Connect with us

Buku & Sastra

Mendengar Jerit Bumi Lewat Bait-bait Puisi

Published

on

Novi Indrastuti

Novi Indrastuti sedia meluncurkan dua buku puisi: “Sang Dewi” dan “Negeri Sang Penari”. Kedua buku itu akan diluncurkan Sabtu, 23 Agustus 2025, bersama dua buku lain. Masing-masing buku kumpulan puisi karya bersama Kagama Poetry Reading: “Ketika Alam Bicara”, dan satu buku fotografi karya Harno DP: “Cahaya Ilahi”.

Launching empat buku itu menjadi angeda Sastra Bulan Purnama (SBP) edisi 167. Acara dimulai pukul 15.00 WIB, bertempat di Museum Sandi, Kotabaru, Kota Yogyakarta.

Menurut koordinator SBP, Ons Untoro, karena acaranya melibatkan Komunitas Kagama Poetry Reading, maka tajuk acaranya ‘Kampus Biru di Bulan Purnama’. Kampus Biru adalah julukan untuk Universitas Gadjah Mada, merujuk pada novel “Cintaku di Kampus Biru” karya Ashadi Siregar yang diterbitkan tahun 1974, dan meraih sukses ketika diangkat ke layar lebar.

“Ketika Alam Bicara”

Dalam kesempatan itu, Ketua Kagama Poetry Reading (KAPOETRED), Novi Indrastuti menyoroti secara khusus buku kumpulan puisi “Ketika Alam Bicara”. Buku yang ditulis Kapoetred, sebuah komunitas pencinta puisi yang beranggotakan alumni Universitas Gadjah Mada berasal dari berbagai disiplin ilmu.

“Buku antologi puisi ‘Ketika Alam Bicara’ adalah buku kedua yang kami terbitkan,” ujar Novi, yang pengajar Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Menurutnya, soft launching ini menjadi momen penting bagi komunitas yang telah secara konsisten menghidupkan literasi sastra. “Di samping itu, sekaligus untuk menyalurkan kepedulian terhadap isu lingkungan melalui puisi,” ujar Novi, peraih gelar doktor di bidang sastra dari Universitas Kyung-nam, Korea Selatan, itu.

Novi yang seorang ahli di bidang teori puisi, semiotika, dan sastra lisan itu juga menjelaskan ihwal tema “Alam dan Lingkungan”. “Antologi ini menghadirkan suara-suara penyair yang merekam, mengabarkan, dan menyuarakan jerit bumi di tengah ancaman kerusakan ekologis,” katanya.

Disebutkan, buku tersebut berisi puisi karya 58 kontributor anggota KAPOETRED. “Masing-masing menyajikan ragam suara, ada yang lirih, ada yang lantang, ada yang penuh doa, ada yang menggugat dengan getir. Ada pula yang mengajak kita duduk sejenak menikmati keindahan bumi,” kata Novi yang juga dikenal aktif di organisasi DERU UGM (Disaster Response Unit Universitas Gadjah Mada).

Lima Tema Besar

Menurut Novi, kumpulan puisi ini dibagi menjadi lima tema besar. Pertama “Tubuh Bumi yang Terluka” yang berisi elegi kolektif tentang luka ekologis. Kedua, “Kritik dan Resistensi terhadap Kerusakan Alam” yang menyuarakan protes terhadap keserakahan industri dan abainya hukum.

Ketiga, “Doa-doa untuk Bumi” yang menempatkan alam sebagai entitas suci dan bagian dari spiritualitas manusia, Keempat, “Perubahan Iklim” yang menggambarkan musim-musim yang bergeser dan cuaca yang tak menentu. Dan kelima, “Keindahan Alam” yang memotret lanskap-lanskap menenangkan sekaligus memotivasi manusia untuk melestarikannya.

“Alam sesungguhnya tidak pernah benar-benar diam. Ia bersuara lewat daun yang layu, sungai yang keruh, tanah yang retak, dan langit yang tak lagi teduh, tetapi suara itu sering luput dari telinga kita. Puisi-puisi dalam buku ini adalah cara kami membantu manusia untuk kembali mendengarkan,” ungkap Novi Indrastuti, yang juga Ketua Kagama Poetry Reading.

Adapun para pembaca puisi yang akan tampil, Novi Indrastuti, Sriyanti, Sastro Prayitno, Risma Nur Rahmawati, DjakMa, W.S. Dona Ikasari, Rin Surtantini, Yoseph Yapi Taum, Vidya  Devia Ardania, Sabatina RW, Darwito, Roro Hastina, Sonia Prabowo dan Harno Depe. Lagu puisi dan musikalisasi puisi akan diisi oleh Yupi dan Gati Andoko.

Ons Untoro Koordinator Sastra Bulan Purnama (SBP) menyebutkan, sinergi antara SBP dan Kagama, khususnya Komunitas Kagama Poetry Reading adalah sebuah keniscayaan. Terlebih perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Sastra. Harapannya, antara perguruan tinggi dan komunitas sastra bisa saling mengisi dan menguatkan.

“Sinergei perguruan tinggi, yang telah berlangsung selama dua tahun ini, bahkan kami jalin dengan sekolah tinggi yang tidak memiliki jurusan sastra, dalam hal ini  STPMD ‘APMD’,” ujar Ons Untoro. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement