Lakon “Sri Sadana” Tandai 44 Tahun Senawangi

 Lakon “Sri Sadana” Tandai 44 Tahun Senawangi
Dalang Ki H. Manteb Soedarsono membawakan lakon “Sri Sadana” memperingati HUT ke-44 Senawangi di Taman Mini Indonesia Indah. (ist)

Jayakarta News – Merayakan ulang tahunnya ke-44, Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk bersama Dalang Ki H.Manteb Soedarsono. Pergelaran wayang dengan lakon Sri Sadana yang bermakna kebutuhan nyata atas sandang dan pangan dengan juga menyatukan pendapat untuk saling menjaga tanah, air dan udara serta segenap lingkungan alam semesta.

Gelaran lakon wayang kulit Sri Sadana telah berlangsung dan diminati bejibun komunitas penyuka seni wayang klasik di Gedung Pewayangan Teater Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, akhir pekan ini.

“Raden Sadana adalah simbol kehidupan, sosok yang memiliki watak murah hati, baik budi, sabar dan bijaksana. Bersama kakaknya, Dewi Sri, ia dikenal sebagai Dewa lambang kemakmuran hasil bumi,” ujar Ki H. Manteb Soedarsono dalam keterangannya.

“Sadana sebagai Dewa hasil bumi diyakini mempunyai tugas memberi kemakmuran kepada masyarakat. Cerita ini sangat relevan dengan budidaya pangan dan kesuburan tanah Nusantara. Pentingnya perbaikan dan peningkatan perekonomian nasional melalui pangan,” lanjutnya.

Pergelaran wayang kali ini, sekaligus membuktikan bahwa kesenian Wayang tidak hanya digemari para usia tua, melainkan juga anak-anak muda. Buktinya gelaran wayang kulit semalam suntuk tersebut ikut disaksikan para Penggemar Sejati Manteb Sudarsono (PSMS) yang berdatangan dari seluruh Indonesia, dengan catatan tontonan wayang menciptakan suasana aman tenteram tanpa menimbulkan perkelahian warga.

Ki Manteb dikenal dekat dengan masyarakat muda. sehingga dirinya belakangan ikutan berpentas kekinian membawa peralatan musik modern ke atas pentas seperti perangkat instrumen Drum yang biasa digunakan pemusik anak muda selain Tambur, Biola dan Terompet.

Mungkin juga Ki Manteb disukai anak muda karena suka melontarkan kritik-kritik pedas mulai dari zaman edan, kejahatan narkoba yang kerap sambil ditembangkan dengan lantang dengan syair ciptaannya sendiri. “Tapi kenapa setelah diberantas ya tidak habis-habisnya, saya sampai judeg gak bisa mikir, karena sebenarnya saya memang cuma bisa mengingatkan tapi bukan asal kritik karena diberikan solusinya seperti juga untuk para wakil rakyat serta pejabat pemerintahan yang korup,” ungkapnya,

Pergelaran wayang kulit kali ini untuk pertama kalinya disiarkan secara live streaming yang bisa ditonton langsung masyarakat dunia di 26 negara. Jadi, ditengah pertunjukan dimungkinkan Ki Manteb memenuhi permintaan menembang dari warga yang menetap di Hong Kong, Korea araupun dari mana saja sehingga mampu membuktikan seni wayang klasik terus membumi dan mendunia. “Lumayan kan kalau ada permintaan, ada honor tambahan dalam bentuk dolar,” ujar Ki Manteb berkelakar menjelang pertunjukan.

Menurut Ketua Umum Senawangi Suparmin Sunjoyo, momentum ulang tahun Senawangi ini diharapkan dapat menjadi ingatan bagi para penggiat budaya untuk terus menampilkan entitasnya sebagai elemen humaniora yang mampu menumbuhkan kepekaan nurani.

Sebagai lembaga konservasi, preservasi, dan inovasi seni pewayangan, kata Suparmin, Senawangi telah melakukan berbagai langkah. “Karya kesenian setidaknya dapat menjadi mata rantai ikon peradaban bangsa yang santun, terhormat, dan bermartabat. Dalam skala mikro para pelaku seni dan budaya agaknya perlu sigap menangkap berbagai momen globalisasi,” katanya.

Kehadiran komunitas dan berbagai kantong budaya, ungkap Suparmin, menjadi penting dan urgen sebagai katalisator kebudayaan; penguat ketahanan dan identitas kebangsaan. “Sudah lama negeri kita dikenal sebagai bangsa yang kaya budaya. Keragaman budaya dengan corak multikultur sudah menjadi brand mengagumkan. Pada titik inilah sebuah komunitas budaya yang sekaligus sebagai salah satu pemangku kebudayan bisa mengambil peran,” urainya.

Dalang Ki H. Manteb Soedarsono (mengenakan blangkon) didampingi Drs. Suparmin Sunjoyo, Ketua Umum Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi), Eny Sulistyowati SPd, SE, MM (Ketua Bidang Humas dan Kemitraan Senawangi), dan Ketua Pelaksana HUT Ke-44 Senawangi, Yatto HS, SH., MM, usai bincang santai dengan para wartawan sebelum pementasan wayang, yang berlangsung di Gedung Pewayangan Teater Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Jum’at malam (16/08/2019).

Pada saat yang sama, Ketua Bidang Humas dan Kemitraan Senawangi, Eny Sulistyowati menjelaskan, Senawangi telah berupaya mendekatkan seni Wayang kepada generasi muda dengan cara yang lebih progresif. Termasuk ikut mencegah korupsi dan menanggulangi korban narkoba bekerjasama Badan Narkotika Nasional melalui berbagai proses kreatif seni Wayang, yang melibatkan kalangan muda.

“Sesuai tuntutan zaman, kesenian Wayang harus dikembangkan secara inklusif. Lebih terbuka terhadap nilai-nilai baru yang lebih mudah diterima masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai filosofis yang dibawanya. Masalah pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran narkoba misalnya, pesannya dapat disisipkan saat pertunjukan Wayang,” ujar Eny Sulistyowati.

Pengurus Senawangi, lanjut Eny, terus berupaya bagaimana mengenalkan kesenian Wayang di kalangan anak muda atau kids zaman now, baik dari segi konten maupun konteksnya. “Budaya adiluhung ini dapat dikenal, diturunkan, dan diwariskan kepada masyarakat, terutama generasi muda,” ujarnya.

Pencapaian Senawangi lainnya, kata Eny, adalah pengakuan Negara dan penetapan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional yang telah ditandatangani Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

“Pengakuan ini merupakan perjuangan panjang Senawangi. Dari mulai proses pengusulan (tahun 2001-2003), hingga penerimaan penghargaan UNESCO yaitu Wayang Indonesia sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak 2013 lalu. Atau, tepatnya dikukuhkan Paris pada 7 November 2013. Maka tanggal itulah yang kemudian kami usulkan sebagai Hari Wayang Nasional,” terang Eny.

Perayaan HUT Ke-44 Senawangi, lanjut Eny, menjadi momentum pihaknya untuk kembali melanjutkan apa yang sudah dan belum dilakukan SENA WANGI. Antara lain, penetapan renstra (rencana strategis), jangka panjang pengembangan pewayangan Indonesia, tahun 2010 hingga tahun 2030. (john js)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *