Entertainment
Yosep Anggi Noen: Apa Itu Sinema Kontemplatif
JAYAKARTA NEWS— Yosep Anggi Prasetya alias Yosep Anggi Noen (41 tahun) dikenal selalu membuat sederet film yang unik dan kontemplatif. “Sinema kontemplatif atau sinema lambat adalah sinema yang mengajak penonton merenung, bergaya minimalis dan observasif,” kata Yosep dalam launching trailer misteri horor berjudul ‘Tebusan Dosa’ di Jakarta, baru-baru ini.
Ya, Yosep baru kali ini membuat film bergenre horor. Produksi Palari Films bersama Studio Showbox dari Korsel ini mempertemukan dua bintang berbakat Happy Salma dan Putri Marino.
Beberapa film besutannya (film panjang dan film pendek) berhasil masuk nominasi bahkan meraih penghargaan di festival film di dalam dan luar negeri. ‘Lunchbox’, ‘Vakansi Yang Janggal dan Penyakit Lainnya’, ‘Istirahatlah Kata Kata’ (biopic penyair Widji Tukul), ‘The Science of Fictions’ (Hiruk Pikuk Si Alkisah) dan ’24 Jam bersama Gaspar’ adalah beberapa film Yosep yang tidak saja plot dan ceritanya yang aneh dan unik, tapi juga judulnya cukup unik dan mengajak penonton berkontemplasi.
“Saya paling suka film pertama saya yaitu ‘Lunchbox’ dan ‘Kisah Cinta Yang Asu’ berupa drama pendek berdurasi 30 menit,” tutur Yosep.
‘Lunchbox’ berkisah ihwal fenomena lunchbox milik murid SMP yang hilang. Box berisi makanan berat ini jadi rebutan anak-anak SMP yang lain dan ditemukan anak Punk yang lapar.
“Lunchbox bernada masif dan ini gambaran tentang kemiskinan yang nyata,” jelasnya.
Bagi Yosep, film adalah media penyampai ekspresi.
“Menceritakan kegelisahan yang saya alami dan cara bertutur saya murni dari dalam jiwa saya,” terang Yosep yang mengaku mulai tertarik menonton televisi sejak usia 7 tahun di Kampung Kaliduren, Sleman.
Di Kampung itu, hanya orang tua Yosep yang memiliki televisi. ‘Moving image’ ini jadi tontonan bareng se kampung. TV punya kekuatan menarik dan luar biasa kala itu.
Menginjak SMA, Yosep dengan kamera pinjaman, mencoba membuat dan mengkaji film.
“Sejak saya kuliah saya hidup dari dan menghidupi film itu sendiri,” imbuhnya.
Hidup adalah keunikan dan pilihan. Yosep kala itu tidak paham apa itu bisnis film dan film populer.
“Pokoknya membuat film. Apa yang terpikir di otak divisualisasikan ke sinema,” urainya lagi.
Masa itu, awalnya dia tak paham arti ‘roll’ dan ‘action’. Yosep cuek dan terus saja membuat dan membuat, bekerja dan bekerja.
Film menghidupi dan dihidupkan oleh Yosep. Tak banyak sutradara, penulis, editor dan pengajar film seperti Yosep. (pik)
