Napak Tilas Teater 26 Tahun Lalu

 Napak Tilas Teater 26 Tahun Lalu

Dari kiri: Egy Massadiah, Putu Wijaya dan kru Teater Mandiri di depan La Mama, New York. (foto: dokpri)

Catatan Egy Massadiah
(Ditulis Oktober 2016)

DINGIN dan angin kencang kota New York September tahun 1990 meremas-remas sampai ke tulang. New York memang selalu membuat saya pulang. Iya hari ini, kenangan 26 tahun silam kembali mencuat saat saya bernapak tilas dan mampir sejenak berfoto di La Mama Teater.

Kala itu, 1990, Menteri Luar Negeri Prof Mochtar Kusumaatmaja memiliki program bertajuk “Diplomasi Kebudayaan Indonesia Amerika”. Putu Wijaya bersama Teater Mandiri-nya  berkesempatan  mengisi acara tersebut. Selain Putu, Teater Ketjil pimpinan Arifin C Noer juga mendapat jatah mengusung lakon “Dalam Bayangan Tuhan”.

Putu kemudian menunjuk 5 pemain merangkap crew untuk bergabung. Saya terpilih salah satunya. Kami kemudian melakukan latihan instens tiap malam di Taman Ismail Marzuki Cikini Raya selama hampir dua bulan.

Putu memberi judul “Yell”. Durasinya sekitar 1 jam. Tak ada dialog dan kata-kata. Putu membebaskan dirinya dari alur cerita dan plot. Hanya semburan cahaya yang komandoi Mbah Roedjito, hentakan gerak dan desingan musik yang digarap oleh Harry Roesly dan DKSB-nya. Keduanya kini almarhum.

Lanang Sidemen penari tradisional dari sebuah desa di Bali ikut bergabung dengan geraknya yang sakral dan magis sementara mulutnya memuntahkan mantra-mantra. Adapun saya dan empat pemain lainnya mengelola adegan dengan mengeksplorasi gerakan di balik layar dipandu semprotan lampu kuno. Delapan puluh persen adegan berlangsung di balik layar, jadi yang muncul adalah distorsi bayangan. Bentuknya tak jelas. Memang itu maunya Putu Wijaya. Konsep tontonannya adalah teror, ya teror mental. Jiwa teaternya Bertolak Dari Yang Ada, tak ada yang sia sia.

“Egy kita tidak mungkin manggung di Amerika dengan kecanggihan dan teknologi. Mereka lebih hebat. Kita bawa bahasa kepolosan kita. Kita bawa tradisi teater dari timur, dimana jarak penonton dan pemain lebur dan tak bersekat,” demikian kata Putu kepada kami dalam penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta menuju Los Angelas melalui titik transit di Denpasar, Biak, dan Honolulu. Seingat saya tahun itu merupakan penerbangan terakhir Garuda Indonesia ke Amerika dengan pesawat Boeing 747.

Di Amerika kami mendapat jatah pentas di empat kota masing masing dua malam. Di Wesleyan University Connecticut, terus di kawasan off off Broadway New York, kemudian di Seattle dan terakhir di California Los Angeles. Di empat kota itu kami mendapat sambutan istimewa. Di mata penonton Amerika, tontonan teater yang kami bawakan sangat “brutal” dan meneror. Mereka bilang meski tidak mengerti alur cerita namun bisa me “rasa” kan sukma “Yell” itu.

Ke “La Mama” Egy kembali. (foto: dokpri)

Kembali ke kisah napak tilas saya di La Mama. Jadi selain manggung kami juga mendapat kesempatan menyaksikan beberapa tontonan teater di Broadway dan off off Broadway. Ya salah satunya ya di La Mama itu.

Yang saya ingat kami diajak Rachel Cooper seorang penggiat seni Indonesia nonton Pinabausch kelompok teater asal Germany. Tahun 1990 itu kami pun berkenalan dengan bosnya La Mama seorang perempuan hitam nyentrik bernama Ellen Stewart. Ellen Stewart bersahabat dengan Putu Wijaya. Keduanya berkenalan pertama kali saat Putu tinggal dan mengajar selama 3 tahun di Wisconsin University Madison dan Cornell University di Ithaca atas undangan Fullbright tahun 1985. Salah satu murid Putu yang sampai hari tetap berhubungan dengan kami Cobina Gillitt, PhD teater yang kini menjadi dosen di NY.

Selain itu kami anggota teater Mandiri diberi kesempatan membagi pengalaman kepada mahasiswa Teater di New York University. Karena bahasa Inggris kami super pas-pasan maka kami lebih banyak berbahasa tarzan. Ada sekitar 40 mahasiswa yang antusias mengikuti workshop yang kami berikan.

Mahasiswa NYU yang ikut workshop selalu mendahulukan “logika” dan “saya pikir”. Nah kami datang dengan mengajak mereka keluar sejenak dari cara itu: dengan memberi ruang kepada “rasa dan perasaan”. Sejenak mengajak mereka tidak menggunakan “pikiran” dan hanya mengikuti alur “rasa dan perasaan”. Beragam gerakan yang sifatnya mengolah rasa dan batin kami sajikan dalam workshop tersebut.

Saat mampir menyeruput capucino panas di Le Paint, Corin suami Cobina berkisah bahwa penyair hebat Indonesia WS Rendra pernah menjadi mahasiswa teater di THE AMERICAN ACADEMY of DRAMATIC ARTS New York sekitar tahun 1964-1967.

Salah seorang adik kelas Rendra adalah aktor terkenal Danny De Vito yang aktingnya sangat memukau di sejumlah layar lebar besutan Hollywood: aktingnya yang saya suka saat dia bermain dengan Arnold Swarhzenegger dalam Twins.

Angin kencang kembali menyalak di kota NY saat saya berfoto-foto. Saya pun senang karena berhasil memanggil kembali kenangan dahsyat 26 tahun silam.

Sebelumnya saya sempat mampir di Indonesian Fashion Gallery yang dikelola oleh Vanny, wanita berdarah Ambon yang sudah menjadi warga New York. Di gallery yang sejuk itu saya sempat melihat tanda tangan ibu Mufidah Jusuf Kalla saat berkunjung pada September 2016. Ibu Mufidah memang penyokong setia kerajinan bernuansa Indonesia. Saya pun sempat berkenalan dengan Sheila Tejana gadis manis asal Bali yang sedang memperdalam ilmu fashion di NY.

Itulah napak tilasku. Tabik

( www.lamama.org )

74A East 4th St

New York, NY 10003

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.