Salam Hormat dan Tali Kutangmu, tak Ada Lagi

Tetet Srie WD (kiri) saat hadir di reuni Teater Alam beberapa waktu lalu. Kanan, suasana menjelang pemakaman di Purwokerto.

DINI hari Sabtu, 25 Agustus 2018, pukul 02.15 wib, Indonesia kembali kehilangan seniman besar yang menghabiskan hidupnya untuk seni tari dan koreografer. Tetet Srie Wd, (63) telah berpulang ke pangkuan Tuhan Yang Maha Esa, di RS Sari Asih, Ciputat.

Pria kelahiran Yogyakarta, 15 Januari 1955 ini belajar tari klasik di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Yogyakarta. Kesukaannya akan tari terus membuatnya bergabung dengan Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja di Yogyakarta, Fine of arts Wisnoe Wardhana Dance Group di Yogyakarta, Teater Alam di Yogyakarta, Konservatori Tari Yogyakarta dan belajar di LPKJ/IKJ mengambil jurusan koreografi. Puluhan karya tari telah lahir dari tangan dinginnya. Puluhan negara telah mengundangnya untuk mementaskan karyanya.

Komunikasi terakhir saya dengan almarhum Tetet Srie Wd adalah melalui WA tanggal 15 Agustus ketika dia menyampaikan info pengunduran jadwal Pesta Nusantara ke tanggal 11 – 15 September 2018. Sejatinya kami sudah bertemu (dan mungkin ini pertemuan terakhir jika terwujud) tanggal 19 s.d. 24 Agustus 2018 di acara itu jika tak ada pengunduran jadwal.

Penulis bersama almarhum Tetet Srie WD di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Tuhan punya agenda terbaik untuk Mas Tetet Srie WD. Penyakit jantung yang sering dikeluhkannya akhirnya mengantarkannya ke pangkuan Yang Kuasa.

Pertemuan terakhir saya adalah saat di Cafe Venus, Taman Ismail Marzuki, 30 Juni 2018. Saat itu beliau mengajak saya bertemu ketika mengetahui posisi saya sedang di Jakarta. Tujuan pertemuan itu, selain silturahmi, adalah membicarakan kegiatan Pesta Nusantara dan undangan kegiatan budaya di Belanda.

Mas Tetet Srie WD pernah hadir di Banjarmasin saat saya undang menjadi pembicara dan baca puisi di Seminar Internasional Sastra Indonesia, bulan Desember 2017 lalu.

Tetet Srie WD (tengah) bersama teman-temannya, keluarga besar Teater Alam Yogyakarta.

Selamat jalan, Mas Tetet Srie WD.

Penampilan khasmu yang taklepas dari sarung itu akan tetap membuatku rindu. Nasihat dan pengetahuan darimu tentang bagaimana berkesenian dan kerendahhatian akan tetap jadi bekal bagiku. Frase ‘Di tepian Tali Kutang” yang menjadi ciri identitas penulisan puisimu, sangat berkesan.

Jenazah Tetet sempat disemayamkan di RS St Carolus, Jakarta Pusat. Keesokan harinya (Minggu (26/8) dimakamkan di Purwokerto, Jawa Tengah.

Sekilas Tetet

Belajar tari klasik Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat di Yogyakarta. Bergabung dengan Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja di Yogyakarta. Bergabung dengan Fine of arts Wisnoe Wardhana Dance Group di Yogyakarta. Bergabung dengan Teater Alam di Yogyakarta. Belajar di Konservatori Tari Yogyakarta. Belajar di LPKJ/IKJ mengambil jurusan koreografi.

1987

– Menyelenggarakan Konser Musik Dan Tari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Gedung Kesenian Jakarta.

– Menampilkan Koreografi Asmat di Italia, Prancis dan Jerman.

– Menerima penghargaan koreografi dari UNESCO Paris.

1988

– Menerima penghargaan koreografi dari Central E’ole Univercity, Paris.

– Tampil pada forum kebudayaan di Vietnam.

1989

– Tampil pada International Performing Arts 89, forum Asian Collection, di Kumamoto Jepang.

– Tampil pada forum kebudayaan di Vietnam.

1990

– Menyelenggarakan pameran lukisan Bagong Kussudiardja, di PKJ Taman Ismail Marzuki.

– Menyelenggarakan Pergelaran balet Coppelia dari Perancis di PKJ Taman Ismail Marzuki.

– Menyelenggarakan Konser Musik dari Cekoslovakia di Gedung Kesenian Jakarta dan Bhumy Hyatt Hotel Surabaya.

– Menyelenggarakan Pameran Lukisan Studio 45 di Museum Gedung Joang 45 Jakarta.

– Menyelenggarakan Pameran Lukisan Treda Mairayanti dan Benny Poernomo di Balai Budaya Jakarta.

1991

– Tampil pada World FolkDance Festival 91 di Palma de Mallorca, Spanyol.

– Tampil pada Pergelaran di Cairo Opera House dan di Alexandria National Theatre, Mesir.

– Tampil pada International Folk Dances Festival 91 di Luxor, Mesir.

1992

– Mementaskan Gusti Kanjeng Ratu Kalinyamat di Teater Terbuka PKJ Taman Ismail Marzuki.

– Menyelenggarakan Konser Opera Trisutji Juliati Kamal dengan Vera Soukupova dari Republik Ceko, di Gedung Kesenian Jakarta dan di Kraton Yogyakarta.

1993

– Tampil pada Hungarian International Folk Dances Festival di Hungaria.

– Mementaskan Bahana Citra Pelajar Indonesia di Graha Tiara Senayan Jakarta.

1994

– Mementaskan Sound And Light In Memoriam Of Maria Callas; Perjalanan Di antara Abad Dan Mitos, di Gedung Kesenian Jakarta dan Yogyakarta.

– Mengerjakan koreokamera produksi TVRI Stasiun Pusat Jakarta antara lain Pracana Pandhudewanata, Dongeng Pandhu-Narasoma dan Program Budaya Lentera.

1995

– Mementaskan Cinta Negeri Cinta Bahari untuk Yayasan Hang Tuah.

– Menyelenggarakan ASMAT CHARITY PROGRAM dengan mengundang West Australian Ballet.

1996

– Mementaskan koreografi SEMAR MBABAT JAGAD di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki.

– Mementaskan ceritera Ajisaka dalam bentuk Macapat pada forum Pekan Pertunjukan Kebudayaan DKI Jakarta.

– Mengelola program seni pertunjukan Jakarta Hilton.

– Melaksanakan Pameran Kebudayaan Yunani di Museum Nasional Jakarta.

1997

– Mementaskan koreografi SEMAR MBABAT JAGAD di TVRI Sta Pus Jakarta

– Mementaskan koreografi GENDARI DI ANTARA BUNGA

– MERAH DAN JINGGA di TVRI Sta Pus Jakarta

1998

– Mementaskan SKETSA SE -ABAD PERJALANAN INDONESIA untuk siaran langsung TVRI Sta Pus Jakarta.

– Mementaskan BUNGA ANYELIR di Sta Pus Jakarta

1999

– Menyelenggarakan Seminar Film Nasional di Jakarta.

– Mementaskan BERBURU JANGKRIK BERKEPALA REMBULAN pada Makassar Arts Forum 99.

2000

– Mementaskan SKETSA KOTA JAKARTA U/TVRI Sta Pus Jakarta.

– Menyelenggarakan KONSER MUSIK & TARI KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT dan PIDATO

– KEBUDAYAAN SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X di Jakarta Hilton dan PKJ. TIM.

2001

– Mengikuti Kompetisi dan Festival Koreografi Internasional di Palma de Mallorca Spanyol.

– Pementasan di Los Angeles, USA, Forum Gema Nusantara.

– Mengikuti International Seminar Contemporary of the Performing Art of the Indonesia Art Summit III.

2002

– Menyelenggarakan Pameran Lukisan karya Para Pelukis Jakarta, Indonesia

– Mendirikan PERSAUDARAAN MASYARAKAT SENI KONTEMPORER JAKARTA.

2003

– Menyelenggarakan Pergelaran koreografi di Medan, INDONESIA

2004

– Menyelenggarakan Pergelaran koreografi di sejumlah kota di Indonesia.

– Nominator Penulisan Skenario Film Indonesia bertajuk ASMARA DI BALIK TEMBOK KRATON.

– Menyelenggarakan Pergelaran SOLO SANS FRONTIER, INDONESIA.

– Mementaskan drama RENUNGAN MALAM PEMAIN MALAM untuk Televisi Sta Pus Jakarta.

– Mementaskan drama KISAH SYAILINDRI untuk Televisi Sta Pus Jakarta.

– Mementaskan drama KUTANG ADIPATI KARNA untuk Televisi Sta Pus Jakarta.

– Menyelenggarakan Pergelaran RENUNGAN AKHIR TAHUN 2004, TIM Jakarta, INDONESIA.

2005

– Menyelenggarakan Pergelaran SOLO SANS FRONTIER, INDONESIA.

2006

– Menyelenggarakan seminar seni pertunjukan di Lemhanas.

– Menyelenggarakan Pergelaran Seni Pertunjukan SOLO SANS FRONTIER, INDONESIA.

2007

– Menulis Skenario Film Pendidikan untuk 30 episode.

2008

– Menulis Skenario Film Pendidikan untuk 9 episode.

2009

– Menyelenggarakan Festival Sindhen Internasional.

2010

– Mementaskan opera kolosal PANCA WIRA SATYA; 2010 penari, music oleh Idris Sardi, di Monumen Nasional Jakarta, dan mendapatkan penghargaan dari MURI.

– Menyelenggarakan Seminar Wayang dan Festival Dalang.

– Menjadi Direktur Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata.

2011

– Mementaskan opera kolosal Anti Narkotika Internasional; 4.870 pemain, musik oleh Idris Sardi, di Monumen Nasional Jakarta.

– Hadir dan tampil pada Festival Seni Pertunjukan Internasional di Aljazair.

2012

– Menyelenggarakan KONSER MUSIK & TARI KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

2013

– Mendirikan Perkumpulan Seni Selendang Biru.

2014

– Mementaskan Konser Puisi Selendang Biru di Galery Indonesia Kaya dan di RRI Semarang, Jawa Tengah.

2015

– Hadir dan tampil pada Temu Penyair Indonesia – Malaysia di Bandung, Jawa Barat.

– Mementaskan Sandiwara BASIR dan ZULEHA; kisah perempuan bela negara, Gedung Kesenian Jakarta.

– Hadir dan tampil pada forum Ekspresi Seni; Pertemuan Penyair dan Puisi Internasional di Kualalumpur, Malaysia.

2016

– Mementaskan sastra Macapat dan Geguritan di Kebumen, Tegal, Yogyakarta, dan Jakarta.

– Menyelenggarakan Seminar Internasional Sastra INDONESIA – MALAYSIA di Yogyakarta.

2017

– Hadir dan tampil pada Festival Penyair dan Puisi Internasional di Romania.

– Hadir dan tampil pada Festival Penyair dan Puisi Internasional di Mongolia.

– Hadir dan tampil pada Seminar Internasional Sastra Indonesia di Banjarmasin

Daftar Karya

1. Srunthul Menak Modern Dance

2. Patih Logender

3. The Birth of Jesus Christ

4. Waktunya Sudah Dekat

5. Roda Pembangunan

6. Firdaus Yang Dipulihkan

7. Busur-Busur Merantama

8. Geguritan Majapahit

9. Putri Petani

10. Asmat Manusia Sejati

11. Cak Tarian Sanghyang

12. Pracana Pandhudewanata

13. Kipas-Kipas Nagasaki

14. Dongeng Pandhu Narasoma

15. Gusti Kanjeng Ratu Kalinyamat

16. Sound And Light In Memoriam Of Maria Callas

17. Bahana Citra Pelajar Indonesia

18. Cinta Negeri Cinta Bahari

19. Dongeng Dora Sembada

20. Semar mBabat Jagad, etc

21. DRAS SUMUNAR

22. SANDIWARA BASIR AND ZULEHA; kisah perempuan bela negara

23. ROMANSA TALI KUTANG

24. HIMPUNAN LAKON-LAKON WAYANG ORANG

PUISI JOSE RIZAL MANUA

DENGAN, SEGALA

Dengan, segala

Kekurangan dan kelebihannya

Dia telah mewarnai bianglala

Tari dan teater di Tanah Air

Dengan, segala

Keterbatasannya

Dia menggali tradisi

Memaknai seni

Sebagai kini dan di sini

Dan di subuh dinihari

Dia telah meluaskan hidupnya

Kembali ke pangkuan Ilahi Rabbi

Selamat jalan, sahabatku,

Tetet Sri WD

Kenangan padamu, senantiasa

Terpatri di sanubari

Jakarta, 25 AGUSTUS 2018

TALI KUTANG

ABAD YANG MEMBUNGKAM

lukaku pada aung san suu kyi

dulu kita berjanji

memotong hati mengupas nyali

membelah gunung menanam padi

dulu kita berjanji

menjunjung bumi setanah merah

melihat bayi pada rahim ibu sendiri

berjalan bersama ke mata bercahaya

. . . . .

. . . . .

kini pada hari ketiga

kau lancarkan parang kau rangkaikan perang

kini pada hari kelima

kau giring-giring hidup pada kematian

kini pada hari demi hari dan setiap hari

kau bungkam tangis dan luka dunia

bedebah, lukaku terlalu dalam

bedebah, lukaku terlanjur dendam

bedebah, lukaku tuturan panjang sepanjang abad yang membungkam

Di Tepi Tali Kutang

Salam hormat

TETET SRIE WD

Foto-foto suasana pemakaman jenazah Tetet Srie WD di Purwokerto.

Cerita Meritz Hindra di Tubir Neraka

Meritz Hindra dan Tetet Srie Wd di kedai kopi, pinggir kota Yogyakarta. Foto: Gde Mahesa

TIGA orang seniman ngopi di sebuah kedai pinggir jalan, nun di pinggiran kota Yogyakarta. Terik matahari yang menyengat, membuat ketiganya merasa lebih nyaman berteduh sambil ngopi dan pas-pus merokok. Dua di antara tiga seniman itu adalah Meritz Hindra dan Tetet Srie Wd. Yang ketiga adalah saya. Tiga orang dengan latar belakang padepokan yang sama: Teater Alam Yogyakarta.

Siang itu, topik hangat yang digulirkan adalah tentang kehidupan setelah kematian. Tentang surga dan neraka. Jangan dikira ini obrolan serius… sebab, sepanjang obrolan yang gayeng itu, tidak ada dalil absolut yang dijadikan titik pijak berdebat kusir. Meski begitu toh, ramainya luar biasa. Sampai-sampai mengalahkan bisingnya deru knalpot kendaraan yang lewat. Sampai-sampai, menyedot perhatian pengunjung warung yang lain.

Adalah Meritz Hindra. Jika ada yang belum kenal dia, buka saja di Google. Entah apa saja yang ditulis wartawan tentang seniman yang keras kepala dalam idealisme ini. Yang jelas, di balik wajahnya yang kelihatannya serius, sejatinya ia gemar melucu. Tidak jarang dengan bahasa yang ‘waton mangap’.

Tidak lama setelah hijrah dari Yogyakarta ke Jakarta, nama Meritz Hindra lekas populer di Bulungan dan TIM. Sekitar tahun 80-an ia aktif mengelola kelompok teater SS yang anggotanya kebanyakan siswa SLTA. Murid teaternya yang lain adalah para pengamen dan anak jalanan Blok M. Masih panjang deretan kata untuk mendeskripsikan seorang Mertiz Hindra.

Meritz Hindra dan Tetet Srie Wd bicara tentang surga dan neraka. Foto: Gde Mahesa

Demikian pula Tetet Srie WD. Dia adik angkatan Meritz di Teater Alam Yogyakarta. Bahkan Meritz pula yang awalnya melatihnya berteater. Tapi, hubungan “kakak pertama” dan “kakak kedua” di dunia teater memang sangat cair. Sama seperti persahabatan Meritz dan Tetet.

Akan halnya Tetet Srie Wd yang sama seperti Meritz, hijrah ke Jakarta. Mengembangkan karier di dunia koreografi. Dengan bekal teater, sentuhan tari serta sastra Jawa yang digelutinya kelak, menjadi “berbeda” dari sekadar karya sarjana koreografi. Tak heran jika karya-karya Tetet mendapat apresiasi tidak saja di Indonesia, tetapi juga dunia. Beberapa kali karyanya menyabet predikat terbaik festival tari tingkat internasional. Singkat kata, Tetet sudah melanglang buana dengan seni tari berbasis teater yang ia kembangkan.

Nah, ‘kembali ke laptop’. Kembali ke warung kopi. Mereka berdebat soal surga dan neraka, berdebat soal kehidupan setelah kematian, sedangkan saya mencatat sambil ngakak.

“Kematian itu adalah pintu kehidupan dalam dimensi lain, namun berbeda dengan kehidupan dunia. Jadi, nggak seperti ini, makan-minum mesti keluar duit. Di sana tidak ada lapar dan haus,” kata Meritz serius sembari menatap tajam pada Tetet.

Meski junior, Tetet tidak menerima begitu saja argument senior. Dengan nada lebih rendah, ia menukas, “Tidak seperti itu. Tetaplah nanti ada surga dan neraka. Namun untukmu (menatap tajam ke arah Meritz)… kamu tidak akan langsung masuk neraka.”

Meritz terkesiap demi namanya disebut tidak akan masuk neraka. Entah senang, entah goyah dengan pendapatnya terdahulu tentang konsepsi kehidupan setelah kematian. Yang jelas, tatapan matanya tampak nanar dan wajahnya menunjukkan ekspresi menunggu penjelasan Tetet lebih lanjut.

Santai Tetet melanjutkan kalimatnya, “Kau berada di tubir neraka. Ya, di pinggiran neraka seperti nyaris jatuh. Lamanya satu hari kehidupan akhirat. Itu sama dengan seribu hari di kehidupan ini. Jangan kau pikir sehari itu 24 jam… tidaaaak… seharinya di sana, sama seperti seribu harinya di dunia fana ini. Sehari sama dengan tiga tahun!”

Sampai di situ, Meritz masih diam. Kalau toh mulutnya tidak melongo, lebih karena kepulan asap rokok. Tapi ia masih tampak serius mendengarkan kelanjutan cerita Tetet. Laksana sebuah drama, ia menghendaki ending. Apa yang terjadi setelah sehari atau tiga tahun dalam posisi hendak jatuh ke neraka?

Cuek dengan sikap penasaran Meritz, tampak Tetet malah enak-anak nyeruput kopi dan merokok. Karuan saja Meritz tidak sabar bertanya, “Kenapa? Ngapain? Kenapa dan ngapain aku di tubir neraka sekian lama? Kenapa tidak langsung dimasukkan saja ke neraka?”

Sambil menghela napas dan mengepulkan asap rokok, Tetet menjawab santai, “Nah… ini yang aku nggak bisa jawab, kenapa kamu disuruh nunggu di pinggir…. Soalnya aku nggak dikasih tahu.”

Mendengar jawaban itu, seisi warung kopi tertawa ngakak…. Meritz Hindra memaki sahabatnya, “Penthiiiilllll kereeee….. ” ***

Penulis bersama Meritz dan Tetet. Foto: Gde Mahesa

Ketika Tetet Kehilangan Dompet

Tetet Sriw Wd. Foto: Nana Azmita Azwar

NAMA Teted Srie Wd, kesohor sebagai koregorafer. Ia juga mencipta banyak puisi, geguritan (puisi dalam sastra Jawa), dan banyak lagi. Salah satu karyanya tahun 2014, “Konser Selendang Biru di Tangan Tuhan”, menunjukan totalitas Tetet dalam mementaskan seni tradisi, teater tradisi, tembang tradisi, dan sastra tradisi sekaligus secara profesional.

Karyanya yang lain, pergelaran macapat dan geguritan “Dras Sumunar” juga mendapat apresiasi banyak kalangan. Dras Sumunar yang aslinya terdiri atas lebih dari 1.000 pupuh tembang macapat itu, ditulis ketika Tetet bermukim di Paris tahun 1986. Salah satu jebolan Teater Alam yang mendunia ini, dikenal sebagai pendiri Gala Budaya World Performance dan pimpinan Jakarta International of the Performing Arts Festival.

Syahdan, ketika terbetik kabar Tetet akan rawuh dalam halal bihalal Teater Alam di Gedung Societet Yogyakarta, Minggu 24 Juni 2018, panitia “dadakan” pun spontan menyelipkan satu mata acara “baca puisi/geguritan” oleh Tetet Srie Wd.

Saat jam menunjuk pukul 12.15, dan acara sudah harus dimulai, Meritz Hindra pun mengingatkan Udik Supriyanta sebagai MC untuk segera membuka acara. Udik yang intens kontak-kontakan dengan Tetet sempat nawar, “Sik… diluk ngkas… mas Tetet wis meh tekan.” Tunggu barang sebentar, karena Tetet sudah hampir sampai.

Namun ketika jarum jam tak kuasa dihentikan, Udik dan Sugeng IB pun akhirnya memulai acara, tanpa menunggu kehadiran Tetet. Rupanya, Tetet memang sudah mendekat Gedung Societet. Buktinya, ketika acara belum lama dibuka, ia sudah duduk lesehan di antara hadirin. Demi melihat Tetet, maka Udik dan Sugeng pun segera mendaulat untuk duduk di dekat Bang Azwar dan Mas Ratmo.

Tidak hanya itu, pada gilirannya, Tetet pun diminta tampil membacakan geguritan. Dengan agak terbata-bata, Tetet meminta maaf tidak bisa membacakan naskah geguritan yang sudah ia siapkan. Keluhan jantung adalah alasannya. Sedianya, ia akan membacakan geguritan “Suwung-suwung Dongane Tembang Ngundang Setan”.

Duduk di atas: Tetet Sriw Wd dan Mas Ratmo. Duduk lesehan: Gege Hang Andika dan Liek Suyanto. Foto: Nana Azmita Azwar

“Yak itulah tadi… puisi suwung…. Ning yo suwung tenan….,” canda Sugeng IB, sang MC memancing gelak. Tetet urung membacakan geguritan siang hari itu. Jadi, agenda baca puisi oleh Tetet pun kosong, alias suwung.

Singkat kalimat, seluruh rangkaian acara pun paripurna. Ditutup dengan bersalam-salaman keliling dan foto bersama aneka gaya. Lepas itu, peserta pun kembul bujono ondrowino, makan siang bersama dengan menu tradisional yang menyegarkan sekaligus mengenyangkan. Sebagian lainnya masih sibuk berfoto dengan Bang Azwar dan para “selebriti” Teater Alam. Sebagian lainnya berkelompok-kelompok ngobrol dan melepas rindu.

Bang Azwar AN, pendiri, sesepuh, sekaligus pepunden para kadang Teater Alam pun pulang ke Wirokerten, tak lama setelah makan siang. Demikian pula Mas Ratmo. Setelah itu, satu per satu, dua per dua, menyusul pulang. Sebagian yang lain masih bertahan di lobby Societet.

Selain Puntung CM Pudjadi yang memang memiliki aktivitas rutin di Taman Budaya Yogya, maka peserta halal bihalal Teater Alam yang tersisa tinggal hitungan jari. Jelang magrib, yang masih awet di Societet adalah Tetet Srie Wd, Meritz Hindra, dan Gde Mahesa. Kemudian tampak Roso Daras yang datang kembali ke Societet setelah sebelumnya sempat pulang terlebih dulu.

Berempat mereka pindah kembali ke ruang dalam. Ketika hari merambat malam, barulah terkuak “mengapa Tetet belum pulang”. Rupanya, hari itu, ia tertimpa musibah. Malang tak dapat ditolak, dompetnya hilang.

Toh masih sempat diguyoni… “Ooo… jadi tadi batal baca puisi karena mumet dompetnya ilang?”

Menyeringai Tetet menjawab, “Apa kamu tidak lihat, pas aku datang jalannya sudah sempoyongan… he… he… he….”

Gde Mahesa pun berbuat baik, dengan nge-share informasi perihal berita kehilangan dompetnya Tetet di laman Facebook Group “Info Cegatan Jogja”. Lalu, Tetet pun memulai kisah pilu di hari Minggu, 24 Juni 2018.

Alkisah, Tetet yang mukim di Pamulang, Tangerang Selatan itu berangkat ke Yogyakarta menggunakan pesawat flight pertama. Karenanya, sekira pukul 05.30 WIB sudah mendarat di Adisutjipto. Sejumlah agenda sudah ia rancang, ngiras pulang. Dua agenda di antaranya adalah sowan ngarso dalem (menghadap Sri Sultan Hamengku Buwono X), Paku Alam X, dan tentu saja menghadiri halal bihalal konco lawas Teater Alam.

Tak lama setelah tiba di Yogya, ia sempat merasakan kondisi badannya tidak fit. Demi mengetahui riwayat jantungnya yang acap kurang bersahabat, tanpa pikir panjang ia menuju Rumah Sakit Panti Rapih. Dengan fasilitas BPJS, ia mendapat pertolongan pertama di IGD. “Gratis, wong nganggo BPJS. Saya hanya merasa tidak fit, dan akan pulih kalau mendapat asupan oksigen. Jadi saya minta oksigen saja. Beberapa saat di rumah sakit, saya pun merasa normal. Baru setelah itu melanjutkan aktivitas,” katanya.

Sarapan pagi-setengah-siang, atau brunch kata orang bule, ia lakukan di sebuah restoran di wilayah Jetis. Sekitar pukul 09.00 lebih (lebihnya ia lupa), Tetet naik taksi ke Keraton Yogya. Mujur tak dapat dibendung, sekalipun tanpa appointment, Sri Sultan tidak sedang bepergian, dan karenanya ia bisa sowan. “Saat itu saya merasa ada yang tidak beres. Dompet cokelat tua yang biasa saya pegang, tidak ada di tempatnya. Tapi mau menampakkan kegelisahan di depan ngarso dalem kan tidak enak,” tukasnya.

Benar, ketika ia berpamitan hendak melanjutkan perjalanan ke Pakualaman, Kanjeng Sinuwun menyediakan kendaraan beserta sopirnya untuk mengantar. “Makin yakin, bahwa dompet saya hilang. Kemungkinannya ada dua. Pertama, tertinggal di dalam taksi, kedua, jatuh saat saya turun,” ujar Tetet, yang disergah Gde Mahesa dengan pertanyaan, “lha waktu dari Jetis ke Keraton, bayar taksinya apa tidak buka dompet?” Tetet menjawab, “Tidak, saya bayar lima puluh ribu dari dalam kantong, bukan dari dompet.”

Sejenak pembicaraan tentang dompet Tetet beralih menjadi rencana kerja Tetet ke India dalam waktu dekat. Benar, saat ini ia tengah mempersiapkan pementasan di India dengan membawa puluhan kru. Bahkan, katanya, ia berniat mengajak serta beberapa rekan Teater Alam. “Jangan-jangan ini tumbal untuk proyek ke India ya? He… he… he….,” kata Tetet terkekeh.

Tak kurang uang hampir Rp 3,5 juta raib. Kartu identitas, kartu BPJS, kartu NPWP dan sejumlah kartu nama relasi yang ada dalam dompet pun hilang. “Jadi terpaksa balik ke Jakarta naik bus. Lha naik pesawat pasti ditanya KTP, naik kereta api juga ditanya KTP….,” kata Tetet pasrah.

Bersama beranjaknya malam, Gde Mahesa dan Meritz Hindra pun mengantar Tetet ke Watu Lumbung, Parangtritis. Ia ada rumah limasan di atas sana. “Baiknya saya diantar ke Watu Lumbung saja. Di sana kan ada Boy Rifai, jadi bisa ada teman ngobrol malam ini,” kata Tetet sesaat sebelum meninggalkan Societet.  ***

Pertemuan Bersejarah di Gedung Societet

Foto bersama halal bihalal Teater Alam Yogyakarta. Setelah tiga puluh tahun tak bersua. Foto: Ronny AN

BANYAK peristiwa akbar melahirkan orang besar. Demikian pula, banyak gedung bersejarah mencatat peristiwa bersejarah. Hari Minggu 24 Juni 2018, gedung Societet Yogyakarta mencatat sebuah peristiwa langka pada sebuah kelompok teater. Tak kurang dari 60 orang yang pernah nyantrik di Teater Alam, berkumpul setelah lebih dari 30 tahun tidak bersua.

Angka 30 tahun barangkali terlalu dramatis. Sebab, beberapa di antaranya, terutama yang ada di Kota Gudeg, masih acap bersua barang sekali-dua. Bahkan, dalam jumlah yang lebih kecil lagi, tetap intens bertemu dan masih produktif berkarya. Selebihnya, lebih dari 80 persen memang benar-benar tak pernah bersua setelah lebih dari tiga dasawarsa. Ada yang dua dasawarsa, ada yang satu dasawarsa, ada yang hitungan bulan, dan minggu.

Alhasil, pertemuan yang dikemas dalam bungkus halal bihalal itu patutlah dicatat sebagai satu peristiwa bersejarah di dunia teater Indonesia. Jika Anda keberatan dengan kata “Indonesia”, baiklah kita ganti dengan “bersejarah untuk komunitas teater Yogyakarta”. Kalau ada yang ngeyel dan menolak skala itu, baiklah kita sebut saja sebagai peristiwa bersejarah untuk keluarga besar Teater Alam Yogyakarta. Jika ini pun masih ada yang protes…, “bacok wae…”, mengutip guyonan Agus Leylor, salah satu anggota Teater Alam yang masih aktif berteater sekaligus dosen ISI Yogyakarta.

Udik Supriyanta dan Sugeng Iwak Bandeng, menmandu jalannya acara dengan ruuarr biassaaa…. Foto: Nana Azmita Azwar

Dua anggota Teater Alam yang menjadi MC, Udik Supriyanta dan Sugeng Iwak Bandeng memandu jalannya pertemuan dengan 99 persen bagus. “Mestinya 100 persen, tapi karena mereka lupa satu tugas, jadi yaaa… 99 persenlah…,” ujar “provokator” pertemuan, Anastasia Sri Hestutiningsih seraya menambahkan, “janjine arep ngenalke yang hadir satu per satu. Karena ini kan pertemuan lintas angkatan dari angkatan 70-an sampai 90-an, tapi Udik dan Sugeng lupa. Jangan-jangan nek pentas teater mereka suka lali dialog… he… he… he….”

Tapi Anas tetap memuji kerja Udik dan Sugeng IB sebagai ruarrr biasa….. Laksana melodi tembang kenangan, satu per satu butir acara dirangkai menjadi melodi mengesankan. Ada doa yang dibawakan R. Bambang Nursinggih lewat mocopat. Lalu Anas berbicara mewakili anggota Teater Alam yang hadir maupun yang tidak hadir, lewat teks narasi yang puitis. Begini bunyinya:

AKU TEATER ALAM

Malam tadi ragaku tak hendak tidur

Mataku menerawang

Jauh ke masa belakang

Aku datang kepadamu dengan langkah tidak percaya diri

 

Belum selangkah kakiku masuk ke gerbangmu

Kudengar teriakan keras

Ulang!! Gitu aja gak bisa!!!

Salah lagi kulempar sendal kau!!!

Langkahku terhenti sejenak

Rasa tidak percaya diriku semakin kuat

Aku bukan siapa meskipun ingin menjadi siapa

Aku gamang

Mungkin bukan hanya sendal yang terlempar untukku kelak

Tapi seisi rumah akan menimpaku

 

Seorang perempuan cantik berkulit putih

Menurutku gizinya cukup terpenuhi saat itu

Karena terlihat tubuhnya padat berisi

Senyum ramahnya merekah

Menyambut  dan membawaku  melangkah masuk

 

Keraguanku menjadi cair

Aku mulai masuk dalam kehidupan kebersamaan bersamamu

Sejalan dengan waktu aku memahami

Suara keras adalah bagian dari pembelajaran

Aku yang bukan siapa mulai berani mengatakan aku siapa

 

Hari ini aku harus mengingat kembali

Kehidupan bersamamu dalam suka dan suka sekali

Kedukaan hanya karena kami harus berjuang keras

Menempa diri untuk menjadi sekarang

 

Terimakasih teater alam

Terimakasih bang Azwar, mas Ratmo, dan para pejuang Teater Alam

Terimakasih mbak Titik Azwar (alm).

Keramahanmu, ketulusanmu melayani kami

Pengabdianmu untuk keluarga dan kesenian

Semoga membawamu ke alam keabadian surgawi yang bahagia dan mulia

 

Hari ini

Kami datang karena kami punya kerinduan

Pada keluarga yang kami cintai

Keluarga besar Teater Alam

Pasti banyak kesalahan yang selama ini masih terpendam

Di mana maaf belum sempat terucap

 

Pada bulan yang suci ini

Dari lubuk hati yang tulus

Perkenankan kami memohon maaf lahir dan batin

atas segala kesalahan kami

Kepada sesepuh dan para pejuang Teater Alam

Bukakan pintu maaf kepada kami

Nyuwun pangestu

agar api semangat Teater Alam

tetap menyala di hati sanubari kami

 

Terima kasih

Salam kekeluargaan dan kebersamaan yang abadi

Keluarga besar Teater Alam

anas, 24 juni 2018

Anastasia Sri Hestutiningsih membacatakan pidatonya yang puitis, mewakili anggota Teater Alam seluruh angkatan. Foto: Nana Asmita Azwar

Selesai Anas berbiciara, Udik dan Sugeng melanjutkan acara. Kali ini, mereka berganti-gantian membacakan nama-nama dulur Teater Alam yang sudah meninggal dunia. Yang tercatat, ada 30. Doa terbaik buat mereka: Yoko, Yoyok Aryo Ini, Yoyok Coa Ong, Niki Kosasih, Hendra Cipta, Bani IW, Bambang Darto, Gatot, Deded E Murad, Titiek Azwar AN, Nanok, Noor WA, Niesby Sabakingkin, Wahid alias Kak We Es, Cholila Ibrahim, Nining Gege HA, Susi, Ramidi, Abdul Qadir, Agus Joli, Ragil Suwarna Pragolopati, Amry Yahya, Hartono Djumino SH, Moorti Poernomo, Agus Subagyo PMN, Sundrek Godean, Darto Guru, Budi Centhol, Memek Jambu, Alex Suprapto Yudho, dan Ganti Winarno.

Kisah belum lagi usai…

Azwar AN, pepunden para kadang Teater Alam tidak saja diminta berbicara, tetapi juga didaulat untuk memimpin prep. Ini untuk mengingatkan kembali kepada masa-masa saat masih berlatih teater dulu. Sebelum latihan, didahului dengan prep atau preparation.

Masih dengan nada dan gaya bicara seperti dulu, Azwar AN pun memimpin prep. “Duduk serileks mungkin…. Yang mau bersila silakan, yang mau slonjor silakan… rileks…,” kata Bang Azwar memulai “ritual” prep.

Udik Supriyanta dan Sugeng IB, sedang (pura-pura) prep. Foto: Nana Azmita Azwar

Setelah itu, barulah Bang Azwar meminta peserta memejamkan mata pelan-pelan…. Melambungkan imajinasi, dan mengatur pernapasan. Dulu, saat-saat prep, selalu diiringi alunan musik Ludwig van Beethoven. Sayang, siang itu panitia tidak memutar Beetvoven dan menggantinya dengan instrumen easy listening. Tidak mengapa…. (Bersambung)