‘Mencari Film Madani’

 ‘Mencari Film Madani’

Jayakarta News – Apa itu Film Madani? “Film-film yang bercerita tentang umat Islam dan permasalahan khasnya,” ujar Doktor Kajian Film, Ekky Imanjaya ketika meluncurkan buku berjudul ‘Mencari Film Madani – Sinema dan Dunia Islam’ di Kampus Bina Nusantara JWC, Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Bagi Ekky, film madani tentang ‘living Islam’, tentang ‘kemusliman’ dan seluk beluk bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang muslim. Buku yang diterbitkan oleh Komite Film Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Madani Film Festival ini merupakan kumpulan tulisan Ekky dalam rentang waktu sekitar 10 tahun (2008-2018) berbicara lima hal : ulasan seputar film yang merepresentasikan masalah umat Islam secara khusus, film tentang dinamika dunia Islam secara global, ‘film Islami’ populer, film tentang sejarah dan sejarah film (termasuk biopic) dan terakhir ‘film Islami’ sebagai kritik sosial.

“Bagaimana pun, film tidak hanya sekadar hiburan. Melihat ulasan-ulasan film sepanjang sejarah kontemporer, sedikit banyak pembaca akan terbawa untuk melihat dinamika perubahan  zaman dan dunia saat film-film itu diproduksi dan diedarkan, dari segi politik, budaya, ekonomi dsb,” terang Ekky yang meraih gelar master di Universiteit van Amsterdam (Belanda) dan doktoral di University of East Anglia (Norwich, Inggris).

Kumpulan ini menjadi unik sekaligus penting dalam konteks tumbuhnya genre film religius didalam perfilman kita dari masa ke masa. Sementara, masih jarang yang membahas soal ini dari dalam, Ekky menawarkan perspektif yang berpijak dari pengalamannya aktif di dunia dakwah semasa mudanya, wartawan dan pengamat film. Dalam diskusi di peluncuran buku tersebut juga dihadiri Inaya Wahid (pekerja seni, puteri ke empat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan Haidar Bagir (penulis, Direktur Penerbit Mizan) sebagai pengulas.

Inaya Wahid mengemukakan inisiatif Ekky lewat buku ini tidak hanya penting untuk membuka diskursus mengenai dunia keIslaman dalam film Indonesia. “Tapi juga menjadi dokumentasi penting dalam mempelajari realita dunia Islam di Indonesia,” ungkap Inaya Wahid.

Senada yang dipaparkan Haidar Bagir. “Film madani adalah yang nenyampaikan nilai- nilai keadaban (civility) keislaman, yang memang lebih mungkin diungkapkan dalam nilai- nilai intrinsik dan autentik ketimbang simbol-simbol yang berjarak : tentang pentingnya moralitas, harmoni, toleransi, keramahan pada manusia dan alam serta apresiasi kepada keindahan (ihsan),” jelas Haidar Bagir. Sebuah karya penting yang tidak hanya dimiliki dan dibaca oleh umat Islam, tapi juga nonmuslim. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *