Connect with us

Buku & Sastra

Realisme Oerip: O, Mama …

Published

on

O, Mama ... salah satu komik karya Oerip.

Seno Gumira Ajidarma

Di luar komik wayang, Oerip ternyata menggarap genre drama sosial, tempat konstruksi pembentukannya terlacak, sebagai jejak historis semasa. Genre komik yang berkontestasi dengan susastra realis Indonesia.

_____________________________________________________________

Tiga komik gubahan Oerip pada 1966: genre drama sosial yang belum pernah tercatat dalam perbincangan komik Indonesia.

Dalam genre drama, dunia komik Indonesia mengalami berkecambahnya subgenre komik roman, yang dapatlah dikatakan fenomenal pada paruh pertama tahun 1970-an, dengan para penggubah tenar pada masanya, seperti Jan Mintaraga (1942-1999), Sim Kim Tan (1943-2001), dan Zaldy Armendaris (1942-2000).

Popularitas subgenre komik roman ini, sebagai bagian dari bertumbuh pesatnya budaya urban di perkotaan, dapat dikatakan menutupi, jika bukan mengubur genre induknya, yakni genre komik drama itu sendiri. Tentu, komik roman menjadi dominan, karena integral dengan berkembangnya gaya hidup urban kaum muda pada masanya, dalam musik pop, mode busana, dan kemudian juga novel pop, serta film-film percintaan.

Pada gilirannya, budaya populer yang berubah-ubah dengan cepat itulah yang menyelesaikan riwayat komik roman, ketika alternatif media hiburan terus melaju di dunia film, sejak bioskop mendapat kontestasi pita video, keping VCD, DVD, Bluray, dan kini jejaring OTT.

Dengan kata lain, kuburan subgenre komik roman Indonesia bertumpuk-tumpuk di atas tulang-belulang genre komik drama, sehingga keberadaannya sungguh tak diketahui, bahkan oleh Arswendo Atmowiloto (1948-2019), pemerhati komik Indonesia yang menggali dan merumuskan berbagai macam genre dan subgenre di sana-sini sepagi akhir 1970-an.

Ibarat kata, genre komik drama, atau komik drama realis tepatnya, ditemukan secara kebetulan, dalam perburuan komik-komik lawas atawa djadoel secara menyeluruh, yang telah menjadi pasar—budaya—alternatif (niche-market) dalam sirkulasi perdagangan (nyaris) di bawah tanah.

***

Di antara temuan kebetulan itu, terdapatlah komik-komik drama realis gubahan Oerip (1923-….), yang semula lebih dikenal sebagai penggubah komik wayang. Beralihnya Oerip ke komik drama, sangat mungkin terdorong oleh gejala awal di pasar, ketika komik roman mulai tumbuh, dan kelak menenggelamkan berbagai genre komik lain, sebelum subgenre roman ini sendiri dilibas oleh genre komik silat.

Namun dalam posisi yang lebih senior, Oerip lebih menemukan tempatnya dalam komik drama sosial sebagai persoalan orang dewasa, daripada cinta remaja sentimental yang dominan pada komik roman.

Apa yang dimaksud dengan monster pada sampul komik drama realis ini?

Dalam O, Mama (1966), pembaca mungkin akan terkecoh oleh sampulnya, yang seolah akan berisi cerita misteri. Betapa tidak, jika sosok perempuan berkebaya itu, bagai ketakutan terancam makhluk yang tidak ada di dunia ini? Ternyata gambar sampul itu memang bisa salah mengarahkan (misleading), karena naratifnya memang suatu kritik sosial.

Adalah seorang lelaki yang seperti mengalami puber kedua, jika bukan midlife crisis, Pak Machmud namanya, yang begitu gamblang tergambar seperti berikut:

Kegamblangan krisis paruh-baya dalam pengadeganan realisme.

Namun psikologi bukanlah pasalnya, karena Pak Machmud mempunyai kelebihan harta, sebagai anggota perkumpulan yang biasa meminjamkan uang dengan persyaratan berat. Alkisah, drama komik ini dimulai ketika pada hari libur Pak Machmud menagih utang kepada Pak Umar dengan ancaman, bahwa jika lewat tanggal pembayaran, terpaksa akan dilaporkan polisi.

Lantas terlihat Ida, putri Pak Umar, keluar menyuguhkan minum, dan Pak Machmud yang terpikat langsung memasang jerat, yakni memberi Ida modal berdagang; sementara Pak Umar, disebut sebagai haji pula di situ, mendapat keringanan. Ternyata pada hari-hari selanjutnya, Ida yang membantu bibinya berjualan gado-gado, kemudian berkenalan dengan Edi, putra Pak Machmud yang menjadi pegawai negeri.

Di rumah, Edi selalu mendapat nasehat dari Pak Machmud, agar bekerja keras mengumpulkan uang, tahu menghargai waktu, dan tidak menjalin hubungan cinta dengan perempuan. Adapun yang terakhir ini sulit dituruti Edi setelah berhubungan dengan Ida. Bahkan, konflik yang sudah ditanam info-infonya sejak awal ini memasuki ketegangannya, ketika Edi bersama ibunya melamar Ida; padahal Pak Machmud menjadikan Ida sebagai ganti pembebasan utang Pak Umar.

Nama Machmud sebagai calon mempelai Ida, mengundang tanda tanya Edi dan ibunya. Pada tanggal yang direncanakan sebagai hari pernikahan, Edi dan ibunya muncul di rumah Pak Umar. Tentu saja Pak Machmud terkejut-kejut. Untuk menghindari keributan, pernikahan tetap dilangsungkan, tapi antara Edi dan Ida, yang menerimanya dengan senang hati.

***

Seperti komedi situasi, karena gagasan yang lucu tanpa slapstick : ayah dan anak, tanpa saling mengetahui, tertarik kepada perempuan yang sama. Sekaligus juga kritik sosial, bahwa pengumpulan modal lebih melahirkan lintah darat daripada penyejahteraan ekonomi rakyat; dan Oerip menghadirkannnya dengan berbagai cara—selain makna yang sudah jelas dari kelengkapan alurnya—seperti berikut:

Panil dari halaman 5 dan 6: penulisan kritik eksplisit
dan penggambaran “rakyat”.

Komik drama realis berbeda sudut pandang dalam memandang dunia dengan komik roman. Jika komik roman menggambarkan segala sesuatunya, dari sudut pandang utopianistis, seolah-olah pada tahap awal pertumbuhan budaya urban Jakarta itu ‘sudah’ kosmopolit dan serba modern, dalam gaya hidup yang berjuang mewujudkannya; maka komik drama realis membuang mimpi-mimpi itu. Oerip sungguh menggambarkan lingkungan urban, sesuai dengan apa yang bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Edi, pegawai negeri, melihat ke arah
warung gado-gado, tempat Ida bekerja.
Hanya dengan tambahan kacamata, perempuan berkain kebaya yang jamak pada masanya—bukan eksotisme tradisi—sudah dianggap bergaya. Perhatikan terdapatnya pedagang kaki lima.
Keramaian kota yang apa adanya.

Realisme hadir dalam berbagai segi pengungkapan, apakah itu kemuraman Pak Umar yang berutang, wajah isteri Machmud yang penuh selidik, sambil membawa sangku nasi; ruang dan suasana di ruang tamu Pak Umar saat Edi dan ibunya melamar Ida, dengan gorden pintu, minuman di meja, lukisan, dan vas berair yang sengaja ditata bersahaja; sungguh memperlihatkan suatu kehendak, betapa segenap penggambaran tidak melebihi, melebih-lebihkan, maupun kurang dari kenyataannya.

Representasi realisme Oerip dalam penggambaran manusia tertekan utang.
Realisme Oerip dalam ekspresi wajah istri yang menangkap gejala, sambil memegang sangku nasi.
Ruang tamu terutang dalam lamaran bersituasi muram, yang setia kepada realitas faktual kelas sosialnya.
Pak Machmud dalam keterbatasan sarana untuk bergaya.
Realis: memilih pengadeganan seperti ini artinya melepaskan peluang menggambarkan spektakel.

Penggambaran Pak Machmud naik becak, walau berharta dan ingin bergaya, tidak menjadi aneh, karena saat komik ini terbit tahun 1966, mobil yang dijual pun belum ada. Sementara realisme yang orisinal tanpa perlu spektakel, dapat diujikan pada adegan sulit: Edi dan ibunya masuk ke pesta kawin lewat dapur di rumah sederhana—dan tampak ada yang sedang memasak. Ini memperlihatkan kematangan penggubah, ketika memilih adegan sehari-hari di rumah orang biasa, yang sulit tergambar mentereng.

Dengan kata lain, pencapaian Oerip adalah ia tidak mengindah-indahkan gambarnya, segenap gambarnya hadir dengan ketepatan proporsional, dan ini sudah lebih dari bagus.

***

Realisme, meskipun hanya salah satu pendekatan dalam mengalihkan realitas, adalah cara yang paling mudah dipahami, karena kemiripan penggambarannya dengan realitas faktual. Namun kemiripan saja belum lengkap tanpa kesepadanan dengan realitasnya, karena realisme sangat mungkin—dan sering dipergunakan—demi penggambaran realitas non-faktual, alias murni imajiner, yang dapat menjadi ‘seni’, tapi bisa juga demi pengibulan semesta alias manipulasi—dengan tujuan apapun, dari iklan sampai propaganda politik.

Dalam perbincangan komik genre drama O, Mama … gubahan Oerip, telah ditunjukkan perbedaan dengan subgenre komik roman, yang realismenya cenderung merupakan imajinasi suatu gaya hidup metropolitan; ketika realisme komik drama bersetia kepada realitas perkotaan seperti apa adanya, tempat tradisi mencoba bertahan dalam gerak modernitas yang serba mengubah.

Realisme sendiri adalah produk modernitas, tetapi ujiannya bukan kebermiripan, melainkan keberpadanannya dengan realitas sosial yang digambarkan. Dalam salah satu panil dapatlah dilihat, bahwa wacana ekonomi politik yang rupanya menjadi sumber tematik, menunjukkan situasi transisi dari masa pra-Orde Baru ke Orde Baru.

Dengan cerdik Oerip, bekas kondektur tanpa pendidikan seni rupa, menempatkan satirnya di tahun 1966 itu: bagaimana generasi lebih tua yang korup, sebaiknya tahu diri menghadapi semangat kejujuran kaum muda, seperti selalu dikhotbahkan mereka sendiri.

Posisi lintah darat dalam ekonomi politik pra-Orde Baru. Rupanya inilah yang digambarkan sebagai monster pada sampul O, Mama

SENO GUMIRA AJIDARMA,
partikelir di Jakarta.
Gambar-gambar : © 1966 Oerip / U.P. Mekar – Jakarta

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement