Hilangkan Stres Corona ke Jalan Juanda

 Hilangkan Stres Corona ke Jalan Juanda

Mobil berderet-deret di Jalan Juanda Depok. Mereka adalah para konsumen tanaman hias. (foto: roso daras)

Jayakarta News – Hari itu, matahari menyengat dengan sangat. Sementara, langit biru sebiru-birunya. Jalan Juanda Kota Depok, Jawa Barat tampak lebih padat dari hari-hari sebelumnya. Ruas jalan sepanjang 4 km yang menghubungkan Jl Raya Bogor dan Jl Margonda itu, dipenuhi parkiran mobil di kanan dan kirinya. Tidak sepanjang jalan, tetapi di beberapa titik.

Titik-titik parkiran mobil mudah ditengarai, berada di lokasi penjual tanaman hias. Seperti yang tampak hari Minggu (7/6/2020) kemarin. “Iya nih, alhamdulillah…. Belakangan banyak yang beli tanaman hias,” ujar Suparno (60), penjual tanaman hias di sisi utara Jalan Juanda, tak jauh dari Komplek Pelni.

Rupanya, situasi pandemi Covid-19-lah yang menggairahkan sektor penjual tanaman hias. Banyak warga, umumnya kaum ibu, yang bosan “stay at home” dan mencoba membunuh rasa bosan tadi dengan berkebun.

Seperti yang dituturkan Yuni (56), ibu rumah tangga yang tinggal di bilangan Tapos, Depok. Ia memanfaatkan sisa tanah di bagian depan rumahnya untuk dibuat taman tanaman hias. Sementara, di teras lantai dua, ia jadikan “lahan pertanian” menggunakan media pot.

“Saya barusan komplain nih sama abang penjual biji bibit cabai. Katanya bisa tumbuh cepat, dua bulan sudah berbuah. Lha ini sudah hampir sebulan kok cuma segini,” katanya sambil menunjukkan space antara telunjuk dan ibu jari.

Salah seorang pecinta tanaman hias sepertiinya sedang belanja besar-besaran. (foto: roso daras)
Menerima jasa instalasi tanaman hidroponik. (foto: roso daras)

Memang, di pinggir kiri-kanan Jalan Juanda Depok, tidak hanya menyediakan tanaman hias. Beberapa penjual juga menyediakan bibit aneka tanaman baik barupa bibit maupun biji. Seperti bibit cabai, jeruk nipis, terong, dan lain-lain. “Kami juga melayani jasa instalasi tanaman hidroponik,” ujar Suparno.

Di lahan tempatnya berjualan tanaman hias, ia membuat sebuah instalasi pipa untuk bercocok tanam hidroponik. Lelaki asal Purworejo, Jawa Tengah itu menuturkan, peminatnya lumayan banyak.

“Tidak perlu lahan yang luas. Tidak perlu tanah. Hasilnya bisa dimakan sendiri. Bahkan kalau dalam jumlah yang lumayan, bisa juga untuk dijual ke tetangga atau teman. Itu yang saya tahu dari langganan yang saya pasangkan instalasi hidroponik di rumahnya,” katanya.

Ditanya tarif, Parno mengatakan tergantung jenis dan ukuran. Ia memberi contoh, untuk instalasi hidroponik DFT memakai paralon 2,5 inch, dengan besi siku sebagai penopang, berukuran tinggi 1,5 meter dan panjang 3 meter, biayanya kurang lebih Rp 1,6 juta. Tapi kalau hanya membuat instalasi sederhana satu paralon misalnya, cukup Rp 100 ribu sampai Rp 600 tibu.

Berbicara perbandingan antara konsumen tanaman hias dan peminat jasa instalasi hidroponik, Suparno mengatakan, lebih banyak yang mencari tanaman hias. Tapi ia tidak bisa menyebut jenis tanaman hias secara spesifik yang paling diminati, karena memang konsumennya beragam.

“Makanya, saya berusaha menyediakan selengkap mungkin. Di sini ada bambu kuning, bromelia, antorium, kaktus, sanseviera, calathea, pucuk merah, rumput gajah dan lain-lain,” kata Suparno fasih.

Tampak aktivitas “loading” belanjaan tanaman hias di Jalan Juanda, Depok. (foto: roso daras)

Semua bibit yang ia jual datang dari para pemasok. Umumnya, pemasok datang dari daerah Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Harganya? Sangat bervariasi, dari ribuan, belasan ribu, puluhan ribu, sampai yang ratusan ribu. Satu pedagang dengan pedagang lain, tidak ada standar harga yang pasti. Jadi memang sangat bervariasi.

Toh, konsumen juga punya strategi sendiri untuk membandingkan harga. Seperti yang dilakukan Yuni. Untuk satu jenis tanaman, ia bisa mendatangi hampir semua penjual. Semua harga yang disebut penjual, akan ditawar sesadis-sadisnya. Dengan cara itu, ia akan mendapatkan fixed price antara penjual yang satu dan yang lain. Setelah itu, baru ia akan menuju penjual dengan harga termurah.

Bukankah itu melelahkan? “Tidak. Malah banyak manfaatnya,” kata ibu dua anak itu. Manfaat pertama,  olahraga. Tanpa terasa kalau kita jalan dari satu penjual ke penjual lain, dari ujung jalan sampai ujung jalan sama artinya dengan olahraga jalan kaki. Panjang jalan Juanda 4 km. Tinggal berapa jauh Anda mau berjalan.

Manfaat lain, cuci mata. Dengan melihat tanaman-tanaman hias yang hijau serta bunga yang bermekaran, sungguh menyejukkan hati. Tanpa terasa, bisa menghilangkan rasa penat karena “di rumah aja”. Manfaat ketiga, bisa mendapatkan harga termurah.  

Selain tanaman, para penjual di sepanjang Jalan Juanda juga menyediakan pupuk kompos, pupuk organik, tanah kemasan atau media tanam lain seperti sekam. Sedangkan di antara deretan penjual tanaman, ada yang khusus menjual aneka pot berbagai ukuran dan bahan. Benar-benar seperti “supermarket berkebun”. “Kalau mau beli pot dan peralatan berkebun yang lebih murah, bisa ke toko grosir dekat Pesona Khayangan,” kata Yuni lagi.

Begitulah, salah satu kegiatan masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Begitulah cara membunuh rasa bosan stay at home. Tetap dengan rajin cuci tangan pakai sabun, mengenakan masker, dan jaga jarak. (roso daras)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *