Sohieb, Semar, dan Ruwatan

JAYAKARTA NEWS – Jogja Galeri (JG) mulai Rabu (2/6) hingga Selasa (8/6) menjadi saksi bisu kehadiran Semar. Gedung tua di belahan Alun-alun Utara Yogyakarta itu tokoh Punokawan itu digambarkan sedang meruwat jagad. 

Meruwat adalah tradisi Jawa. Ruwatan acapkali dilakukan untuk membuang sial, mengusir apes, menyingkirkan petaka, atau melenyapkan nestapa. Pascaruwatan, diharapkan lahir sosok-sosok baru juga lingkungan yang bersih dari rupa-rupa gangguan.

Adalah perupa Sohieb Toyaroja yang berjasa melahirkan tokoh pewayangan ini ke atas puluhan kanvas. Ia mencomot tema “Semar Ngruwat Jagad” dalam rangka memamerkan karya lukis yang ia rampungkan sepanjang tahun 2021 ini.

Bobby Aryanto, penasihat pameran “Semar Ngruwat Jagad” di Jogja Gallery, bersama pelukis Sohieb Toyaroja. (foto: tika)

“Bagi saya Semar itu artistik dan ia tokoh panutan dalam mitologi Jawa,” tutur Sohieb, demikian ia akrab disapa, saat mengemukakan alasan di balik ketertarikannya mendaulat dedengkot Punokawan ini menjadi obyek lukisannya.

Begitu memasuki ruang pamer di JG, mata pengunjung langsung berhadapan dengan lukisan yang besarnya seakan-akan sebelas duabelas dibanding luas tembok. “Murwokolo” judulnya, 460 cm x 260 cm ukurannya.

Lukisan berlatar belakang batang-batang pohon berjajar rapat tanpa daun dan rupa-rupa binatang ini menampilkan Semar yang sedang menjalankan ritual Ruwatan. Ia duduk semedi persis patung Budha di puncak Borobudur. Tepat di hadapannya ada tumpeng lengkap dengan ubo rampe dan kepala kerbau dengan sepasang tanduk panjang. Di pojok kiri bawah Hanoman, si kera putih, duduk bersila mengikuti detik-detik ritual Ruwatan Murwokolo yang sedang dijalankan Semar.

Ada yang unik pada penampilan Semar. Dewa yang merakyat itu tidak berkostum serius dengan pernak-pernik khas tokoh pewayangan. Ia juga menanggalkan kain motif kotak-kotak hitam putih mirip papan catur yang biasa melingkari bokongnya yang super gendut. Ia tampil bertelanjang dada dengan semacam sarung polos menutupi pingang sampai kaki.

Beginilah Sohieb, ia merekam, mengingat, meramu dan akhirnya menampilkan tokoh Semar yang santai dan jauh dari kesan formal.  Tak hanya Murwokolo, nyaris di semua lukisan karyanya itu, Semar tampil informal, santai, modern dan milenial. 

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Ir. Singgih Raharjo, SH., M. Ed menerima lukisan “potret diri” dari Sohieb Toyaroja, usah membuka pameran di Jogja Gallery, 2 Juni 2021. (foto: tika)

Pada Lukisan “Semar Sebagai Superman” misalnya, tokoh sentral Punokawan ini ia bidik sedang terbang dengan sayap lebar berwarna merah persis tokoh rekaan Jerry Siegel yang dipopulerkan oleh DC Comics itu. Jauh di ketinggian angkasa raya Semar seperti mengirimkan energi untuk melindungi seluruh permukaan bumi. Demikian pula lukisan-lukisan lainnya. Sohieb menampilkan Semar yang seperti sedang mendaraskan doa-doa bagi keselamatan semesta.  

Rupanya, sosok Semar yang abnormal dengan tubuh pendek, wajah tebal, perut buncit dan bokong besar itu itu sangat berarti bagi kehidupan Sohieb. Pelukis yang lahir di Kediri tahun 1968 itu mengaku bahwa Semar adalah figur teladan. “Sosok Semar menyimpan keutamaan sikap dan laku serta keluhuran budi pekerti sebagai tuntunan dalam menjalani kehidupan, baik kehidupan keseharian maupun kehidupan berkesenian,” paparnya.    

Karena itulah, dalam karya lukisnya, Sohieb mencomot Semar sebagai tokoh yang ia pasrahi untuk meruwat jagad tatkala bumi diuji oleh rupa-rupa tragedi. “Saya merasa kondisi kita dan dunia sedang dalam keadaan sakit baik secara fisik maupun secara spritual dan dalam kondisi tersebut, ngeruwat merupakan salah satu ikhtiar atau upaya yang perlu dilakukan,” jelas pemilik Galih Art Studio di Cinere, Depok, Jawa Barat ini. 

Sohieb berpesan bahwa Semar yang menjadi tokoh lukisannya itu hanyalah sarana atau medium.  Ruwatan atau pembersihan yang sesungguhnya tetap berpulang pada pribadi masing-masing.  Caranya, menurut Sohieb, dengan introspeksi diri kemudian memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. “Selanjutnya jadilah Semar bagi diri sendiri dan ruwatlah jagad secara bersama-sama,” pungkas Sohieb. (Ernaningtyas)

Berfoto di depan karya masterpiece berjudul “Murwokolo”. Dari kiri: Suwarno Wisetrotomo (kurator pameran), Bobby Aryanto (penasihat pameran), dr Oei Hong Djien (OHD Museum, Magelang), Singgih Raharjo (Kepala Dinas Pariwisata DIY), Sohieb Toyaroja (pelukis), Roso Daras dan Scholastika Sastranegara (koordinator pelaksana pameran/Arthemis). (foto: tika)

Jagad Keris, Dari Masa ke Masa

Display keris dan wrangka-nya. (foto: roso daras)

Jayakarta News – Keris, tak pelak menjadi warisan budaya adilihung. Terlalu banyak kisah dan cerita tentang keris yang mengalir mengiringi irama sejarah Babad Tanah Jawa, hingga masa kerajaan-kerajaan, bahkan hingga hari ini.

Ada cerita keris Mpu Gandring, yang memakan korban Mpu Gandring sendiri sebagai pembuat keris. Ia dibunuh Ken Arok yang tidak sabar menanti selesainya proses pembuatan keris itu. Mpu sakti pembuat keris itu pun mengutuk Ken Arok sebelum lepas ajal. Kutukan itu pun kemudian terjadi, keris Mpu Gandring menelan banyak korban mulai dari Ken Arok, orang-orang di sekitar Ken Arok, hingga turun-temurun.

Ihwal kesaktian keris, masyarakat Jawa juga mengenal keris Nogo Sosro Sabuk Inten. Keris Kyai Condong Campur milik kerajaan Majapahit. Keris Kyai Setan Kober ageman Ki Aryo Penangsang. Dan masih banyak lagi kisah keris sakti dengan kekuatan yang luar biasa.

Sebagai “senjata” perorangan, keris biasanya melekat pada si empunya. Zaman dulu, keris disakralkan. Saat ini, tidak sedikit masyarakat yang juga masih memperlakukan keris sebagai pusaka yang harus dirawat dengan berbagai ritual.

Bangsa ini juga mengenal para pahlawan nasional dari foto dan lukisan, lengkap dengan senjata keris bersamanya. Sebut saja Jenderal Sudirman. Sekalipun ia seorang prajurit, seorang tentara, tetapi ke mana pun bertugas, ia tak pernah meninggalkan kerisnya.

Juga tokoh pahlawan lain seperti Pangeran Diponegoro. Trah Sultan Yogya yang anti-Belanda dan gigih memerangi Belanda ini juga terkenal dengan keris saktinya yang dikenal sebagai Kyai Nogo Siluman. Keris sakti ini raib bersamaan dengan ditangkap dan dipenjaranya Pangeran Diponegoro. Sejumlah informas yang berkembang akhir-akhir ini, keris itu dibawa ke Belanda. Bahkan berita beberapa waktu lalu, keris Pangeran Diponegoro dikoleksi oleh warga Jerman.

Tokoh lain yang penampilannya selalu dilengkapi keris adalah Kyai Mojo. Sekalipun bergelar kiai, tetapi keris tetap menjadi pelengkap penampilannya. Masih banyak tokoh pahlawan lain yang akrab dengan keris.

Para pahawal yang tampil dengan keris pusakanya. Atas dari kiri Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, dan Kyai Mojo. Bawah dari kiri: Tuanku Tambusai, Sultan Agung Tirayasa, dan I Gusti Ketut Jelantik. (foto: roso daras)

Kedekatan secara emosional masyarakat dengan keris, menjadikan benda yang satu ini langgeng keberadaannya. Ketika tinggal sedikit saja masyarakat yang masih menyakralkan keris, pelan-tapi-pasti, generasi yang lebih muda mengapresiasi keris dalam bentuk yang berbeda.

Setidaknya, dalam pakem budaya tradisional, setiap set lengkap busana, selalu disertakan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. Di beberapa daerah, diselipkan di depan.

Apresiasi lain dalam bentuk souvenir. Kini, dengan uang beberapa ratus ribu rupiah saja sudah bisa mendapatkan sebilah keris yang indah. Bisa buat pajangan.

Merebak dan bertahannya keris di tengah-tengah kehidupan kita, tak bisa dipungkiri berkat dukungan pemerintah pula. Seperti yang baru-baru ini digelar di Jogja Gallery, Jogja International Heritage Festival Keris 2019, tanggal 30 Agustus – 3 September 2019.

Acara yang diresmikan Gubernur DI Yogyakarta yang juga Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X itu terselenggara atas dukungan Dana Keistimewaan yang ada di Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.

Selain memajang aneka keris berbagai daerah dan luar negeri, event itu juga dirangkaikan dengan sejumlah kegiatan pendukung. Misalnya, Lomba Foto “Budaya Keris”, Travel Heritage, Pameran Symbolika Keris, Bursa Keris, Seminar Keris, dan Konsultasi Keris. Di satu sudut Jogja Gallery, seorang perajin memeragakan kerja mpu pembuat keris. Ia duduk memeragakan cara membuat keris.

Perajin keris berdemo di sudut Jogja Gallery. (foto: roso daras)
Ragam bentuk “dhapur” bilah keris. (foto: roso daras)

Dalam salah satu panel, pengunjung diberi informasi hal ihwal keris. Keris dibuat dari logam campuran melalui teknik tempa lipat, sehingga menghasilkan guratan-guratan ornamentik baik abstrak maupun figuratif yang disebut “pamor”. Istilah pamor berarti “awor” atau mencampur yang mencerminkan simbol perkawinan kosmis antara Bapa Angkasa dan Ibu Bumi. Konsep ini mencerminkan keselarasan hubungan manusia dan Sang Pencipta.

Sifat besi liat tetapi tidak tajam, sifat baja tajam tetapi mudah patah, sifat nikel/meteorit liat dan indah, sehingga teknik tempa lipat pamor dapat menghasilkan karakter logam yang liat, tajam, kuat, dan indah.

Keris dilengkapi berbagai bagian yang disebut dengan istilah rerincikan. Tiap-tiap rerincikan tersebut menjadi ciri dan tanda atas rupa atau tipologi bentuk keris, yang kemudian disebut dengan istilah “dhapur”. Dhapur memiliki fungsi dan makna yang disesuaikan dengan pemiliknya. Dalam manuskrip Kawruh Mpu diterangkan setidaknya terdapat lebih dari 742 dhapur keris yang menunjukkan kreativitas dan estetika keris yang sangat beragam. (roso daras)

Sebilah keris di antara patung loro blonyo. Indah sebagai hiasan. (foto: roso daras)

Sri Mulyani dan Pangeran Diponegoro

Dari kiri ke kanan: suami Ibu Menkeu, Indro Kimpling Suseno (direktur eksekutif Jogja Gallery), Menkeu, Ki Roni Sodewo (keturunan ke-7 Diponegoro/Patra Padi), Mikke Susanto (kurator pameran). (foto: istI

 Sangat memukau menikmati cerita sejarah yang inspiratif dalam karya lukisan yang luar biasa. Karya ekspresi dan imajinasi.  Terimakasih sudah merangkai cerita yang manusiawi dan indah tentang Diponegoro.

                                              Sri Mulyani Indrawati

 JAYAKARTA NEWS – Begitulah kesan yang ditulis Sri Mulyani Indrawati. Menteri Keuangan (Menkeu) mengunjungi Pameran Sastra Rupa Babad Diponegoro di Jogja Galeri pada Jumat (15/2) pukul 15.15 wib.  Dua lukisan ia beli. Pertama, “Blirik” karya Hadi Soesanto. Kedua, “Menyusun Siasat” karya Mahdi Abdullah. Sesaat setelah memandang-mandang keduanya, membaca-baca pupuh di captionnya, Sri Mulyani langsung berniat membelinya. Letak “Blirik” dan “Menyusun Siasat” termasuk di bagian awal dari 51 karya yang dipajang. Lantas, Dr Mikke Susanto MA, sang kurator, membisikinya. “Ibu, sebaiknya menyaksikan semuanya dulu, setelah itu baru Ibu bisa memilih,” pinta dosen Seni Murni Institut Seni Indonesia itu. Si Menteri menurut.

Sri Mulyani mencermati sejarah Diponegoro. Satu persatu lukisan ia pelototi bersama pemandu Ki Roni Sodewo, keturunan ke-7 Pangeran Diponegoro. Menkeu turut membaca semua pupuh berbahasa Jawa pada caption setiap gambar. Ia tampak kagum pada lukisan kaca karya Rina Kurniyati di selasar galeri, juga lukisan Astuti Kusumo, “Tembang Cinta” yang bergaya ekspresonis, dari kejauhan. Lukisan-lukisan lainnya pun mendapat apresiasi yang luar biasa dari Bu Menteri. Tak satu pun karya terlewat. “Lukisannya bagus sekali, terasa melihat alur dalam film meski lukisan ini tidak bergerak,” kata Sri Mulyani. Apresiasi Menkeu berlanjut pada buku-buku dan pustaka Diponegoro yang disajikan dalam lemari kaca.

Dua jam berlalu. Di akhir kunjungannya, Sri Mulyani kukuh pada pendirian awal. Sejumlah 49 lukisan lainnya tak mampu menggoyahkan keputusannya. Ia terlanjur jatuh hati pada si “Blirik” dan “Menyusun Siasat”.

***

Sri Mulyani, Mahdi Abdullah dan “Menyusun Siasat”. (foto: ist)

Dunia perekonomian Indonesia seperti medan pertempuran. Sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani berdiri di barisan terdepan. Selayaknya Pangeran Diponegoro, ia pemimpin. Dalam sebuah perang, adu siasat menjadi kunci kemenangan. Siapa lemah di lini ini, kekalahan menjadi vonis pasti. Banyaknya serdadu, dukungan bedil dan meriam, serta kendaraan lapis baja yang angker tongkrongannya, belum tentu membuat pemiliknya meraih kemenangan. Ia bisa saja kalah melawan musuh yang hanya bersenjata ketapel atau panah bahkan tangan kosong sekalipun, hanya karena  siasat yang keliru.

Menkeu memiliki musuh. Koruptor! Si korup itu bisa berwujud pengemplang pajak, pelapor neraca keuangan fiktif, pelaku pungutan liar, pemark up nilai proyek, pencatut dana bantuan dan sejenisnya. Si musuh bisa bergerilya atau terang-terangan beraksi. Mereka bisa sendiri atau berkelompok. Yang jelas, sendiri atau bersama, yang mereka rampas sama: uang  atau  sumber daya. Demi menyelamatkan kekayaan negara juga demi sebuah pemerintahan yang bersih  Sri Mulyani, mau tidak mau, harus “berperang”. Dan ia ingin menang. Untuk itu Menkeu, seperti juga Pangeran Diponegoro, menyusun siasat. Pangeran Diponegoro tak ingin Pemerintah Kolonial merampas tanah rakyat. Menkeu tak rela pundi-pundi negara bocor di sana sini. Bagi orang seidealis Sri Mulyani, tindakannya menyelamatkan harta negara suci. Sesuci Pangeran Diponegoro dengan Perang Jawanya.

Perang Jawa berlangsung selama lima tahun, 1825-1830. Pangeran Diponegoro didukung milisi pribumi dan Tionghoa di satu sisi, melawan Jenderal Hendrik Merkus  De Kock yang didukung oleh tentara kumpeni dan milisi pribumi yang pro mereka. Di sini, siapa lawan siapa kawan jelas. Mereka berjarak. Ada batasnya. Gampang dilihat. Tidak demikian dengan Sri Mulyani. Musuh Menkeu berkelindan di seputarannya. Mungkin mereka staf sendiri.  Barangkali juga mereka staf  kementerian lain dari yang paling atas sampai posisi terbawah, rekan kerja di lembaga tinggi dan tertinggi negara, juga para rekanan atau pengusaha yang mengerjakan  proyek-proyek kelas jutaan sampai triliunan. Musuh dalam selimut. Mungkin istilah itu paling cocok menggambarkan lawan-lawan Sri Mulyani. Siapapun wujud musuh, butuh siasat atau strategi untuk menghadapinya. Diponegoro bersiasat agar tanah rakyat tidak dicaplok De Kock dan orang-orang yang tak berhak. Sri Mulyani bermanuver agar uang negara tetap utuh tanpa ada oknum yang menggerogotinya.

Sri Mulyani Dan “Blirik” karya Hadi Soesanto. (foto: ist)

Sosok Diponegoro identik dengan dunia peperangan. Perang Jawa disebut sebagai salah satu perang terbesar melawan Pemerintah Kolonial. Sejumlah 200 ribu milisi Diponegoro gugur. Sejumlah 7000 pribumi pro Kumpeni dan 8000 tentara Hindia Belanda tewas. Rupanya, Sri Mulyani tak ingin seperti Diponegoro yang selama lima tahun dalam hidupnya bersengkarut dalam medan peperangan yang berdarah-darah. Dan berakhir kalah. Sri Mulyani ingin tampil sebagai pemenang, tanpa melibatkan pertumpahan darah.

Lukisan “Menyusun Siasat” karya Mahdi Abdullah menjadi klop di sini.  Tak ada darah di lukisan itu.  Mata pisau  sang tombak bersih. Ia menjadi penyangga yang anggun. Diponegoro menyusun siasat dengan prajuritnya tanpa meja tanpa kursi, tikarpun tak mengalasi. Lambang kesederhaan dan ritme untuk bisa  bergerak cepat. Sri Mulyani terpukau dengan adegan itu. Ketika kebocoran uang negara tak pernah menunjukkan tanda-tanda berhenti, bahkan mungkin kian menjadi-jadi, maka siasat untuk mencegahnya tak lagi tunggal. Ia mesti up to date. Diperbarui dengan cepat dari waktu ke waktu. Mahdi Abdullah boleh berbangga. “Menyusun Siasat” karyanya, bisa jadi akan terus menemani Sri Mulyani dalam menyusun strategi di sepanjang siang  atau selama malam-malamnya. Ada adegan gambar catur di sisi kanan bawah. Di situ raja hitam kalah. Kenyataan bicara sebaliknya. Diponegoro tertangkap setelah ratusan ribu tentaranya wafat. Ia keok oleh siasat licik De Kock.  Sri Mulyani tidak menghendaki itu terjadi pada dirinya. Ia ingin menang tanpa ada pertumpahan darah. Ia tak ingin kalah siasat dibanding musuh-musuhnya yang kian pandai beraksi. Lukisan “Menyusun Siasat” sangat menginspirasi. Karena itu Sri Mulyani memilihnya. Bukan lukisan yag lain.

Lukisan “Blirik” menjadi pelengkap yang pas. Ia berbicara tentang pemilahan ikan di tambak Pangeran Diponegoro. Sang Pangeran mengerjakannya bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IV dan Pangeran Suryobrongto. Para petinggi Kraton itu melakukan dua pekerjaan, mencari dan membagi. Sama dengan Sri Mulyani,  Menkeu mencari uang untuk kas negara lantas membaginya demi kelangsungan hidup bersama. Tak hanya siasat melawan tikus-tikus berdasi, strategi untuk mendapatkan pos-pos pemasukan tak pernah absen dari buku pe-er Sri Mulyani.  Juga bagaimana ia membagi, butuh cara-cara atau taktik yang tak mudah. Siapa mendapatkan berapa dan kapan ia memperolehnya.

Hadi Soesanto menampilkan 12 cangkir motif blirik. Hanya satu saja piranti makan itu yang berisi ikan, tepatnya kepala ikan. Ada dua versi yang bisa menjelaskan. Pertama, mungkin kegiatan menangkap ikan belum selesai, sehingga baru satu cangkir yang terisi. Kedua, mungkin hanya ada satu ikan hasil tangkapan yang harus dibagi dan proses pembagian itu belum selesai. Tak jelas, apakah cangkir yang sudah tertutup rapi berisi ikan atau tidak. Yang jelas, dalam lukisannya, Hadi Soesanto menampilkan 12 cangkir, satu saja cangkir yang berisi ikan. Hadi Soesanto menggambarkan piranti dapur itu dalam ukuran yang sama, bentuk yang seragam, warna yang persis. Lukisan “Blirik” itu seperti mengingatkan Menkeu agar membagi-bagi pendapatan secara jujur, adil dan tentu saja tidak diskriminatif.

Menkeu mengapresiasi lukisan “Babad Biru Kedaren” karya S. Soneo Santoso. (foto: ist)

Di Pameran Sastra Rupa Babad Diponegoro, seni tidak hanya untuk seni. Ia mampu menjelaskan sejarah dalam wujud yang berbeda. Sri Mulyani tak hanya mengapresiasi. Lukisan perjalanan Diponegoro itu sangat menginspirasi. Ia mengambil pelajaran darinya. Begitulah seharusnya orang memaknai perjalanan sejarah bangsanya. Karena itu Sri Mulyani mengungkapkan kesannya terhadap Sastra Rupa Babad Diponegoro itu sebagai pameran yang inspiratif. Dan ia menutupnya dengan ucapan: “Terima kasih sudah merangkai cerita yang indah dan manusiawi tentang Diponegoro”.

Ibu Sri Mulyani, selama 12 tahun bersama guru sejarah, saya hanya sebatas tahu tentang cerita masa lalu dan tanggal terjadinya peristiwa. Setelah ujian berakhir, semuanya lupa. (Ernaningtyas)

Menkeu menyaksikan buku-buku dan pustaka Diponegoro yang disajikan dalam lemari kaca. (foto: ist)

Lukisan “Lautan Kuda Laut” Apresiasi untuk Menteri Susi Pudjiastuti

Sarwozen, Bunda Yani dan “Lautan Kuda Laut” sebuah lukisan untuk mengapresiasi kerja keras, berani dan bernyali Dari menteri Susi Pudjiastuti.

Oleh: NIna Hafez

Selama ini, ajang pameran karya seni khususnya seni rupa baik patung maupun lukis didominasi orang-orang dewasa.  Wadah serupa untuk perupa anak-anak sangat minim.

“Pelukis  anak-anak kurang diperhatikan.  Mereka tidak mendapatkan wadah yang optimal untuk memamerkan karyanya seperti orang dewasa.  Sementara di Yogya ini saja banyak pelukis anak yang memiliki potensi luar biasa.  Saya yakin  mereka akan menjadi pelukis-pelukis besar dunia,” tutur Yani Saptohudoyo di sela-sela Pameran Seni Rupa “Keluarga Nusantara”  Sabtu malam (12/1), di Jogja Gallery, Yogyakarta.  Pameran akan berlangsung hingga tanggal 21 Januari.

Bunda Yani, demikian ia akrab disapa, bertindak sebagai pembuka acara pameran seni rupa yang diikuti oleh sekitar 80-an peserta, baik  pelukis maupun  pematung.  Usia peserta beragam, mulai dari anak-anak sampai dewasa.  Mereka berasal dari berbagai tempat di Indonesia antara lain Yogyakarta,  Bali, Jakarta, Semarang, Purworejo, Bekasi, Bandung, Surabaya dll.  “Kolaborasi antara perupa anak dan dewasa seperti ini sangat penting.  Anak-anak bisa belajar dari seiornya, sementara yang dewasa bisa memberikan bimbingan kepada para yuniornya, “ tutur Bunda Yani.

Setelah Bunda Yani Saptohudoyo, Torres si pemilik 600 piala lomba melukis, menggoreskan cat pada Pembukaan Pameran seni Rupa “Keluarga Nusantara” di Jogja Gallery.

Ada 15-an peserta anak yang ikut ambil bagian dalam pameran yang diselenggarakan berkat kerja bareng komunitas seni  Yogya antara lain “Sedulur Nyeni” dan “Sanggar Arundaya”.  Sementara peserta dewasa ada sejumlah 60 lebih,  5 diantaranya pematung.

Pelukis anak-anak yang ikut ambil bagian antara lain Torres, Nufail, Dora Pnasti, Jeva Dananjaya, Sarwozen Pikir, Bhagaskara Taylor, Renate Taylor, Carolina Taylor dll.   Torres  pelukis anak berbakat Yogya sudah mengantongi 600 piala dari berbagai lomba lukis.  Ia menampilkan karya berjudul “Jogja Q”.  Dora Pinasti asal Madiun tampil dengan karya “The Jungle”.  “Pesona Pulau Dewata dipersembahkan Nufail.  Arya  Riring mempersembahkan lukisan “Perkotaan Yang Padat”.

“Berman Sepeda” karya perupa 3D Sukoco Hayat ini mengajak setiap anggota Keluarga kembali menggoes. ramah lingkungan dan sehat.

Apresiasi Untuk Menteri Susi  

Sarwozen Pikir, pelukis anak yang baru pertama kali ikut pameran,  menampilkan karya “Lautan Kuda Laut”.  Lukisan keluarga kuda laut yang sedang berkumpul menyambut kelahiran bayi-bayi baru ini merupakan apresiasi untuk Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti yang telah berhasil merebut kembali kemerdekaan laut Indonesia dari kapal-kapal pencuri ikan berbendera asing.

Akibat kerja keras, berani dan bernyali si  Menteri Susi itulah terjadi ledakan populasi makhluk-makhluk laut.  Tidak ada lagi anggota keluarga mereka yang terjaring dalam jumlah yang sangat besar oleh kapal-kapal pukat harimau.  “Kapal dengan bendera patah di latar samping itu yang ditenggelamkan Bu Susi,” kata Zen, demikian ia akrab disapa.

Di ajang pameran kolaborasi anak dan dewasa ini, perupa kecil bisa belajar dari para seniornya, baik dari segi ide maupun teknis.   Bunda Yani berharap, di waktu mendatang,  wadah untuk ruang pamer karya anak semakin terbuka lebar.

Suasana Pameran “Keluarga Nusantara” Di Jogja Galerry

“Ini bisa dimungkinkan karena kini Yogya telah memiliki Museum Seni Imogiri yang bisa digunakan untuk berpameran disamping tempat untuk belajar dari para pelukis pendahulu lewat karya-karya mereka ,” imbuh ibu dari perupa Sekarlangit Saptohoedojo ini.

Di usia kepala enam, Bunda Yani istri dari pelukis top Saptohoedojo ini tampak awet muda.  Malam itu ia tampil dalam balutan stelan kebaya modern warna oranye dengan rambut disanggul.  Tak sampai satu menit, pelukis Kirman melukisnya dalam bentuk siluet saat Bunda Yani tampil di atas panggung.  “Seratus ribu untuk siluet ini” kata Bunda Yani.  Malam itu, pelukis Kirman menerima order lukisan siluet wajah.  Semua hasilnya disumbangkan untuk  korban tsunami Selat Sunda.

Joseph Wiyono, perupa sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menyatakan bahwa Pameran “Keluarga Nusantara” ini mengakomodir  bermacam-macam potensi artistik setiap anggota keluarga dalam satu wadah ruang karya.

