Betapa Memilukannya Nasib Perempuan Afghanistan, Dunia hanya Diam

 Betapa Memilukannya Nasib Perempuan Afghanistan, Dunia hanya Diam

Foto: Aljazeera

JAYAKARTA NEWS— Baru-baru ini pemerintah Afghanistan membangkitkan kembali Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan dan salah satu peraturan pertama yang dikeluarkan berupa keharusan perempuan mengenakan hijab, yang diartikan pakaian tradisi Burqa berwarna biru atau hitam. Burqa menutup tubuh perempuan dari kepala sampai kaki dan hanya ada semacam cadar kecil dibagian mata.

Selain itu, setiap kali keluar rumah, perempuan harus ditemani wali laki-lakinya. Jika tidak, bisa terkena hukuman penjara bagi wali laki-laki.

Taliban kembali menerapkan aturan pembatasan bagi perempuan setelah beberapa rangkaian peraturan lainnya. Marzia (50 tahun), bukan nama sebenarnya, dosen perempuan sebuah universitas di Kabul, “Kenapa mereka menurunkan derajat perempuan hanya sebagai objek seks saja?” Tanyanya dengan nada marah, seperti dilansir oleh Aljazeera.

Banyak perempuan dan aktivis marah atas aturan baru ini. Marzia menambahkan, “Saya seorang Muslim dan menghargai nilai-nilai ajaran Islam. Sebagai laki-laki Muslim, jika mereka merasa tidak senang dengan hijab saya, mereka bisa mengalihkan pandangannya,” tukasnya.

Sebagai perempuan lajang, yang tidak punya wali laki-laki, karena kakak laki-lakinya dibunuh Taliban dan ayahnya sudah meninggal serta dia harus merawat ibunya yang sakit-sakitan, Marzia sangat kesulitan untuk beraktivitas di luar ruang atau di ruang publik. Dia beberapa kali dihentikan oleh patroli atau pos penjagaan Taliban, ketika sedang naik taksi, dan terpaksa berjalan kaki berkilometer untuk pulang ke rumah atau mengajar karena berpergian tanpa wali laki-laki.

Aktivis perempuan Huda Khamosh, yang memimpin demonstrasi perempuan sesaat setelah Taliban berkuasa di Kabul dan berhasil melarikan diri berhadapan dengan para pemimpin Taliban di sebuah konferensi di Norwegia. Dia meminta mereka membebaskan teman-temannya yang ditahan di Kabul.

“Rezim Taliban memaksakan aturan-aturan terhadap kami dan ini memberi pesan yang salah terhadap generasi perempuan muda di Afghanistan yang identitasnya direduksi hanya sekadar pakaian yang mereka kenakan,” ujarnya dengan nada tinggi. Dia juga menyerukan agar perempuan tetap menyuarakan aspirasinya. “Jangan pernah diam,” tegasnya.

“Hak perempuan tidak terbatas hanya soal memilih suami dan menikah,” tutur Khamosh. Dia menyinggung peraturan hak perempuan, yang sama sekali tidak menyinggung soal hak memperoleh pendidikan dan pekerjaan.

Khamosh juga kecewa dengan “diamnya” dunia internasional. “Dunia mengkhianati generasi ini dengan berdiam diri. Adalah sebuah kejahatan kemanusiaan untuk membiarkan setengah dari populasi sebuah negara dikerangkeng.”

Sementara Mariza berkomentar,”Kami adalah negeri yang menghasilkan banyak pemimpin perempuan hebat. Saya selalu mengajarkan para murid untuk menghormati dan mendukung perempuan. Saya menaruh harapan besar kepada perempuan muda kami dan semuanya seperti dilemparkan ke tempat sampah oleh Taliban dan dipandan tidak ada nilainya. Hati saya sangat tertusuk setiap kali ada peraturan baru yang dikeluarkan dan bertentangan dengan nilai Islam dan Afghan.”***Aljazeera/leo

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.