KCJB sebagai Katalisator Regenerasi Urban

 KCJB sebagai Katalisator Regenerasi Urban

Ilustrasi kereta api cepat Jakarta-Bandung/Foto: kcic.co.id

JAYAKARTA NEWS— Pesan yang terkandung atas presensi Kereta Cepat Jakarta-Bandung  (KCJB)  cukup gamblang. Keberadaannya merefleksikan transportasi masa depan yang berkelanjutan. Cirinya; minim emisi, massal,  efisien,  dan tentu dengan kepiawaian teknologinya diharapkan benar-benar aman serta nyaman.

Dengan keistimewaan itu kita  menyelaraskan dan berharap KCJB bisa  menjadi katalis  terwujudnya pengembangan  “kawasan-kawasan baru”  ramah lingkungan  yang kiblat sentralnya adalah pembangunan berkelanjutan  (sustainable development).  Pilar-pilarnya bukan hanya keterjagaan ekologi dan perbaikan lingkungan alam melainkan juga perkembangan ekonomi, sosial dan budaya, bahkan keamanan. Sebab  terganggunya salah satu tetap menjadi ancaman kehidupan.

KCJB  kini masih dalam proses pembangunan dan ditargetkan tahun 2023 kereta cepat ini beroperasi. KCJB memang tampak prestisius. Tongkrongan  body-nya  cukup keren. Juga mewah, dan futuristik. Berikut gambarannya :

Mengutip situs web Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Kereta Cepat Jakarta-Bandung ini akan menggunakan tipe terbaru, CR400AF yang dilengkapi teknologi modern dan handal. Fitur Cabin Noise yang lebih rendah akan meredam getaran  secara optimal.  Desain ruang pun lebih luas dan modern.

Kereta cepat ini memiliki tiga kelas berkapasitas total 601 penumpang serta ruang khusus untuk difabel.  Dengan kecepatan  250-350 kilometer per jam,  Jakarta-Bandung  memerlukan waktu 36-46 menit, menempuh panjang lintasan 142,3 kilometer dengan tipe struktur elevated  82,7 kilometer dan sisanya berupa 13 tunnel dan subgrade.

Tersedia empat stasiun : Stasiun Halim (Jakarta Timur), Stasiun Karawang, Stasiun Padalarang, dan Stasiun Tegalluar (Bandung). Sehingga dalam lajunya  KC melakukan  dua kali pemberhentian yaitu di Stasiun Karawang dan Stasiun Padalarang.

Sebagai proyek strategis nasional (PSN), investasi KCJB  lumayan besar,  6,07 miliar dolar Amerika Serikat/ setara Rp 85,41 triliun. Namun, belakangan tercanang kabar anggaran KCJB perlu penambahan.

Media kontan.co.id 16 Agustus lalu memberitakan, Badan Anggaran (Banggar) DPR tengah mengkaji penambahan anggaran untuk proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung (KCJB) sekitar Rp 2,6 triliun hingga Rp 3,1 triliun.

Cukup besar memang investasi yang dibutuhkan bagi PSN yang menjelmakan kemegahan dengan segala elegansinya ini. Namun sebagai transportasi  berkelanjutan  KCJB juga menawarkan banyak harapan dan  jawaban.

“Klaster Baru”

Sebagai pusat kegiatan baru, tempat keberangkatan dan kedatangan penumpang   yang menghubungkan dua kota besar ( populasi penduduk besar – Jakarta lebih dari 10 juta, Kota Bandung 2,44 juta dan Kabupaten Bandung 3, 6 juta jiwa ), mobilitas tinggi, dan padat aktivitas,  maka hadirnya KCJB juga berpotensi mendongkrak pertumbuhan perekonomian. Tidak hanya sebatas  tempat-tempat pemberhentiannya  (stasiun-stasiun KCJB), dan zona sekitarnya.

Pusat-pusat kesibukan baru terkait  mega proyek KCJB  kiranya bisa diprediksi   “resonansinya”  bakal luas pula.  Tentu skenario penataan kawasan sudah dirancang dan dipadu dengan  kondisi dan dampak bangkitannya. Namun yang ingin penulis tuang di sini langkah-langkah sederhana  guna menyelaraskan dengan hadirnya KCJB.

Pertama, keberadaan di stasiun dan lingkungan yang mengepungnya. Kedua, pembenahan transportasinya. Ketiga, sebagai pusat kegiatan baru, bangkitan perekonomian baru, saatnya kita memperhitungkan dan memberi panggung  lebih istimewa terhadap Usaha Mikro  Kecil dan Menengah (UMKM).

Lingkungan Stasiun

Meski stasiun-stasiun KCJB masih dalam proses pembangunan, namun aura kemegahannya sudah tampak. Seperti yang terlihat pada stasiun KCJB Halim, stasiun KCJB Karawang, dan stasiun KCJB Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Bandung.

Bila  sudah rampung dan beroperasi niscaya menampilkan pesona nan megah. Karena itu penampakan yang apik dan bersih bukan hanya tergelar di dalam stasiun, melainkan kawasan sekitar stasiun juga  harus tertata rapi, menarik, “hijau”  dan sehat, serta nyaman bagi pejalan kaki. 

Hijau dan sehat di sini terkait hamparan tanaman. Tidak harus luas tapi area lahan terbuka hijau itu kudu disediakan. Misal, aneka pepohonan atau jenis tanaman-tanaman perdu yang sesuai untuk lansekap perkotaan. Atau pada pot-pot besar tanaman bunga dengan kembang-kembang cantik yang terawat dengan baik. Prinsipnya,  tidak sejengkal tanah pun  atau suatu ruang dibiarkan kosong tanpa tanaman.

Jenis tanaman apa yang sesuai, tentu pakar tetumbuhan lebih  kompeten menentukan. Kelompok tanaman apa yang lebih baik menghasilkan oksigen, atau jenis apa yang bagus menyerap carbon, dll. Dan pasti disesuikan dengan area dan lansekapnya. Namun tujuannya terakomodir, baik fungsi maupun dampak estetikanya untuk   suatu area maupun lansekap kota secara keseluruhan.

Hal  penting lain terkait masalah sampah.  “Klaster stasiun“ dan lingkungan sekitarnya selayaknya mampu memilah sampah dari segala produk aktivitas domestiknya. Bukan sekedar  sampah organik dan anorganik yang dipilah seperti yang sudah diterapkan di stasiun-stasiun  KA  Comuterline Jabodetabek.  Itu merupakan “bak” sampah yang disediakan untuk publik atau pelaku perjalanan.

Pemilahannya bisa lebih rinci sehingga akan memudahkan proses selanjutnya. Misal, food atau sisa makanan, dedaunan dimasukkan dalam wadah tersendiri. Lalu karton, kertas, plastik,  styrofoam, kaleng, kaca/ gelas, seng, dll dipilah dan mana yang bisa disatukan dan kemudian dihancurkan atau didaur ulang. Sehingga volume sampah  yang diangkut ke tempat pembuangan akhir turun signifikan.

“Otoritas”  Stasiun-stasiun  KCJB tentu dapat  lebih menyederhanakan upaya mengatasi sampah di lingkungannya.  Orientasinya bukan hanya mewujudkan penampakan  lingkungan yang bersih tetapi terkait pengeloaannya pun berpijak  pada   kaidah pembangunan berkelanjutan.

Sampah yang  berserak  muaranya pasti ke sungai karena terbawa arus air hujan, selanjutnya ke laut. Pencemaran akan kian parah jika kita tidak bergegas beraksi untuk memulai hidup bersih dari klaster-klaster atau lingkungan  kecil, domestik, perumahan, perkantoran, stasiun dan lain-lain. Sementara kawasan-kawasan baru terus tumbuh seiring  munculnya pusat-pusat perkantoran, perdagangan, terminal, stasiun dan lainnya. Perumahan kaum urban maupun warga kota sendiri juga terus merangsek  ke daerah pinggiran. Maka  hadirnya KCJB, nanti merupakan suatu keniscayaan memantik  geliat pelbagai kesibukan.

Komitmen

Pemerintah melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia No 59 Tahun 2017   menunjukkan komitmennya untuk mewujudkan  tujuan pembangunan berkelanjutan. Namun pada level pemerintahan di bawah belum terlihat aksi nyata terhadap komitmen tersebut.  Padahal Pemerintah  Daerah  punya peran strategis untuk itu dengan melibatkan masyarakat  secara luas. Tidak hanya kalangan peduli lingkungan.

Sebagai wujud ketaatatasan atas tujuan pembangunan berkelanjutan, seperti yang penulis sebutkan di atas,  dimulai dari klaster  kecil atau lingkungan domestik. Langkah berikutnya merambah lingkungan sekitar, kampung/ desa sekitar, kecamatan sekitar dan seterusnya, hingga  mencakup satu daerah   dimana stasiun itu berada.

Dengan komitmen kuat dan aksi konkret, niscaya  memunculkan arus dukungan.  Kita berharap  akan meluas menjadi “gerakan nasional” dalam menjaga dan mewujudkan kebersihan lingkungan. Sampah tidak berserak, tidak berceceran, dan tidak terlihat sejauh mata memandang. 

Masalah lingkungan memang bukan hanya sampah, tapi juga kebakaran hutan/ deforestasi, emisi dan lain-lain. Namun yang mudah dilakukan dan kita mulai adalah kebersihan di lingkungan sekitar kita. Karena lingkugan berkait dengan kesehatan.

DR Rusdian Lubis, ahli lingkungan dalam webinar Juni 2020 mengatakan, kesehatan manusia berkaitan erat dengan kesehatan lingkungan hidup. Di bumi ada 8 juta species makhluk hidup, dan diperkirakan 1,7 juta jenis virus.  Karena itu ia pun menyatakan, wabah yang mengakibatkan krisis multi dimensi, ekonomi, finansial, sosial disebabkan ketidakseimbangan atau karena rusaknya lingkungan alam kita, selain juga aktivitas manusia, konektivitas, traveling, gaya hidup.

Ingatan kita tentu masih hangat, bagaimana situasi pandemi  tahun 2020 dan 2021 menyulitkan segala aspek kehidupan kita. Ancaman nyata,  bukan hanya kesehatan tapi juga kelaparan, bahkan sosial dan keamanan. Aktivitas kehidupan harus dihentikan. Terutama saat Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB).  Industri/ pabrik tutup, transportasi mandek, kecuali lalu lalang ambulan dan yang berhubungan  dengan energi, kesehatan, dan logistik.

Pandemi  Covid 19 telah menghajar kita sampai klenger.  Merenggut jutaan nyawa manusia. Kematian global 6,56 juta, dan khusus  Indonesia 158 ribu jiwa hingga awal Oktober 2022.  Namun pandemi Covid 19 juga  memberi banyak pengajaran. Berharga.  Menyadarkan akal budi.  Sinyalnya jelas. Selama PSBB/ lockdown,  kota-kota yang  sepi  membuat  udara  cukup bersih. Langit biru bersih dan malam  hari bisa melihat  bulan dan bintang-bintang.

Mengingat pandemi juga menginspirasi kita  bersegera  menerapkan pembangunan berkelanjutan. Mewujudkan lingkungan sehat/ menurunkan polusi. Dan angkutan massal  jadi pilihan. 

Transportasi Humanis

Dengan adanya KCJB, seluruh kawasan dimana terdapat stasiun-stasiun KCJB,  maka permodelan pengembangan pembangunan,  selain mengedepankan pengembangan kawasan ramah lingkungan juga merombak  transportasi. Skenario yang dipersiapkan  adalah konsep Transit Oriented Development  (TOD).  Stasiun-stasiun KCJB memastikan sistem integrasi dengan berbagai pilihan moda transportasi terintegrasi.

Pembenahan  moda transportasi di Daerah tentu dibenahi demi keselarasan dengan visi KCJB.  Atau mengacu pada VISI Ditjen Perkeretaapian, yakni berintegrasi, berteknologi, bersinergi, terjangkau dengan potensi simpul – simpul transportasi / bangkitan kegiatan yang ada di daerah dan mampu menjawab tantangan perkembangan.

Langkah selanjutnya atau untuk implementasinya, juga  bisa disimak pada MISI-nya , antara lain :

Meningkatkan keselamatan penyelengaraan perkeretaapian dengan mendorong keterlibatan Pemerintah Daerah dan unsur – unsur masyarakat dalam rangka menuju zero accident

Mengintegrasikan layanan kereta api dengan moda transportasi lain dengan membangun aksesibilitas menuju simpul – simpul transportasi, kawasan industri dan kawasan pariwisata.

Zero accident bukan hanya yang terkait dengan laju operasional KCJB, namun di jalan raya isu kecelakaan lalulintas (laka), baik angkutan barang maupun penumpang, Pemerintah Daerah juga  harus bisa menekan atau meminimalisir.  

Menurut pakar transportasi Djoko Setijowarno yang juga pengajar di Universitas Soegijapranata Semarang, angka laka kita sangat tinggi.  Setiap 1 jam ada 2 – 3 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Dan mirisnya, korbannya kebanyakan kalangan muda. Usia produktif. 

Kasus laka tahun 2020 di Indonesia mencapai 100.028 kasus, dan tahun 2021 meningkat  menjadi 103.645 kasus atau naik   3,62% . Ini berarti setiap  hari terjadi rata-rata 284 kasus laka.  Atau setiap dua hari sekali rata-rata di 514 kabupaten/ kota di Indonesia terjadi kecelakaan.

Dalam artikelnya di Jayakarta News, September 2021,  Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat ini  mengingatkan bahwa  Pemda Harus Peduli Keselamatan.

Program keselamatan tidak hanya dilakukan pemerintah pusat, namun pemda juga wajib menganggarkan.  Dinas Perhubungan di kabupaten/kota konsentrasi membantu menaikkan PAD melalui aktivitas, parkir, kir dan terminal. 

Mestinya Dinas Perhubungan fokus pada program keselamatan dan pelayanan. Keselamatan transportasi untuk semua usia di semua sektor. Kemudian memberikan pelayanan penyediaan transportasi umum, jalur sepeda dan pejalan kaki yang humanis. Jadi membangun tranportasi yang humanis inilah yang sangat diharapkan dari peran  Pemerintah Daerah.

Dilandasi lingkungan yang ramah, transportasi yang humanis, maka seiring membenahan itu,  geliat perekonomian yang merupakan keniscayan atas hadirnya  pusat kesibukan baru akan kian berkembang. Perekonomian tumbuh dinamis,   terutama di area sekitar stasiun-stasiun dan zona-zona sekelilingnya.  Karena itu kita bisa memberikan               wadah        yang lebih representatif terhadap para pelaku dan produk-produk UMKM.

Menurut Ketua koordinator “UMKM Juara”  Syarif Hidayat, produk UMKM makin berkelas. Di Jawa Barat ada program dari Dinas Koperasi dan UKM yakni “UMKM Juara”. Program ini juga bekerjasama dengan beberapa Perguruan Tinggi. Penekanan pembinaan UMKM Juara pada manajemen dan meningkatkan kualitas produk  termasuk kemasan guna meningkatkan nilai jual.

Mengapa kita memberikan tempat lebih istimewa pada UMKM ? Sebagaimana kita tahu sebanyak 97 persen tenaga kerja  di Indonesia terserap  di sektor  UMKM.

Tumbuhnya pusat-pusat kegiatan baru  yang koheren dengan  hadirnya transportasi massal yang cepat dan efisien, sekali lagi  memantik  pertumbuhan dan pengembangan aspek lainya, tidak hanya ekonomi tapi juga sosial budaya.

Apalagi kota-kota perlintasannya juga potensial, seperti Kabupaten Karawang. Selain populasi penduduk besar lebih dari 2 juta jiwa, Karawang juga telah berkembang menjadi kota industri dan perdagangan. 

Kawasan Nyaman, Transportasi Aman

Bagaimana skenario menuju kawasan yang nyaman dengan seluruh rangkaian transportasi  atau perpindahan dari satu moda ke moda lainnya aman pula ?

Untuk menuju ke sana, para pemangku kepentingan bisa duduk bersama untuk bersinergi dan kolaborasi dalam membuat kebijakan. Juga memetakan permasalahan ke depan, dan bagaimana pula menghadapi tantangan-tantangan, dan  menentukan solusinya. Dengan sandaran dan orientasinya mengacu pada pembangunan berkelanjutan, sehingga eksistensi pengembangan kawasan ada keterpaduan dengan hadirnya KCJB.  Menuju tatanan kegiatan ekonomi dan masyarakat yang maju dan sejahtera.

Sebagai pamungkas;  meski  telah diprediksi KCJB  cukup potensial membawa   arus penumpang, juga solusi jitu mengatasi kemacetan Jakarta-Bandung, terutama di akhir pekan, namun dalam menentukan tarip harus dikalkulasi  cermat. Isu yang berkembang di kisaran Rp 250 ribu, dan di awal operasional KCJB  akan diberlakukan 30 perjalanan mulai pagi hingga malam hari.

Masyarakat tentu berharap, meski banyak kenyamanan yang sudah terbayang, tapi tarif tidak terlalu mahal. Sebagai angkutan massal tentu mempertimbangkan  potensi terakomodirnya  pelaku perjalanan. Semoga  KCJB  benar-benar menjawab hasrat masyarakat dalam bertransportasi. Tidak  terpeleset menjadi kereta yang eksklusif, yang hanya  dinikmati kalangan terbatas  atau ramai di akhir pekan saja. *** (Sri Iswati)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.