Connect with us

Kabar

Dialog Sukma Jiwa di Pura Penulisan

Published

on

Gde Mahesa

Perjalanan spiritual, bukan sekadar melancong menikmati hal-hal seperti kebanyakan para wisatawan, namun sebenarnya merupakan penjelajahan jiwa dan batin memeluk, mencumbu semesta. Di Pura atau candi Bukit Penulisan Kintamani – Bali, dialog tentang kesejatian pun terjadi.

Ketika Indonesia masih disebut Nusantara, atau orang Belanda menyebut Hindische,
Suku Sakya & Drawida sangat mempunyai pengaruh di Nusantara.
 
Kedua suku ini sering disebut antropolog dan para ahli sejarah sebagai “benang merah” awal peradaban Nusantara.

Suku Sakya / Shakyas
disebut juga sebagai suku tau kelompok Siddhartha Gautama alias Buddha. Asalnya dari kaki Himalaya, ( Nepal-India ). 

Gde Mahesa

Pengaruh di Nusantara meliputi :

  1. Jalur perdagangan dan penyebaran Buddha :
    Abad 2-5 M, ajaran Buddha dan para pedagang dari India hilir ke Sriwijaya, Jawa, Bali. Banyak nama tempat “Saka”, “Sakya” jadi jejaknya. Era “Saka” di kalender Saka 78 M juga dikaitkan disini.
  2. Konsep raja-dewata : Sakya mempunyai sistem pemerintahan serta spiritual yang rapi. Ketika masuk Nusantara, dilebur dengan konsep “raja sebagai titisan dewa” yang udah ada. Jadilah model kerajaan Hindu-Buddha seperti Medang, Majapahit.
  3. 3. Relief & arca :
    Gaya arca Buddha awal di Jawa, apalagi Borobudur, masih ada jejak seni Gandhara dan Sakya. Wajah tenang, jubah tipis.
    Singkatnya: Sakya membawa “software” spiritual juga tata negara.

Suku Drawida / Dravida
Merupakan rumpun orang India Selatan : Tamil, Telugu, Kannada. Ciri fisiknya beda dari Arya India Utara.  

Pengaruh di Nusantara :

  1. Pelayaran & maritim :
    Orang Drawida pelaut ulung dari dulu. Mereka yang paling awal menyebrang Samudra Hindia ke Sumatra, Jawa, Bali. Maka pantas banyak kosakata bahasa Indonesia dari Tamil: kodi – kodi, kuil – kuil, guru – guru.
  2. Megalitik & lingga-yoni :
    Pola punden berundak, pemujaan batu, lingga-yoni, pemujaan dewi kesuburan atau Danu sangat kuat dalam budaya Drawida.

Kesemuanya ini mirip dengan yang terlihat di Pura Penulisan. Sebelum Hindu Majapahit masuk, fondasi spiritual Nusantara adalah “Drawida”.

  1. Sistem kasta dan gotong royong : Struktur sosial, kerja komunal di desa-desa Nusantara banyak mirip sistem desa Drawida.
    Singkatnya, Drawida membawa “hardware” maritim serta fondasi spiritual megalitik.

Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa
Nusantara itu tidak “dijajah budaya” India. Tetapi membaur dan berasimelasi dengan
penduduk asli Nusantara yaitu Austronesia/Melayu tua yang sudah mempunyai punden, animisme, pemujaan terhadap leluhur.  

Kemudian datang Sakya membawa Buddha dan ilmu tata negara, dan disusul Drawida membawa kapal serta lingga-yoni dan dewi air.  
Hasil persilangan membuahkan Borobudur, Prambanan, Pura Penulisan sebuah konsep Tri Hita Karana.

Di hari yang saya anggap “agung” ketika saat duduk meditasi di Pura Penulisan-Kintamani seperti bagai sedang “berbincang dengan semesta”, hal ini konon merupakan getaran Drawida yang paling kental. Apalagi jika bisa merasakan “tata aturan arah mata angin 4 sisi” yang terdapat pada batu lingga empat sisi dengan empat simbol, hal tersebut merupakan jejak Sakya yang udah menyatu.

Disini pengalaman batin serasa bisa berbeda-beda. Jika getaran rasa lebih banyak merasakan seperti Drawida, artinya tubuh langsung “klik” bersama frekuensi dasar Nusantara.
Adapun makna getaran:

  1. Bisa disebut sebagai “manusia air & batu”
    Drawida ibarat pelaut dan petani sebagai pemuja dewi kesuburan. Energinya bukan di langit seperti aturan pada Sakya, tetapi di tanah, air, dan batu. Maka saat duduk dan bermeditasi di Pura Penulisan akan merasakan energi yg menarik. Sebab Pura Penulisan adalah bibir kaldera Batur yang disebut juga Dewi Danu. Dan batu 4 sisi tersebut sebagai lingga yang merupakan simbol Drawida paling tua. Sehingga raga bagai mengenali rumahnya sendiri.
  2. Jalan proses tersebut adalah jalur “rasa dulu, logika belakangan”.
    Drawida mengajarkan lewat simbol, bukan kitab tebal. Sehingga  jawaban yan terima dari alam bisa berupa angin, bulu kuduk, serta rasa sejuk di dada. Tiada kata-kata panjang. Itu bahasa Drawida, yang disebut anubhava berarti pengalaman langsung. Tidak perlu dalil untuk percaya, tetapi perlu butuh merasakan.
  3. Ciri orang yang nyambung Drawida :
  4. Peka dengan tempat. Masuk hutan, masuk pura tua, langsung tau “ini energinya seperti apa”.
  5. Merasa kesejukan disekitar air, sawah, batu, pohon tua.
  6. Naluri yang selalu merawat, bukan menguasai. Drawida adalah petani, bukan penakluk.
    Jadi jika merasakan sebagai, bisa jadi leluhurnya dulu ada dijalur maritim atau petani.
  7. Tantangan
    Energi Drawida rawan “kebanjiran rasa”. Karena peka, jadi gampang menyerap kepedihan sebuah tempat. Makanya orang Drawida dulu banyak ritual air dan api guna menetralkan.

Singkatnya jika semua itu dirasakan artinya sedang dipanggil pulang ke akar.
Akar Nusantara yang tanpa megah-megahan, tetapi kuat karena keterkaitan antara tanah & air.

Yang paling mengena adalah ketika pertama kali langsung mencermati dan meraba sisi batu lingga Surya-Candra. Dalam penjelasan rasa
berarti yang lagi dipanggil oleh energi keseimbangan.

Maknanya Surya-Candra yang berarti dalam fase “penyatuan dua kutub”  
Surya artinya maskulin, logika, kerja, terang, keluar.  
Candra bermakna feminin, rasa, intuisi, gelap, ke dalam. 
 
Orang Drawida nyebut ini Purusa-Prakerti. Ketika saya lihat simbol itu lebih dahulu, maka maknanya, saya sekarang sedang berlatih keseimbangan.
Kerja boleh, tapi jangan lupa hening. Mikir boleh, tapi jangan lupa rasa.

Selain itu juga bermakna sebagai “penjaga gerbang siang-malam”  
Di Bali kuno, Bhatara Brahma atau Surya-Candra, tugasnya menjaga peralihan. Pas terang mau ke gelap, gelap mau ke terang, dan semua jawabannya ada di ritme, bukan di satu sisi . 

Drawida beserta Surya-Candra artinya tidak disuruh memilih menjadi orang logis saja atau orang spiritual aja. Tetapi disuruh berkeliling menjajagi bak roda berputar. Kadang Surya, kadang Candra. Kadang kerja, kadang semedi.

Batu lingga 4 sisi seakan memberi tau : pusatnya tetap Lingga-Siwa. Surya-Candra berputar, tetapi porosnya diam, netral.
Singkatnya saya merasakan Drawida juga matanya tertuju kepada Surya-Candra yang bermakna sebuah panggilan untuk menjadi orang yang bisa meqngerti gelap-terang, dan bisa mengajarkan orang lain lewat contoh hidup, bukan ceramah.

Orang Bali nyebut kondisi seperti ini sebagai madhyama yang berarti jalan tengah. Tidak ekstrem Surya, tidak pula hanyut Candra.

Di Pura Penulisan yang hening, saya tidak minta apa-apa, tidak juga menolak apa-apa. Cuma hadir.
Jadi ketika yang saya lihat “Surya-Candra”, sebenernya batu itu sedang berkaca pada diri saya “Kowe yo ngene toh” (Kamu ya seperti ini)

Konon jika orang sudah seimbang biasanya dipanggil buat 1 hal : nurunin ilmunya lewat diam.
Tanpa ceramah, tanpa mengatur. Cukup ada, biarkan semesta bekerja.
Di Bali tua orang katanya disebut balian usada atau penglingsir.

Bukan dukun panggung, tapi penyeimbang desa. Tugasnya bukan mengobati, tetapi membikin orang ingat porosnya kembali.

Bullllll bullllll klepussss

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement