Pesona Toba, Sempurna Bersama Sari Roma

 Pesona Toba, Sempurna Bersama Sari Roma

KM Sari Roma, berkeliling Pulau Sibandang, Danau Toba. (foto: roso daras)

Jayakarta News – Perawakannya tidak terlalu tinggi, kulitnya hitam. Rambut ikalnya dibiarkan gondrong, dan diikat karet di bagian belakang agak ke atas. Pria berusia 38 tahun ini adalah Hasangabun Rajagukguk. Dialah nakhoda Kapal Motor (KM) Sari Roma.

Siang itu, Jumat (15/11), ia mendapatkan rezeki. KM Sari Roma Dicarter Camat Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Josua Napitupulu STP, untuk melayani para peserta Kemah Pers Indonesia (KPI) yang dipusatkan di Pulau Sibandang, Kecamatan Muara. Tak kurang dari 50 wartawan berbagai media massa cetak dan online, sedia melakukan “Sibandang Island Tour” pagi hingga sore hari itu.

Mengitari Pulau Sibandang, ternyata bukan pekerjaan kesehariannya. “Hanya sesekali saja mendapat carteran seperti ini,” ujar Rajagukguk.

Sehari-hari, ayah lima orang anak ini rutin menakhodai kapal kesayangannya mengarungi dua rute tetap, yakni rute pendek Sibandang – Muara, dan rute panjang Sibandang – Balige.

Rute Sibandang – Muara, hanya berjarak 7,9 km dengan waktu tempuh antara 10 menit sampai 15 menit. Sementara, rute Sibandang ke Balige, harus ia tempuh sekitar dua jam untuk mengarungi jarak 20,6 km.

Tarif yang dikenakan, ternyata tidak mahal. Untuk penyeberangan Sibandang – Muara, hanya Rp 10.000 PP. Sedangkan tarif ke Balige, Rp 25.000 PP. KM Sari Roma, mampu mengangkut hingga 80 penumpang.

Itu artinya, jika kapal penuh, satu trip Sibandang – Muara PP ia bisa mengantongi uang Rp 800.000. Sementara, jika 80 penumpang yang ia angkut menuju Balige, ia bisa mengantongi uang Rp 2 juta. Tak heran, jika dalam satu hari, ia hanya melakukan satu trip perjalanan PP.

Berapa penghasilannya per bulan? Ia hanya tersenyum. Mungkin maksudnya, “Hitung saja sendiri….”

Hasangabun Rajagukguk, pemilik sekaligus pengemudi KM Sari Roma. (foto: roso daras)

KM Sari Roma yang ia kemudikan, adalah kapal kedua yang pernah ia miliki. Kapal lama rusak, dan ia membeli kapal baru 1,5 tahun lalu. “Ini bukan kapal baru. Saya beli ini satu-setengah tahun lalu dari pemilik kapal di Parapat,” ujar Rajagukguk seraya menambahkan, ia menguras tabungannya sebesar Rp 110 juta untuk bisa membeli kapal yang kemudian diberinya nama KM Sari Roma.

Ihwal nama “Sari Roma” ia agak kesulitan menjelaskan artinya dalam bahasa Indonesia. Tapi pendek kata ia menjawab, “Mencari Rezeki”. Jelas itu terjemahan bebas dari bahasa Batak Toba, Sari (cari) dan Roma (marilah atau tibalah). Benar… Sari Roma adalah ladang rezeki Hasangabun Rajagukguk.

Lebih dekat mengenal pria mahal senyum ini, ternyata banyak yang unik. Misal, saat ditanya sejak kapan menjadi pengemudi kapal motor? Anda pasti tercengang kalau mendengar jawaban pendeknya, “Sejak kelas lima SD.”

Ketika ditelisik lebih jauh, wajar kiranya ia sudah menjadi pengemudi kapal sejak usia 11 tahun. Ternyata, ayahnya dulu juga pengemudi kapal motor. Sejak kecil, ia sering diajak menyeberangi Danau Toba, menempuh rute Sibandang – Muara atau Sibandang – Balige.

Karenanya, sejak kecil pula ia sudah bercita-cita meneruskan profesi ayahnya. Tak heran, dengan pengalaman selama itu, Hasangabun Rajagukguk begitu cekatan mengemudikan kapal. Ia mengaku paham seluk-beluk kapal motor, mulai dari mesin, baling-baling, electricity, sampai perawatan.

Bisa karena terbiasa. Itu kesimpulan pendek dari sosok pengemudi KM Sari Roma ini. Kecil perawakannya, tapi begitu lincah saat lari ke bawah geladak, menghidupkan mesin, lalu menyembul ke geladak dan jalan cepat ke ruang kemudi.

Hasangabun Rajagukguk, bergaya di belakang kemudi KM Sari Roma. (foto: roso daras)

Saat semua penumpang sudah di atas kapal, sauh pun dilepas dan ia menarik tuas ke arah belakang untuk putar mundur kemudi. Pelan kapal bergerak mundur. Pada posisi kapal sudah jauh dari dermaga, sigap ia memajukan tuas baling-baling yang terletak di sisi kanan tempat duduknya ke arah depan, untuk putar maju kemudi. Lalu, ia pun menekan tombol horn, klakson kapan yang menggelegar itu.

Berbeda dengan kemudi kapal besar, maka kemudi kapal motor milik Rajagukguk ini tak ubahnya kemudi bus atau kemudi truk diameter 40 cm. Melihat gaya Rajagukguk mengemudi kapal, tak ubahnya melihat pengemudi truk atau pengemudi bus.

Kursi pengemudi KM Sari Roma cukup gagah. Kursinya menggunakan kursi kantor yang biasa disebut kursi manajer atau kursi direktur dengan sandaran tinggi. Pada bagian kaki-kakinya, dibaut mati ke kayu geladak. Ia duduk tegak dengan kaki kiri dijejakkan lurus setengah naik. Sedangkan, kaki kanan, setia pada pedal gas. Pendeknya, sekalipun sandaran kursi lebih tinggi dari kepalanya, ia tampak bergaya ketika duduk di kursi kapten.

Stereo set yang terdiri atas DCD player lengkap dengan speaker aktif terpasang di dasboard kapal sisi sebelah kiri. Begitu kapal melaju, ia pun memasang DVD lagu-lagu riang khas Batak. Jadilah tour keliling Sibandang berlalu dengan suasana hingar-bingar musik Batak yang beradu deru mesin.

Air danau toba yang hijau pekat, serasi benar dengan dataran tinggi pulau Sibandang yang rimbun. Amboy… indah nian hidup ini. (roso daras)

BERITA TERKAIT:

Huta Ginjang, Negeri di Atas Kabut

Saat Crespo’s Berlabuh di Sibandang

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *