Berkebun Kelapa Sawit Masih Prospek

 Berkebun Kelapa Sawit Masih Prospek

Panen kelapa sawit di Riau. (ist)

Jayakarta News – Pakar perkebunan dari Fakutas Pertanian Universitas Islam Riau (UIR) Pekanbaru, Dr. Azharuddin mengatakan usaha pertanian kebun kelapa sawit masih punya prospek bagus untuk ke depannya. Sebab, usaha tani kelapa sawit relatif lebih mudah dikerjakan oleh petani dibandingkan usaha tani perkebunan lainnya. Resiko yang ditanggung pun tidak terlalu besar.

Dr Azharuddin

 Dari segi harga, kelapa sawit dalam bentuk Tanda Buah Segar (TBS) masih bersaing. Saat ini harga sawit TBS berkisar Rp 1.800  per kg. Margin keuntungan yang diterima petani juga cukup lumanyan. Rata-rata keuntungan 24 persen. ‘’Sejelek-jeleknya hasil usaha tani yang dilakukan petani, masih terdapat keuntungan 18 persen,’’  ujar Azharuddin melalui sambungan telepon, Ahad (12/4/2020). 

Hanya saja untuk mengembangkan usaha tani rakyat kelapa sawit saat ini mengalami sejumlah kendala. Kendala pertama adalah persoalan lahan. Lahan untuk kebun kelapa sawit di Riau sangat terbatas. Kalaupun ada lahannya, namun statusnya tidak jelas, sehingga tumpang tindih dan bermasalah. Akibatnya, masyarakat menggarap lahan-lahan mengangggur atau bekas HPH atau melakukan replanting.

Kendala kedua adalah menyangkut penyediaan benih unggul. Saat ini tidak banyak yang melakukan penangkaran benih unggul di daerah Riau. Kalaupun ada yang melakukan penangkaran, petani banyak yang berutang ke penangkar karena tak punya duit. Akibatnya, penangkar benih merugi. Petani pun harus berkelompok untuk membeli benih unggul, tidak bisa sendiri-sendiri.

Kendala ketiga adalah manajemen usaha tani kelapa sawit. Banyak petani kita di Riau yang hanya berguru kepada pengalaman orang lain. Bukan berdasarkan pengetahuan mereka tentang usaha tani kelapa sawit.  Sehingga kesannya ikut-ikutan. Akibatnya, seringkali petani tertipu, baik  benih, bibit, pupuk dan lain sebagainya. Ujung-ujungnya produksi tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Kendala itu, menurut Azharuddin, harus dicarikan jalan keluarnya. Pemerintah daerah punya tanggungjawab untuk mencarikan solusinya, baik melalui program pemerintah daerah atau melalui kajian akademis di perguruan tinggi. Sehingga masyarakat Riau yang ingin melaksanakan usaha tani kelapa sawit dapat dengan mudah mengakses benih, bibit, pupuk, pestisida, alat-alat pertanian, ketersediaan lahan, status lahan, sampai kepada harga. ‘’Jadi tidak hanya harga TBS saja yang diurus,’’ ujarnya. (Fendri Jaswir)

BERITA TERKAIT

Enam Anak Kembar Hidup dari Sawit

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *