Sohieb, Semar, dan Ruwatan

 Sohieb, Semar, dan Ruwatan

Dua penari mengawali pembukaan pameran lukisan tunggal “Semar Ngruwat Jagad” karya Sohieb Toyaroja, di Jogja Gallery, 2 – 8 Juni 2021. (foto: tika)

JAYAKARTA NEWS – Jogja Galeri (JG) mulai Rabu (2/6) hingga Selasa (8/6) menjadi saksi bisu kehadiran Semar. Gedung tua di belahan Alun-alun Utara Yogyakarta itu tokoh Punokawan itu digambarkan sedang meruwat jagad. 

Meruwat adalah tradisi Jawa. Ruwatan acapkali dilakukan untuk membuang sial, mengusir apes, menyingkirkan petaka, atau melenyapkan nestapa. Pascaruwatan, diharapkan lahir sosok-sosok baru juga lingkungan yang bersih dari rupa-rupa gangguan.

Adalah perupa Sohieb Toyaroja yang berjasa melahirkan tokoh pewayangan ini ke atas puluhan kanvas. Ia mencomot tema “Semar Ngruwat Jagad” dalam rangka memamerkan karya lukis yang ia rampungkan sepanjang tahun 2021 ini.

Bobby Aryanto, penasihat pameran “Semar Ngruwat Jagad” di Jogja Gallery, bersama pelukis Sohieb Toyaroja. (foto: tika)

“Bagi saya Semar itu artistik dan ia tokoh panutan dalam mitologi Jawa,” tutur Sohieb, demikian ia akrab disapa, saat mengemukakan alasan di balik ketertarikannya mendaulat dedengkot Punokawan ini menjadi obyek lukisannya.

Begitu memasuki ruang pamer di JG, mata pengunjung langsung berhadapan dengan lukisan yang besarnya seakan-akan sebelas duabelas dibanding luas tembok. “Murwokolo” judulnya, 460 cm x 260 cm ukurannya.

Lukisan berlatar belakang batang-batang pohon berjajar rapat tanpa daun dan rupa-rupa binatang ini menampilkan Semar yang sedang menjalankan ritual Ruwatan. Ia duduk semedi persis patung Budha di puncak Borobudur. Tepat di hadapannya ada tumpeng lengkap dengan ubo rampe dan kepala kerbau dengan sepasang tanduk panjang. Di pojok kiri bawah Hanoman, si kera putih, duduk bersila mengikuti detik-detik ritual Ruwatan Murwokolo yang sedang dijalankan Semar.

Ada yang unik pada penampilan Semar. Dewa yang merakyat itu tidak berkostum serius dengan pernak-pernik khas tokoh pewayangan. Ia juga menanggalkan kain motif kotak-kotak hitam putih mirip papan catur yang biasa melingkari bokongnya yang super gendut. Ia tampil bertelanjang dada dengan semacam sarung polos menutupi pingang sampai kaki.

Beginilah Sohieb, ia merekam, mengingat, meramu dan akhirnya menampilkan tokoh Semar yang santai dan jauh dari kesan formal.  Tak hanya Murwokolo, nyaris di semua lukisan karyanya itu, Semar tampil informal, santai, modern dan milenial. 

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Ir. Singgih Raharjo, SH., M. Ed menerima lukisan “potret diri” dari Sohieb Toyaroja, usah membuka pameran di Jogja Gallery, 2 Juni 2021. (foto: tika)

Pada Lukisan “Semar Sebagai Superman” misalnya, tokoh sentral Punokawan ini ia bidik sedang terbang dengan sayap lebar berwarna merah persis tokoh rekaan Jerry Siegel yang dipopulerkan oleh DC Comics itu. Jauh di ketinggian angkasa raya Semar seperti mengirimkan energi untuk melindungi seluruh permukaan bumi. Demikian pula lukisan-lukisan lainnya. Sohieb menampilkan Semar yang seperti sedang mendaraskan doa-doa bagi keselamatan semesta.  

Rupanya, sosok Semar yang abnormal dengan tubuh pendek, wajah tebal, perut buncit dan bokong besar itu itu sangat berarti bagi kehidupan Sohieb. Pelukis yang lahir di Kediri tahun 1968 itu mengaku bahwa Semar adalah figur teladan. “Sosok Semar menyimpan keutamaan sikap dan laku serta keluhuran budi pekerti sebagai tuntunan dalam menjalani kehidupan, baik kehidupan keseharian maupun kehidupan berkesenian,” paparnya.    

Karena itulah, dalam karya lukisnya, Sohieb mencomot Semar sebagai tokoh yang ia pasrahi untuk meruwat jagad tatkala bumi diuji oleh rupa-rupa tragedi. “Saya merasa kondisi kita dan dunia sedang dalam keadaan sakit baik secara fisik maupun secara spritual dan dalam kondisi tersebut, ngeruwat merupakan salah satu ikhtiar atau upaya yang perlu dilakukan,” jelas pemilik Galih Art Studio di Cinere, Depok, Jawa Barat ini. 

Sohieb berpesan bahwa Semar yang menjadi tokoh lukisannya itu hanyalah sarana atau medium.  Ruwatan atau pembersihan yang sesungguhnya tetap berpulang pada pribadi masing-masing.  Caranya, menurut Sohieb, dengan introspeksi diri kemudian memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. “Selanjutnya jadilah Semar bagi diri sendiri dan ruwatlah jagad secara bersama-sama,” pungkas Sohieb. (Ernaningtyas)

Berfoto di depan karya masterpiece berjudul “Murwokolo”. Dari kiri: Suwarno Wisetrotomo (kurator pameran), Bobby Aryanto (penasihat pameran), dr Oei Hong Djien (OHD Museum, Magelang), Singgih Raharjo (Kepala Dinas Pariwisata DIY), Sohieb Toyaroja (pelukis), Roso Daras dan Scholastika Sastranegara (koordinator pelaksana pameran/Arthemis). (foto: tika)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *