Agribisnis
GAPKI Mencatat Ekspor Produk Sawit September 2025 Turun
JAYAKARTA NEWS – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat ekspor produk sawit pada September mengalami penurunan 36,65 persen dari sebelumnya.
“Ekspor produk sawit pada September 2025 turun menjadi 2.200 ribu ton atau minus 36,65 persen dari ekspor bulan sebelumnya sebesar 3.473 ribu ton,” ungkap Direktur Eksekutif Mukti Sardjono dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (27/11/2025)..
Penurunan ekspor terbesar terjadi pada minyak sawit olahan yang turun menjadi 1.573 ribu ton dari 2.343 ribu ton pada bulan September (-32,86%).
“Ekspor minyak sawit (crude palm oil/CPO) juga turun menjadi 91 ribu ton dari 494 ribu ton atau minus 81,58 persen dan oleokimia yang turun menjadi 93 ribu ton dari 199 ribu ton atau minum 53,27 persen.
Mukti menyebutkan, penurunan ekspor produk sawit pada bulan September terjadi pada negara tujuan ekspor utama, antara lain India (-409 ribu ton), China (-212 ribu ton), Malaysia (-144 ribu ton), Afrika (-143 ribu ton), dan Pakistan (-123 ribu ton).
Penurunan ekspor juga terjadi di negara USA (-73 ribu ton), EU-27 (-50 ribu ton), Bangladesh (-26 ribu ton), dan Middle east (-24 ribu ton). Hanya Rusia saja ekspor produk sawit mengalami kenaikan sebesar 18 ribu ton.
GAPKI mencatat, produksi CPO pada September 2025 juga menurun 22,32 persen dari sebelumnya.
“Produksi CPO September 2025 mencapai 3.932 ribu ton, turun 22,32 persen dari bulan sebelumnya 5.062 ribu ton,” kata Mukti
Penurunan produksi juga terjadi pada palm kernel oil (PKO) yang di September tercatat 366 ribu ton dari 481 ribu ton pada Agustrus 2025.
“Secara year on year (YoY) sampai dengan bulan September, produksi CPO dan PKO tahun 2025 mencapai 43.335 ribu ton atau naik sekitar 11,30 persen lebih tinggi dari produksi tahun 2024 sebesar 38.937 ribu ton,” sebut Mukti.
GAPKI juga mencatat, total konsumsi dalam negeri mengalami penurunan dari 2.100 ribu ton di bulan Agustus menjadi 2.053 ribu ton pada bulan September.
Mutki menyebutkan, penurunan terbesar terjadi pada konsumsi biodiesel yang turun menjadi 1.070 ribu ton atau minus 3,69 persen dari bulan sebelumnya sebesar 1.111 ribu ton.
Konsumsi pangan juga turun menjadi 793 ribu ton dari 806 ribu ton pada bulan sebelumnya atau turun sebesar minus 1,61 persen.
“Namun, konsumsi oleokimia naik 3,83 persen menjadi 190 ribu ton dari 183 ribu ton pada bulan sebelumnya,” kata Mukti.
Nilai ekspor produk sawit bulan September mengalami penurunan dari US$ 3,819 miliar di bulan Agustus menjadi US$ 2,528 miliar pada bulan September atau turun sebesar minus 3,80 persen.
Secara YoY sampai dengan bulan September, nilai ekspor 2025 mencapai US$ 27,313 miliar lebih tinggi 39,85 persen dari ekspor tahun 2024 sebesar US$ 19,530 miliar.
Peningkatan nilai ekspor yang terjadi karena harga rata-rata Januari-September tahun 2025 sebesar US$ 1.210/ton Cif Rotterdam yang lebih tinggi dari rata-rata Januari-September tahun 2024 sebesar US$ 1.020/ton Cif Rotterdam.
Dengan stok awal bulan September sebesar 2.543 ribu ton, produksi CPO+PKO turun menjadi 4.298 ribu ton, konsumsi dalam negeri turun menjadi 2.053 ribu ton dan ekspor turun menjadi 2.200 ribu ton, stok di akhir September naik menjadi 2.592 ribu ton. (yog)
