Salam Hormat dan Tali Kutangmu, tak Ada Lagi

 Salam Hormat dan Tali Kutangmu, tak Ada Lagi
Tetet Srie WD (kiri) saat hadir di reuni Teater Alam beberapa waktu lalu. Kanan, suasana menjelang pemakaman di Purwokerto.

DINI hari Sabtu, 25 Agustus 2018, pukul 02.15 wib, Indonesia kembali kehilangan seniman besar yang menghabiskan hidupnya untuk seni tari dan koreografer. Tetet Srie Wd, (63) telah berpulang ke pangkuan Tuhan Yang Maha Esa, di RS Sari Asih, Ciputat.

Pria kelahiran Yogyakarta, 15 Januari 1955 ini belajar tari klasik di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Yogyakarta. Kesukaannya akan tari terus membuatnya bergabung dengan Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja di Yogyakarta, Fine of arts Wisnoe Wardhana Dance Group di Yogyakarta, Teater Alam di Yogyakarta, Konservatori Tari Yogyakarta dan belajar di LPKJ/IKJ mengambil jurusan koreografi. Puluhan karya tari telah lahir dari tangan dinginnya. Puluhan negara telah mengundangnya untuk mementaskan karyanya.

Komunikasi terakhir saya dengan almarhum Tetet Srie Wd adalah melalui WA tanggal 15 Agustus ketika dia menyampaikan info pengunduran jadwal Pesta Nusantara ke tanggal 11 – 15 September 2018. Sejatinya kami sudah bertemu (dan mungkin ini pertemuan terakhir jika terwujud) tanggal 19 s.d. 24 Agustus 2018 di acara itu jika tak ada pengunduran jadwal.

Penulis bersama almarhum Tetet Srie WD di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Tuhan punya agenda terbaik untuk Mas Tetet Srie WD. Penyakit jantung yang sering dikeluhkannya akhirnya mengantarkannya ke pangkuan Yang Kuasa.

Pertemuan terakhir saya adalah saat di Cafe Venus, Taman Ismail Marzuki, 30 Juni 2018. Saat itu beliau mengajak saya bertemu ketika mengetahui posisi saya sedang di Jakarta. Tujuan pertemuan itu, selain silturahmi, adalah membicarakan kegiatan Pesta Nusantara dan undangan kegiatan budaya di Belanda.

Mas Tetet Srie WD pernah hadir di Banjarmasin saat saya undang menjadi pembicara dan baca puisi di Seminar Internasional Sastra Indonesia, bulan Desember 2017 lalu.

Tetet Srie WD (tengah) bersama teman-temannya, keluarga besar Teater Alam Yogyakarta.

Selamat jalan, Mas Tetet Srie WD.

Penampilan khasmu yang taklepas dari sarung itu akan tetap membuatku rindu. Nasihat dan pengetahuan darimu tentang bagaimana berkesenian dan kerendahhatian akan tetap jadi bekal bagiku. Frase ‘Di tepian Tali Kutang” yang menjadi ciri identitas penulisan puisimu, sangat berkesan.

Jenazah Tetet sempat disemayamkan di RS St Carolus, Jakarta Pusat. Keesokan harinya (Minggu (26/8) dimakamkan di Purwokerto, Jawa Tengah.

Sekilas Tetet

Belajar tari klasik Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat di Yogyakarta. Bergabung dengan Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja di Yogyakarta. Bergabung dengan Fine of arts Wisnoe Wardhana Dance Group di Yogyakarta. Bergabung dengan Teater Alam di Yogyakarta. Belajar di Konservatori Tari Yogyakarta. Belajar di LPKJ/IKJ mengambil jurusan koreografi.

1987

– Menyelenggarakan Konser Musik Dan Tari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Gedung Kesenian Jakarta.

– Menampilkan Koreografi Asmat di Italia, Prancis dan Jerman.

– Menerima penghargaan koreografi dari UNESCO Paris.

1988

– Menerima penghargaan koreografi dari Central E’ole Univercity, Paris.

– Tampil pada forum kebudayaan di Vietnam.

1989

– Tampil pada International Performing Arts 89, forum Asian Collection, di Kumamoto Jepang.

– Tampil pada forum kebudayaan di Vietnam.

1990

– Menyelenggarakan pameran lukisan Bagong Kussudiardja, di PKJ Taman Ismail Marzuki.

– Menyelenggarakan Pergelaran balet Coppelia dari Perancis di PKJ Taman Ismail Marzuki.

– Menyelenggarakan Konser Musik dari Cekoslovakia di Gedung Kesenian Jakarta dan Bhumy Hyatt Hotel Surabaya.

– Menyelenggarakan Pameran Lukisan Studio 45 di Museum Gedung Joang 45 Jakarta.

– Menyelenggarakan Pameran Lukisan Treda Mairayanti dan Benny Poernomo di Balai Budaya Jakarta.

1991

– Tampil pada World FolkDance Festival 91 di Palma de Mallorca, Spanyol.

– Tampil pada Pergelaran di Cairo Opera House dan di Alexandria National Theatre, Mesir.

– Tampil pada International Folk Dances Festival 91 di Luxor, Mesir.

1992

– Mementaskan Gusti Kanjeng Ratu Kalinyamat di Teater Terbuka PKJ Taman Ismail Marzuki.

– Menyelenggarakan Konser Opera Trisutji Juliati Kamal dengan Vera Soukupova dari Republik Ceko, di Gedung Kesenian Jakarta dan di Kraton Yogyakarta.

1993

– Tampil pada Hungarian International Folk Dances Festival di Hungaria.

– Mementaskan Bahana Citra Pelajar Indonesia di Graha Tiara Senayan Jakarta.

1994

– Mementaskan Sound And Light In Memoriam Of Maria Callas; Perjalanan Di antara Abad Dan Mitos, di Gedung Kesenian Jakarta dan Yogyakarta.

– Mengerjakan koreokamera produksi TVRI Stasiun Pusat Jakarta antara lain Pracana Pandhudewanata, Dongeng Pandhu-Narasoma dan Program Budaya Lentera.

1995

– Mementaskan Cinta Negeri Cinta Bahari untuk Yayasan Hang Tuah.

– Menyelenggarakan ASMAT CHARITY PROGRAM dengan mengundang West Australian Ballet.

1996

– Mementaskan koreografi SEMAR MBABAT JAGAD di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki.

– Mementaskan ceritera Ajisaka dalam bentuk Macapat pada forum Pekan Pertunjukan Kebudayaan DKI Jakarta.

– Mengelola program seni pertunjukan Jakarta Hilton.

– Melaksanakan Pameran Kebudayaan Yunani di Museum Nasional Jakarta.

1997

– Mementaskan koreografi SEMAR MBABAT JAGAD di TVRI Sta Pus Jakarta

– Mementaskan koreografi GENDARI DI ANTARA BUNGA

– MERAH DAN JINGGA di TVRI Sta Pus Jakarta

1998

– Mementaskan SKETSA SE -ABAD PERJALANAN INDONESIA untuk siaran langsung TVRI Sta Pus Jakarta.

– Mementaskan BUNGA ANYELIR di Sta Pus Jakarta

1999

– Menyelenggarakan Seminar Film Nasional di Jakarta.

– Mementaskan BERBURU JANGKRIK BERKEPALA REMBULAN pada Makassar Arts Forum 99.

2000

– Mementaskan SKETSA KOTA JAKARTA U/TVRI Sta Pus Jakarta.

– Menyelenggarakan KONSER MUSIK & TARI KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT dan PIDATO

– KEBUDAYAAN SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X di Jakarta Hilton dan PKJ. TIM.

2001

– Mengikuti Kompetisi dan Festival Koreografi Internasional di Palma de Mallorca Spanyol.

– Pementasan di Los Angeles, USA, Forum Gema Nusantara.

– Mengikuti International Seminar Contemporary of the Performing Art of the Indonesia Art Summit III.

2002

– Menyelenggarakan Pameran Lukisan karya Para Pelukis Jakarta, Indonesia

– Mendirikan PERSAUDARAAN MASYARAKAT SENI KONTEMPORER JAKARTA.

2003

– Menyelenggarakan Pergelaran koreografi di Medan, INDONESIA

2004

– Menyelenggarakan Pergelaran koreografi di sejumlah kota di Indonesia.

– Nominator Penulisan Skenario Film Indonesia bertajuk ASMARA DI BALIK TEMBOK KRATON.

– Menyelenggarakan Pergelaran SOLO SANS FRONTIER, INDONESIA.

– Mementaskan drama RENUNGAN MALAM PEMAIN MALAM untuk Televisi Sta Pus Jakarta.

– Mementaskan drama KISAH SYAILINDRI untuk Televisi Sta Pus Jakarta.

– Mementaskan drama KUTANG ADIPATI KARNA untuk Televisi Sta Pus Jakarta.

– Menyelenggarakan Pergelaran RENUNGAN AKHIR TAHUN 2004, TIM Jakarta, INDONESIA.

2005

– Menyelenggarakan Pergelaran SOLO SANS FRONTIER, INDONESIA.

2006

– Menyelenggarakan seminar seni pertunjukan di Lemhanas.

– Menyelenggarakan Pergelaran Seni Pertunjukan SOLO SANS FRONTIER, INDONESIA.

2007

– Menulis Skenario Film Pendidikan untuk 30 episode.

2008

– Menulis Skenario Film Pendidikan untuk 9 episode.

2009

– Menyelenggarakan Festival Sindhen Internasional.

2010

– Mementaskan opera kolosal PANCA WIRA SATYA; 2010 penari, music oleh Idris Sardi, di Monumen Nasional Jakarta, dan mendapatkan penghargaan dari MURI.

– Menyelenggarakan Seminar Wayang dan Festival Dalang.

– Menjadi Direktur Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata.

2011

– Mementaskan opera kolosal Anti Narkotika Internasional; 4.870 pemain, musik oleh Idris Sardi, di Monumen Nasional Jakarta.

– Hadir dan tampil pada Festival Seni Pertunjukan Internasional di Aljazair.

2012

– Menyelenggarakan KONSER MUSIK & TARI KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

2013

– Mendirikan Perkumpulan Seni Selendang Biru.

2014

– Mementaskan Konser Puisi Selendang Biru di Galery Indonesia Kaya dan di RRI Semarang, Jawa Tengah.

2015

– Hadir dan tampil pada Temu Penyair Indonesia – Malaysia di Bandung, Jawa Barat.

– Mementaskan Sandiwara BASIR dan ZULEHA; kisah perempuan bela negara, Gedung Kesenian Jakarta.

– Hadir dan tampil pada forum Ekspresi Seni; Pertemuan Penyair dan Puisi Internasional di Kualalumpur, Malaysia.

2016

– Mementaskan sastra Macapat dan Geguritan di Kebumen, Tegal, Yogyakarta, dan Jakarta.

– Menyelenggarakan Seminar Internasional Sastra INDONESIA – MALAYSIA di Yogyakarta.

2017

– Hadir dan tampil pada Festival Penyair dan Puisi Internasional di Romania.

– Hadir dan tampil pada Festival Penyair dan Puisi Internasional di Mongolia.

– Hadir dan tampil pada Seminar Internasional Sastra Indonesia di Banjarmasin

Daftar Karya

1. Srunthul Menak Modern Dance

2. Patih Logender

3. The Birth of Jesus Christ

4. Waktunya Sudah Dekat

5. Roda Pembangunan

6. Firdaus Yang Dipulihkan

7. Busur-Busur Merantama

8. Geguritan Majapahit

9. Putri Petani

10. Asmat Manusia Sejati

11. Cak Tarian Sanghyang

12. Pracana Pandhudewanata

13. Kipas-Kipas Nagasaki

14. Dongeng Pandhu Narasoma

15. Gusti Kanjeng Ratu Kalinyamat

16. Sound And Light In Memoriam Of Maria Callas

17. Bahana Citra Pelajar Indonesia

18. Cinta Negeri Cinta Bahari

19. Dongeng Dora Sembada

20. Semar mBabat Jagad, etc

21. DRAS SUMUNAR

22. SANDIWARA BASIR AND ZULEHA; kisah perempuan bela negara

23. ROMANSA TALI KUTANG

24. HIMPUNAN LAKON-LAKON WAYANG ORANG

PUISI JOSE RIZAL MANUA

DENGAN, SEGALA

Dengan, segala

Kekurangan dan kelebihannya

Dia telah mewarnai bianglala

Tari dan teater di Tanah Air

Dengan, segala

Keterbatasannya

Dia menggali tradisi

Memaknai seni

Sebagai kini dan di sini

Dan di subuh dinihari

Dia telah meluaskan hidupnya

Kembali ke pangkuan Ilahi Rabbi

Selamat jalan, sahabatku,

Tetet Sri WD

Kenangan padamu, senantiasa

Terpatri di sanubari

Jakarta, 25 AGUSTUS 2018

TALI KUTANG

ABAD YANG MEMBUNGKAM

lukaku pada aung san suu kyi

dulu kita berjanji

memotong hati mengupas nyali

membelah gunung menanam padi

dulu kita berjanji

menjunjung bumi setanah merah

melihat bayi pada rahim ibu sendiri

berjalan bersama ke mata bercahaya

. . . . .

. . . . .

kini pada hari ketiga

kau lancarkan parang kau rangkaikan perang

kini pada hari kelima

kau giring-giring hidup pada kematian

kini pada hari demi hari dan setiap hari

kau bungkam tangis dan luka dunia

bedebah, lukaku terlalu dalam

bedebah, lukaku terlanjur dendam

bedebah, lukaku tuturan panjang sepanjang abad yang membungkam

Di Tepi Tali Kutang

Salam hormat

TETET SRIE WD

Foto-foto suasana pemakaman jenazah Tetet Srie WD di Purwokerto.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *