Krisis Ekonomi Eropa Mulai Merambat ke Politik

 Krisis Ekonomi Eropa Mulai Merambat ke Politik

Ilustrasi/foto: Mathias Reding, pexels.com

JAYAKARTA NEWS – Eropa ‘dipaksa’ menghadapi hantaman badai penurunan kinerja ekonomi dengan inflasi yang sudah merambat naik ke 10%. Semua akibat dari pandemi Covid-19 dan juga Perang Ukraina.

Inggris lebih berat lagi. Bisa dibilang sudah mulai memasuki krisis ekonomi lebih serius dengan dampak krisis politik. Dalam waktu kurang dari 3 bulan, Boris Johnson lengser dan jabatan perdana Menteri. Penggantinya, Liz Truss hanya bertahan 45 hari atau sekitar 6 minggu saja —- dia jadi PM tercepat mundur dari jabatannya dalam sejarah Inggris.

Akibat lain, bagian terbawah dari piramida ekonomi atau orang yang hidup ‘pas-pasan’ ala Eropa tentunya mulai menjerit. Musim dingin sudah diambang pintu, sementara biaya listrik sudah naik tiga kali lipat dan juga harga BBM melambung tinggi. Meskipun mereka masih bertahan, namun pelan-pelan pekerja kebanyakan mulai menyuarakan keresahannya. Sebenarnya, mereka sangat kuatir jatuh dalam kemiskinan.

Di Eropa Timur, Rumania, di Bucharest,  mulai diguncang demostrasi rakyat yang memprotes kenaikan tinggi biaya energi, pangan, dan kebutuhan pokok lain. Di Repubik Ceko, ibukota Praha juga dilanda unjuk rasa serupa.

Di Eropa Barat, tepatnya di Prancis para pekerja sektor perminyakan dan transportasi melakukan pemogokan sebagai protes tingginya harga-harga kebutuhan pokok. Mereka menuntut kenaikan gaji dan upah agar bisa mengejar harga-harga yang melambung. Di Jerman, para pilot Lufthansa sempat melancarkan pemogokan, yang menggangu penerbangan.

Versik Maplecroft, analis konsultan risiko, berkomentar krisis ekonomi kali ini bisa mengarah pada kerusuhan sipil di Eropa. Sebabnya, dukungan kuat Eropa terhadap Ukraina dan juga tekad para pemimpin Eropa untuk menghentikan ketergantungan mereka terhadap energi, berupa minyak dan gas, Rusia.

Transisi energi ini sudah dimulai meski sukar. Perlu dicatat, sebelum krisis pandemi dan perang, Rusia memasuk 30% – 40% kebutuhan energi Eropa.

“Belum ada perbaikan cepat untuk mengatasi krisis energi. Rasanya, inflasi akan lebih buruk tahun depan dibanding tahun ini,” tukas Versik yang dikutip Euronews, Senin (24/10/2022). Menurutnya, tekanan krisis ekonomi akan menggerus dukungan rakyat Eropa terhadap Perang Ukraina.

Dalam jangka pendek, menghadapi musim dingin tahun ini, Eropa perlu meningkatkan pasokan energi dari luar Rusia. “Namun juga ada ganguan tak terduga pasokan gas, mungkin akan terjadi krisis lebih dalam bahkan kerusuhan sosial dan ketidak-stabilan pemerintah,”imbuhnya.***dari berbagai sumber/leo

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.