Derita Masyarakat Afghanistan tak Berkesudahan, Ranjau dan Mortir Sisa Perang Bertebaran di Seluruh Negeri

JAYAKARTA NEWS – Situasi kemanusiaan di Afghanistan masih jauh dari baik. Negeri yang mengalami 40 tahun perang dan masih mungkin konflik kembali akan merebak di masa depan. Bisa dibilang, seluruh wilayah negeri ini berserakan segala benda-benda berbahaya sisa perang berupa ranjau, mortir, peluru meriam, bahkan bom-bom yang belum meledak. Semua ini harus dibersihkan. Sebelum Taliban berkuasa, pemerintah sudah punya sebuah lembaga nasional yang mengkoordinasi upaya pembersihan. Namun semua upaya ini terhambat setelah Taliban berkuasa.

Akibatnya, seperti laporan Reuters ini. Anak-anak Afghanistan di desa Bolak Wandi, Propinsi Helamand, menemukan tonjolan besi yang terkubur di tanah. Mereka berkumpul dan sedikit bertengkar mengenai siapa yang akan menggalinya dan menjual besi itu ke pengepul. Mendadak tonjolan besi (sebuah mortir) meledak dan membunuh satu anak. Belakangan tiga anak lain meninggal akibat luka-lukanya  dalam perjalanan ke rumah sakit. Kemudian, satu anak lagi meninggal saat baru sampai di rumah sakit.

Berita seperti ini hampir tidak ditemukan pada pemberitaan arus utama media massa kita. Namun penderitaan rakyat Afghanistan masih terus terjadi dan makin lama makin sayup terdengar.

“Saya tidak menyalahkan siapapun,” ujar Haji Abdul Salam, ayah dari dua anak yang jadi korban. Dia terlihat sedang berupa keras menenangkan isterinya, yang menangis tersedu-sedu.

“Mortir ini bisa saja peninggalan Amerika atau Uni Soviet. Tapi ini bukan hanya ada di daerah kami, Afghanistan harus membersihkannya.”

Idris (8 th) kehilangan kakinya akibat ranjau darat di Rumah Sakit Palang Merah, Kabul, Afghanistan 9 April 2022 (Foto Reuters)

Anak-anak Afghanistan masih setiap hari menghadapi bahaya ledakan ranjau dan berbagai bahan peledak lain. Sementara misi perbersihan sisa-sisa bahan peledak dalam berbagai bentuk tidaklah mudah. Malah makin sukar.

Tadinya, ketika Taliban kembali berkuasa dan artinya juga perang berakhir, diharapkan usaha penjinakan bahan peledak di wilayah-wilayah pertempuran akhirnya bisa dilakukan. Namun banyak negara telah membekukan bantuan kepada pemerintah Afghanistan. Alasannya, mereka tidak ingin memperkuat pemerintahan Taliban yang dipandang kurang menghormati hak azasi manusia serta menggekang hak-hak perempuan.

Akibat, yang tidak diperkirakan sebelumnya, lembaga pemerintah yang bertugas membersihkan ranjau dan bahan peledak lain kehilangan dana sekitar 3 juta dolar. Mereka juga terpaksa memberhentikan 120 stafnya — artinya: sebagian besar pegawai. Karena, tidak bisa membayar gaji mereka.

Sayed Danish, wakil ketua Direktorat Koordinasi Aksi (Penghapusan) Ranjau (DMAC) mengatakan, “Semua sanksi itu sangat berpengaruh. Kami tidak bisa melakukan tugas strategis yang jadi tanggung jawab utama.”

Lenyapnya dana bantuan pembersihan ranjau ini punya konsekuensi besar. PBB memperkirakan 80% korban bahan peledak sisa-sisa perang adalah anak-anak. Karena mereka biasanya mengumpulkan besi sisa-sisa perang untuk dijual — komoditi yang laku dipasaran dan bisa membantu orang tua mereka.

Dalam tujuh bulan terakhir ini, sudah 300 anak-anak terbunuh akibat ranjau dan berbagai peluru dan bom, yang tidak meledak saat ditembakkan.

Saat ini, bantuan internasional sudah mengalir kembali ke Afghanistan. Tetapi hanya untuk bantuan kemanusiaan saja dan tidak melalui pemerintah Taliban. Sudah ratusan juga dolar dikucurkan untuk menolong 40 juta warga Afghanistan, yang membutuhkan bantuan pangan dan obat-obatan. Namun sebenarnya sangatlah dibutuhkan menumbuhkan kemampuan pemerintah dalam pelayanan public dan juga perbankkan.

Direktorat Koordinasi Aksi (Penghapusan) Ranjau (DMAC) membutuhkan dana 9 juta dolar setahun. Dana berasal dari lembaga bantuan internasional. Bank Dunia mengumumkan dana ini dibekukan setelah Taliban meraih kekuasaan.

Upaya pembersihan ranjau dan bahan peledak lain sebagian besar dikerjakan oleh lembaga bantuan internasional. Namun DMAC memberi arahan strategis untuk memprioritaskan wilayah yang sangat berbahaya. Selain itu, lembaga ini juga menyediakan peta seluruh negeri, yang ada ranjau dan bahan peledak lainnya. Peta ini sangat berguna agar tidak ada tumpang tindih dalam upaya pembersihan ranjau.

Soren Sorensen, ketua Humanitarian Disarmament and Peace Building dari Dewan Pengungsi Denmark mengungkapkan “Upaya pembersihan ranjau akan berjalan baik jika ada koordinasi di tingkat nasional dan pemantauan terus-menerus. Pada saat ini, semua upaya (pembersihan ranjau dan bahan peledak lain) dilakukan di wilayah-wilayah tertentu, yang penunjukkannya sudah lama dilakukan. Ini tidak efektif dan tidak memberi solusi di kawasan paling rawan.”

Sorensen memberi contoh di jalan menuju Kabul ada desa kecil di sebelah timur distrik Khaki Jabbar. Wilayah ini digunakan oleh Soviet sebagai pangkalan garis depan. Tahun lalu, tempat ini juga jadi kawasan pertempuran hebat antara pasukan pemerintah dengan Taliban. Ratusan peluru dan mortir sudah diledakkan atau dijinakkan. Tapi ada lebih dari 45.000 kilometer persegi wilayah yang belum tersentuh dan perlu dibersihkan. Ribuan berbagai jenis bahan peledak dan ranjau terhampar di seluruh negeri.

“Sebenarnya ada kesempatan bagus, saat ini, untuk benar-benar membersihkan negeri ini. Begitu banyak pekerjaan harus dilakukan, “imbuh Sorensen.

Sementara di perbukitan di luar Qafas Kalay, sekitar 25 kilometer timur Kabul, tim pembersihan ranjau, yang dilengkapi rompi dan kaca mata pelindung serta memakai alat deteksi metal sedang bekerja.

Mereka menempatkan bendera kecil di dekat ranjau, yang terkubur dan hampir tidak terlihat. Kemudian, ranjau era Soviet itu dilekatkan bahan peledak kecil dan ada kabel panjang (ratusan meter) ke sebuah pusat control lapangan. Ranjau diledakkan dan para pekerja kembali mengamati tanah jengkal demi jengkal mencari bahan peledak lainnya.

Hanya berjarak beberapa kilomter, anak-anak melihat poster yang menunjukkan berbagai jenis alat-alat peledak dan tempat-tempat yang mungkin bahan itu ada. Pendamping desa kemudian meminta mereka untuk tidak memegang atau mencongkelnya dari tanah. “Kita tidak pergi ke tempat-tempat seperti itu dan harus melapor kepada orang tua jika menemukannya.” Anak-anak mengulang kata-kata ini dengan antusias.

Penduduk sekitar sudah mulai menanami lahan, yang bebas ranjau dan berbagai alat peledak lain, dengan tanaman pangan, mulai dari gandum dan buah-buahan. Mereka juga bekerja di proyek irigasi, yang bisa membantu negeri yang sedang terancam kelaparan.

Sementara Kementerian Luar Negeri AS menegaskan mereka terus mendukung upaya pembersihan ranjau di Afghanistan dengan memberi dana kepada mitra LSM. Disebutkan, sudah dikucurkan dana sebanyak 720 juta dolar AS untuk bantuan kemanusiaan kepada Afghanistan sejak Agustus tahun lalu.

Akhir Juni lalu, pemerintah Afghanistan (DMAC) menyetujui PBB membuka kantor di Kabul. Namun karena pendanaan tidak ada, saat ini DMAC hanya memperkerjakan 30 staf dari 120, jelas Paul Heslop, ketua Program Aksi Ranjau dari PBB.

Dia menambahkan untuk program jangka panjang tanggung jawab koordinasi pembersihan ranjau harus berada di pemerintah dan bukan di lembaga kemanusiaan seperti PBB. “Kami ada dalam situasi, dimana pemerintah tidak diakui (internasional) dan kekurangan dana juga sangat menyulitkan. Bahkan jika anda bisa membayar seseorang, uang itu tidak bisa keluar dari bank. Kondisi sangat sukar bagi rakyat Afghanistan saat ini. Merekalah yang menderita.” (leo)

Sumber: Reuters  

Betapa Memilukannya Nasib Perempuan Afghanistan, Dunia hanya Diam

JAYAKARTA NEWS— Baru-baru ini pemerintah Afghanistan membangkitkan kembali Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan dan salah satu peraturan pertama yang dikeluarkan berupa keharusan perempuan mengenakan hijab, yang diartikan pakaian tradisi Burqa berwarna biru atau hitam. Burqa menutup tubuh perempuan dari kepala sampai kaki dan hanya ada semacam cadar kecil dibagian mata.

Selain itu, setiap kali keluar rumah, perempuan harus ditemani wali laki-lakinya. Jika tidak, bisa terkena hukuman penjara bagi wali laki-laki.

Taliban kembali menerapkan aturan pembatasan bagi perempuan setelah beberapa rangkaian peraturan lainnya. Marzia (50 tahun), bukan nama sebenarnya, dosen perempuan sebuah universitas di Kabul, “Kenapa mereka menurunkan derajat perempuan hanya sebagai objek seks saja?” Tanyanya dengan nada marah, seperti dilansir oleh Aljazeera.

Banyak perempuan dan aktivis marah atas aturan baru ini. Marzia menambahkan, “Saya seorang Muslim dan menghargai nilai-nilai ajaran Islam. Sebagai laki-laki Muslim, jika mereka merasa tidak senang dengan hijab saya, mereka bisa mengalihkan pandangannya,” tukasnya.

Sebagai perempuan lajang, yang tidak punya wali laki-laki, karena kakak laki-lakinya dibunuh Taliban dan ayahnya sudah meninggal serta dia harus merawat ibunya yang sakit-sakitan, Marzia sangat kesulitan untuk beraktivitas di luar ruang atau di ruang publik. Dia beberapa kali dihentikan oleh patroli atau pos penjagaan Taliban, ketika sedang naik taksi, dan terpaksa berjalan kaki berkilometer untuk pulang ke rumah atau mengajar karena berpergian tanpa wali laki-laki.

Aktivis perempuan Huda Khamosh, yang memimpin demonstrasi perempuan sesaat setelah Taliban berkuasa di Kabul dan berhasil melarikan diri berhadapan dengan para pemimpin Taliban di sebuah konferensi di Norwegia. Dia meminta mereka membebaskan teman-temannya yang ditahan di Kabul.

“Rezim Taliban memaksakan aturan-aturan terhadap kami dan ini memberi pesan yang salah terhadap generasi perempuan muda di Afghanistan yang identitasnya direduksi hanya sekadar pakaian yang mereka kenakan,” ujarnya dengan nada tinggi. Dia juga menyerukan agar perempuan tetap menyuarakan aspirasinya. “Jangan pernah diam,” tegasnya.

“Hak perempuan tidak terbatas hanya soal memilih suami dan menikah,” tutur Khamosh. Dia menyinggung peraturan hak perempuan, yang sama sekali tidak menyinggung soal hak memperoleh pendidikan dan pekerjaan.

Khamosh juga kecewa dengan “diamnya” dunia internasional. “Dunia mengkhianati generasi ini dengan berdiam diri. Adalah sebuah kejahatan kemanusiaan untuk membiarkan setengah dari populasi sebuah negara dikerangkeng.”

Sementara Mariza berkomentar,”Kami adalah negeri yang menghasilkan banyak pemimpin perempuan hebat. Saya selalu mengajarkan para murid untuk menghormati dan mendukung perempuan. Saya menaruh harapan besar kepada perempuan muda kami dan semuanya seperti dilemparkan ke tempat sampah oleh Taliban dan dipandan tidak ada nilainya. Hati saya sangat tertusuk setiap kali ada peraturan baru yang dikeluarkan dan bertentangan dengan nilai Islam dan Afghan.”***Aljazeera/leo

Mengenal Afghan dari Mata Perempuan (3)

JAYAKARTA NEWS – Pada tahun 2004, PBB memprakarsai program perlucutan senjata milisi atau mujahidin. Komandan Devisi 93 mengetahui rencana ini dan mengubah milisinya menjadi “perusahaan keamanan swasta” di bawah kontrak dengan Amerika, yang memungkinkan mereka tetap mempersenjatai sepertiga pasukannya. Sepertiga lainnya, tetap bersenjata, menandatangani kontrak keamanan dengan perusahan Amerika dari Texas yang membuat jalan aspal.

Ketika pemerintahan Karzai mengganti “perusahaan keamanan” ini dengan polisi, untuk melindungi pekerja konstruksi jalan. Mereka merekayasa sebuah penyergapan berakibat 15 polisi meninggal. Setelah itu, mereka memperoleh kembali kontrak keamanannya, Sisa sepertiga milisi, yang belakangan juga jadi korban pemerasan rekan-rekannya di Devisi 93, melarikan diri bersama persenjataan mereka dan bergabung dengan Taliban.  

Koalisi pimpinan AS selalu menggambarkan pemberontakan, yang marak di kawasan pedalaman, sebagai ekstrimis yang memerangi kemerdekaan. Tapi dokumen NATO menyatakan Suku Ishaqzais (di Lembah Sangin) tidak punya alasan baik untuk mempercayai pasukan koalisi. Apalagi setelah mengalami berbagai tindak kekerasan dan penindasan ditangan panglima perang seperti Mohammad Khan atau Amir Dado.

Di Desa Pan Killay para tetua desa mendorong para pemuda mempersenjatai diri untuk melindungi desa dan banyak dari mereka menghubungi bekas anggota Taliban untuk memperoleh senjata. Shakira berharap suaminya juga ikut bergerak membantu menjaga desa mereka atau mengungsi ke Pakistan, tapi dia menolak. Di desa tetangga, ketika pasukan AS menggeledah rumah tetua desa yang sangat dihormati warga.

Tentara AS itu membunuhnya dan meninggalkan puteranya, yang menderita cacat. Karena itu, para perempuan beteriak kepada laki-laki desa dengan marah, “Kamu punya turban besar di kepala, tapi apa yang sudah kamu lakukan? Kamu tidak bisa melindungi kami. Kamu menyebut dirimua, laki-laki?”

Di tahun 2005, empat tahu setelah invasi Amerika, dan Shakira sedang mengandung anak ketiganya. Dan dia disibukkan oleh pekerjaan domestik — dari pagi sampai malam, saya terus bekerja dan berkeringat. Tapi ketika dia selesai masak atau memangkas pohon buah Peach, dia menyadari sudah  kehilangan “janji-janji” masa mudanya, yang pernah dia rasakan.

Hampir setiap minggu, dia mendengar ada pemuda yang bergabung dengan Amerika atau Taliban. Suaminya tidak bekerja dan baru-baru ini mulai merokok opium. Pernikahan mereka mengalami masa sukar. Rasa saling tidak percaya merebak di rumahnya dan perasaan ini sama dengan situasi desa. Sehingga, ketika konvoi Taliban memasuki desa Pan Killay. Mereka ber-turban hitam dan mengibarkan bendera putih. Dia berpikir konvoi ini menarik dan bahkan punya perasaan memaafkan Taliban. Pikirnya, kali ini, akan berbeda.

Tahun 2006, Inggris ikut bergabung dengan kontingen Pasukan Operasi Khusus AS untuk memadamkan pemberontakan di Lembah Sangin. Shakira mengenang, “Mulailah neraka.” Taliban menyerang patroli-patroli, pos-pos penjagaan, dan membuat penghalang jalan.

Di puncak bukit Pan Killay, pasukan Amerika mengusai rumah besar pengusaha Opium dan mengubahnya menadi benteng lengkap dengan tumpukan karung pasir dan menara pengawas serta kawat berduri. Setelah itu, inilah yang terjadi, setiap kali akan ada pertempuran besar, anggota muda Taliban mengunjungi rumah-rumah dan memperingatkan penduduk agar menyingkir keluar desa sementara. Kemudian, Taliban melancarkan serangan, koalisi membalas, dan bumi bergetar.

Kadang-kadang, bahkan lari ke luar desa juga tidak menjamin akan selamat. Abdul Salam, paman suami Shakira, lari ke rumah temannya. Setelah pertempuran berhenti, dia pergi ke masjid untuk sembahyang. Beberapa tentara Taliban ada disana juga. Sekutu melancarkan serangan udara dan membunuh semua orang disitu. Besoknya, para kerabat dan tetangga bersiap menguburkan mereka. Tapi kembali terjadi serangan udara sekutu, belasan orang meninggal. Di antara jenazah yang dibawa ke Pan Killay, ada Abdul Salam, sepupunya, dan tiga keponakannya, yang berumur enam sampai lima belas tahun juga jadi korban.

Patroli di Pan Killay.

Sejak kecil, Shakira tidak tahu apakah ada kerabatnya meninggal akibat serangan udara. Dia sekarang berusia dua puluh tujuh tahun dan tidur dengan pakaian yang selalu siap untuk lari berlindung. Satu malam, dia dibangunkan dengan suara menderu sampai-sampai dia merasa rumahnya akan hancur. Suaminya masih tertidur. Dia berjalan perlahan ke halaman depan rumah. Kendaraan militer sekutu terlihat berjalan lewat. Shakira membangunkan keluarganya. Tapi sudah terlambat untuk lari keluar desa, dia berdoa semoga Taliban tidak melancarkan serangan. Dia memasukkan anak-anaknya dibawah jendela dan menyelubungi dengan selimut tebal — upaya terakhir untuk melindungi mereka jika ada serangan yang menyebabkan atap runtuh.

Kembali dari halaman depan, Shakira melihat satu kendaraan parkir. Sepasang antenna terlihat mencuat ke atas. Dia langsung berpikir, mereka akan membunuh kita semua. Dia memanjat sampai di atap rumah dan melihat kendaraan itu kosong, para tentara memarkirnya dan pergi berjalan kaki. Dia melihat mereka sedang berjalan ke arah jembatan kecil dan menghilang ditengah alang-alang.

Di kejauhan, pasukan sekutu dan Taliban bertempur berjam-jam. Keluarga Shakira bersembunyi di rumahnya, dinding bergetar dan anak-anak menangis. Shakira mengeluarkan boneka buatannya dan mengendong Ahmed, putra terkecilnya, dan membisikkan cerita-cerita. Ketika suara tembakan berhenti, Shakira ke halaman. Kendaraan itu tetap berada ditempatnya, tanpa dijagai. Dia menjadi sangat marah. Sepanjang tahun, paling tidak sekali sebulan, dia harus mengalami ketakutan seperti ini. Kemarahannya dilukiskan dengan pertanyaan, kenapa dia dan anak-anaknya harus menderita seperti ini?

Shakira mengabil jalan nekad. Dia lari kedalam rumah dan berbicara dengan mertuanya. Tentara sekutu masih jauh berada di seberang sungai kecil. Shakira mengambil korek api dan ibu mertuanya membawa jerigen solar. Di jalan, seorang tetangga melihat dan mengerti serta ikut bersama mereka dengan jerigen lainnya. Mertua Shakira menuangkan solar ke ban dan mesin. Shakira menyalakan korek api dan melemparnya ke ban kendaraan itu.

Dari dalam rumah, mereka menyaksikan langit berubah kemerahan karena kendaraan yang terbakar itu. Beberapa saat kemudian, sebuah helikopter mendekat dari arah selatan. “Mendatangi kita!” Teriak ibu mertuanya. Ipar Shakira, yang tinggal bersama mereka, dengan cepat mengumpulkan anak-anak, meski Shakira tahu sudah terlambat. Jika kita mati, biarlah mati di dalam rumah, pikirnya.

Mereka berlindung di lubang perlindungan di halaman belakang, orang dewasa diatas anak-anak. Mendadak bumi bergetar keras, kemudian helikopter terbang menjauh. Ketika mereka keluar, Shakira melihat orang asing itu menembak kendaraan, yang sedang terbakar, supaya onderdilnya tidak bisa digunakan kembali. Para perempuan di Pan Killay berdatangan memberi selamat kepada Shakira. Mereka menyebutnya sebagai pahlawan. Tapi Shakira sendiri sama sekali tidak bangga, hanya ada rasa kelegaan. “Saya hanya berpikir mereka (pasukan AS dan sekutunya) seharusnya tidak datang dan kami akan memperoleh perdamaian.”

Tahun 2008, Marinir AS ditempatkan di Sangin memperkuat Pasukan Khusus AS dan tentara Inggris. Namun posisi pangkalan pasukan Inggris sudah terkepung (sepertiga dari seluruh kematian tentara Inggris terjadi di Sangin). Tentara Inggris menyebut misi di Sangin sebagai misi “Sangingrad”. Nilofas, yang sudah berusia 8 tahun, sudah terbiasa hidup dalam kondisi perang. Dia akan bertanya kepada ibunya, Shakira, “Kapan kita bisa pergi ke tante Farzana?” Farzana tinggal di gurun.

Namun kekacauan tidak bisa diperkirakan, satu sore, mendadak tentara asing muncul kembali dan tidak ada yang sempat lari, lagi-lagi keluarga Shakira bersembunyi di lubang di halaman belakang. Tentangga mereka, isteri dan anak-anak almarhum Abdul Salam juga bersembunyi di lubang mereka. Tapi sebuah mortir menghantam dan membunuh Bor Jana, puterinya yang berusia 15 tahun.

Sebenarnya kedua belah pihak berusaha menghindari korban sipil. Taliban selalu memberikan peringatan untuk mengungsi dan memberikan informasi mengenai daerah yang dipasangi ranjau (IED – Improvised Explosive Device) dan menutup jalan jika sedang bersiap mengincar konvoi pasukan AS dan sekutunya.

Korban pembunuhan di Afghanistan. (https://www.dw.com/)

Di sisi lain, pasukan sekutu juga memperingatkan warga sipil melalui speaker, yang dipasang di helikopter, dan menjatuhkan selebaran, ”Tetap tinggal di rumah! Selamatkan diri anda!”. Namun tetap saja tidak ada yang benar-benar aman, cerita Shakira. Banyak warga sipil meninggal dalam perang ini. Kadang-kadang korban sipil ini sempat memicu kecaman luas, seperti ketika sebuah roket menghantam kerumumnan warga desa di Sangin, yang menewaskan 52 orang pada tahun 2010. Namun kebanyakan insiden terjadi dengan korban satu atau dua tewas, yang tidak pernah dilaporkan atau dicatat oleh lembaga pemerintah dan juga tidak pernah dihitung sebagai korban perang.

Kejadian seperti itulah yang membuat tragedi dialami keluarga Shakira terus menumpuk. Keponakannya, Muhammad (15 tahun) sedang mengendarai sepeda motor menuju desa tetangga ke rumah temannya. Dia terbunuh oleh serangan drone. “Suaranya ada dimana-mana,” jelas Shakira. “Ketika kami dengar kejadian itu, anak-anak langsung menangis dan saya tidak bisa menenangkan mereka.”

Muhammad Wali, sepupu Shakira yang sudah dewasa, ketika pasukan koalisi AS memerintahkan penduduk desa tetap tinggal di dalam rumah selama tiga hari — saat mereka melakukan operasi militer. Namun setelah dua hari, air minum habis dan Wali terpaksa keluar rumah. Dia ditembak mati.

Khan Muhammad, keponakan Shakira yang baru berusia 7 tahun. Keluarganya melarikan diri dari pertempuran dan secara tidak sengaja mendekati posisi pasukan koalisi, mobil itu ditembaki dan membunuhnya.

Bor Agha (12 tahun), keponakan lain Shakira. Dia sedang berjalan di malam hari ketika tembakan dari pangkalan Polisi Nasional Afghan membunuhnya. Besok paginya, ayahnya mengunjungi pangkalan itu, yang sedang syok dan meminta penjelasan. Dia memperoleh pernyataan bahwa anak itu sudah diperingati agar tidak mendekat ke pangkalan. “Komandan mereka memerintahkan menembaknya,” cerita ayahnya.

Amanullah (16 tahun), sepupu. Dia sedang berkerja di ladang ketika ditembak oleh penembak jitu dari Angkatan darat Afghan. Tidak ada yang memberi penjelasan dan pihak keluarga terlalu takut untuk pergi ke pangkalan Angkatan darat untuk bertanya.

Ahmed, sepupu yang sudah dewasa. Setelah berjam-jam bekerja di ladang, dia berjalan pulang sambil menenteng panic dan ditembak mati oleh pasukan koalisi. Pihak keluarga percaya orang asing itu mengira panci itu semacam ranjau.

Niamatullah, kakak Ahmed. Dia sedang memanen Opium ketika terjadi tembak menembak di dekatnya. Saat dia sedang berlari untuk berlindung dia tertembak mati.

Gul Ahmend, paman suami Shakira. Dia bangun pagi-pagi untuk mulai bekerja di ladang dan meminta puteranya menyiapkan makan pagi dan membawanya ke ladang. Ketika mereka tiba di ladang, mereka menemukan jasadnya. Para saksi mata menyebutkan, dia bertemu dengan patrol pasukan koalisi. “Tentara meninggalkan dia ditempat, seperti binatang saja layaknya,” ujar Shakira.

Keluarga besar Shakira, mulai dari paman-paman yang sering bercerita dan sepupu-sepupu yang bermain bersamanya di gua persembunyian, banyak yang sudah tidak ada. Shakira kehilangan 16 anggota keluarga. Kita bisa bertanya-tanya mungkin banyak keluarga di Pan Killay mengalami hal yang sama.

Ketika wartawan Anand mencoba melakukan survey kecil di Pan Killay dan desa sekitar dengan cara mewawancari saksi mata dan sertifikat kematian. Dia mendapati secara rata-rata setiap keluarga di Pan Killay dan desa-desa lain kehilangan 10 sampai 12 anggota keluarga, yang mereka sebut sebagai Perang Amerika.

Penderitaan seperti ini tidak dikenal di kota metropolis Kabul, yang penduduknya menikmati keamanan yang lebih baik. Tapi di kawasan pedesaan, kantung-kantung wilayah seperti Sangin, banyaknya pembunuhan terhadap rakyat sipil membuat warga makin condong memihak Taliban.

Sejak 2010, banyak keluarga di desa-desa suku Ishaqzai menjadi anggota Taliban dan kebanyakan mereka bergabung demi perlindungan terhadap diri dan keluarga dan banyak juga yang ingin balas dendam. Gerakan Taliban jadi terintegrasi dalam kehidupan di Sangin, jauh lebih dalam daripada di era 1990-an. Sekarang, ketika Shakira dan teman-temannya membicarakan Taliban, mereka mendiskusikan teman-teman, tentangga, dan orang-orang yang mereka cintai (keluarga sendiri).

Perwira tentara Inggris, di lapangan, makin kuatir karena pasukan AS terlalu banyak membunuh warga sipil dan mencoba melobi, tapi gagal, agar Pasukan Khusus AS ditarik dari kawasan tersebut. Namun, yang terjadi, pasukan dari berbagai penjuru dunia masuk ke Helmand, termasuk Australia, Kanada, dan Denmark. Tapi buat warga desa, yang tidak bisa membedakan asal tentara, mereka disebut orang Amerika. Pazaro, teman perempuan Shakira dari desa tetangga, mengenang, ”Ada dua jenis manusia —satu dengan muka berwarna hitam dan satu lainnya berwarna merah muda. Saat kita melihat mereka, kami pasti ketakutan.”

Pihak koalisi menggambarkan penduduk sekitar sangat ingin terbebas dari Taliban. Tapi laporan intelijen tahun 2011 menyebutkan persepsi masyarakat terhadap pasukan koalisi adalah “tidak menyukai” dan penduduk desa memperingatkan jika pasukan koalisi tidak keluar dari kawasn itu mereka akan mengungsi.

Koalisi AS, mencoba merespon laporan itu, mengubah strategi dengan mengupayakan memperoleh simpati dari masyarakat dalam upaya meredam pemberontakan. Tapi upaya “orang asing” berada bersama-sama warga lokal bisa berakibat fatal. Mereka sering tinggal di rumah-rumah penduduk, yang menyebabkan warga sipil bisa terkena peluru nyasar. “Mereka datang dengan memaksa, tanpa ijin dari kami,” tukas Pashtana, perempuan dari desa lain di Sangin.

Mariza, dari Desa Pan Killay bercerita, “Mereka kadang-kadang mendobrak rumah kami, merusak semua jendela dan tinggal sepanjang malam. Kami langsung lari, takut Taliban menembaki mereka. Taliban akan menembak satu dua tembakan dan Amerika membalasnya dengan mortir”. Salah satu mortir menghantam rumah ibu mertuanya. Untungnya, dia selamat tapi mengalami ganguan jiwa. “Dia selalu berteriak ada yang dia lihat, yang kita tidak lihat, seperti hantu,” tambah Mariza.

Beberapa perwira militer NATO, dengan inisiatif baik, mencoba membujuk komandan-komandan Taliban untuk berbalik memihak pemerintah. Pada tahun 2010, sekelompok komandan Taliban di Sangin, yang sepakat kembali memihak pemerintah dengan janji dari Inggris yang akan membantu penduduk setempat. Tapi ketika para pemimpin Taliban bertemu untuk meresmikan kesepakatan, Pasukan Khusus AS — bertindak sepihak – membom pertemuan dan membunuh tokoh utama Taliban, yang berperan penting dalam upaya mencapai perdamaian.

Marinir AS akhirnya keluar dari Sangin pada tahun 2014. Pasukan pemerintah Afghan bertahan di lembah itu selama tiga tahun, sampai Taliban mengusai sebagian besar wilayah itu. Amerika mengevaluasi, lewat udara, pasukan pemerintah dari pangkalan-pangkalannya. Meski NATO, dalam pernyataannya, menyebut pangkalan-pangkalan itu tinggal reruntuhan dan sampah saja. Pasar Sangin juga hancur pada saat itu. Ketika Shakira melihat took-toko yang sudah hancur, dia mengatakan kepada suaminya, “Mereka tidak meninggalkan apapun untuk kita.”

Kendati begitu, ada rasa optimis di Pan Killay, suami Shakira memotong seekor domba untuk merayakan berakhirnya perang dan keluarga juga membahas bagaimana merenovasi taman di belakang rumah — selama ini digali untuk berlindung. Ibu mertua Shakira juga bercerita hari-hari ketika Soviet dan Amerika tidak ada, ketika keluarga-keluarga bisa piknik di tepian sungai, para laki-laki bersantai di bawah keteduhan pohon Peach dan perempuan bisa tidur nyenyak di teras atas rumah dibawah bintang-bintang. (Leo Patty/Bersambung)

Mengenal Afghan dari Mata Perempuan (2)

JAYAKARTA NEWS – Di awal 90-an, pemerintah komunis Afghanistan, yang sudah kehilangan dukungan Soviet, jatuh. Pada tahun 1992, Lashkar Gah jatuh ketangan salah satu faksi mujahidin. Shakira mempunyai seorang paman di kota kecil itu. Dia seorang komunis dan jarang ke masjid serta hanya menguasai sedkit dialek Pashtun. Dan dia baru saja menikah dengan perempuan muda, Sana, yang melarikan diri dari keluarganya karena akan dipaksa menikah dengan laki-laki, yang berusia empat kali lipat darinya.

Pasangan ini tinggal di kawasan ‘Moskow kecil’ di Lashkar Gah. Sana menyebutkan sebagai tempat dimana perempuan punya kebebasan. Namun setelah dikuasai oleh mujahidin, mereka terpaksa melarikan diri ke Pan Killay.

Shakira, yang sedang mengurus sapi pada malam itu, mendadak dikelilingi orang-orang bersenjata dari faksi Dado. “Dimana paman kamu,” Hardik mereka. Mereka menggeledah rumah dan menemukan Sana, yang diseret keluar. Ketika paman Shakira lainnya berusaha menengahi, dia juga ditangkap. Keesokan harinya, suami Sana menyerahkan diri kepada pasukan Dado dan memohon agar Sana dibebaskan dan dia menggantikannya. Kedua orang, suami isteri ini, kemudian dikirim ke peradilan agama Amir Dado dan dimasukkan tahanan menunggu hukuman mati.

Ketika mujahidin berhasil menggulingkan pemerintahan komunis di Kabul, mereka membawa serta semua aturan pedesaan atau pedalaman bersama mereka. Di ibukota, para pemimpin mereka — yang menerima dana besar dari AS — mendeklarasikan, ”Perempuan tidak boleh keluar rumah, kecuali sangat diperlukan, dan kalau keluar rumah harus menutup dirinya (dengan Burqa).” Polisi agama berpatroli di kota menangkapi perempuan, yang berkeliaran tanpa mengenakan Burqa atau tanpa ditemani keluarga laki-lakinya dan membakar kaset audio dan video.

Namun pemerintahan mujahidin juga mulai pecah. Sementara kawasan pedesaan kembali jadi ajang pertempuran perang saudara rebutan wilayah. Pada malam hari di Pan Killay, Shakira mendengar suara-suara tembakan dan kadang-kadang teriakan-teriakan. Pada pagi hari, ketika sedang merawat sapi, dia bisa melihat tetangga-tetangga mengangkat jenazah yang dikafani seadanya. Keluarganya berkumpul di halaman rumah dan berunding, dengan suara pelan, mengenai bagaimana caranya supaya mereka lolos dari pertempuran ini.

Pasukan Muhajidin dukungan Amerika. (https://www.merdeka.com/)

Saat itu, jalanan ditutup oleh pos-pos pemeriksaan dari berbagai faksi Mujahidin. Di selatan desa, di kota Gereshk, kelompok milisi dengan nama Devisi 93 menjaga ketat jembatan dan beredar cerita para laki-laki desa dirampok dan dibunuh serta perempuan dan anak laki-laki diperkosa. Ayah Shakira kadang-kadang melewati jembatan itu untuk menjual produk pertaniannya di pasar Gereshk, karena itu ibunya memohon agar dia tetap tinggal di rumah saja.

Keluarga Shakira, yang terjepit diantara panglima perang Amir Dado di utara dan Devisi 93 di selatan, merasa makin putus asa. Pada satu sore, ketika Shakira berusia enam belas tahun, dia mendengar teriakan dari jalanan. “Taliban disini!” Dia melihat konvoi Toyota Hilux putih berisi tentara bersenjata dengan turban (sejenis topi tradisional Afghan) berwarna hitam dan membawa bendera putih. Shakira tidak pernah mendengar tentang Taliban.

Ayahnya menjelaskan kelompok ini beranggotakan pelajar agama miskin yang sering dia lihat meminta bantuan. Banyak dari mereka bertempur bersama mujahidin kemudian keluar setelah Soviet pulang. Sekarang, mereka remobilisasi untuk menghentikan kekacauan akibat perang saudara. Dalam waktu singkat, mereka menghancurkan Devisi 93 dan menguasai jembatan. Banyak relawan ikut bergabung dengan mereka ketika mereka berangkat keluar dari Lembah Sangin. Kakaknya juga melaporkan Taliban juga sudah menghancurkan posisi Amir Dado. Sang panglima perang meninggalkan pasukannya dan melarikan diri ke Pakistan. “Dia sudah pergi.” Ujar kakak Shakira. Taliban juga melucuti peradilan agama Amir Dado dan membebaskan Sana dan suaminya, yang sedang menunggu eksekusi. Mereka juga menghapus semua pos-pos penjagaan. Setelah lima belas tahun, Lembah Sangin akhirnya merasakan kedamaian.

Ketika ditanyakan pendapat Shakira dan perempuan lain di lembah mengenai pemerintahan Taliban, mereka tidak menilainya dari standar universal atau nilai demokrasi, hak azasi manusia, dan lainnya.  Tapi hanya di dasarkan  dari penguasa-penguasa sebelumnya. “Mereka lebih lembut,” ujar Pazaro, perempuan asal desa tetangga.

“Mereka memperlakukan kami dengan hormat,” ujar para perempuan menggambarkan kehidupan dibawah kekuasan Taliban dibandingkan dibawah tekanan Amir Dado dan mujahidin serta tidak ada orang asing menggedor pintu tengah malam atau pos-pos penjagaan yang menakutkan dan mematikan.

Shakira juga bercerita mulai mendapatkan ketenangan, pagi yang sunyi dengan minuman teh hijau dan roti naan, malam musim panas dihabiskan dengan bercengkrama di atap rumah. Belakangan para ibu, tante, dan nenek mulai, dengan rahasia, mencarikan jodohnya. Di pedesaan, perkawinan juga adalah pernikahan dua keluarga. Kemudian, dia ditunangkan dengan laki-laki keluarga jauh, yang ayahnya hilang pada masa Soviet.

Saat pertama Shakira melihat tunangannya adalah pada hari pernikahan, dia (calon suami) dikelilingi perempuan desa, yang mengganggunya mengenai rencana pada malam pertama. “Dia itu bodoh,” kenang Shakira sambil tertawan. “Dia begitu malu dan mencoba kabur. Orang-orang menangkapnya dan membawanya kembali.”

Ladang opium di Afghanistan. (https://www.bbc.com/)

Sama seperti kebanyakan pemuda di lembah, suami Shakira bekerja sebagai pengangkut opium dan dia menyukai kilau dimatanya. Namun dia juga kuatir keberanian (suaminya) mungkin tidaklah cukup. Ketika Taliban mulai memperkuat kekuasaannya serta melakukan perekrutan tentara secara besar-besaran. Banyak pemuda di angkut ke Afghanistan utara untuk bertempur dengan kelompok mujahidin, yang dikenal dengan Aliansi Utara.

Satu hari, Shakira melihat helikopter mendarat di lapangan desa dan menurunkan jenazah asal desanya. Sejak itu, para laki-laki bersembunyi di rumah-rumah temannya, berpindah-pindah dari satu desa ke desa lainnya. Mereka kuatir akan direkrut jadi tentara Taliban. Para petani gurem atau petani yang bekerja di ladang orang lain jadi kelompok paling rentan untuk direkrut Taliban. Sedangkan orang kaya bisa menghindari perekrutan dengan uangnya. “Inilah yang benar-benar tidak adil yang dilakukan Taliban,” ujar Shakira. Dia mulai membenci rombongan patroli Taliban.

Pada tahun 2000, di Provinsi Helmand mengalami kekeringan luar biasa. Semangka di ladang kering dan bangkai binatang berserakan di jalanan. Penderitaan ini diperdalam dengan pengumuman pemimpin Taliban, Mullah Omar, yang melarang penanaman Opium. Ekonomi lembah langsung runtuh.

Pazaro mengenang, ”Kami tidak punya apa-apa untuk dimakan dan suami-suami kami tidak bisa menyediakan makanan kepada anak-anak kami. Anak-anak sering menangis, mereka berteriak, dan kami merasa sudah gagal.” Shakira, yang saat itu sedang hamil, mencelupkan roti Naan kedalam teh hijau dan memberikannya kepada keponakan-keponakannya. Suaminya berada di Pakistan, mencoba mencari kerja di ladang-ladang pertanian di sana. Shakira kuatir bayinya akan meninggal dan suaminya tidak akan pernah pulang dan dia akan sendirian. Setiap pagi, dia berdoa supaya turun hujan agar pembebasan segera tiba.

Satu hari, melalui pengumuman di radio, disebutkan ada serangan Amerika. Mendadak, banyak diskusi di desa mengenai tentara dari negara paling kaya di dunia datang untuk menggulingkan Taliban. Dan untuk pertama kalinya, selama bertahun-tahun, hati Shakira terisi oleh harapan.

Satu malam tahun 2003 lalu, Shakira dikagetkan oleh suara-suara orang-orang asing. Dia segera menuntup tubuhnya dan lari ke ruang keluarga. Dengan panik, di melihat senjata laras panjang diarahkan kepadanya. Orang-orang itu tinggi besar, lebih tinggi dari yang selama ini dikenalnya, dan mereka mengenakan seragam. Dia lansung tersadar, mereka orang Amerika. Beberapa orang Afghan bersama mereka, yang membawa senapan Kalashnikov dengan syal berwarna hitam–putih. Seorang, yang berjangut lebat, meneriakkan perintah: itu Amir Dado.

Amerika dengan cepat menggulingkan Taliban dan mendirikan pemerintahan Hamid Karzai di Kabul. Dado, yang berteman dengan Pasukan Khusus Amerika, jadi kepala intelejen di Provinsi Helmand. Salah satu adiknya jadi gubernur dan adik lainnya jadi kepala polisi di distrik Sangin. Di Helmand, pada tahun pertama pendudukan Amerika, kehidupan berlangsung damai dan ladang-ladang kembali ditumbuhi bunga Opium. Shakira, sekarang, sudah mempunyai dua anak, Nilofar dan Ahmed. Suaminya sudah pulang dari Pakistan dan bekerja mengirimkan resin Opium ke pasar Sangin. Namun sekarang, Dado kembali berkuasa — diselamatkan Amerika dari pembuangan — dan kehidupan perlahan-lahan kembali seperti jaman perang saudara.

Hampir semua orang yang dikenal Shakira punya cerita mengenai Dado. Satu kali, milisinya meminta dua pemuda untuk membayar pajak atau bergabung dengan mereka. Dado memang tetap memiliki milisi bersenjata kendati dia punya kedudukan resmi pemerintahan. Ketika dua pemuda tersebut menolak, para milisi Dado menembak mati mereka dan menggantung keduanya di pohon. Seorang penduduk desa bercerita,”Kami memotong tali untuk menurunkan mereka dan kondisi jenazah sangat mengenaskan.” Di desa lain, parukan Dado memeriksa setiap rumah dan menembak mati siapa saja yang dicurigai anggotaTaliban. Sampai-sampai, seorang tetua desa, yang tidak pernah ikut Taliban, juga ditembak mati.

Peta lahan opium di Afghanistan. (wikipedia)

Shakira bingung oleh karena pilihan Amerika terhadap sekutu Afghan-nya. “Apa ini rencana mereka?” Tanyanya. “Mereka datang untuk membawa damai atau mereka punya tujuan lain?” Dia memaksa suaminya untuk berhenti mengirimkan resin Opium ke pasar Sangin dan pindah ke selatan, ke kota Gereshk. Tapi ketika dia pulang ke rumah, dia mengabarkan ke kota itu sudah tidak mungkin dicapai lagi.

Kabar mengejutkan, Amerika kembali menghidupkan Devisi 93, yang jadi sekutu dekat di provinsi itu. Orang bersenjata Devisi 93 kembali menghentikan kendaraan dan orang di jembatan dan merampoki mereka. Namun, menurut Mike Martin, perwira Inggris, penghasilan terbesar mereka adalah mengumpulkan bayaran dari Amerika, yang menghargai komandan Taliban, yang tertangkap, dua ribu dolar.

Kendati begitu, upaya ini tetap jadi tantangan besar, karena sukar sekali menemukan Taliban, yang aktif, untuk ditangkap. “Kami tahu setiap anggota Taliban di desa kami,” ujar Shakira, dan mereka sama sekali tidak terlibat dalam perang gerilya. “Mereka tinggal di rumah, tidak melakukan apa-apa.” Seorang Letnan Kolonel pasukan khusus AS, Stuart Farris, yang ditempatkan di kawasan lembah saat itu, berkomentar kepada sejarahwan Angkatan Darat AS,” Sama sekali tidak ada perlawanan saat itu.”

Karena itulah, milisi seperti Devisi 93 mulai menuduh orang-orang yang tidak bersalah sebagai anggota Taliban. Pada bulan Februari 2003, mereka menuduh Haji Bismilah – direktur transportasi pemerintahan Karzai di kota Gereshk yang bertanggung jawab atas pengumpulan uang tol di kota — sebagai teroris. Akibatnya, Amerika menangkap dan mengirimnya ke Guantanamo. Ketika Bismilah sudah tidak ada, maka Devisi 93 memonopoli penarikan uang tol/masuk ke kota.

Di sisi lain, Dado bergerak lebih jauh. Maret 2003, pasukan AS mengunjungi gubernur Sangin – adik Dado — untuk membicarakan perbaikan sekolah dan klinik kesehatan. Saat mereka meninggalkan lembah, konvoi diserang, yang menyebabkan Sersan Jacob Frazier dan Sersan Orlando Morales, menjadi yang pertama tewas di Helmand.

Pihak Amerika mencurigai penyerang bukan Taliban tapi Dado. Kecurigaan ini belakangan terkonfirmasi oleh pernyataan mantan komandan milisi Dado, yang menyatakan dia mengatur penyerangan agar Amerika tetap bergantung kepadanya. Namun ketika pihak Dado mengklaim berhasil menangkap penyerang yaitu mantan tentara Taliban Bernama Mullah Jalil. Maka Jalil dikirim ke Guantanamo. Meskipun, berdasarkan fakta dari berkas Jalil di Guantanamo, para pejabat AS tahu Jalil dituduh untuk menutupi kenyataan sebenarnya pasukan Dado-lah yang melakukan penyergapan itu.

Insiden ini tidak mempengaruhi hubungan Dado dengan Pasukan Khusus AS, yang menilai dia terlalu berharga untuk membersihkan “teroris”. Mereka, sekarang, berpatroli bersama dan setelah serangan di desa Shakira yang dinilai jadi salah satu tempat yang diperiksa untuk mencari teroris. Para tentara tidak tinggal lama di rumahnya, tapi Shakira tidak bisa melupakan todongan senapan itu dari pikirannya. Pagi harinya, dia membersihkan jejak sepatu di karpet.

Teman-teman Shakira dan para tetangga terlalu takut untuk bicara. Meski PBB mulai mengupayakan agar Dado segera dilucuti. Amerika berulang kali menghentikan upaya tersebut. Sementara Kesatuan Marinir AS berargumentasi, kendati Dado bukanlah seorang demokrat tapi bentuk “keadilan kasar”-nya sudah terbukti mampu mengontrol pemberontak Pashtun.

Suami Shakira akhirnya benar-benar tidak meninggalkan rumah setelah situasi di Helmand semakin buruk. Seorang petani di desa sebelah, Mohammed Nasim, ditangkap pasukan AS dan di kirim ke Guantanamo, karena menurut penyidikan namanya mirip dengan komandan Taliban. Pejabat pemerintah Karzai, Bernama Ehsanullah, mengunjungi pangkalan Amerika untuk memberikan informasi berkaitan dengan dua anggota Taliban, tetapi saat itu tidak ada penterjemah.

Dalam kebingungan, dia ditangkap dan dikirim ke Guantanamo. Nasrullah, pejabat pajak pemerintah, dikirim ke Guantanamo ketika berada di dalam bus, yang saat itu terjadi keributan antara tentara AS dengan kelompok suku. “Kami sangat senang dengan Amerika,” katanya belakangan di peradilan militer. “Saya tidak tahu akhirnya saya bisa datang ke Kuba.”

Nasrullah akhirnya dikirim kembali pulang. Tapi tidak semua tahanan bisa pulang. Abdul Wahid, dari Gereshk, ditangkap Devisi 93 dan disiksa kemudian dimasukkan kedalam kerangkeng serta dikirim ke pangkalan AS. Belakangan, dia meninggal. Personil militer AS mencatat luka-luka di dada dan perut serta bagian lain tubuhnya memperlihatkan metode interogasi “normal” dari Devisi 93. Namun cara seperti itu bertentangan dengan Hukum Leahy, yang melarang personil Amerika mendukung unit bersenjata yang melangar hak azasi manusia. (Leo Patty/Bersambung)

Mengenal Afghan dari Mata Perempuan (1)

Anand Gopal (futureofwar.asu.edu)

JAYAKARTA NEWS – Afghanistan sangat kaya akan sejarah dan tradisinya, tulisan dibawah disadur dari tulisan Anand Gopal yang diterbitkan oleh The New Yorker. Penyadur berharap tulisan ini bisa memberi kontribusi atas pemahaman siding pembaca mengenai negara kecil dan sejarah besarnya — dia disebut sebagai kuburan Kekaisaran mulai dari Romawi sampai Soviet dan tentunya Amerika.

Pada sore hari di bulan Agustus 2021 lalu, Shakira mendengar gedoran di pintu depan rumahnya. Di Lembah Sangin, Provinsi Helmand, di Afghanistan selatan, karena perempuan tidak boleh dilihat oleh laki-laki yang bukan keluarganya. Maka, puteranya Ahmed (19 tahun) membuka pintu. Di luar, berdiri dua laki-laki bersorban hitam dengan senapan serbu. Mereka anggota Taliban yang sedang melancarkan serangan di kawasan pedesaan melawan Angkatan Bersenjata Nasional Afghanistan. Salah satu dari mereka melontarkan peringatan, ”Jika kamu tidak pergi sekarang, semua orang di tempat ini akan mati.”

Shakira (40 tahun) kemudian mengumpulkan keluarganya. Suaminya, pedagang Opium —yang juga mengkonsumsi barang dagangannya— sedang tidur lelap. Lalu delapan anaknya, termasuk yang tertua Nilofar (20 tahun) — hampir sama dengan usia perang ini. Shakira menyebut Nilofar sebagai tangan kanannya, karena dialah yang menjaga adik-adiknya. Setelah itu, keluarga ini berjalan melewati jembatan tua, diatas sungai kecil, kemudian melewati ladang sayuran dan bawang dalam kegelapan malam melewati rumah-rumah kosong. Para tetangga mereka juga sudah menerima peringatan yang sama, selain ayam yang berlarian, desa itu sudah kosong.

Keluarga Shakira berjalan berjam-jam di bawah terik matahari. Dia, bersama keluarga, mulai mendengar sayup-sayup suara-suara ledakan di kejauhan dan banyak orang berjalan cepat keluar dari desa-desa disepanjang sungai. Terlihat para pria mengangkat banyak barang-barang dibahu dan kepala mereka — berusaha mengangkat sebisa mungkin barang-barang berharga keluarga mereka. Para perempuan juga berjalan cepat-cepat dalam balutan burqa.

Ledakan-ledakan peluru artileri memenuhi udara, memberi pertanda serangan Taliban terhadap posisi pos pasukan pemeringah Afghanistan dimulai. Shakira, setengah berlari, berupaya terus mendekap putri bungsu, yang berusia 2 tahun. Langit dipenuhi larikan asap peluru dan ledakan-ledakan. Pada malam hari, rombongan sampai pada pasar utama lembah ini. Kios-kios, dengan pintu besinya, sudah hancur karena pertempuran. Shakira menemukan satu ruang toko, yang masih punya atap, dan keluarganya menginap malam itu di situ. Dia, sebelumnya, menyempatkan diri membuat boneka kain untuk mainan putri-putrinya — salah satu cara mengalihkan perhatian dari upaya melarikan diri dari wilayah pertempuran. Ketika dia mengangkat boneka itu, mendadak bumi terasa berguncang keras oleh ledakan.

Koflik panjang Afghanistan. (Reuter)

Menjelang pagi, Shakira melangkah keluar toko dan melihat beberapa belas keluarga juga berteduh di pasar kosong ini. Pasar ini pernah jadi pusat keramaian di bagian utara Helmand, kios-kios berderet menjual saffron dan bumbu lainnya, gerobak memuat banyak gaun perempuan dan ada juga toko-toko khusus menjual opium. Sekarang, semuanya sudah tingal reruntuhan dan tercium bau bangkai binatang dan plastic, yang sedang terbakar.

Di kejauhan, bumi seakan-akan memuntahkan tanah ke atas dalam ledakan besar. Helikopter-helikopter berterbangan di atas kepala. Sementara itu, banyak keluarga bersembunyi di sisa-sisa kios di pasar sambil mempertimbangkan langkah selanjutnya. Mereka tahu masih terjadi pertempuran di pinggiran sungai di sebelah utara dan barat. Di timur hanya ada hamparan gurun pasir berwarna kemerahan. Satu-satunya jalan adalah menuju selatan, ke kota Lashkar Gah, yang saat itu masih dikuasai Pemerintah Afghanistan.

Perjalanan ke kota Lashkar Gah akan melewati wilayah kosong berhadapan dengan bekas pangkalan militer Amerika dan Inggris. Di tempat ini biasa penembak jitu ditempatkan dan ditambah kemungkinan ada ranjau darat. Beberapa keluarga sudah mulai bergerak. Bahkan jika mereka mencapi Lashkar Gah, mereka juga tidak tahu apa yang akan mereka hadapi disana.

Sejak serangan kilat Taliban, pasukan pemerintah Afghanistan banyak yang menyerah dan memohon bisa pulang ke rumah masing-masing. Sudah sangat jelas, saat itu, Taliban akan segera mencapai Kabul dan 20 tahun perang serta triliunan dolar, yang dilakukan AS dan sekutunya, jadi sia-sia. Keluarga Shakira berdiri di hamparan gurun pasir mendiskusikan situasi yang dihadapi. Suara pertempuran makin dekat, Shakira melihat kendaraan-kendaraan tempur Taliban meluncur cepat ke arah pasar dan dia memutuskan untuk tinggal di tempat itu. Dia sangat takut namun siap menerima keadaan apapun yang terjadi. “Kami sudah melarikan diri sepanjang hidup. Saya tidak mau pergi,” tukasnya.

Perang terlama Amerika sepanjang sejarah berakhir 15 Agustus lalu, saat Taliban merebut Kabul tanpa menembakkan satu peluru pun. Laki-laki berjenggot lebat dengan topi turban hitam menguasai istana kepresidenan dan di sekitar ibukota sambil mengibarkan bendera Emirat Islam Afghanistan.

Kepanikan melanda seluruh kota. Banyak perempuan membakar catatan sekolahnya dan bersembunyi. Mereka mengkuatirkan kembalinya era tahun 199-an lalu, ketika Taliban melarang perempuan keluar rumah sendirian dan melarang anak perempuan bersekolah. Bagi Amerika, sangat mungkin pencapaian selama dua dekade akan segera lenyap dan harus menghadapi dua pilihan simalakama: terus berperang tanpa akhir atau meninggalkan perempuan Afghan.

Kalau ditelisik, suara perempuan, yang tinggal di wilayah Taliban, mengenai dilema ini. Di sisi lain, lebih dari 70% warga Afghan tinggal di pedesaan, dan pada dekade terakhir Taliban sudah mengusai sebagian besar wilayah pedalaman. Tidak seperti kota besar Kabul, yang lebih bebas, mengunjungi perempuan di wilayah pedalaman tidaklah mudah.

Pasukan Taliban. (India Today)

Bahkan tanpa Taliban sekalipun, perempuan secara tradisi tidak berbicara dengan laki-laki diluar keluarganya. Dan jika mereka keluar rumah, mereka tetap terpisah dengan dunia luar dengan mengenakan pakaian tertutup atau Burqa, yang sebenarnya sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Perempuan, ketika akil baliq, langsung menghilang dari dunia luar masuk ke rumahnya dan baru terlihat kembali, biasanya, sebagai nenek. Di kawasan pedalaman banyak juga keluarga tinggal di tenda-tenda di gurun atau di kios-kios pinggir jalan.

Shakira, ketika Taliban sampai di pasar, dinasihatkan oleh mereka untuk tidak kembali ke rumah sampai ranjau-ranjau dibersihkan. Dia ditemui, pertama kali, di rumah perlindungan di Helmand. “Saya belum pernah bertemu orang asing, tentunya orang asing yang tidak menyandang senapan”, tuturnya.

Shakira juga punya rasa humor yang baik dalam situasi peran dominan laki-laki dalam budaya-nya. Pada tahun 1990-an, Taliban menawarkan aliran listrik ke desanya dan para tetua menolak karena kuatir akan ilmu sihir hitam. “Tentu, kami para perempuan tahu listrik baik-baik saja,” ujarnya sambil tertawa kecil dan menutup wajahnya. Ketika disebutkan namanya sama dengan nama penyanyi terkenal, matanya berbinar, “Apa benar?” Dan temannya ikut berkomentar,” Masa sih”.

Shakira lahir dan besar di Lembah Sangin, kawasan hijau sempit diantara terjalnya gunug-gunung. Lembah itu diairi oleh Sungai Helmand dan kanal-kanal yang dibuat oleh Amerika pada era 90-an. Anda bisa berjalan lebarnya lembah hanya dalam waktu satu jam saja sambil melewati belasan rumah petani.

Sebagai anak perempuan, Shakira, mendengar cerita-cerita dari ibunya mengenai masa lalu desanya, Pan Killay, — rumah bagi sekitar delapan puluh keluarga. Sama seperti ritme kehidupan di desa lannya, anak-anak berenang di kanal dan sungai, para perempuan menumbuk gandum di lumpang batu. Pada musim dingin akan terlihat asap dari tungku tembikar dan di musim panas lembah diselimuti oleh bunga Opium.

Pada tahun 1979, ketika Shakira masih kecil, komunis merebut kekuasaan di Kabul dan mencoba menjalankan program sekolah khusus anak-anak perempuan di Helmand. Namun para tetua suku menolaknya. Di pedesaan, karena sekolah ini, tradisi kehidupan di Lembah Sangin hilang dalam semalam karena pihak luar memaksakan penerapan hak-hak perempuan di lembah. “Budaya kami tidak bisa menerima adanya anak perempuan keluar rumah untuk bersekolah,” kenang Shakira. “Inilah cara pada masa ayah saya, bahkan sebelum masa kakek saya.”

Ketika pemerintah memaksa anak-anak perempuan untuk bersekolah — bahkan dengan todongan senjata. Pemberontakan muncul, dipimpin oleh pejuang bersenjata yang berjulukan mujahidin. Pada operasi pertama, mereka menculik para guru di lembah itu, yang banyak mendukung upaya Pendidikan untuk perempuan, dan memenggal leher mereka. Besoknya, pemerintah menangkapi para tetua suku dan para pemilik tanah karena curiga mereka mendanai mujahidin. Para tetua suku, yang ditangkap, tidak pernah kembali lagi.

Tank-tank Uni Soviet di Afghanistan. (https://id.rbth.com/)

Tank-tank Uni Soviet melewati perbatasan dan memperkuat pemerintahan komunis dan juga memperluas liberalisasi perempuan Afghan. Dengan cepat Afghanistan terbelah jadi dua. Di pedesaan, tempat para pemuda siap bertempur sampai mati menentang cara hidup baru, termasuk sekolah perempuan dan reforma agraria (landreform). Kondisi juga memperlihatkan perempuan tetap tidak terlihat di ruang publik.

Di kota-kota, pemerintah dukungan Soviet, melarang pernikahan dini (anak-anak) dan memberi hak perempuan untuk memilih pasangan hidupnya sendiri. Anak-anak perempuan bersekolah dan juga belajar di universitas-universitas dalam jumlah besar. Pada awal tahun 80-an, perempuan jadi anggota parlemen dan bahkan jadi wakil presiden.  

Namun kekerasan di kawasan pedesaan terus berlanjut dan meluas. Satu pagi hari, ketika Shakira berusia 5 tahun, tantenya mendadak membangunkannya. Anak-anak, dipimpin oleh warga dewasa, keluar dari desa dan bersembunyi di gua-gua pegunungan dan mereka berada di dalam gua selama berjam-jam. Pada malamnya, Shakira melihat tembakan artileri meluncur di angkasa.

Ketika keluarganya kembali ke Desa Pan Killay, ladang gandum porak-poranda dan terlihat jelas bekas roda rantai tank-tank Soviet. Sapi-sapi mati ditembak senapan mesin. Di banyak tempat, dia melihat laki-laki dewasa, yang biasa dipanggil paman, meninggal berlumuran darah. Kakeknya, yang bersembunyi di gua lain, tidak ditemukan di desa. Belakangan, ketika sudah besar, dia diberitahu gua tempat kakeknya bersembunyi ditemukan tentara Soviet dan kakeknya ditembak mati.

Evakuasi malam hari makin sering dilakukan, dan buat Shakira, yang masih belum mengerti, jadi sumber kesenangan tersendiri untuk berkumpul bersama anak-anak lain di gua. “Kita bisa melihat helikopter Rusia. Seperti melihat burung aneh,” ceritanya. Kadang-kadang burung aneh itu terbang rendah dan bumi meledak (oleh tembakan roket).

Sesudahnya, biasanya anak-anak berlari ke tempat ledakan untuk mengumpulkan serpihan besi, yang dujual sebagai besi bekas dengan harga tinggi. Dia juga mengumpulkan besi bekas peluru roket dan hasilnya dia bisa membuat rumah boneka. Satu hari, Shakira memperlihatkan foto boneka plastik, yang memperlihatkan bentuk seorang perempuan, dari sebuah majalah kepada ibunya. Dia, ibunya, langsung marah dan merobeknya serta menyatakan gambar itu tidak benar. Karena itulah, Shakira belajar memuaskan diri dengan membuat boneka dari kain dan kayu saja. 

Ketika dia berusia sebelas tahun, dia tidak lagi bisa keluar rumah karena sudah akil baliq. Dunianya mengecil jadi beberapa ruang di rumahnya dan sedikit halaman, tempat dia belajar menjahit, memanggang roti, dan memerah susu sapi. Satu hari, pesawat jet melesat di atas rumahnya dan dia bersembunyi di kamar. Saat itu, dibawah tumpukan pakaian, dia menemukan buku pelajaran baca tulis yang pernah dipelajari oleh kakeknya — satu-satunya orang di keluarganya yang pernah bersekolah. Ketika siang hari, saat orang tuanya tidur, dia mulai memadukan kata-kata Pashto dengan gambar-gambar yang ada di buku itu. Dia mengenang, ”Saya berencana belajar sendiri sedikit demi sedikit setiap hari.”

Tahun 1989, Soviet kalah dan keluar dari Afghan. Namun Shakira tetap mendengar dentuman-dentuman mortir. Kelompok-kelompok Mujahidin, yang bersaing, saling serang untuk menguasai negeri itu. Desa-desa, seperti Pan Killay, jadi sasaran empuk karena ditempat itu ada petani, yang jadi sumber pajak, tank-tank rusak Soviet yang bisa dipreteli, dan yang paling penting banyak Opium untuk di ekspor ke luar negeri. Pazaro, perempuan dari desa sebelah, mengenang, “Kami tidak pernah mengalami satu malam saja kedamaian. Teror kami punya nama, dan namanya Amir Dado.”

Kali petama Shakira melihat Dado, melalui lubang pintu di gerbang depan rumah orang tuanya. Dia berada di pikup truk diikuti oleh belasan orang bersenjata berparade di desa, seakan-akan dia, Presiden Dado, yang tadinya pedagang buah kaya dan jadi komandan mujahidin. Dia berjangut lebat dan berjaket hitam. Dia sudah mulai menyerang pesaingnya bahkan sebelum Soviet kalah. Dia berasal dari bagian atas Lembah Sangin, tempat sukunya, Alikzais, yang memiliki perkebunan luas selama berabad-abad.

Sedangkan bagian bawah lembah, rumah suku Ishaqzais, adalah suku miskin asal Shakira. Dan Shakira melihat bagaimana orang-orang Dado menggedor setiap pintu dan menggeledah rumah serta meminta ‘pajak’. Beberapa minggu kemudian, orang-orang bersenjata itu kembali dan menghancurkan ruang keluarga Shakira, yang bersembunyi di pojok rumah. Belum pernah ada orang asing memasuki rumahnya dan dia merasa seperti ditelanjangi dan dilempar ke tengah jalan. (leo patty-Bersambung)

Kopassus TNI Sukses Jalankan Misi Penyelamatan WNI dari Afghanistan

JAYAKARTA NEWS— Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Tentara Nasional Indonesia berhasil membawa pulang 26 warga negara Indonesia dari Kota Kabul Afganistan dalam sebuah misi yang dimulai sejak Rabu hingga Sabtu, (18-21 Agustus).

Pesawat Boing 737 TNI-AU tiba di Bandara Halim pada hari Sabtu dini hari itu disambut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Sejumlah petugas dengan mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap terlebih dahulu masuk pesawat sebelum semua penumpang dan kru pesawat turun. Setelah semua proses penanganan Covid-19 selesai, diawali pasukan bersenjata lengkap dari Kopassus TNI seluruh penumpang turun satu persatu.

Para penumpang pesawat mendapat sambutan lambaian tangan dari Menlu dan Panglima TNI. Dalam kondisi pandemi saat ini, mereka tentu tidak diperkenankan untuk berjabat tangan dan saling berkomunikasi secara dekat.

foto dok humas TNI

“Dengan rasa syukur luar biasa alhamdulillah. Pada dini hari ini, warga negara Indonesia dari Afghanistan telah berhasil kita evakuasi, dan baru saja tiba dengan selamat di Jakarta. Semua evakuasi dan seluruh anggota tim evakuasi akan langsung menjalani protokol kesehatan sesuai aturan ketibaan dari luar negeri,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, usai menyambut kedatangan WNI.

Menlu menyebut, seluruh penumpang pesawat TNI Angkatan Udara (AU) tersebut berada dalam kondisi baik. Hanya satu orang yang alami kondisi kurang sehat tapi dipastikan bukan terjangkit virus Corona.

“Seluruh warga negara Indonesia berjumlah 26 orang yang kita evakuasi semua dalam kondisi baik. Satu catatan, satu diplomat dalam kondisi kurang sehat non Covid dan akan segera dilakukan perawatan,” ungkap Retno.

Selain WNI, Retno menyebut, dari Afghanistan Pemerintah Indonesia membawa lima warga negara Filipina. Kebijakan itu diambil setelah mendapat permintaan dari Negara Filipina.

Pesawat TNI AU berangkat untuk menyelesaikan misi evakuasi, pada hari Rabu 18 Agustus 2021 pukul 06.00 WIB. Pesawat tersebut menempuh jarak yang dianggap paling dekat menuju Kabul.

“Rute yang ditempuh pesawat adalah Jakarta-Aceh-Colombo-Karachi-Islamabad-Kabul. Dari awal keberangkatan pesawat memang dirancang untuk bermalam di Islamabad. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan bahwa, penerbangan Islamabad-Kabul sangat pendek yaitu sekitar satu jam atau kurang dari satu jam, dan pesawat dapat bergerak cepat jika kesempatan landing diberikan sewaktu-waktu,” ujar Menlu.

Saat Pesawat TNI AU terbang, petugas di Jakarta mengurus izin terbang. Termasuk izin terbang dan izin mendarat di Islamabad. Proses berjalan dengan baik hingga pesawat TNI AU tiba di Kabul dan kembali ke tanah air dengan selamat. ***/ketty

Pemerintah tak Peduli, Veteran Tentara Ini yang Terpaksa Mengemis

HABIS manis sepah dibuang. Itulah gambaran yang dialami Mohammad Salim, seorang anggota  tentara, yang telah sukses menjinakkan ribuan ranjau darat, dilupakan begitu saja oleh pemerintah begitu dia tidak memiliki kemampuan kerjanya akibat kedua kaki dan sebelah tangannya putus terkena ledakan bom saat menjinakkan ranjau. Dia juga kehilangan sebelah matanya.

Tiga tahun lalu, tatkala dia bertuga untuk menjinakkan ranjau darat, menjadi titik sial dalam garis profesinya sebagai penjinak bom. Bahan peledak yang dijinakkan meledak, dan boommm…sebelah tangannya terputus oleh ledakan ranjau tersebut. Nyawanya dapat diselamatkan, tapi karirnya sebagai tentara pungkas.

Salim, warga  provinsi Ghazni tengah di Afghanistan ini, telah bertugas di tentara  nasional Afghanistan selama 14 tahun dengan penempatan di  Provinsi Paktia tenggara dan provinsi Nangarhar timur, selain  di provinsi asalnya sendiri.

Salim mengaku, selama bertugas sebagai tentara, dirinya  telah menjinakkan 3.775 bahan  peledak  improvisasi (IED).

“Itu adalah ranjau darat ke-3.776 yang meledak, ketika saya mencoba menjinakkannya  di distrik Achin, Nangarhar dan melukai saya dengan serius,” katanya. Salim kehilangan salah satu tangannya, kedua kaki dan matanya dalam ledakan.

“Istri saya ada bersama saya di rumah sakit selama beberapa hari dan ketika dia kembali ke rumah, rumah kami dijarah oleh perampok, tidak ada yang tersisa,” katanya.

Mohammad Salim menyesalkan,  pemerintah Afghanistan tidak memberikan bantuan kepadanya dalam tiga tahun terakhir ini.

“Saya menangis dan memohon kepada para pejabat di kantor tentara untuk membantu, tetapi tidak ada yang mendengarkan saya, kemudian ketua Asosiasi Pemuda menemui saya dan membantu saya,” katanya.

Salim, yang kini tinggal bersama istri dan kedua putrinya, benar-benar mengkhawatirkan tentang masa depan anak-anaknya.

“Saya tidak punya kaki dan tangan, anak perempuan yang kecil saya, bertanya mengapa saya sangat kecil dan laki-laki lain tinggi.”

Salim telah menerima surat penghargaan dari para pejabat sebagai pengakuan atas kinerjanya yang luar biasa selama pelayanannya, tetapi sekarang dia mengatakan dia harus mulai mengemis tanpa adanya dukungan pemerintah.

Nasrullah Seyasi, dari departemen urusan tentara cacat mengatakan, seandainya saja Salim merujuk kantornya, lembaga itu pastu  akan membantunya. Tapi, Seyasi menolak untuk berbicara lebih jauh  tentang masalah ini.

Juru bicara gubernur Ghazni, Mohammad Arif Noori, mengatakan tentara yang cacat dibantu oleh organisasi pemberi bantuan melalui program distribusi bantuan mereka.

“Kami memiliki rencana untuk membantu prajurit ini lebih lanjut,” katanya.

Sebelumnya, banyak tentara yang kehilangan anggota tubuhnya karena perang telah membuat keluhan serupa dengan Pajhwok.***

Lebih Dekat dengan Ibunda Osama bin Laden

HAMPIR  17 tahun sejak 9/11, keluarga Osama bin Laden  tetap menjadi bagian yang berpengaruh dalam masyarakat Arab Saudi, sekaligus menjadi legasi  akan momen paling gelap dalam sejarah kerajaan. Bisakah mereka melarikan diri dari warisannya?

Di sofa sudut sebuah ruangan yang luas, seorang wanita yang mengenakan jubah bermotif cerah, duduk dengan penuh harap. Jilbab merah yang menutupi rambutnya dipantulkan dalam lemari kaca yang menghadap ke depan; di dalam, foto berbingkai dari putra sulungnya mengambil tempat di antara pusaka keluarga dan barang-barang berharga.

Sosok  tersenyum dan berjanggut itu mengenakan jaket militer, ia tampil dalam foto-foto di sekitar ruangan: bersandar di dinding di kakinya, beristirahat di mantlepiece. Makan malam khas Saudi meze dan cheesecake lemon telah terhidangkan di meja makan kayu besar.

Alia Ghanem adalah ibu Osama bin Laden, di ruangan itu dialah yang menjadi pusat perhatian semua orang. Di kursi-kursi di dekatnya duduk dua putranya yang masih hidup, Ahmad dan Hassan, dan suami keduanya, Mohammed al-Attas, pria yang membesarkan ketiga bersaudara.

Semua orang di keluarga itu memiliki kisah mereka masing-masing untuk menceritakan tentang orang yang terkait dengan kebangkitan terorisme global; tetapi Ghanem-lah orang yang memegang “istana” hari ini. Ketika dia kehilangan Osama, sulit melukiskannya dengan kata-kata, bahwa ia harus menerima kenyataan telah kehilangan anak laki-lakinya yang begitu dicintainya.

“Hidup saya sangat sulit, karena dia sangat jauh dari saya,” katanya, berbicara dengan percaya diri. “Dia adalah anak yang sangat baik dan dia sangat mencintaiku.”

Ketika  di pertengahan tahun 70-an,  Ghanem tampak menunjuk  al-Attas, seorang pria yang ramping dan bugar, seperti dua putranya, dengan kulit putih dibalut pakaian gamis, jenis busana yang lazim dikenakan oleh pria di seluruh semenanjung Arab. “Dia mendidik  Osama semenjak  usia tiga tahun. Dia orang baik, dan dia baik pada Osama. ”

Keluarga telah berkumpul di sudut rumah yang sekarang mereka bagi di Jeddah, kota Arab Saudi yang telah menjadi rumah bagi klan Bin Laden selama beberapa generasi. Mereka tetap menjadi salah satu keluarga terkaya di kerajaan itu: merajai  bisnis konstruksi, merekalah yang  membangun  Arab Saudi modern, dan sangat erat  ke dalam relasi pembentukan negara.

Rumah Bin Laden mencerminkan keberuntungan dan pengaruh mereka, tangga spiral yang besar di pusatnya menuju ke ruang-ruang yang luas. Ramadan telah datang dan pergi, dan mangkuk kurma dan cokelat yang menandai festival tiga hari yang mengikutinya duduk di atas meja di seluruh rumah.

Hunian  besar berbaris di sepanjang jalan; ini adalah Jeddah yang aman, dan sementara tidak ada satpam yang berjaga-jaga di luar, Bin Laden adalah penduduk yang paling terkenal di lingkungan tetangga.

Selama bertahun-tahun, Ghanem telah menolak untuk berbicara tentang Osama, seperti halnya keluarga yang lebih besar– selama dua dekade peran anaknya sebagai pemimpin al-Qaeda, periode ia  melihat serangan  teroris di New York dan Washington DC, dan berakhir lebih dari sembilan tahun kemudian dengan kematian Osama di Pakistan.

“Sekarang, kepemimpinan baru Arab Saudi —yang dipelopori oleh pewaris ambisius berusia 32 tahun ke tahta, Putra Mahkota Muhammad bin Salman— telah menyetujui permintaan saya untuk berbicara.  (Keluarga Osama adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di negara itu, maka gerakan dan keterlibatan mereka tetap dimonitor secara ketat.)

Warisan Osama  sama buruknya baik terhadap kerajaan Saudi mauoun  di keluarganya, dan pejabat senior percaya bahwa, dengan membiarkan keluarga Bin Laden untuk bercerita, mereka dapat menunjukkan bahwa sebagai orang buangan —bukan agen— bertanggung jawab atas 9/11.

Mereka yang mengkritik  Saudi telah lama menuduh bahwa Osama memiliki dukungan dari negara tersebut, dan keluarga dari sejumlah korban 9/11 telah meluncurkan (sejauh ini tidak berhasil) tindakan hukum terhadap kerajaan. Lima belas dari 19 pembajak dalam peristiwa itu berasal dari  Saudi.

Tidak mengherankan, keluarga jika kemudian Osama bin Laden sangat berhati-hati dalam negosiasi Guardian yang meminta waktu untuk wawancara.  Mereka tidak yakin apakah membuka luka lama akan terbukti katarsis atau berbahaya.

Tetapi setelah beberapa hari diskusi, mereka mau bicara. Ketika kami bertemu pada suatu hari yang panas di awal bulan Juni, seorang minder dari pemerintah Saudi duduk di ruangan itu, meskipun dia tidak berusaha untuk mempengaruhi percakapan. (Kami juga bergabung dengan penerjemah.)

“Dia bertemu dengan beberapa orang yang cukup banyak mencuci otaknya di awal 20-an. Anda bisa menyebutnya kultus ‘

Duduk di antara saudara-saudara tirinya Osama, Ghanem mengingatkan anak pertamanya sebagai anak laki-laki pemalu yang memiliki kemampuan  akademis. Dia menjadi sosok yang kuat, motivator, saleh di awal 20-an, katanya, ketika belajar ekonomi di King Abdulaziz University di Jeddah, di mana ia juga radikal.

“Orang-orang di universitas mengubahnya,” kata Ghanem. “Ia menjadi orang yang berbeda.” Salah satu pria yang ia temui di sana adalah Abdullah Azzam, seorang anggota Ikhwanul Muslimin yang kemudian diasingkan dari Arab Saudi dan menjadi penasihat spiritual Osama.

“Dia adalah anak yang sangat baik sampai dia bertemu dengan beberapa orang yang cukup banyak mencuci otaknya. Anda bisa menyebutnya kultus. Mereka mendapat uang untuk tujuan mereka. Saya akan selalu mengatakan padanya untuk menjauh dari mereka, dan dia tidak akan pernah mengakui apa yang dia lakukan, karena dia sangat mencintai saya. ”

Pada awal 1980-an, Osama melakukan perjalanan ke Afghanistan untuk melawan pendudukan Rusia. “Setiap orang yang bertemu dengannya di hari-hari awal menghormatinya,” kata Hassan, mengambil ceritanya.

“Pada awalnya, kami sangat bangga padanya. Bahkan pemerintah Saudi akan memperlakukannya dengan cara yang sangat mulia dan terhormat. Dan kemudian datanglah kepada Osama para mujahid. ”

 

Osama bin Laden (kedua dari kanan) pada kunjungan ke Falun, Swedia, pada tahun 1971. Foto: Camera Press

Keheningan panjang yang tidak nyaman terjadi, ketika Hassan berjuang untuk menjelaskan transformasi dari fanatik menjadi jihadis global. “Saya sangat bangga padanya dalam arti dia adalah kakak tertua saya,” katanya  akhirnya melanjutkan.

“Dia mengajari saya banyak hal. Tapi, saya rasa saya sangat tidak bangga padanya sebagai seorang pria. Dia mencapai superstardom di panggung global, dan itu semua tidak ada artinya. ”

Ghanem mendengarkan dengan penuh perhatian, menjadi lebih bersemangat ketika percakapan kembali ke tahun-tahun pembentukan diri Osama. “Dia sangat lurus. Sangat bagus di sekolah. Dia sangat suka belajar. Dia menghabiskan semua uangnya di Afghanistan – dia akan menyelinap di bawah kedok bisnis keluarga. ”Apakah dia pernah curiga dia mungkin menjadi seorang jihadis?

“Itu tidak pernah terlintas dalam pikiran saya.”

Bagaimana rasanya ketika dia menyadari bahwa dia seperti itu? “Kami sangat kesal. Saya tidak ingin semua ini terjadi. Kenapa dia membuang semuanya begitu saja? ”

Keluarga mengatakan mereka terakhir melihat Osama di Afghanistan pada tahun 1999, setahun di mana mereka mengunjunginya dua kali di markasnya di luar Kandahar. “Itu adalah tempat di dekat bandara yang mereka ambil alih  dari Rusia,” kata Ghanem.

“Dia sangat senang menerima kami. Dia menunjukkan hormatnya kepada kita setiap hari di sana. Dia menyembelih seekor ternak  dan kami mengadakan pesta, dan dia mengundang semua orang. ”

Ghanem mulai rileks, dan berbicara tentang masa kecilnya di kota pesisir Suriah Latakia, di mana ia dibesarkan di sebuah keluarga orang Alawit, kelompok  Syiah. Masakan Suriah lebih unggul dari Saudi, katanya, dan begitu juga cuaca di Mediterania, di mana udara musim panas yang hangat dan basah sangat kontras dengan panasnya acetylene Jeddah pada bulan Juni.

Ghanem kemudian pindah ke Arab Saudi pada pertengahan 1950-an, dan Osama lahir di Riyadh pada 1957. Dia menceraikan, ayahnya tiga tahun kemudian, dan menikahi al-Attas, yang kemudian menjadi administrator di kerajaan bisnis Bin Laden yang masih baru, pada awal 1960-an. Ayah Osama kemudian memiliki 54 anak dengan setidaknya 11 istri.

 

Sulit Menjadi Saksi Obyektif

Ketika Ghanem pergi untuk beristirahat di sebuah ruangan di dekat ruang perbincangan ini,  saudara-saudara tiri Osama melanjutkan percakapan. Sangat penting, tegas mereka, untuk diingat bahwa seorang ibu jarang yang bisa menjadi saksi yang obyektif.

“Sudah 17 tahun sekarang [sejak 9/11] dan dia tetap menyangkal tentang Osama,” kata Ahmad. “Dia sangat mencintainya dan menolak untuk menyalahkannya. Sebaliknya, dia menyalahkan orang-orang di sekitarnya. Dia hanya tahu sisi baik, sisi yang kita semua lihat. Dia tidak pernah tahu sisi jihadis.”

“Saya terkejut, tercengang,” katanya sekarang dari laporan awal dari New York. “Itu adalah perasaan yang sangat aneh. Kami tahu dari awal [bahwa itu Osama], dalam 48 jam pertama. Dari yang termuda sampai yang tertua dalam keluarga bin Laden, kami semua merasa malu padanya. Kami tahu kami semua akan menghadapi konsekuensi yang mengerikan. Keluarga kami di luar negeri semuanya kembali ke Saudi.”

Mereka telah tersebar di Suriah, Libanon, Mesir dan Eropa. Di Saudi, ada larangan bepergian. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kendali atas keluarga.

”Keluarga mengatakan mereka semua ditanyai oleh pihak berwenang dan, untuk sementara waktu, dilarang meninggalkan negara itu. Hampir dua dekade berlalu, Bin Laden dapat bergerak relatif bebas di dalam dan di luar kerajaan.”

Tahun-tahun penempaan diri bersama bin Laden di Jeddah terjadi pada tahun 1970-an  relatif bebas, sebelum Revolusi Iran tahun 1979, yang bertujuan untuk mengekspor semangat Syiah ke dunia Arab Sunni.

Sejak saat itu, penguasa Saudi memaksakan interpretasi yang kaku terhadap Islam Sunni – yang telah dipraktekkan secara luas di seluruh jazirah Arab sejak abad ke-18, era ulama Muhammed ibn Abdul Wahhab. Pada 1744, Abdul Wahhab telah membuat perjanjian dengan penguasa Mohammed bin Saud, memungkinkan keluarganya untuk menjalankan urusan negara sementara ulama garis keras mendefinisikan karakter nasional.

 

Alia Ghanem di rumah di Jeddah, Arab Saudi, dengan putranya Ahmad. Foto: David Levene diambil dari Guardian

 

Kerajaan modern, yang diproklamirkan pada tahun 1932, meninggalkan kedua belah pihak –para ulama dan penguasa– terlalu kuat untuk mengambil pihak lain, mengunci negara dan warganya menjadi sebuah masyarakat yang didefinisikan oleh pandangan-pandangan konservatif: segregasi ketat yang tidak terkait pria dan wanita; peran gender tanpa kompromi; intoleransi dari agama lain; dan ketaatan yang tak pernah berhenti pada ajaran-ajaran doktrinal, semuanya dicap oleh Keluarga Saud.

Banyak yang percaya aliansi ini secara langsung berkontribusi pada kebangkitan terorisme global. Pandangan dunia Al-Qaeda – dan dari cabangnya, Negara Islam (Isis) – sebagian besar dibentuk oleh kitab suci Wahhabi; dan ulama Saudi secara luas dituduh mendorong gerakan jihadis yang tumbuh sepanjang 1990-an, dengan Osama bin Laden di pusatnya.

Reformasi mulai merayap di  masyarakat Saudi; larangan pengemudi perempuan telah dicabut, bioskop telah dibuka. Pada 2018, kepemimpinan baru Saudi ingin menarik garis di bawah era ini dan memperkenalkan apa yang disebut bin Salman sebagai “Islam moderat”.

Hal ini ia anggap penting bagi kelangsungan hidup sebuah negara di mana populasi muda yang besar, gelisah dan sering merasa tidak puas, selama hampir empat dekade, memiliki sedikit akses ke hiburan, kehidupan sosial, atau kebebasan individu. Para penguasa baru Saudi percaya norma-norma sosial yang kaku seperti itu, yang ditegakkan oleh para ulama, dapat membuktikan makanan bagi para ekstremis yang memanfaatkan perasaan frustrasi tersebut.

Ada perubahan pada pasar tenaga kerja dan sektor publik yang membengkak; bioskop telah dibuka, dan upaya anti-korupsi diluncurkan di seluruh sektor swasta dan beberapa penjuru pemerintah. Pemerintah juga mengklaim telah menghentikan semua pendanaan untuk lembaga-lembaga Wahhabi di luar kerajaan, yang telah didukung dengan semangat misionaris selama hampir empat dekade.

Terapi kejut radikal semacam itu perlahan-lahan diserap di seluruh negeri, di mana komunitas yang dikondisikan selama puluhan tahun dengan doktrin tanpa kompromi tidak selalu tahu apa yang membuatnya. Kontradiksi berlimpah: beberapa pejabat dan lembaga menjauhi konservatisme, sementara yang lain dengan sepenuh hati memeluknya. Sementara itu, kebebasan politik tetap terlarang; kekuasaan telah menjadi lebih terpusat dan perbedaan pendapat secara rutin dihancurkan.

 

Warisan bin Laden

Warisan Osama Bin Laden tetap menjadi salah satu masalah kerajaan Saudi yang paling mendesak.

Pangeran Turki al-Faisal, yang merupakan kepala intelijen Saudi selama 24 tahun, antara 1977 dan 1 September 2001 (10 hari sebelum serangan 9/11), berada di vilanya di Jeddah. Dia adalah seorang pria terpelajar sekarang di pertengahan 70-an, Turki memakai manset hijau bertuliskan bendera Saudi di lengannya.  “Ada dua Osama bin Laden,” katanya. Satu sebelum akhir pendudukan Soviet di Afghanistan, dan satu setelahnya. Sebelumnya, dia adalah seorang mujahid yang sangat idealis. Dia bukan seorang jihadis. Dengan pengakuannya sendiri, dia pingsan selama pertempuran, dan ketika dia bangun, serangan Soviet pada posisinya telah dikalahkan. ”

Ketika Bin Laden pindah dari Afghanistan ke Sudan, dan karena hubungannya dengan Arab Saudi memburuk, adalah Turki yang berbicara dengannya atas nama kerajaan. Setelah terjadinya 9/11, transaksi langsung ini mendapat sorotan tajam. Kemudian – dan 17 tahun kemudian – beberapa keluarga korban  dari  2.976 orang yang tewas dan lebih dari 6.000 orang terluka di New York dan Washington DC,  menolak untuk percaya bahwa Saudi  yang telah mengekspor bentuk keyakinan konservatif seperti itu, tidak ada hubungannya dengan konsekuensi dari apa yang dilakukan Osama.

Tentu saja, Bin Laden melakukan perjalanan ke Afghanistan dengan pengetahuan dan dukungan dari negara Saudi, yang menentang pendudukan Soviet; bersama dengan Amerika, Saudi mempersenjatai dan mendukung kelompok-kelompok yang melawannya.

Para mujahid muda telah mengambil sebagian kecil dari kekayaan keluarga bersamanya, yang dia gunakan untuk membeli pengaruh. Ketika dia kembali ke Jeddah, setelah  pertempuran dengan akhir kekalahan Soviet, dia adalah seorang lelaki yang berbeda. “Osama mengembangkan sikap yang lebih politis dari tahun 1990. Dia ingin mengusir komunis dan Marxis Yaman Selatan dari Yaman. Saya menerima dia, dan mengatakan kepadanya bahwa lebih baik dia tidak terlibat. Masjid-masjid di Jeddah menggunakan contoh Afghanistan.”

”Dengan ini, Turki berarti pembacaan iman yang didefinisikan secara sempit oleh pendukung Taliban. “Dia menghasut mereka [pemuja Saudi]. Dia disuruh berhenti. ”

“Dia memiliki wajah dingin,” lanjutnya. “Dia tidak pernah tertawa, atau tersenyum. Pada tahun 1992, 1993, ada pertemuan besar di Peshawar yang diselenggarakan oleh pemerintah Nawaz Sharif. Bin Laden pada saat ini telah diberi perlindungan oleh para pemimpin suku Afghanistan.”

“Ada seruan untuk solidaritas Muslim, untuk memaksa para pemimpin dunia Muslim itu untuk berhenti saling menyerang satu sama lain. Saya juga melihatnya di sana. Mata kami bertatapan, tetapi kami tidak berbicara. Dia tidak kembali ke Saudi. Dia pergi ke Sudan, di mana dia membangun bisnis madu dan membiayai jalan. ”

Advokasi Bin Laden meningkat di pengasingan. “Dia biasa mengirim laporan faks ke semua orang. Dia sangat kritis. Ada upaya oleh keluarga untuk menghalangi dia –utusan dan semacamnya– tetapi mereka tidak berhasil. Mungkin perasaannya, bahwa dia tidak dianggap serius oleh pemerintah. ”

Pada tahun 1996, Bin Laden kembali ke Afghanistan. Turki mengatakan kerajaan tahu itu punya masalah dan ingin dia kembali. Dia terbang ke Kandahar untuk bertemu dengan pemimpin Taliban, Mullah Omar.

“Dia berkata, ‘Saya tidak menolak untuk menyerahkan dia, tetapi dia sangat membantu orang-orang Afghanistan.’ Dia mengatakan Bin Laden diberikan perlindungan sesuai dengan perintah Islam.” Dua tahun kemudian, pada bulan September 1998, Turki terbang lagi ke Afghanistan, kali ini dengan tegar ditampik. “Pada pertemuan itu, dia adalah seorang pria yang berubah,” katanya tentang Omar.

“Jauh lebih pendiam, berkeringat deras. Alih-alih mengambil nada yang masuk akal, dia berkata, ‘Bagaimana Anda bisa menganiaya pria yang layak ini yang mengabdikan hidupnya untuk membantu orang-orang Muslim?’ ”Turki mengatakan ia memperingatkan Omar bahwa apa yang dilakukannya akan merugikan orang-orang Afghanistan, dan pergi.”

Kunjungan keluarga ke Kandahar terjadi pada tahun berikutnya, dan terjadi setelah serangan rudal AS di salah satu senyawa Bin Laden – tanggapan terhadap serangan al-Qaida di kedutaan besar AS di Tanzania dan Kenya. Tampaknya rombongan keluarga dekat tidak banyak kesulitan menemukan lelaki mereka, di mana jaringan intelijen Saudi dan Barat tidak bisa.

Menurut para pejabat di Riyadh, London dan Washington DC, Bin Laden pada saat itu telah menjadi target kontra-terorisme nomor satu di dunia, seorang pria yang bertekad menggunakan warga Saudi untuk menggerakkan irisan antara peradaban timur dan barat. “Tidak ada keraguan bahwa ia sengaja memilih warga Saudi untuk plot 9/11,” kata seorang perwira intelijen Inggris.

“Dia yakin itu akan mengubah barat melawan … negara asalnya. Dia memang berhasil menghasut perang, tetapi bukan yang dia harapkan. ”

Turki mengklaim bahwa sebelum 9/11, agen intelijennya tahu bahwa ada sesuatu  serangan yang sedang direncanakan. “Pada musim panas 2001, saya mengambil salah satu peringatan tentang sesuatu yang spektakuler yang akan terjadi pada orang Amerika, Inggris, Prancis, dan Arab. Kami tidak tahu di mana, tetapi kami tahu ada sesuatu yang sedang diseduh. ”

Bin Laden tetap menjadi tokoh populer di beberapa bagian negeri ini, dipuji oleh orang-orang yang percaya dia melakukan pekerjaan Tuhan. Namun, kedalaman dukungan sulit diukur. Apa yang tersisa dari keluarga dekatnya, sementara itu, telah diizinkan kembali ke kerajaan: setidaknya dua istri Osama (salah satunya bersamanya di Abbottabad ketika dia dibunuh oleh pasukan khusus AS) dan anak-anak mereka sekarang tinggal di Jeddah.

“Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan Mohammed bin Nayef [mantan putra mahkota],” kata saudara laki-laki Osama, Ahmad, memberi tahu saya ketika seorang pembantu menyiapkan meja makan malam di dekatnya. “Ia membiarkan istri dan anak-anak kembali.” Tetapi ketika mereka memiliki kebebasan bergerak di dalam kota, mereka tidak dapat meninggalkan kerajaan.

Putra Osama, Hamza, mungkin bisa mengaburkan upaya keluarga untuk melepaskan masa lalunya.

Ibunda  Osama kembali bergabung  dalam percakapan. “Saya berbicara dengan haremnya hampir setiap minggu,” katanya. “Mereka tinggal di dekat sini.”

Saudara perempuan Osama, dan saudara laki-laki kedua lelaki itu, Fatima al-Attas, tidak ada di pertemuan kami. Dari rumahnya di Paris, dia kemudian diemail untuk mengatakan dia sangat keberatan dengan ibunya yang diwawancarai, meminta agar itu diatur ulang melalui dirinya.

Terlepas dari berkat saudara-saudaranya dan ayah tirinya, dia merasa ibunya didesak untuk berbicara. Ghanem, bagaimanapun, bersikeras dia senang berbicara dan bisa berbicara lebih lama. Mungkin, ini adalah tanda dari status keluarga yang rumit di kerajaan bahwa ketegangan semacam itu ada.

Saya bertanya kepada keluarga tentang putra bungsu Bin Laden, Hamza yang berusia 29 tahun, yang diduga berada di Afghanistan. Tahun lalu, ia secara resmi ditetapkan sebagai “teroris global” oleh AS dan tampaknya telah mengambil jubah ayahnya, menjadi  pemimpin baru al-Qaida, dan mantan deputi Osama, Ayman al-Zawahiri.

Paman-pamannya menggeleng. “Kami pikir semua orang sudah melupakan ini,” kata Hassan.

“Lalu hal berikutnya yang aku tahu, Hamza berkata,“ Aku akan membalaskan dendam ayahku. ”Aku tidak ingin melakukannya lagi. Jika Hamza ada di depanku sekarang, aku akan memberitahunya, ‘Tuhan membimbingmu. Pikirkan dua kali tentang apa yang Anda lakukan. Jangan mengambil kembali langkah ayahmu. Kamu memasuki bagian mengerikan dari jiwamu. ’”

Kenaikan terus-menerus Hamza bin Laden mungkin menjadi awan upaya keluarga untuk melepaskan masa lalunya. Ini juga dapat menghambat upaya putra mahkota untuk membentuk era baru di mana Bin Laden berperan sebagai penyimpangan generasi, dan di mana doktrin garis keras yang pernah disetujui oleh kerajaan tidak lagi menawarkan legitimasi kepada ekstremisme. Sementara perubahan telah dicoba di Arab Saudi sebelumnya, itu sama sekali tidak seluas reformasi saat ini. Betapa sulitnya Mohammed bin Salman mendorong masyarakat yang diindoktrinasi dalam pandangan dunia yang tanpa kompromi, tetap menjadi pertanyaan terbuka.

Saudia Arabia sekutu optimis, tetapi menawarkan catatan peringatan. Petugas intelijen Inggris yang saya ajak bicara memberi tahu saya, “Jika Salman tidak menerobos, akan ada lebih banyak Osama. Dan saya tidak yakin mereka akan dapat mengguncang kutukan itu. ”***

 

11 Tewas, 14 luka-luka dalam serangan bunuh diri di Kabul

Personel keamanan Afghanistan tiba di lokasi aksi bom bunuh di diri di dekat Bandara Kabul.

SEBANYAK  11 orang telah dikonfirmasi tewas dan 14 lainnya terluka dalam serangan bom bunuh diri yang mengguncang Kabul pada hari Minggu, kata juru bicara polisi Hashmat Stanikzai, Senin pagi ini.

Pemboman bunuh diri ini, menurut pejabat, terjadi sekitar pukul 05:00 sore waktu setempat di jalan menuju bandara internasional Kabul.

Bom diledakkan ketika iring-iringan mobil Wakil Presiden Pertama Afghanistan Abdul Rashid Dostum sedang melewati daerah itu.

Semua korban adalah warga sipil dan personel polisi, kata pejabat itu.

Menurut sumber rumah sakit, 48 orang yang terluka telah dibawa ke rumah sakit untuk perawatan medis.***

UNICEF: Setengah Anak-anak Afghanistan tak Bisa Sekolah

HAMPIR  3,7 juta anak-anak Afghanistan kehilangan kesempatan untuk bersekolah, karena konflik yang sedang berlangsung, kemiskinan yang menggila, dan diskriminasi terhadap anak perempuan.

Demikian laporan terbaru dari Dana Anak-Anak PBB, UNICEF. Gambaran tersebut  mewakili hampir separuh dari semua anak-anak berusia antara tujuh sampai dengan 17 tahun. Angka tersebut juga menandai untuk pertama kalinya tingkat putus sekolah meningkat, sejak 2002, kata UNICEF.

Angka-angka ini merupakan bagian dari laporan Global Initiative on Out of School Children, yang dirilis pada belum lama ini,  yang menunjukkan bahwa berlangsungnya diskriminasi yang terus-menerus terhadap anak perempuan, telah menjadi faktor utama yang mendorong ketidakhadiran anak peremppuan  di sekolah.

Anak-anak perempuan menyumbang 60 persen dari mereka yang tidak berpendidikan, menempatkan mereka pada kerugian tertentu, dan memperparah diskriminasi berbasis jender, kata laporan itu.

Di provinsi-provinsi yang terkena dampak buruk, seperti di  Kandahar, Helmand, Wardak, Paktika, Zabul dan Uruzgan,  sebanyak  85 persen anak perempuan tidak ke sekolah.

Studi ini mencatat bahwa migrasi dan perkawinan anak merupakan hambatan utama terhadap partisipasi mereka di kelas, bersama dengan kurangnya guru perempuan, fasilitas yang buruk, dan ketidakamanan di daerah-daerah yang terkena dampak konflik.

Business as usual bukanlah pilihan bagi Afghanistan, jika kita ingin memenuhi hak atas pendidikan untuk setiap anak,” kata Perwakilan UNICEF Afghanistan, Adele Khodr. Harus ada gerakan dan tindakan luar biasa untuk menolong mereka.

“Ketika anak-anak tidak bersekolah, mereka berada pada bahaya yang meningkat dari pelecehan, eksploitasi dan rekrutmen,” ujarnya.

Tetapi ada cahaya harapan dalam penelitian ini. Penelitian  mencatat bahwa angka putus sekolah rendah, dengan 85 persen anak laki-laki dan perempuan yang mulai di tingkat dasar, mengelola untuk tetap bersekolah untuk menyelesaikan semua nilai, sementara angka-angka ini bahkan lebih tinggi bagi mereka yang mulai di tingkat sekolah menengah.

“Kami memuji Pemerintah Afghanistan untuk memprioritaskan dan mendeklarasikan tahun 2018 sebagai tahun pendidikan,” kata  Khodr.

“Sekarang adalah waktu untuk komitmen yang diperbarui, untuk memberikan anak perempuan dan anak laki-laki dengan kesempatan belajar yang relevan yang mereka butuhkan untuk kemajuan dalam hidup dan untuk memainkan peran positif dalam masyarakat,” tambahnya.

“Mendapat anak perempuan dan anak laki-laki ke sekolah jauh lebih banyak daripada duduk di kelas,” katanya, seraya menambahkan bahwa ini adalah tentang menyediakan rutinitas dan stabilitas, “yang merupakan investasi bijak yang diberikan ketidakamanan di seluruh bagian negara.”

Laporan itu menyerukan komitmen berkelanjutan  pemerintah Afghanistan dan kelompok masyarakat sipil untuk mengatasi krisis di negara tersebut.***