Kabar
Nuzulul Qur’an: Sabda Langit untuk Bangsa Bumi
Oleh : Supriyadi, S.Fil.
Malam merambat perlahan menuju penghujung malam, Meskipun demikian di sudut-sudut pesantren, masjid, mushola, surau, suasana justru kian hidup. Umat Islam di seluruh penjuru negeri kembali memperingati Nuzulul Qur’an, sebuah peristiwa agung turunnya tuntunan langit ke bumi.
Di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, peringatan ini bukan sekadar ritual membaca teks, melainkan sebuah simfoni antara hubungan Tuhan, Alam dan Manusia atau Trimina(Hablun-MINA-lloh, Hablun-MINA-lam, Hablun-MINA-nas)

Jejak Turunnya Al Qur’an
Secara harfiah, Nuzulul Qur’an berarti turunnya Al-Qur’an. Peristiwa ini merujuk pada momen saat Allah SWT menurunkan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Surah Al-Alaq ayat 1–5, di Gua Hira melalui perantara Malaikat Jibril.
Para ulama memiliki perspektif yang kaya mengenai prosesi ini. Sebagian besar merujuk pada dua tahapan: pertama, Inzal, yakni turunnya Al-Qur’an secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam Lailatul Qadar.
Kedua, Tanzil, yaitu turunnya ayat demi ayat secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun sesuai dengan konteks sosial dan kebutuhan umat saat itu. Perbedaan pandangan ini justru memperkaya khazanah intelektual Islam, menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat yang dinamis, bukan teks statis.

Berikut adalah arti Surah Al-‘Alaq 1-5:
- “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!”
- “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”
- “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,”
- “Yang mengajar (manusia) dengan pena.”
- “Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Bagi bangsa Indonesia, momentum Nuzulul Qur’an, yang turun pertama kalinya pada tanggal 17 Romadhon, memiliki arti yang cukup penting, sehingga kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Tanggal ini memiliki resonansi yang unik karena melambangkan waktu diturunkannya Al Qur’an, serta jumlah hitungan roka’at sholat dalam sehari. Adapun Bulan Agustus yang merupakan bulan ke delapan, sama dengan tanggal 8 Romadhon, bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Angka delapan menggambarkan Hastabrata, dimana untuk mencapai kemerdekaan secara batiniah dibutuhkan 8 laku kesucian. Sembilan belas adalah jumlah huruf dalam kalimat Bismillahirohmanirahim, sedangkan, sedangkan emat puluh lima, empat menggambarkan empat jenis nafsu manusia, sedang kelimanya adalah pancer(Insun), yakni Aku yang telah terbebaskan dari 4 nafsu yang membelenggu.
Secara filosofis, surat Al ‘Alaq mengisyaratkan manusia untuk membaca(iqro’), yakni membaca diri. Hal ini sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Socrates, yaitu “Gnoti Seauton”(kenalilah dirimu). Dari membaca diri akan diketahui bahwa manusia terjadi dari segumpal darah(darah merah), dan darah putih.
Inilah yang menginspirasi tokoh bangsa untuk menjadikan merah putih sebagai bendera pusaka. Merah melambangkan darah (aspek raga/duniawi) dan putih melambangkan kesucian (aspek jiwa/ukhrawi). Ini juga mengacu tradisi kebudayaan Nusantara yang memakai symbol lingga dan yoni, Bapa Akasa dan Ibu Pertiwi. Dalam tata boga dikenal kolak(dari kata kholaqa), yang mengisyaratkan dari apa manusia diciptakan sehingga dibuat perlambang gula jawa representasi merahnya, dan santan sebagai representasi putihnya.

Batik Wahyu Tumurun Kearifan Sultan Hamengku Buwana I
Di Jawa, agama dan budaya tidak berjalan di rel yang berbeda; keduanya adalah anyaman yang tak terpisahkan. Sultan Hamengku Buwono I, dalam kearifannya, merespons keagungan Nuzulul Qur’an melalui karya seni yang adiluhung: Batik Wahyu Tumurun.
Motif ini bukan sekadar pola kain. Wahyu berarti petunjuk Tuhan, dan Tumurun berarti turun. Pola ini menggambarkan pengharapan agar pemakainya senantiasa mendapatkan petunjuk dan keberkahan dari langit. Ini adalah bentuk “dakwah visual” yang menunjukkan bahwa bagi orang Jawa, kebenaran Al-Qur’an harus “menetes” ke dalam perilaku sehari-hari, selembut kain batik yang membalut tubuh. Ini juga implementasi dari ajaran “agama ageming aji”(Agama adalah pakaian/yang harus dipakai/implementatif).
Tradisi Membaca: Antara yang Tersurat dan Tersirat
Wahyu yang pertama yang tergurat dalam Al Qur’an Surat Al ‘Alaq adalah Iqra’ (Bacalah). Bagi masyarakat Jawa, “membaca” adalah proses multidimensi yang mencakup tiga ranah: Membaca ayat yang tersurat, ayat yang tersirat, membaca teks, juga konteks, membaca ayat nafsiah(diri) dan membaca ayat kauniyah (alam semesta).
Titik berangkat dari semua ini adalah Membaca Diri. Ada sebuah adagium masyhur menyebutkan, “Sapa kang weruh marang awake, bakal weruh marang Gustine” (Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya). Juga terdapat sebuah kaul yang menyatakan “Manusia itu rahasia, dan Akulah rahasianya itu”. Membaca diri adalah upaya mengenali potensi Asmaul Husna yang dititipkan Tuhan dalam jiwa manusia sebagai khalifah di bumi, hingga nantinya bisa kembali manunggal, bahkan mencapai muksa.
Filosofi Trimina: Jalinan Harmoni dalam Arsitektur dan Batik
Masyarakat Jawa mengimplementasikan ajaran Al-Qur’an melalui konsep Trimina, sebuah adaptasi dari hubungan tripartit: Hablum-MINA-llah: Hubungan vertikal dengan Sang Khalik, Hablum-MINA-nnas: Hubungan horizontal antar sesama manusia. Hablum-MINA-lam: Hubungan harmonis dengan alam semesta. Konsep ini termanifestasi nyata dalam Arsitektur Jawa seperti bentuk atap Tajug pada Masjid,Tajuk Trimangkurat yang bermakna memangku 3 jagad(jagad Tri Bawana).
Dalam tradisi lama disebut Bhur-Bwah-Swah atau Trihita Karana. Konsep ini juga kita temukan dimanuskrip-manuskrip Jawa seperti Serat Damarwulan, maupun diberbagai Serat Primbon. Konsep Trimina juga tergurat pada jirat-jirat makam tua, terutama penganut Thoriqoh Syatariah. Trimina juga dipakai sebagai motiv batik. Trimina juga dipakai sebagai panji-panji kebesaran Keraton Cirebon.
Wayang dan Simbolisme Manusia Jawa
Refleksi Nuzulul Qur’an juga ditemukan dalam dunia pewayangan atau Jagad Pakeliran. Di sana, setiap elemen adalah ayat yang harus dibaca: Dhalang adalah representasi dari Dzat yang datan Kena Kinaya Ngapa, Gunungan, simbul dari hidup(kayon), yang merupakan pengejawantahanTuhan yang pertana. Tuhan setelah mengejawantah menjadi hidup, maka bisa dipahami, bisa dirasakan, bahkan bisa disaksikan.
Blencong (Lampu Minyak) adalah Cahaya Muhammad yaitu Malaikat penjaga semesta, serta yang menerangi semesta dalam bentuk Ilmu Pengetahuan. Kelir adalah Rasa/Kaca Benggala(screen), dimana darinya semua bisa berkaca. Rasa adalah rosul yang bersemayam didalam setiap diri manusia.
Adapun Wayang adalah roh yang merupakan Wahanaing Hyang. Dia adalah esensi dari manusia atau disebut dengan Dewa Ruci (Ruci: Ruh Suci). Wayang terbagi menjadi Simpingan Kiwa(Ashabusy Syimal) dan Simpingan Tengen(Ashabul Yamin), yang menggambarkan karakter baik-buruk(sura-asyura).
Simpingan ini bagaikan nafsu(diri/ego) manusia yang mempunyai kecenderungan baik dan buruk. Sedangkan Kothak, menggambarkan bahwa manusia pada akhirnya kembali lagi kepada asalmulanya. Lakon, serta iringan gendhing adalah seperti cerita hidup manusia dengan berbagai bumbu kehidupan, untuk membuktikan bahwa ia terlahir sebagai manusia dan nantinya akan Kembali etap sebagai manusia, bukan makhluk lain.
Menatap Masa Depan: Hikmah di Balik Tanda
Peringatan Nuzulul Qur’an di Nusantara mengajarkan kita bahwa masa depan umat tidak hanya dibangun di atas kecerdasan intelektual, tetapi juga ketajaman membaca tanda-tanda zaman. Dengan menjadikan “Membaca Diri” sebagai titik awal, umat diajak untuk tidak hanya terpaku pada teks, tapi mampu mentransformasikan nilai Al-Qur’an menjadi solusi bagi kemanusiaan dan pelestarian alam.
Sebagaimana wahyu yang turun untuk menerangi kegelapan, budaya Jawa memberikan wadah agar cahaya tersebut tetap membumi, luwes, dan menghidupi. Nuzulul Qur’an adalah pengingat abadi: bahwa selama kita masih mampu “membaca”, harapan akan masa depan yang gemilang takkan pernah padam. (*)
