Uswatun Hasanah Melestarikan Batik Khas Tuban yang Hampir Punah

 Uswatun Hasanah Melestarikan Batik Khas Tuban yang Hampir Punah

uswatun hasanah pelestari batik khas tuban

Uswatun Hasanah pelestari batik khas Tuban

Jika mampir ke Desa Kedungrejo, Kerek Tuban, Jawa Timur, jangan lupa berkunjung ke Sanggar ‘Sekar Ayu’ untuk belajar membatik khas Tuban. Pemilik sanggar ini adalah Uswatun Hasanah, tokoh masyarakat yang begitu peduli akan pelestarian batik khas daerahnya yang hampir punah. Uswatun bercerita, perjuangannya melestarikan batik Tuban dimulai awal tahun 90-an dan itu sungguh tidak mudah.

“Popularitas batik kala itu belum seperti sekarang. Batik belum menjadi ‘tuan di negeri sendiri’. Makanya ketika tahun 90-an itu saya membangun Sanggar Sekar Ayu dan mengajak warga bergabung, responnya kurang baik. Mereka lebih memilih ke sawah ketimbang membatik. Kala itu mereka tidak yakin kalau batik bisa meningkatkan perekonomian mereka,” ungkap Uswatun yang pada 2010 mendapat penghargaan Upakarti.

“Jadi terus terang saja, kala itu tantangannya berat sekali,” tambah Uswatun yang demi misinya itu dia rela merogoh kocek sendiri untuk membiayai pelatihan membatik warga desanya.

Respon masyarakat itu dipahami Uswatun. Karena memang pada masa itu kerajinan batik tidak lah menjadi sesuatu yang bisa meningkatkan perekonomian keluarga. Dia juga maklum karena batik Tuban tidak lah seperti batik di daerah lain yang sejak lama diperdagangkan. Dulu orang membuat batik Tuban hanya untuk keperluan tradisi.

“Batik Tuban memang agak berbeda dari daerah lain. Membuat batik untuk kepentingan tradisi dan ritual-ritual. Misalnya untuk seserahan pada upacara pernikahan,” ungkapnya sambil menambahkan, dulu  batik di Tuban menjadi simbol status sosial.

Karena kondisi tersebut maka, kata Uswatun, tak heran kalau keberadaan batik Tuban kurang terekspos secara luas seperti batik daerah lain di Jawa. Padahal batik Tuban sudah ada sejak jaman Kerajaan Majapahit.

Dalam perjalanannya jumlah pembatik motif Tuban semakin berkurang karena masyarakat tidak rutin memproduksinya. Lama kelamaan orang pun mulai jarang membatik bahkan nyaris lupa motif-motif khas Tuban. Situasi yang memprihatinkan ini lah yang memunculkan tekad  Uswatun untuk membangkitkan kembali batik daerahnya.

Namun Uswatun tak putus asa, ia tetap berjuang sembari meyakini warga bahwa dengan membatik selain bisa melestarikan budaya mereka juga bisa menambah penghasilan. Pada akhirnya upaya Uswatun tak sia-sia. Perlahan namun pasti warga pun mulai membatik karena dari hasil kerjanya ada uang yang bisa dibawa pulang untuk kehidupan sehari-hari. “Biasanya mereka habis bekerja di sawah datang ke sanggar untuk membatik. Hasil membatik, saya seleksi, yang bagus-bagus dijual. Namun bagi mereka yang hasilnya kurang bagus tetap saya beri upah supaya tetap semangat belajar membatik. Hanya saja, upah yang diberikan tentu berbeda dengan mereka yang hasilnya bagus. Dengan cara ini, saya bisa menggaet warga untuk tetap melanggengkan tradisi membatik khas Tuban,” ujar Uswanah yang mengoleksi 700 kain batik kuno.

TENUN BATIK TUBAN DIMINATI MANCANEGARA

Barulah setelah belasan tahun berjuang, pada 2007 upaya Uswatun melestarikan budaya membatik di daerahnya menunjukkan hasil yang signifikan. Hal ini karena adanya tawaran program kemitraan dari  PT Semen Indonesia yang kebetulan berkunjung ke daerahnya.

“Mereka (PT Semen) tanya itu anak-anak sedang apa. Lantas dijelaskan kalau mereka sedang belajar membatik. Pak Camat pun datang membawa orang PT Semen untuk melihat dari dekat kegiatan sanggar. Mereka juga bertanya kepada saya pembiayaan pelatihan. Saya bilang, ini saya biayai sendiri. Hasil menjual produk saya gunakan untuk pelatihan. Sedang kehidupan saya sehari-hari dari hasil sawah. Setelah penjelasan itu, pihak PT Semen pun menawarkan pada saya untuk mengikuti program kemitraan milik mereka.  Saya nantinya akan diberi modal usaha dan difasilitasi untuk pameran-pameran. Tentu saja saya setuju,” tuturnya.

Sejak itu, lanjut Uswatun, dia pun menjadi leluasa dalam memasarkan batik Tuban. Lewat pameran-pameran yang diikutinya, dia mendapat banyak pesanan dari berbagai daerah di antaranya Bali. Banyak yang suka batik Tuban yang dianggap memiliki corak yang unik serta batik tenun yang tergolong jarang ada di daerah lain.

Usahanya pun berkembang pesat. Masyarakat desa senang karena orderan membanjir yang berarti penghasilan mereka bertambah. Desa Kedungrejo yang dulu dikenal sebagai sentra batik pun ‘hidup lagi’ , bahkan kreasi produknya semakin bertambah. Yang lebih menggembirakan permintaan akan batik tenun Tuban datang bukan saja dari dalam negeri tapi juga luar negeri.

“Saya pun jadi sering menerima tamu, juga turis-turis yang ingin melihat langsung aktivitas membatik di desa kami. Jadi boleh dibilang secara tidak langsung kini desa kami menjadi tempat wisata batik Tuban,” ucapnya.***

 

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *