Makan Enak Tiga Babak

 Makan Enak Tiga Babak
Resto Jejamuran, dengan aneka masakan serba jamur. (foto: s.r. handini)

JAYAKARTA NEWS – Menulis catatan “Jayakarta News Tour de Jogja”, ternyata tidak sederhana. Persoalannya bukan pada “bagaimana cara menulis”, melainkan, angle apa yang harus saya tulis, mengingat mungkin ini merupakan tulisan ke-10. Itu artinya, sudah sembilan teman yang menuliskan catatan untuk acara yang sama, dengan angle yang berbeda-beda.

Jadi, jika catatan ini berisi beberapa hal yang barangkali sudah ditulis teman lain, anggap saja sebagai sesuatu yang wajar, dan bukan bermaksud repetisi. Karenanya, saya menuliskannya babak per babak. Siapa tahu, sekalipun di beberapa bagian ada kesamaan, setidaknya akan menjadi beda dalam hal penyajian.

 

Babak 1: Pesta di Kereta

Santap sedap di gerbong kereta. Bersama Rina Ginting. (foto: dok pri)

Perjalanan ke Yogyakarta, bukan sekali-dua buatku. Meski tidak bisa juga dibilang sering. Akan tetapi, perjalanan kali ini adalah yang paling beda dari perjalanan-perjalanan ke Yogya sebelumnya. Perjalanan menggunakan KA Fajar Utama yang berangkat pukul 06.15 WIB, adalah sebuah “perjuangan” tersendiri.

Setelah melalui perjuangan bangun dinihari, perjuangan menembus jarak dari Kebayoran Baru ke Pasar Senen, sampai perjuangan menuju gerbong nomor dua (KA-2), semua menjadikan pengalaman tersendiri. Sekitar 20 orang rombongan kereta, serasa menguasai satu gerbong.

Setelah berada di gerbong, masing-masing mencari tempat duduk yang nyaman sambil menata barang bawaan. Belum lama kereta api beranjak dari Pasar Senen, saya melihat sejumlah teman sudah tertidur pulas. Mungkin mencari mimpi yang terpotong sebelumnya, karena bangun terlalu awal.

Yang tidak tidur, mulai mengunyah cemilan, roti, buah, biskuit, dan lain-lain. Sekitar pukul 10.00, yang melanjutkan tidur, mulai bangun. Suasana menjadi lebih gaduh. Ada yang terlibat obrolan, ada yang berjalan kesana-kemari, menyambangi satu bangku ke bangku lain…. padahal dia bukan kontektur.

Tak lama kemudian, menyeruak bau harum makanan yang dibuka. Topik pun beralih ke makan-siang-kepagian. Benar, jam belum lagi menunjuk pukul 12.00 ketika teman-teman mulai membuka tupper ware berisi bekal makanan.

Beruntung aku duduk bersama Rina Ginting, yang dari semula sudah “promo” akan membawakan kering teri petai, balado udang petai, dan sayur medan yang semuanya sangat yummy. Bisa dibayangkan ramai dan “harum” penganan yang keluar menyeruak ke penjuru gerbong. Alhasil, makan-siang-kepagian itu sangat memuaskan. Lebih memuaskan, karena tidak harus keluar kocek untuk memesan makanan di restorasi kereta.

Jelang pukul 16.00, kami tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Rekan wartawan Jayakarta News di Yogya, Gde Mahesa sudah menjemput dengan minibus carteran. Dialah yang membawa kami ke Wisma Ainard, Jl Miliran 14 Yogyakarta, tempat rombongan menginap. Di sana, sudah ada teman-teman Jayakarta News yang datang naik moda transportasi lain.

Rombongan disambut “welcome drink” wedang uwuh yang menghangatkan. Sementara teman-teman lain tampak sibuk membereskan bawaan di kamar-kamar yang sudah dibagi oleh panitia. Hari 1 Februari, itulah catatan yang berkesan.

 

Babak 2: Serba Lezat, Serba Jamur

Berfoto bersama Dr Aqua Dwipayana. (foto: dok pri)

Jika sidang pembaca mengikuti rangkaian tulisan teman-teman terdahulu, mestinya mahfum, hari kedua di Yogya adalah hari “jalan-jalan”, one day tour cita-citanya. Setelah mengunjungi Candi Prambanan di pagi hari, sedianya kami mengunjungi Tebing Breksi.

Apa daya, matahari mulai meninggi, terik tak terperi. Sebagian peserta tour, tidak cukup berani untuk menantang matahari. Jadilah kompromi singkat, destinasi selanjutnya langsung ke kawasan sejuk Kaliurang. Kami berpikir, seterik apa pun matahari akan jinak oleh kesejukan Kaliurang.

Aku sempat mencicipi petualngan Merapi Lava Tour, rute terpendek. Saat kaos seragam mulai basah oleh keringat, dan perut mulai menuntut haknya untuk diisi, masuk pesan di WA Grup dari mas Roso Daras, bahwa rombongan akan dijamu makan siang oleh Dr Aqua Dwipapyana di Resto Jejamuran, Sleman, Yogyakarta. Kurang lebih 35 menit perjalanan dari Kaliurang ke arah selatan.

Kami terlambat 30 menit dari undangan Pak Aqua jam 13.00 WIB. Itu artinya, kami tiba pukul 13.30. Bisa dibayangkan, bagaimana kecamuk perut-perut peserta tour siang hari itu. Memasuki gerbang Resto Jejamuran, sudah terbayang aneka hidangan lezat.

Benar adanya. Pak Aqua sudah duduk di dalam ruang Shitake yang spesial di-booking untuk menjamu rombongan Jayakarta News. Deretan meja penuh aneka hidangan, terhampar, seperti melambai-lambai minta segera disantap.

Hampir semua makanan yang tersaji terbuat dari bahan dasar jamur. Mulai dari tongseng jamur, sup jamur, sate jamur, telur dadar shitake, oseng bayam disertai jamur dan tentu saja jamur goreng tepung. Masih banyak menu lain yang bukan dari jamur seperti ayam goreng, ayam bakar, dan gado gado.

Pilihan Pak Aqua menjamu kami di Resto Jejamuran, sungguh luar biasa. Menu makanan sehat, sangat pas bagi anggota rombongan yang rata-rata sudah berkepala lima. Rombongan tidak perlu merasa khawatir terhadap menu yang disantap. Tak heran jika teman-teman begitu “bersemangat” menyerbu aneka hidangan yang tersedia.

Usai perut terisi padat, pak Aqua sedikit memberi pembekalan “dahsyatnya silaturahmi” serta “dahsyatnya berbagi”, setelah sebelumnya Melva Tobing mewakili rombobgan, mengucapkan terima kasih.

Pengalaman silaturahim dan dahsyatnya dampak positif yang dialami pak Aqua, tampaknya ingin ditularkan dan dibagikan kepada rombongan Jayakarta News. Selain itu juga beliau mengutarakan bahwa kita harus terus bersyukur dan ikhlas sebagai titik landasan silaturahim.

Aneka lauk, pelengkap menu sego kucing di Angkringan Gadjah. (foto: s.r. handini)

Babak 3: Angkringan Gadjah yang Wah

Episode terakhir petualangan kuliner Jayakarta News Tour de Jogja, malam harinya. Sabtu malam. Pak Aqua kembali menraktir kami menikmati Angkringan Gadjah yang wah di Jl Kaliurang Km 9, Yogyakarta.

Meski sebelumnya kami sudah makan malam Nasi Tumpeng di acara syukuran Ultah 2 tahun Jayakarta News di Wisma Ainard, toh kami tetap bisa lahap makan aneka pilihan di Angkringan Gadjah. Apalagi bagi saya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Angkringan Gadjah.

Hamparan “sego kucing” aneka lauk tersedia. Ada nasi tuna, brutu, nasi ayam jambak, nasi ayam mercon, nasi oseng tempe, dll. Karena ukuran nasi yang sekepalan tangan, sehingga kita bisa mengambil lebih dari satu pilihan “sego kucing”.

Demikian pula lauk-pauk, tak kalah meriah. Ada aneka sate. Juga sajian sambal. Dari sambal mentah trasi, sambal dabu-dabu, sambal bajak, sambal peda, bahkan sambal jengkol pun ada.

Aku tertarik dengan yang unik, nasi ayam jambak. Aku pun mengambil satu bungkus, lauk sate usus balado yang tidak umum, sate tempura, tahu bakso ayam. Semua yang aku pilih, rasanya enak. Tidak terlalu manis seperti umumnya makanan Yogya dan Solo.

Usai makan, kebiasaan jalan-kaki menurunkan makanan pun aku lakukan…. Kebetulan, area Angkringan Gadjah memang dilengkapi sejumlah spot selfie. Salah satu sudut, berderet pintu dan jendela kayu kuno. Di bagian lain, tersedia dua buah ayunan…..

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.05, kami pun berpamitan dan menghaturkan terima kasih kepada pak Aqua yang telah bermurah hati menjamu kami. Menjamu dengan jamuan yang mengesankan: Resto Jejamuran dan Angkringan Gadjah. Kami pun sempat berjumpa dan dikenalkan dengan Ibu Retno, istri Bapak Aqua yang begitu setia mendampingi sang suami.  (S.R.Handini)

Santap malam di Angkringan Gadjah. Pak Aqua Dwipayana tampak di ujung meja. (foto: dok pri)

 

Berfoto-ria di salah satu sudut Angkringan Gadjah bersama Syahdina. (foto: dok pri)
Main ayunan di Angkringan Gadjah, bersama Elty. (foto: dok pri)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *