Agribisnis
Ekspor Sawit Anjlok, Ini Penyebabnya
JAYAKARTA NEWS – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat, ekspor produk sawit periode April anjlok. Sedangkan produksi naik.
“Total ekspor produk sawit pada bulan April turun menjadi 1.779 ribu ton atau minus 39,2 persen dari ekspor bulan sebelumnya sebesar 2.876 ribu ton,” ungkap Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono, Selasa (24/6/2025).
Mukti mengatakan, penurunan ekspor terbesar terjadi pada produk minyak sawit olahan yang turun menjadi 1.241 ribu ton dari 2.128 ribu ton pada bulan Maret (-41,7 persen). Ekspor oleokimia mengalami penurunan menjadi 368 ribu ton dari 407 ribu ton pada bulan Maret (-9,6 persen).
Meski begitu, kata Mukti, nilai ekspor Januari-April mengalami kenaikan dari US$ 8,307 milliar pada 2024 naik menjadi US$ 10,818 milliar pada tahun 2025 atau naik sekitar 30,2 persen.
“Hal ini disebabkan harga rata-rata produk CPO meningkat pada bulan Januari-April tahun 2025 yakni sebesar US$ 1.183/ton Cif Rotterdam, dimana harga tersebut lebih tinggi dari rata-rata Januari-April tahun 2024 sebesar US$ 1.001/ton Cif Rotterdam,” jelas Mukti.
Mukti menyebutkan, secara nominal penurunan ekspor yang besar pada bulan April terjadi untuk tujuan EU (-156 ribu ton), India (-155 ribu ton), USA (-113 ribu ton), Pakistan (-109 ribu ton), Bangladesh (-86 ribu ton).
“Secara year on year (YoY) sampai dengan bulan April, ekspor mengalami penurunan dari 9.715 ribu ton pada tahun 2024 menjadi 9.416 ribu ton pada tahun 2025 (-3,08 persen),” terang Mukti.
Mukti menyebutkan, penurunan terbesar terjadi untuk tujuan India (-1.055 ribu ton atau minus 68 persen), EU (818 ribu ton/-62 persen), China (-746 ribu ton/-62 persen), Pakistan (-385 ribu ton/-42 persen).
Nilai ekspor produk sawit bulan April mengalami penurunan dari US$ 3,283 milliar pada bulan Maret menjadi US$ 2,069 milliar atau turun sebesar 37,0 persen.
Gapki juga mencatat, produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada April 2025 naik karena faktor musiman.
Kenaikan produksi CPO itu mencapai 2 persen dari 4.391 ribu ton di bulan sebelumnya menjadi 4.479 ribu ton. Sedangkan produksi palm kernel oil (PKO) juga naik menjadi 425 ribu ton dari 417 ribu ton.
“Secara year on year sampai dengan bulan April, produksi CPO ditambah PKO tahun 2025 mencapai 18.039 ribu ton atau sekitar 0,85 persen lebih tinggi dari produksi tahun 2024 sebesar 17.887 ribu ton,” papar Mukti.
Sementara itu, total konsumsi dalam negeri mengalami penurunan, dari 2.168 ribu ton pada bulan Maret menjadi 2.100 ribu ton pada bulan April.
Gapki juga mencatat, konsumsi untuk pangan pada bulan April turun menjadi 871 ribu ton atau sebesar minus 2,02 persen dari bulan sebelumnya yakni sebesar 889 ribu ton.
“Sedangkan konsumsi oleokimia naik menjadi 183 ribu ton atau sebesar 0,32 persen dari bulan sebelumnya sebesar 182 ribu ton,” ujar Mukti.
Penurunan juga terjadi pada konsumsi biodiesel yakni menjadi 1.046 ribu ton atau sebesar minus 4,58 persen dari bulan sebelumnya sebesar 1.097 ribu ton.
Dengan stok awal bulan April sebesar 2.017 ribu ton, produksi CPO+PKO naik menjadi 4.904 ribu ton, konsumsi dalam negeri turun menjadi 2.100 ribu ton dan ekspor turun menjadi 1.779 ribu ton, maka stok diakhir April naik menjadi 3.046 ribu ton. (yog)
