Kabar
Susuk dari Era Animisme Dinamisme
Gde Mahesa
Orang Jawa nyebut “susuk” dari kata nyusuk atau memasukkan/menyisipkan.
Jauh sebelum era Hindu-Buddha, susuk sudah ada di Nusantara. Berasal dari kepercayaan animisme dan dinamisme yaitu keyakinan bahwa benda punya roh/energi yang bisa dimanfaatkan.
Benda fisik jadi konduktor energi non-fisik setelah “diisi” mantra/energi spiritual. Kemudian dimasukkan kedalam tubuh agar bisa memancarkan aura/vibrasi tertentu.
Praktik ini umum di Nusantara, Malaysia, Thailand. Beberapa sumber menyebutkan asal mulanya dari kebudayaan Melayu, lalu masuk ke Nusantara.
Pada era Hindu-Buddha, praktik susuk tidak hilang. Bahkan beradaptasi sampai era Islam. Dalam Kejawen digolongkan masuk ke ranah ilmu kebatinan/kasepuhan. Mantra yang dipakai pun sering bercampur bahasa lokal dan kutipan ayat-ayat suci.
Efek secara psikologis dianggap sebagai sugesti: Menjadi lebih percaya diri, “nampak” lebih menarik.
Susuk boleh dikatakan ilmu warisan kepercayaan pra Hindu Nusantara yang nyatuin unsur animisme, dinamisme, yang kemudian beradaptasi dengan budaya luar.
Pergeseran fungsi susuk yang pada jaman kerajaan sebagai media perlindungan saat perang berubah menjadi ke daya tarik & keberuntungan.
Pada era Medang hingga Majapahit tidak ada prasasti ataupun naskah yang menyebut kata “susuk”.
Jadi tidak ada bukti secara langsung pada era Mataram Kuno, namun ada kesinambungan dengan prasasti yang menyebut dharma, yajna, mantra, aji, kesaktian.
Pada era Majapahit ( 13-15 M ) Naskah Negarakertagama, Pararaton, Kidung Sunda menyebut sebagai ilmu kebatinan, aji, panugrahan, ilmu kanuragan.
Inilah sebenarnya payung besar susuk. Jadi susuk waktu itu belum jadi “produk” ritual khusus seperti sekarang. Tetapi masih menyatu di dalam ilmu kasepuhan, aji-ajian, kawruh Jawa.
Dalam salah satu prasasti Medang ada sebutan ajña, mantra, dharani. Sedangkan di Majapahit ada aji panglimunan, aji kekebalan, aji pemikat. Fungsi dan manfaatnya mirip dengan susuk yaitu nambah daya tarik, wibawa, perlindungan.
Pada era Majapahit sudah akrab dengan keris, batu mustika, emas, perak sebagai pembawa energi. Maka masuk akal jika saat itu sudah ada praktik “memasukkan” benda kecil ke tubuh, sebagai ekstensi dari kepercayaan benda bertuah.
Kepercayaan Jawa kuno menyebut sebagai kasaktian, kadigdayan, kawibawan. Konsep inilah yang menjadi dasar susuk modern untuk membuat pemakainya lebih percaya diri, aura berubah.
Kenapa susuk tidak ditulis secara gamblang ketika masa itu ? Ternyata ada dua alasan :
- Rahasia & lisan: Ilmu kebatinan di era itu diturunkan secara lisan, antara guru dengan murid. Jarang ditulis di prasasti karena dianggap ilmu rahasia.
- Pembauran dengan agama resmi : Raja-raja Medang & Majapahit secara resmi Hindu-Buddha. Praktik susuk yang berbau animisme-dinamisme dianggap “rakyat”, bukan untuk istana. Maka dari itu tidak masuk catatan resmi.
Jadi pada waktu itu susuk dalam bentuk “memasukkan jarum emas/perak ke kulit” kemungkinan udah dipraktikkan, tapi namanya bukan “susuk”, melainkan aji pengasihan, aji kawibawan, ilmu kasepuhan. Fungsinya waktu Medang-Majapahit lebih ke wibawa raja, daya tarik panglima, dan perlindungan prajurit.
Baru abad 17-18 ke atas berubah fokus ke pemikat daya tarik lawan jenis seperti zaman sekarang.
Di Serat Centhini dan Serat Dewaruci tidak menyebut “susuk” mentah-mentah, tapi ada praktik yang fungsinya mirip.
- Serat Centhini pada bagian aji pengasihan & kawibawan
Serat Centhini adalah ensiklopedia kebudayaan Jawa, ditulis 1814 tapi isinya kumpulan pengetahuan lisan dari era Majapahit-Mataram Islam.
Beberapa hal yang diceritakan :
Aji pengasihan : Merupakan mantra untuk bikin orang lain luluh, simpati, nurut. Biasanya dipake raja, punggawa, saudagar. Caranya: tirakat, puasa, baca mantra, terus ditiup ke benda atau air.
Aji kawibawan & pengasih : Fungsinya sama seperti susuk pemikat sekarang. Biar punya wibawa, disegani, disukai banyak orang.
Ilmu kasepuhan : Merupakan hal tentang pengobatan, ramuan, dan “memasukkan energi” lewat benda. Ada bagian yang menyebut pemakaian benda bertuah yang ditempel/dimasukkan ke tubuh agar punya daya tertentu.
Jadi walaupun tidak menyebut “nyusuk jarum emas”, konsep memasukkan energi lewat benda dengan mantra sudah ada.
Serat Centhini disebutkan sebagai bagian dari kawruh Jawa yang biasa dipelajari para bangsawan dan pujangga.
- Serat Dewaruci menegaskan inti soal sangkan paraning dumadi
Serat Dewaruci fokusnya lebih ke spiritualitas dan makrifat. Tetapi ada beberapa hal penting :
Kisah Bima disuruh mencari Dewaruci, hal itu merupakan simbol masuk ke dalam diri yang membuat mengerti energi dan kesaktian yang ada di tubuh sendiri.
Pada bagian ini dibahas soal aji-aji yang muncul jikalau manusia sudah selaras batin. Termasuk aji pengasihan dan aji kesaktian.
Tidak ada ritual fisik memasukan benda, tetapi maknanya sama: energi dalam tubuh bisa “diaktifkan” lewat laku dan mantra, agar terpancar keluar.
Kenapa tidak menyebut “susuk” langsung? Sebab naskah-naskah di istana cenderung memakai istilah halus: “Susuk” merupakan bahasa istilah rakyat, dianggap vulgar.
“Aji pengasihan”, “aji kawibawan”, “ilmu kasepuhan” adalah istilah halus yang dipake di lingkungan keraton dan pujangga.
Kutipan ajian pengasih di serat Centhini versi bahasa Jawa modern, ” …yen sira arep dadi pengasihaning jagad, sira kudu laku tapa, puwasa, lan ngucapake mantra: Sang Hyang Kamajaya, Sang Hyang Kamaratih, tumedhaka ing badaningsun, mugi-mugi kula kasmaran dening sakabehing titah…”
Artinya:
“…jika kamu ingin menjadi orang yang dikasihi seluruh jagad, kamu harus laku tapa, puasa, dan membaca mantra:
Wahai Sang Hyang Kamajaya, Sang Hyang Kamaratih, turunlah ke dalam tubuhku, semoga aku dikasihi oleh semua makhluk…”
Bagian tentang memasukkan energi ke benda “Ilmu Kasepuhan” yang menyebut:
“…kanggo nambahi kawibawan, akeh wong nggunakake wesi, emas, utawa inten, banjur diwaca mantra, dilebokake ing sajroning badan, supados daya kasebut ngebaki badan…”
Artinya:
“…untuk menambah kewibawaan, banyak orang memakai besi, emas, atau intan, lalu dibacakan mantra, dimasukkan ke dalam badan, supaya daya itu memenuhi badan…”
Kutipan di Serat Dewaruci
“…kabeh kasaktian iku ana ing sajroning badanira dhewe. Yen sira wis suci batin, kabeh aji bakal metu dhewe…”
Artinya:
“…semua kesaktian itu ada di dalam badanmu sendiri. Kalau batinmu sudah suci, semua ilmu akan keluar dengan sendirinya.”
Jadi Dewaruci tidak membahas fisik susuk, tetapi memberikan dasar filosofi : energi itu dari dalam, susuk cuma sekedar pemantik.
Bullllll….. bullllll…. klepussss…..
