Bagaimana Memberi Makan 10 Miliar Manusia Tanpa Merusak Lingkungan?

 Bagaimana Memberi Makan 10 Miliar Manusia Tanpa Merusak Lingkungan?

Populasi manusia sekarang ini sudah mencapai 7,6 miliar manusia dan akan mencapai 9 atau 10 miliar pada pertengahan abad ini. Semua orang ini butuh makanan dan pertanyaan terbesar adalah bagaimana dunia mampu menyediakan pangan dan sekaligus tidak menghancurkan lingkungan. Menurut laporan Jurnal Nature, Rabu, 10 Oktober 2018, bisa dilakukan dengan reformasi besar dan perubahan kebiasaan makan.

Pada dasarnya; makan buah dan sayur mayur, sedangkan daging-dagingan sangat dikurangi.

Laporan jurnal, yang dibuat oleh 23 ahli dari Eropa, Amerika, Australia dan Libanon, meneliti bagaimana sistim pangan dibanyak bagian dunia berinteraksi dengan lingkungan. Mereka berkesimpulan metodologi, sekarang ini, produksi, distribusi, dan konsumsi pangan tidak berkelanjugan dari sisi lingkungan dan akan merusak Bumi, yang menyebabkan planet ini kuran nyaman ditinggali manusia.

Informasi penting lain dari para peneliti adalah upaya untuk menahan perubahan iklim pada tingkat, yang bisa diterima, tidak akan berhasil tanpa pengurangan besar-besaran konsumsi daging.

“Menyediakan pangan bagi seluruh manusia bisa dilakukan. Pertanyaan lanjugan adalah apakah kita bisa melakukannya tanpa merusak lingkungan,” tutur Johan Rockstrom, pakar dari Postdam Institute for Climate Impact Research di Jerman.

Laporan ini dikeluarkan setelah ada peringatan dari panel perubahan iklim PBB (UN Intergovernmental Panel on Climate Change — IPCC) kepada para pemimpin dunia akan perlunya melakukan langakah drastic dalam 10 tahun mendatang untuk menjaga suhu rata-rata Bumi naik hanya 1,5 derajat Celsius diatas tingkat masa pra-industri.

Pemanasan Global sering dikaitkan dengan bahan bakar fosil. Tapi disisi lain, produksi pangan juga memberi kontribusi besar — pengolahan sawah dan sendawa Sapi mengeluarkan banyak gas metan. Laporan ini juga mencoba menempatkan pangan juga jadi pusat pembahasan mengenai bagaimana manusia bisa menciptakan masa depan yang berkelanjutan.

“Semua orang tahu, energi punya kaitan erat dengan iklim, kita perlu mengubah sistem energi. Ada beberapa orang juga menyadari perlu juga mengubah sistem pangan kita,” tambah Kathrine Richardson, direktur Sustainable Science Center di Universitas Copenhagen di Denmark. Dia juga menambahkan, “Sistem pangan telah rusak dan perlu perbaikan jika kita berharap bisa memberi makan 9 atau 10 miliar manusia.”

Sekarang ini, setengah dari lahan Bumi, yang tidak tertutup es atau salju, sudah digunakan untuk memelihara hewan (sapi, kerbau, kambing, dan lainnya) ternak atau untuk tanaman pangan ternak, jelas Richardson. Wilayah itu sama seperti luas Amerika Utara dan Selatan. Hutan hujan terus dibabat dan diubah jadi lahan pertanian berbagai komoditas. Apalagi permintaan akan pangan lebih tinggi daripada populasi; misalnya peningkatan pendapatan di Cina dan negara-negara berkembang meningkatkan permintaan akan daging dan protein hewani lainnya. Sebanyak 70% dari air tawar telah digunakan untuk pertanian dan permintaan akan air akan makin tinggi.

Jurnal Nature melaporkan tanpa ada target perubahan maka tekanan terhadap lingkungan akan mendekati batasannya. Tekanan terhadap lingkungan akan naik 50% sampai 90% pada tahun 2050 dibandingkan dengan tahun 2010. Tidak ada solusi mudah, tapi langkah-langkah kombinasi sinergis akan diperlukan untuk membatasi kerusakan lingkungan.

Salah satu yang harus diubah adalah menu makanan. Para peneliti menyebutkan produksi daging, yang juga termasuk menanam tanaman makanan ternak, dipandang dari kaca mata lingkungan hidup sama sekali tidak efesien untuk menghasilkan kalori bagi konsumsi manusia. Apalagi, sendawa Sapi saat mereka sedang mencerna makanan jadi sumber gas metan — salah satu gas rumah kaca. Laporan ini menyatakan emisi gas rumah kaca dari sistem pangan dunia akan sangat berkurang jika orang mengurangi konsumsi daging merah dan mulai makan buah-buahan, sayur, kacang-kacangan.

“Membatasi emisi gas rumah kaca, kita tidak akan bergerak jauh jika kita tidak berpikir secara serius untuk mengubah menu makan yang lebih ke produk pertanian,” ujar Marco Springman, yang juga jadi penulis utama laporan dan periset senior dari Oxford Martin Program on the Future of Food.

Dia menambahkan apa yang baik untuk planet (Bumi) baik untuk dimakan. Sebenarnya makan sedikit daging merah justru akan membuat kita lebih sehat.

Dari pihak peternak ada jawaban lain, asosiasi peternak nasional Amerika, bereaksi atas laporan Nature, mengatakan industri daging sapi di AS memusatkan perhatian pada efesiensi produksi. Sara Place, direktur riset Beef Association, memberi gambaran, tahun 1976 peternak Amerika mempunyai 128 juta sapi (termasuk sapi perah) tapi sekarang ini hanya 94 juta saja. Kendati begitu peternak tetap memasok daging sama banyaknya. Dia menjelaskan upaya peternak telah meningkatkan pertumbuhan ternak sapi dengan sangat baik.

Laporan juga mencatat sistem pangan saat ini masih sangat boros, dimana septertiga produk pangan terbuang. Hanya dengan menguranginya setengah saja sudah sangat membantu masalah lingkungan. Padahal secara teoritis pengurangannya bisa sampai 75 persen.

Namun laporan ini tidak membahas soal apakah dunia perlu menerima dan menerapkan genetical modified organisms (GMO) dalam pasokan pangan. Laporan juga tidak mengambil posisi dalam pertumbuhan populasi. Di negara-negara maju laju pertumbuhan populasi sudah sangat rendah, sebagian bahkan sudah minus. Namun berdasarkan laporan PBB tahun 2015, populasi dunia akan mencapai 9,7 miliar pada tahun 2050.

Beberapa dekade lalu, prospek manusia menyesaki Bumi sempat memicu prediksi akan terjadi kelaparan secara luas. Kemudian terjadi apa yang kita kenal sebagai ‘Revoluasi Hijau’ berupa peningkatan produksi pangan melalui pupuk dan pestisida kimia serta bibit unggul. Namun pangan, sampai hari ini , belum terbagi secara merata. Sebanyak 3 miliar manusia masih kekurangan makan, menurut Rockstrom.

Argumen utama riset ini adalah Bumi punya beberapa keterbatasan, disebut ‘garis batas planet’ — sebuah kondisi yang tidak bisa dilewati tanpa konsekuensi berat. Garis batas ini —- termasuk didalamnya faktor-faktor seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, penggundulan hutan, asap, penipisan lapisan ozon, dan pasokan air bersih — menetapkan ‘ruang aman’ bagi manusia untuk hidup dan bekerja.

Kiamat lingkungan bisa saja menerjang manusia. Namun sejumlah langkah bisa diterapkan untuk mencegahnya dan masih ada waktu untuk itu. Pertumbuhan nol persen populsi dunia, perubahan pola dan menu makan, serta mengurangi jejak karbon akan sangat membantu.

 

Sumber informasi: washintongpost.com

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *