Connect with us

Buku & Sastra

Kisah Ika Zardi Saliha, Pengawas Madrasah yang Menulis Puluhan Buku Puisi

Published

on

Namanya Ika Zardi Saliha. Itu nama pena. Sedangkan, nama aslinya adalah Barokatussalihah, S.Ag., M.Si. Profesinya guru.

Ika adalah guru Madrasah Tsanawiyah (MTs), sekolah menengah tingkat pertama. Terakhir, Ika menjabat Pengawas Madrasah di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Hingga hari ini, ia telah menulis di lebih dari 70 buku (kebanyakan antologi puisi). Bahkan beberapa tahun terakhir, Ika mulai merambah dunia geguritan. Puisi berbahasa Jawa.

Nah, Sabtu 20 September 2025, akan ada dua judul buku lagi karya Ika yang diluncurkan di momentum Sastra Bulan Purnama edisi ke-168. Acara itu akan berlangsung di Museum Sandi, Baciro, Yogyakarta mulai pukul 15.30 WIB.

Dua buku itu terdiri atas satu buku geguritan dan satu buku kumpulan puisi. Buku geguritan diberinya judul “Kembang Srengenge”, sedangkan buku puisinya berjudul “Nenek Penjual Geblek”.

Dua judul yang sama-sama menarik. Kembang artinya bunga, sedangkan srengenge artinya matahari. Pada judul buku karya puisi, Ika mengangkat kuliner tradisional khas Kulonprogo yang disebut “geblek”.

Geblek terbuat dari tepung tapioka atau singkong dan bumbu bawang, disajikan dengan sambal atau cabai rawit, dan sering dipadukan dengan tempe seperti tempe kacang koro sengek atau tempe lainnya. Makanan ini adalah camilan tradisional khas Kulonprogo yang memiliki tekstur kenyal dan rasa gurih.

Ada apa dengan si nenek penjual geblek, sehingga dijadikan judul pada buku puisi karya Ika? Pasti ada yang menarik di sana.

Bukan Orang Baru

Nama Ika Zardi Saliha, bukan nama asing di dunia sastra Yogyakarta, bahkan di tingkat nasional. Sejumah karyanya sudah diterbitkan dalam bentuk buku, baik buku tunggal karyanya maupun antologi puisi bersama penyair Indonesia dan juga antologi cerpen bersama penulis cerpen perempuan di Indonesia.

Ika sering tampil membacakan puisi karyanya bersama komunitas sastra yang ada di Kulonprogo, Bantul, Sleman, dan Yogyakarta. Di Sastra Bulan Purnama, Ika beberapa kali ikut membaca puisi dan cerpen. Ia juga membaca karyanya di komunitas Selasa Sastra di Bantul.

Dalam karya geguritan dan puisi yang akan diluncurkan, selain diolah menjadi lagu dan dimusikalisasikan, akan dibacakan oleh beberapa komunitas, tempat dimana Ika aktif. Beberpa komunitas itu ialah; Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY), Lembaga Budaya Seni dan Olah Raga ‘Aisyiyah’ (LSBO), Remaja Geblek Bersastra (Regas) Kulunprogo, Sanggar Seni Sastra Kulonprogo (Sangsisaku), Perempuan Berkebaya Kulonprogo, Dharma Wanita Persatuan Kementrian Agama Kulonprogo, dan Sastraku (Sastra Kulonprogo).

“Saya memang memilih menulis sastra menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Karena kedua bahasa ini sangat dekat dengan hidup saya, sehingga saya tidak bisa meninggalkan kedua bahasa tersebut dalam menulis karya sastra, dalam hal ini geguritan dan cerkak (bahasa Jawa), puisi dan cerpen (bahasa Indonesia),” kata Ika Zardi Saliha.

Musikalisasi puisi akan menampilkan Ugeng Iway, Yupi, Ami Simatupang, dan Amri Marfid. Yupi, pelantun lagu puisi dari Ngluwar, Magelang, sudah sering menggarap puisi menjadi lagu, dan tidak hanya ditampilkan di Sastra Bulan Purnama, melainkan ditampilkan di komunitas-komunitas lain.

Sastra Bulan Purnama memang memberi ruang terhadap sastra Jawa untuk tampil, baik berupa geguritan dan cerkak. Beberapa edisi sebelumnya di tahun 2025, buku kumpulan cerkak dan geguritan telah di-launching di Sastra Bulan Purnama oleh komunitas dari Semarang dan Sragen.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama mengatakan, sebagai ruang ekspresi. SBP kependekan dari Sastra Bulan Purnama, tidak hanya diperuntukkan bagi sastra Indonesia, sastra Jawa, dalam hal ini gegiritan dan cerkak diberi kesempatan yang sama.

Selain pertunjukan, SBP membuka ruang untuk diskusi buku, dan tidak selalu menyangkut buku kumpulan puisi dan cerpen, melainkan buku-buku lain dalam konteks kebudayaan, jurnalisme, politik, demokrasi dan keadilan. “Diskusi bisa dilakukan di Museum Sandi, DPRD DIY dan tempat-tempat lain,” kata Ons Untoro.

Sekilas Ika

Tentang Ika. Ia bukan saja penulis puisi dan geguritan dan cerkak yang produktif, tetapi juga seorang guru berprestasi. Tahun 2016, Ika menyabet predikat Guru Berprestasi Tingkat Nasional. Sebagai apresiasi dari pemerintah, tahun 2017 ia dikirim mengikuti Short Course di Finlandia bersama sejumlah guru berpretasi lain.

Tak hanya itu. Tahun 2019, Ika mendapat panggilan telepon dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Seseorang di ujung telepon bertanya, “Bu Ika, hingga saat ini sudah menulis berapa buku?”

Ika spontan menjawab, “Sekitar 45 buku.”

Dibalas kemudian, “Kalau begitu Ibu Ika persiapkan diri, besok kami tunggu di Jakarta untuk menerima piagam penghargaan.”

Tergopoh-gopoh Ika mempersiapkan diri memenuhi panggilan dari Kementerian Agama di Jakarta. Setiba di Jakarta keesokan harinya ia menerima Piagam Penghargaan untuk kategori Guru Inspiratif dan Produktif yang menulis 45 buku. “Itu tahun 2019,” tambahnya.

Belum lagi prestasi dan penghargaan yang ia terima mulai dari tingkat Kabupaten (Kulonprogo) dan provinsi (Daerah Istimewa Yogyakarta).

Menulis puisi bagi Ika adalah hobby yang sangat menyenangkan. Terlebih saat hujan turun. “Saya adalah penyuka hujan. Di saat hujan, saya sering mendapat diksi baru, bahkan inspirasi baru untuk menulis,” katanya suatu saat.

Ihwal tips menulis, menurut Ika, sederhana. “Jangan berhenti, jika sudah memulai. Catat setiap menemukan diksi baru. Bisa dicatat di notes, di HP, bahkan di telapak tangan, bila perlu,” ujarnya sambil tertawa. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement