‘Jagal’ dan ‘Senyap’ Berkisah tentang PKI, Ditolak LSF

 ‘Jagal’ dan ‘Senyap’ Berkisah tentang PKI, Ditolak LSF

Joshua Oppenheimer, sutradara film ‘Jagal’ dan ‘Senyap’ (foto Istimewa)

JAYAKARTA NEWS—- Ada dua film lagi yang berkisah tentang PKI ditolak Lembaga Sensor Film (LSF) dengan alasan utama film ini bisa menggiring penonton bersimpati pada PKI dan ajaran komunisme. Judulnya adalah ‘Jagal’ (The Act of Killing) dan ‘Senyap’ (The Look of Silence) yang keduanya karya sineas Joshua Oppenheimer yang berwarganegara Amerika.

Film ‘Senyap’ yang saling melengkapi dengan ‘Jagal’ ditolak sensor 29 Desember 2014. Namun, kedua film ini tayang terbatas di komunitas-komunitas tertentu tapi sempat dipaksa dibubarkan oleh kelompok ormas di Malang, Jogjakarta, Semarang dan kota lain.

Perbedaan kedua film tersebut adalah ‘Senyap’ mengambil perspektif keluarga korban (penyintas) sedang ‘Jagal’ pada pelaku pembantaian.

‘Jagal’ diputar November 2012 dan difokuskan pada kehidupan sehari-hari tukang jagal bernama Anwar Congo yang melakukan genosida dengan memenggal kepala orang-orang yang dicurigai terlibat dengan gerakan G30SPKI di Medan, Sumatera Utara. Film dokumenter ini berkisah tentang Adi Rukun yang selamat (penyintas) yang keluarga korban pembantaian massal orang-orang komunis di Medan berusaha menghidupi kenyataan untuk dirinya dan keluarganya yang dituduh sebagai bagian dari PKI.

“Kita enggak bisa lari dari sejarah. Film ini memiliki cerita dari dua sisi,” ujar Joshua yang memvisualisasikan secara riil dan apa adanya. Warga dan keluarga penyintas yang diwawancarai Joshua harus ‘diamankan’ dan dipindahkan ke kota lain karena khawatir ketahuan aparat desa.

“Stigma sebagai keluarga korban yang diduga terlibat PKI juga sangat menghantui otak mereka. Sehingga saya selaku sutradara harus sabar dan mensupport mereka agar bercerita apa adanya,” tutur Joshua yang menambahkan mereka sebagai keluarga korban juga menginginkan rekonsiliasi dengan pelaku pembantaian keluarganya. Yang salah tetap salah. Yang benar tetap benar. Film ‘Jagal’ disyut tahun 2012 di Medan dan sekitarnya.

Begitu ‘Jagal’ dirilis, Joshua kala itu berpikir mungkin dia tak bisa kembali lagi ke Indonesia karena situasinya tidak aman bagi dirinya. ‘Jagal’ yang ditolak sensor di Indonesia justru meraih 6 penghargaan di festival film di Venesia dan juga di FF Tironto.

Sebaliknya, meski masuk nominasi Oscar 2015 sebagai film asing terbaik dan gagal, tapi film ‘Senyap’ diapresiasi di luar negeri. Inilah pertama kalinya sebuah film Indonesia masuk nominasi Oscar, walau sutradara yang membuat film ini berwarganegara Amerika. “Adi Rukun yang kini memilih bermukim di luar negeri diwawancarai VOA. Dia yang bertahun-tahun mencari pelaku pembantaian kakak dan keluarganya mengatakan, bukan untuk dendam, tapi untuk cari pemahaman. Dia memohon agar luka lama dibersihkan,” cerita Joshua lagi.

Ketika Joshua bertanya apakah Adi Rukun masih cinta tanah air Indonesia, dengan tegas Adi Rukun menjawab “Saya masih warga negara Indonesia. Suatu hari kelak, saya pasti kembali ke Indonesia. Saya tinggal untuk sementara di luarnegeri untuk menghindari ancaman dan intimidasi. Isu pelarangan film ‘Senyap’ akan jadi bola liar dan citra Indonesia menjadi buruk di luar negeri,” imbuh Joshua.

Lalu, kenapa Joshua mau membuat film ‘Jagal’ dan ‘Senyap’ yang syuting seluruhnya di Indonesia tapi enggak bisa diputar di komunitas karena ditolak ormas tertentu ? “Saya punya harapan kala itu, inilah dua film karya saya sebagai surat cinta saya kepada Indonesia. Ini kebebasan ekspresi saya,” demikian Joshua yang waktu itu banyak mendapat dukungan dari beberapa LSM dan komunitas-komunitas film indie dan HAM di daerah. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *