Connect with us

Kabar

Pendakian Gunung Slamet Ditutup Sementara Mulai 4 April 2026, Ini Penyebabnya

Published

on

Pendakian Gunung Slamet ditutup mulai 4 April 2026 akibat aktivitas vulkanik meningkat, suhu kawah naik, dan potensi bahaya dalam radius 2 km. (id.wikipedia.org)

JAYAKARTA NEWS – Aktivitas vulkanik di Gunung Slamet mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi tersebut mendorong pengelola untuk mengambil langkah pencegahan demi keselamatan pendaki.

Dikutip dari Ragam BUMN, Senin (6/4/2026), mulai Sabtu, 4 April 2026, seluruh jalur pendakian resmi ditutup sementara hingga kondisi dinyatakan aman.

Aktivitas Kawah Meningkat dan Suhu Naik Drastis

Perubahan visual pada kawah menjadi salah satu indikator utama meningkatnya aktivitas gunung.

Kolom asap putih teramati keluar secara terus-menerus dengan tinggi maksimum mencapai 300 meter dari bibir kawah. Kondisi ini menunjukkan adanya pelepasan gas magmatik atau degassing yang semakin aktif.

Analisis citra termal juga memperlihatkan lonjakan suhu kawah yang cukup tajam. Pada September 2024 suhu tercatat sekitar 247,4°C, lalu meningkat menjadi 411,2°C pada 2 April 2026.

Sebaran anomali panas pun semakin luas dan membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah.

Seluruh Jalur Pendakian Ditutup

Penutupan tidak hanya berlaku untuk satu jalur saja, tetapi seluruh jalur pendakian di berbagai kabupaten.

Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi bahaya yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Hingga registrasi terakhir, masih tercatat 364 pendaki berada di jalur Bambangan.

Tim SAR telah disiagakan di beberapa titik untuk memastikan tidak ada pendaki yang melanjutkan perjalanan ke puncak. Petugas juga melakukan pemantauan intensif guna mempercepat proses evakuasi jika diperlukan.

Data Gempa Vulkanik Terus Bertambah

Peningkatan aktivitas juga terlihat dari data kegempaan periode 16 Maret hingga 3 April 2026. Tercatat beberapa jenis gempa dengan jumlah signifikan, antara lain:

  • 866 kali gempa embusan
  • 620 kali gempa frekuensi lemah
  • 1 kali gempa vulkanik dalam
  • 11 kali gempa tektonik jauh
  • Tremor menerus amplitudo 1 mm (dominan 0,5 mm)

Gempa frekuensi rendah meningkat konsisten sejak 22 Maret dan semakin jelas setelah 27 Maret. Aktivitas ini berkaitan dengan peningkatan gas magmatik di dalam tubuh gunung.

Pergerakan Magma Menuju Permukaan

Pemantauan deformasi menggunakan alat Electronic Distance Measurement menunjukkan adanya pergerakan magma.

Magma terdeteksi bergerak dari kedalaman yang lebih dalam menuju area yang lebih dangkal. Tekanan di bawah tubuh gunung pun meningkat dan memicu gempa dangkal.

Kondisi ini memperbesar potensi terjadinya erupsi, meskipun status gunung hingga 3 April 2026 masih berada pada Level II (Waspada). Pemantauan terus dilakukan oleh petugas di Pos Pengamatan Gunungapi Slamet di Desa Gambuhan, Pemalang.

Potensi Bahaya dalam Radius 2 Kilometer

Masyarakat dan calon pendaki diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah puncak. Beberapa potensi ancaman yang mungkin terjadi meliputi:

  • Erupsi freatik yang menghasilkan abu dan hujan lumpur
  • Erupsi magmatik yang dapat melempar material pijar
  • Embusan gas vulkanik berkonsentrasi tinggi

Penambahan personel tanggap darurat juga direncanakan untuk memperkuat pemantauan. Seluruh pihak terkait mengimbau kamu untuk mengikuti arahan otoritas dan tidak memaksakan pendakian selama kondisi belum dinyatakan aman.***/mel

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *