Kumandang Musik Batu di Kota Senju

 Kumandang Musik Batu di Kota Senju

Dr Memet Chairul Slamet (tengah) dan kelompok musik etnik-kontemporer Gangsadewa memainkan “musik batu”. (foto: gangsadewa)

Jayakarta News – Pemusik etnik-kontemporer Indonesia, Memet Chairul Slamet baru saja “manggung” di Tokyo. Doktor musik asal Madura ini, bersama Gangsadema Ensamble menampilkan New-Primitive Musik Batu.

Bermula dari datangnya undangan Profesor Sumiko Kumakura dari Tokyo University of the Art kepada Memet untuk berpartisipasi dalam The 4th Dajare Music Conference (On-line) sebagai bagian dari “Otomachi Senju no En” Project. Pertunjukan online itu telah diselenggarakan pada 31 Mei 2020.

Dalam kesempatan itu, lima personel Gangsadewa menampilkan “New Primitive-Musik Batu. “Ini adalah musik batu versi ketiga. Versi pertama saya sebut masa pencarian bentuk, dan saya pentaskan di Bentara Budaya Jakarta. Sedangkan versi kedua sudah menemukan bentuk, dilengkapi kesadaran narasi agar mengkristal, dan saya jadikan disertasi pada sidang doktoral saya, 23 Mei 2019 lalu,” ujar Memet kepada Jayakarta News.                         

Musik Batu karya Memet yang versi tiga ini, didasari kesadaran logika yang menjadi spirit ide-ide musikal dan sudah menyatu dalam tindakan teknis. “Dengan kata lain, penyatuan teori dalam karya yang organik,” ujar lelaki gondrong berkacamata itu.

Berbicara Jepang, ini bukan kali pertama Memet bersinggungan dengan institusi di Negeri Matahari Terbit. Tahun 2014, Memet juga pernah tampil di sana. Bahkan, untuk kedua kali, Memet dan Gang Sadewa juga mendapat undangan untuk berkolaborasi Indonesia – Jepang dalam “City Concert – music festival”  di Tokyo yang sedianya dilaksanakan pada 28-31 Mei 2020.

Apa daya, wabah Covid-19 menghentikan rencana tersebut. Padahal, semua sudah siap. “Termasuk, kami juga sudah berkomunikasi dengan Dubes RI di Tokyo, Bapak Arifin Tasrif melalui Ibu Moes,” ujar Memet.

Musik Batu karya Memet Chairul Slamet oleh Gangsadewa. (foto: gangsadewa)

Syahdan, repertoar online di The Dajare Music Conference tadi, dimaksudkan agar event itu tetap terselenggara meski dalam format online. “Saya diminta mengirim karya musik dengan mengirim video, dengan presentasi online oleh Makoto Nomura,” tambahnya.

Repertoar Musik Batu direkam dalam kondisi serba terbatas, dan dilakukan di Studio Virtuoso Music Course, yang juga tempat tinggal Memet. Persiapan dilakukan secara kilat, latihan hanya sekali, dan langsung shooting secara live recording. Para pemusik secara teknis tidak mengalami hambatan, karena para pemain musik batu adalah para pemusik Gangsadewa, sehingga dengan cepat bisa menangkap konsep Memet.

Ide dasar dari penciptaan musik batu ini adalah menjadikan batu sebagai sebuah media ekspresi proses kreatif ke dalam bentuk karya musik ekperimental berdasar pada bentuk instrumen dan instalasi batu. Karya musik batu ini menghasilkan rancangan instrumen musik batu dalam beberapa bentuk baru instrumen musik berupa instalasi batu.

Karya ini juga menemukan teknik permainan musik yang sangat spesifik dan khas. Hal tersebut menjadikan titik tolak dalam menuangkan ide-ide melalui komposisi musik. Di sini, para pemain dapat menghadirkan ragam ekspresi sebagai dampak estetik kompositorik repertoar musik batu.

Musik batu ini tidak berorientasi pada nada, melainkan lebih pada pilihan suara, yaitu suara alami/natural yang diproduksi melalui batu, dengan teknik apa pun dalam membunyikannya. Oleh karena itu, rancangan karya musik batu ini lebih berifat konseptual, namun bisa dijabarkan secara lebih tertata bangunan kompositorik berikut cara memainkannya.

Tidak cukup hanya warna suara yang direkayasa, ketepatan saat (waktu/irama) dan ketepatan gerak juga menjadi pemicu ide-ide yang tetap dan terekayasa dalam kesadaran kontras dinamik serta penelahan pola ritme yang tidak simetris agar jalur frasering musikal labih dinamis dan memberi kesan penasaran pada saat jatuhnya bunyi kebunyi yang lain.

Tindakan teknis dilakukan sesuai dengan rekayasa betuk batu. Misalnya ada Batu Gantung yang dimainkan dengan cara menggesek-gesekkan dua batu berukuran segenggam tangan yang diputar berulang-ulang dan kontinyu. Gesekan tersebut mengeluarkan bunyi yang reproduktif. Kemudian disusul suara Batu Bilah satu dan dua dengan menggunakan teknik sama, yaitu gerakan memutar batu di atas permukaan Batu Bilah.

Di sini ritme telah dibentuk polanya melalui gerak kedua tangan yang menggenggam batu yang dielus-eluskan, digaruk-garukkan dan dipukul-pukulkan di atas permukaan Batu Gantung. Perpaduan bunyi gesekan dan pola ritme tersebut membentuk suasana primitif yang kontemplatif. Frase sederhana ini dimainkan secara terus-menerus hingga memunculkan suasana musik alam yang transedence, kemudian masuk pada bagian lain dengan cara atau teknik yang berbeda.

“Di sini saya ingin mengatakan, pilihan media bunyi menentukan cara garapnya. Komposisi musik batu ini menggunakan skor atau tanda secara non konvensional, selain juga menyediakan instruksi-instruksi khusus yang diberikan kepada pemainnya. Tanda-tanda tersebut ditransformasikan menjadi materi yang diformulasikan dalam suasana saling mempengaruhi (interplay),” papar Memet.

Di sini terjadi dialektika antara komponis dan materi musiknya. Namun, pada perkembangan berikutnya, alur permainan tidak dapat diantisipasikan melainkan hanya dapat diperkirakan secara subyektif. Pada karya ini, bunyi terukur atau nada sudah tidak menjadi penting, biarlah dia berbunyi sesuai dengan alur waktunya. Keheningan memaknai ruang musikalnya.

Adapun lima pemusik yang memainkan Musik Batu adalah, Memet Chairul Slamet, Dwi Heriyana, Warsana Kliwir, Putri Edysud, dan Setya Rkj. Sementara pengambilan gambar oleh Paknyang Kutai. (roso daras)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *