Connect with us

Kolom

Stempel Pesan Padepokan Candra Geni

Published

on

Gde Mahesa

Kisah pengalaman perjalanan penulis, khusus dipersembahkan kepada Jayakarters, sebagai pustaka olah rasa.

Logika memang tidak akan pernah nyambung dengan rasa. Karena Candrageni memang bukan tempat yang dibaca pakai peta. Dia dibaca pakai badan.

Pilihan waktu malam mengunjungi kawasan Candra Geni tentu bukan tanpa alasan. Justru dalam kegelapan harus dapat melatih melihat, kepekaan dalam menangkap vibrasi dan simbol2.

Sisi jalan jelas nampak pohon-pohon bambu yang bisa disebut sebagai “pringseda” yaitu pemisah alam.

Gelap mempunyai makna matinya mata luar. Jalan yang tidak bisa diceritakan mengandung arti bahwa jalan itu tidak untuk diingat. Namun untuk dilewati.

Artinya: kita dipaksa melepas semua “nama jalan”, semua “arah”, semua ego yang ngaku paling tahu jalan.
Itu gerbang pertama. Gerbang Empu Rama.

Di sinilah awal vibrasi mulai terasa, yang sebelumnya telah menyapa dg kulonuwun.

Seperti tak terasa dua kejadian terjatuh dan terpeleset dari motor di perjalanan areal Candra Geni, yang berakibat otot bicept tangan kanan tertarik keatas. Lumayan, dan masih bisa mengendarai motor kembali.

Makna sanepa :
Tangan kanan berarti tangan “nglakoni”, tangan “nggenggam”, tangan “kuasa”.
Otot biceps tertarik bermakna otot yang biasanya untuk mengangkat, dipaksa ngalah. Dipaksa lemas.

Bahasa Candrageni  wisik: “Turunkan tangan. Di sini kamu bukan siapa-siapa. Kamu tamu.”
Jatuh tubuh menyentuh tanah merupakan ritual paling tua di dunia. Yang mengandung pesan telah masuk gerbang Titik Bakar.

Paling penting, adalah tidak mengalami cidera patah, sebab bisa berarti ditahan di dalam guna bermeditasi secara benar.
Candrageni tidak menahan, hanya memberi stempel di lengan sebagai pertanda sudah masuk, sudah dibakar, dan diizinkan keluar.

Pulang melewati jalan setapak penuh semak, tikungan tajam, gelap harus lebih berhati-hati.

Namun yang terjadi jatuh kedua kalinya dg luka berdarah dikaki kiri, yang merupakan
penopang untuk berjalan.
Kaki kiri berdarah seakan memberi pesan “Ujiannya telah selesai di dalam. Tapi ujian jalan pulang baru mulai. Jangan ugal-ugalan setelah dapat wangsit.”

Kenapa beda jalan? Kenapa beda luka?
Karena Masuk tidak sama dengan Pulang.

Masuk berarti dibakar sehingga kena tangan.
Pulang ibarat dibentuk, sehingga kena kaki. Agar langkahnya beda dari sebelum masuk.

Candrageni tidak akan memberi cinderamata batu, namun membuat stempel menggunakan otot dan darah.

Bullllll…. bullllll…. Klepussss….

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement