Pedagang Es Lilin itu Kini Jadi Pimpinan Dewan

 Pedagang Es Lilin itu Kini Jadi Pimpinan Dewan

Eka Wardana, SIP, Wakil Ketua 3, DPRD Kota Bogor. (foto: ist)

Kisah Sukses Eka Wardana, SIP

Jayakarta News – Sungguh sangat menginspirasi terutama bagi anak-anak didik dan kaum milenial. Bayangkan saja rekam jejak dari seorang penjaja es lilin keliling, kini menjadi Wakil Ketua DPRD Kota Bogor. Fantastis. Selalu ada kisah dahsyat di balik sosok hebat. Dia adalah Eka Wardana, SIP.

Politisi Partai Golkar ini memang bukan sembarang politisi. Meski dikenal sebagai sosok yang sederhana, tetapi ia juga dikenal sebagai pejuang tangguh. Dia menapak cita-cita ingin mengubah nasib dari pribadi miskin menjadi insan yang bisa memberi.

Ini bukan lips service saja. Sungguh kesederhanaan dan sikap membantu dia praktekkan dalam kesehariannya. Tidak saja sebagai politisi, juga sebagai warga biasa, maupun dalam hubungan kekeluargaan.

Kita lihat kisahnya tiga hari lalu. Dia bercerita dengan mimik tulus tanpa mengisyaratkan ingin dipuja-puji. Hari Minggu ada tetangga meninggal. Karena ada kendaraan ambulance pribadi, dia menjadi sopir jenazah menuju ke pemakaman.

“Saya ikhlas melakukan itu hanya karena Allah. Saya tidak mau citra-citraan. Kampanye kan sudah lewat. Itu juga janji saya saat pemilu,” tegas mantan Ketua Karang Taruna Kota Bogor ini dengan penuh isyarat bahasa tubuh yang santun.

Pejabat legislator Kota Hujan ini tidak hanya sederhana dalam tampil dan sikap. Dia juga santun dalam bertutur. Tidak ada kesan dibuat-buat. Ketulusan dan sabar adalah kekuatan Eka Wardhana.

Kenapa dulu dia harus dagang es lilin keliling. Warga asli Bogor asal Kampung Lebak Kantin, Kelurahan Sempur, Kecamatan Kota Bogor Utara itu juga pernah dagang combro. Makanan asli dari Bogor berbahan dasar singkong diparut. Di dalamnya diberi penyedap oncom.

Alkisah sekitar tahun 1978 saat masih Taman Kanak-kanak musibah menimpa keluarganya. Ayahanda diserang penyakit tumor otak. Akibatnya fatal. Kedua mata H. Enjang Jamhari tidak mampu lagi melihat.

Keadaan ekonomi keluarga perlahan mulai berbalik. Dari sukses saudagar mobil alias punya usaha jual beli mobil berputar balik 180 derajat. Impian indah masa kanak-kanak seolah kandas.

Catatan kelam dan pahit sepanjang usia sekolah menjadi bagian simphoni perjalanan hidup Eka. Pelbagai jenis usaha dilakukan demi dapat makan. Termasuk di antaranya dagang es lilin dan combro.

Hingga meninggal sang ayah pada Tahun 2009 silam, sosok ibunda Hj Siti Aisyah adalah pengganti peran ayah. Peran ganda seorang ibu yang lemah lembut penuh kasih sayang bertambah jadi pelindung keluarga.

Berbagai jenis usaha rumahan dilakukan. Hingga akhirnya sang ibu berdagang sayur-mayur. Usaha itu mampu membiayai sekolah ke-5 anak-anaknya. “Ibulah wonder woman kami, ” kenang Eka yang kini menjabat Wakil Ketua 3 DPRD Kota Bogor yang bertanggungjawab soal ekonomi dan Badan Kehormatan Dewan.

Eka Wardana di antara para Pimpinan DPRD Kota Bogor saat jelang Rapat Paripurna bersama Walikota Bogor Bima Arya, Rabu (15/7/2020) di Ruang Sidang Utama DPRD Kota Bogor. (foto: ist)

Tidak berlebihan Eka menyebut ibunya sang pahlawan keluarga. Sebagai bukti pengorbanannya, kelima anak ibu Aisyah sukses secara ekonomi. “Alhamdulillah keluarga kami tidak menderita. Ibadah kami tinggal berbagi hal baik kepada masyarakat yang memang sangat perlu kita bantu, ” kisah Ketua Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat Provinsi Jawa Barat itu serius.

Masih cukup panjang edisi cerita masa susah dari ayah tiga anak ini. Dia jujur bercerita tanpa aksentuasi kesombongan. Kakek satu cucu itu sering mengalami masa-masa susah makan. Kalau habis sarapan pagi tidak menjamin ketemu hidangan di siang bahkan sampai malam.

Masa SD dan SMP sering dimarahin guru. Sumber masalahnya cuma satu: Sering terlambat bayar SPP. Bahkan berbulan-bulan.

Ada kisah dramatis lain, terkait kemiskinannya. Ini kejadian saat hendak dikhitan. Ia harus dibujuk paksa untuk mau ikut sunatan massal. Apa boleh buat, hanya dengan ikut program sunatan massal saja ia bisa sunat, saking tidak ada biaya untuk sunat sendiri. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Eka kecil pun rela antre di acara suantan massal.

Tidak tampak ekspresi malu kader Beringin itu bercerita masa lalunya yang perih. Kang Eka, biasa dia dipanggil, tampak tulus dan jujur saja melepas serial kehidupannya. Ketika ditanya apa obsesi poltiknya. Legislator Golkar berusia 48 tahun tangkas menjawab. “Hanya ingin melayani saja dengan kerja dan kerja sebaik-baiknya.”

Bahkan saat dipancing pertanyaan tajam tentang peluangnya menggantikan H. Tauhid J. Tagor sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Bogor, dia dengan tenang menampik. Musyawarah Daerah Partai Golkar Kota Bogor yang akan digelar 29 Agustus 2020 mendatang tidak membuat syahwat politik Eka Wardhana bergelegak. “Saya sudah bahagia dengan melayani kader Golkar di wilayah (kecamatan),” tangkis Eka. (nat)

Saat reses, Eka Wardhana rutin mengadakan silaturahmi dan jaring aspirasi bersama konstituennya. (foto: ist)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *