Connect with us

Kabar

Hampir Terkirim ke Timur Tengah, Risna dan Risma Diselamatkan BP3MI

Published

on

Foto: dok KP2MI

JAYAKARTA NEWS— Risna dan Risma, perempuan asal Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, yang sempat termakan bujuk-rayu bekerja di Timur Tengah, akhirnya berhasil diselamatkan petugas saat berada di rumah kontrakan di bilangan Jakarta Timur.

Dilansir laman KP2MI, keduanya berangkat ke Jakarta dengan impian bekerja di Timur Tengah demi membantu perekonomian keluarga. Namun, mimpi tersebut justru membawa mereka ke dalam skema pemberangkatan nonprosedural yang membuat mereka kehilangan kebebasan bergerak dan terancam diberangkatkan tanpa perlindungan yang memadai.

Risna, warga Desa Paranggi, dan Risma, warga Desa Toga, Kecamatan Ampibabo, termasuk dalam kelompok empat calon Pekerja Migran Indonesia  yang diduga akan diberangkatkan secara ilegal ke kawasan Timur Tengah. Mereka diketahui berada di sebuah rumah kontrakan di Jakarta Timur dan tidak dapat meninggalkan lokasi tersebut.

Informasi mengenai keberadaan mereka pertama kali diterima Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Tengah pada 19 Juni 2026 melalui laporan masyarakat. Kabar itu segera ditindaklanjuti karena para calon Pekerja Migran tersebut diduga berada dalam situasi yang membahayakan.

Tak ingin kehilangan waktu, BP3MI Sulawesi Tengah langsung berkoordinasi dengan BP3MI DKI Jakarta. Upaya penelusuran dan pengamanan dilakukan hingga akhirnya keempat perempuan itu berhasil ditemukan dan diamankan sebelum sempat diberangkatkan ke luar negeri.

Bagi keluarga yang menunggu di kampung halaman, kabar tersebut menjadi titik terang setelah diliputi kecemasan dan ketidakpastian.

Pada Sabtu (20/6/2026) pagi, Risna dan Risma diterbangkan menuju Palu menggunakan penerbangan Super Air Jet IU254 yang difasilitasi BP3MI DKI Jakarta. Pesawat yang mereka tumpangi mendarat sekitar pukul 09.50 WITA.

Kali ini, perjalanan udara yang mereka tempuh bukan untuk mengejar mimpi bekerja di negeri orang, melainkan untuk kembali ke tempat paling aman: rumah dan keluarga.

Tim Pelindungan BP3MI Sulawesi Tengah, Maximillian Lolong, mengatakan keberhasilan penyelamatan tersebut menjadi bukti pentingnya respons cepat dan sinergi antarinstansi dalam melindungi calon pekerja migran.

“Begitu menerima pengaduan, kami langsung berkoordinasi dengan BP3MI DKI Jakarta untuk memastikan keberadaan dan keselamatan para calon Pekerja Migran.”

“Alhamdulillah, mereka berhasil diamankan sebelum diberangkatkan secara nonprosedural ke Timur Tengah. Ini menjadi pengingat bahwa masyarakat harus selalu memastikan proses keberangkatan bekerja ke luar negeri dilakukan sesuai prosedur agar mendapatkan perlindungan negara,” ujar Maximillian.

Setelah tiba di Palu, keduanya menjalani asesmen dan pembinaan oleh petugas BP3MI Sulawesi Tengah. Selanjutnya, mereka dipersiapkan untuk kembali ke keluarga masing-masing yang telah menanti kepulangan mereka.

Kisah Risna dan Risma menjadi pengingat bahwa impian bekerja di luar negeri tidak boleh ditempuh melalui jalan pintas. Janji keberangkatan cepat tanpa prosedur yang jelas dapat membuka pintu terhadap berbagai risiko, mulai dari eksploitasi, kekerasan, hingga tindak pidana perdagangan orang.

Namun di balik ancaman tersebut, ada pelajaran penting yang tersisa: ketika laporan masyarakat direspons cepat dan koordinasi antarlembaga berjalan baik, negara dapat hadir tepat waktu untuk melindungi warganya.

Bagi Risna dan Risma, kesempatan untuk pulang mungkin menjadi awal baru. Sebuah kesempatan untuk kembali menata mimpi, kali ini melalui jalur yang aman, legal, dan terlindungi. (*/di)

Advertisement