“Di tempat ini anak-anak mendapatkan ruang kegembiraan kreatif yang membuat mereka menemukan semangat, penghargaan dan kepercayaan diri atas talenta mereka,” papar Wiyono.  Dia menambahkan bahwa Pameran Sei Rupa “Keluarga Nusantara” ini memiliki daya spirit untuk mengasah, mengasih dan mengasuh setiap anggotanya sehingga bisa melahirkan karya-karya yang membanggakan.***

 

Terbesar di Indonesia: Bazar Seni Lebaran Yogya

Tak kurang dari 700 karya lukis dipamerkan dalam Bazar Seni Lebaran, di Jogja Galleri, 14, 15 dan 17 – 23 Juni 2018. Foto-foto: indro kimpling

JIKA Anda pemudik Yogyakarta dan sekitarnya Lebaran ini… jika Anda berlibur ke Yogyakarta Lebaran ini… please… catat agenda berikut: Bazar Seni Lebaran, Jogja Gallery (alun-alun utara), tanggal 14, 15, 17 sampai dengan 23 Juni 2018. Jangan lewatkan bazar seni terbesar yang pernah ada di Yogyakarta, bahkan di Indonesia.

Jika di ibu kota ada event Bazaar Art Indonesia, maka di Yogyakarta ada Bazar Seni Lebaran. Sama-sama bazar besar, tapi beda segmen. Bazaar Art Indonesia yang pernah digelar di The Ritz-Carlton, Jakarta Pacific Place, menghimpun koleksi 42 galeri dari 11 negara, termasuk Indonesia. Sedangkan Bazar Seni Lebaran Yogyakarta, menampung karya lebih dari 200 seniman Yogya dengan 700 karya lebih. Belum pernah ada pameran lukisan sebesar itu.

Sebagai kiblat seni rupa, Yogya memiliki segudang seniman yang kini bertengger di papan atas. Mereka termasuk yang mendukung antusias Basar Seni Lebaran ini. Tercatat sejumlah seniman papan atas turut mengisi materi bazar. Mereka antara lain, Totok Buchori, Aming Prayitno, Joko Pekik, Suwaji, dan lain-lain.

Seniman-seniman papan atas Yogyakarta turut berpartisipasi dalam Bazar Seni Lebaran Yogyakarta ini. Foto: Indro Kimpling

Inilah kerja bersama Jogja Gallery dan KRG (Kelompok Rakhmat Guyub) yang bakal tercatat di sejarah pameran lukisan di Tanah Air. “Kami hanya bicara sekitar 10 menit, lalu sepakat membuat Bazar Seni Lebaran. Niatnya, mengajak para seniman Yogya menyambut kedatangan para pemudik dan para pelancong musim Lebaran. Mereka tentu memerlukan cenderamata khas dan eksklusif dengan harga terjangkau,” ujar Rakhmat Supriyono, pimpinan KRG.

Ditambakan, ini adalah langkah kreatif realistis menyiasati kondisi yang ada dengan sebuah taktik jitu menggelar bazar seni yang menampilkan barang seni berkualitas. Karya seni yang digelar dalam bazar yang dibuka mulai pukul 10.00 – 21.00 itu, meliputi lukisan, batik, keris, batu mulia, dan seni pigura.

“Di luar dugaan, respon para seniman begitu besar. Hanya dalam waktu kurang dari dua minggu, lebih 200 seniman menyatakan ikut. Alhamdulillah, spontanitas ini berjalan lancar. Semua karena gotong royong,” tambah KRMT Indro Kimpling Suseno, Direktur Jogja Gallery, saat tumpengan selamatan, tadi malam (12/6).

Indro Kimpling dan penulis.

Pemotongan tumpeng sendiri dilakukan oleh KRT Sugiharto Soelaiman selaku Direktur Utama Jogja Gallery disaksikan Dr Sugiyanto H. Semangun, serta dihadiri para seniman Yogya. Di antara mereka, sastrawan Jawa, R. Bambang Nursinggih, S,Sn dan lima anggotanya, membawakan “sastra mantra”, dalam tembang mocopat yang menghanyutkan suasana. Tak kurang, seniman Gde Mahesa juga membacakan puisi Khalil Gibran dengan iringan instrumen tiup oleh musisi Memet Chairul Slamet, pimpinan grup orchestra Gangsadewa Ethnic Ensemble. ***