas   membuahkan hasil yang menggembirakan. Dalam tempo singkat PLN berhasil menyalakan 99,9% gardu distribusi listrik di wilayah terdampak banjir,” ungkap General Manager PLN Unit Induk Wilayah Kalselteng, Sudirman.

Memang sejak bencana banjir melanda Kalsel pada Rabu, 13 Januari 2021, sebanyak 1.629 gardu distribusi listrik padam. Situasi ini mengharuskan PLN bergerak cepat dan sebanyak 701 personel dilengkapi  146 armada langsung diterjunkan. “PLN terus bekerja sembari memantau debit air di wilayah terdampak banjir. Begitu situasi memungkinkan, perbaikan segera dilakukan sehingga listrik kembali mengalir ke pemukiman warga,” jelasnya.

Gerak cepat PLN mengatasi kerusakan gardu listrik di DKI Jakarta berlangsung lancar. Dalam tempo singkat petugas berhasil menyalakan kembali 500 gardu dan 146 ribu pelanggan yang terdampak banjir. “Gardu terakhir di daerah Kemang yang kita  nyalakan,” ujar  General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya, Doddy B. Pangaribuan.

Di samping menyiagakan personil, khusus di Jakarta, PLN juga menyiapkan 38 perahu karet untuk membantu pengamanan kelistrikan saat banjir. Untuk petugas, instansi ini menyiagakan 2.371 personil yang tersebar di 34 posko, 10 unit genset, 41 unit UPS, 23 unit gardu bergerak, 7 unit kabel bergerak, 15 unit trafo bergerak serta 7 kendaraan deteksi dan operasional di DKI Jakarta dan sekitarnya.

Sosialisasi bahaya banjir terkait dengan kelistrikan, juga gencar dilakukan.  PLN secara rutin mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap bahaya kelistrikan ketika musim hujan dan terjadi banjir. Apabila air mulai masuk ke rumah, warga secara mandiri dapat mematikan listrik dari Mini Circuit Breaker (MCB) pada kWh meter. Selanjutnya warga bisa menghubungi PLN melalui aplikasi PLN Mobile. PLN juga mengharapkan agar pelanggan mencatat meter mandiri melalui aplikasi PLN Mobile. Pelanggan tinggal mengunggah foto meteran listrik pada tanggal 24-27 setiap bulannya. Kemudian, pada tanggal 1 bulan berikutnya akan keluar tagihan berdasarkan angka meteran yang dilaporkan.

Sementara itu Direktur Bisnis Regional PLN Jawa, Madura dan Bali, Haryanto WS menegaskan pihaknya  melakukan gerak cepat dengan menerjunkan  6.170 personil untuk bersiaga melakukan pemantauan kelistrikan dan pengamanan pada daerah terdampak banjir di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Hingga Sabtu, 20 Pebruari 2021, pukul 16.00 WIB, masih terdapat 1.376 Unit gardu distribusi terdampak banjir. Sementara sebanyak 505 gardu distribusi dan sekitar 135 ribu pelanggan telah berhasil dinyalakan PLN nyalakan. “Petugas PLN harus tetap siaga, terutama memantau kondisi wilayah yang terdampak banjir terkait   pemulihan, Yang utama harus memastikan keselamatan masyarakat,” ujarnya dan menambahkan kalau aksi cepat PLN menangani kerusakan gardu listrik serta di rumah warga terdampak banjir di DKI Jakarta dan Jawa Barat berjalan lancar. Ribuan unit gardu listrik di wilayah terdampak berhasil dipulihkan sehingga masyarakat dengan cepat bisa menikmati aliran listrik.

APRESIASI

Ada ungkapan, kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Bisa jadi ungkapan ini menjadi milik PLN, yang terbukti mampu membuktikan kerja kerasnya dengan hasil maksimal. Personil PLN yang diterjunkan ke sejumlah wilayah terdampak bencana terbukti mampu mengatasi masalah kelistrikan yang hancur. Kerjanya cepat sehingga hasilnya juga langsung bisa dinikmati masyarakat.

Kerja keras ini tidak hanya membanggakan tapi juga melahirkan berbagai pujian dari sejumlah kalangan. Ombudsman, misalnya, menilai kerja keras PLN sudah sangat  baik dalam melayani masyarakat yang terkena dampak bencana. Ombudsman menunjuk wilayah Kalimantan Selatan, di mana petugas PLN mampu bergerak cepat mengatasi kerusakan listrik akibat banjir bandang. “Kami menilai PLN memberikan pelayanan kelistrikan yang sangat baik. PLN juga bekerja sangat cepat dan tanggap,” ujar Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi Kalimantan, Hadi Rahman saat menerima kunjungan kerja manajemen PLN Unit Induk Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (UIW Kalselteng), Senin, 25 Januari 2021 lalu.

Bagi PLN, seperti dituturkan Senior Manager SDM dan Umum PLN UIW Kalselteng, Abdan Syakuro, penilaian Ombudsman ini jelas menjadi penyemangat agar lebih meningkatkan kinerja pada masa mendatang. “Banjir yang melanda Kalsel  saat ini tentu  berdampak pada sektor pelayanan publik. Untuk  itu kami menyampaikan informasi terkait pelayanan kelistrikan  kepada Ombudsman sebagai lembaga negara terkait pengawas pelayanan publik,” ungkap Abdan.

Selain Ombudsman, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Arifin Tasrif yang memantau langsung pasokan listrik wilayah terdampak banjir di DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat di Posko Siaga Banjir PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya (UID Jaya), Minggu 21 Pebruari 2021 mengaku sangat puas dengan kinerja PLN. “PLN sudah sangat cepat dan tanggap bersiaga mengamankan pasokan listrik. Ini etos kerja baik yang harus dipertahankan. Untuk beberapa wilayah yang memang masih mengalami banjir, PLN memadamkan pasokan listrik demi keselamatan masyarakat,” tutur Arifin.

Diakui Arifin, listrik memang sangat dibutuhkan masyarakat, terutama dalam kondisi bencana seperti saat ini. “Saya melihat PLN telah bekerja semaksimal mungkin untuk memperbaiki dan kemudian menyalakan listrik untuk daerah yang sudah aman,” tambah Arifin.

Keterlibatan PLN saat bencana alam berupa gempa bumi di Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, banjir bandang di Kalimantan Selatan, Manado, DKI Jakarta serta Jawa Barat membuktikan kalau perusahaan plat merah ini layak diacungi jempol. Gerak cepat dan kesigapan personilnya menjadi gambaran kalau era kelam itu sudah berlalu, berganti era terang benderang. (Melva Tobing)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *