Kolom
Sejarah Peradaban Persia dan Evolusinya: Dari Kejayaan Kuno hingga Krisis Geopolitik Saat Ini
Oleh : Heri Mulyono
Peradaban Persia, salah satu yang tertua di dunia, telah mengalami jatuh bangun kekaisaran, transisi agama, dan dinamika geopolitik hingga menjadi Iran modern saat ini, dengan situasi terkini semakin memanas setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Jejak Peradaban Masa Lalu
Iran merupakan rumah bagi peradaban yang berlanjut sejak milenium ke-5 SM, dengan pemukiman perkotaan di lembah sungai Karun dan dataran tinggi Iran. Bangsa Elam, Kassit, Gutian, dan Urartu merupakan beberapa kelompok awal yang membentuk fondasi peradaban di wilayah ini, dengan Elam menjadi salah satu kekuatan utama yang bersaing dengan Mesopotamia kuno.
Pada Abad Besi, kerajaan Media menyatukan wilayah Iran pada abad ke-7 SM, menjadi cikal bakal kesatuan politik Persia. Penelitian dalam Ancient Iranian Studies menunjukkan bahwa periode ini menyaksikan perkembangan sistem pemerintahan terpusat, teknologi pertanian, dan jaringan perdagangan yang menghubungkan wilayah Barat dan Timur.
Kebesaran Kekaisaran Persia
Kekaisaran Achaemenid, yang didirikan oleh Cyrus Agung pada tahun 550 SM, menjadi salah satu kekaisaran terluas dalam sejarah kuno, membentang dari Laut Tengah hingga Sungai Indus. Cyrus Agung dikenal dengan kebijakan toleransi agama dan pembebasan budak Yahudi dari Babilonia, yang tertuang dalam Cyrus Cylinder—dikenal sebagai salah satu dokumen awal tentang hak asasi manusia.
Pada masa pemerintahan Darius I (522–486 SM), kekaisaran mencapai puncak kejayaannya. Ia membangun sistem administrasi yang efisien, jaringan jalan raya seperti Royal Road, dan kota ibukota yang megah seperti Persepolis. Para sarjana seperti Dr. Lloyd Llewellyn-Jones dalam King and Court in Ancient Persia 559–331 BCE menjelaskan bahwa istana Achaemenid menjadi pusat budaya dan politik yang menghubungkan berbagai etnis dan budaya.
Kekaisaran Parthia (247 SM–224 M) dan Sasania (226–651 M) kemudian melanjutkan warisan Persia. Kekaisaran Sasania bersaing dengan Kekaisaran Romawi selama berabad-abad, dan menjadi pelopor dalam bidang ilmu pengetahuan, kedokteran, dan sastra. Pada masa ini, agama Zoroastrianisme menjadi agama resmi dan memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat.
Jatuh Bangunnya Persia
Kekaisaran Achaemenid tumbang setelah ditaklukkan oleh Alexander Agung pada tahun 330 SM, yang membawa pengaruh budaya Yunani ke wilayah Persia. Setelah kematian Alexander, wilayah ini diperintah oleh Dinasti Seleukid sebelum munculnya kekaisaran Parthia.
Kekaisaran Sasania akhirnya tumbang pada abad ke-7 M akibat serangan Kekhalifahan Rashidun. Penaklukan Islam membawa perubahan besar dalam struktur politik dan budaya Persia, meskipun banyak elemen budaya lokal tetap bertahan. Selama abad pertengahan, Persia diperintah oleh berbagai dinasti seperti Samanid, Seljuk, dan Mongol, yang masing-masing memberikan kontribusi pada perkembangan peradaban Persia.
Pada abad ke-18 dan ke-19, Persia menghadapi tekanan dari Kekaisaran Rusia dan Inggris, yang berperang untuk menguasai wilayah ini. Dinasti Qajar (1781–1925) berusaha melakukan reformasi, namun seringkali terpengaruh oleh kepentingan luar negeri. Pada tahun 1925, Dinasti Pahlavi mengambil alih kekuasaan dan memulai proses modernisasi yang cepat.
Era Islam dan Transisi ke Iran Modern
Penaklukan Islam pada abad ke-7 M membawa perubahan agama yang mendalam, meskipun Persia tetap mempertahankan identitas budayanya yang khas. Selama masa Kekhalifahan Abbasiyah, Persia menjadi pusat pembangunan ilmu pengetahuan dan budaya Islam, dengan sarjana seperti al-Tabari dan Ibn Sina yang memberikan kontribusi besar pada sejarah, kedokteran, dan filsafat.
Pada abad ke-16, Dinasti Safawi (1501–1722) mengambil alih kekuasaan dan menetapkan Syiah sebagai agama resmi negara. Hal ini mengubah lanskap agama Iran secara permanen, dan menjadikan Iran sebagai pusat utama komunitas Syiah di dunia. Penelitian dalam artikel From Sunni to Shīʿah: Iran’s Sectarian Legacy menjelaskan bahwa proses ini melibatkan upaya untuk menyebarkan ajaran Syiah melalui pendidikan agama dan dukungan politik.
Pada abad ke-20, Iran mengalami perubahan besar dengan kedatangan Dinasti Pahlavi. Raja Reza Shah Pahlavi melakukan reformasi yang luas, termasuk modernisasi ekonomi, pendidikan, dan militer, serta penekanan pada identitas nasional Persia. Namun, kebijakannya yang otoriter dan pengaruh Amerika Serikat serta Inggris menyebabkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat. Pada tahun 1979, Revolusi Islam menggulingkan Dinasti Pahlavi dan membentuk Republik Islam Iran yang sekarang kita kenal.

Sejarah Syiah di Iran
Sebelum Dinasti Safawi, sebagian besar penduduk Iran menganut Sunni. Dinasti Safawi, yang berasal dari sebuah ordo Sufi Syiah, menetapkan Syiah sebagai agama resmi negara pada tahun 1501. Mereka mendirikan sekolah agama, mendukung ulama Syiah, dan melakukan kebijakan untuk mengubah keyakinan masyarakat.
Selama abad berikutnya, Syiah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Iran. Ulama Syiah memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat, baik sebagai pemimpin agama maupun sebagai penasihat politik. Pada masa modern, peran ulama semakin meningkat, terutama setelah Revolusi Islam tahun 1979, yang membawa ulama seperti Ayatollah Khomeini menjadi pemimpin negara.
Pendapat Pakar tentang Persia hingga Iran Modern
Bernard Hourcade dalam artikel Iran, une puissance régionale sans expérience menyatakan bahwa Iran telah mengalami transformasi besar dari negara lemah pada awal abad ke-20 menjadi kekuatan regional yang diperhitungkan. Menurutnya, identitas Iran modern adalah hasil dari keseimbangan antara agama Islam, budaya Persia, dan pengaruh internasional.
Dr. Lloyd Llewellyn-Jones menekankan pentingnya memahami sejarah kuno Persia untuk memahami Iran saat ini. Ia berpendapat bahwa citra Persia kuno sebagai kekaisaran besar masih memengaruhi pandangan diri bangsa Iran dan hubungan mereka dengan negara lain.
Dalam analisis From Imperial Containment to Catastrophe: Why the US-Israeli Strategy Against Iran Collapsed, para penulis Bamo Nouri dan Inderjeet Parmar menyatakan bahwa strategi Amerika Serikat dan Israel untuk mengisolasi Iran dan menggulingkan rezimnya telah gagal. Sebaliknya, strategi ini telah memperkuat ketahanan Iran dan memperkuat posisinya di kawasan.
Dampak Konfrontasi Saat Ini dengan Amerika-Israel
Konfrontasi antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah berlangsung selama beberapa dekade, terutama sejak Revolusi Islam tahun 1979. Masalah utama termasuk program nuklir Iran, dukungan Iran terhadap kelompok yang dianggap sebagai teroris oleh Amerika Serikat dan Israel, serta perselisihan wilayah di kawasan Timur Tengah.
Pada 28 Februari 2026, Israel melakukan serangan terhadap instalasi nuklir Iran, diikuti oleh serangan militer langsung pertama dari Amerika Serikat terhadap wilayah Iran. Serangan ini menyebabkan kenaikan ketegangan geopolitik global dan menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan dunia. Menurut laporan dari Portal Tela, serangan ini juga mengakibatkan penarikan Iran dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan menimbulkan pertanyaan tentang kredibilitas perjanjian internasional.
Kondisi di Iran Pasca-Serangan
Ayatollah Ali Khamenei dinyatakan tewas dalam serangan tersebut, yang melumpuhkan jantung pemerintahan Iran. Serangan juga menargetkan infrastruktur energi seperti kilang minyak, menyebabkan kekurangan BBM dan antrean panjang di pom bensin di berbagai wilayah, termasuk Shahran. Hujan abu beracun akibat serangan juga menjadi masalah bagi masyarakat.
Iran segera melancarkan serangan balasan dengan rudal, menargetkan aset militer AS dan infrastruktur vital di negara-negara kawasan seperti Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Bahrain. Selain itu, Iran menutup Selat Hormuz, jalur yang menyumbang sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Dampak Regional
Negara dalam Status Siaga Tinggi:
- Irak: Serangan di sekitar bandara Erbil meningkatkan kekhawatiran akan serangan milisi pro-Iran terhadap pasukan koalisi pimpinan AS, dengan risiko meningkatnya instabilitas domestik dan konflik sektarian.
- Lebanon: Kelompok Hezbollah menghadapi dilema strategis apakah akan membalas atau menahan diri, menjadikan Lebanon sangat rentan.
- Turki: Mewaspadai arus pengungsi dari Iran, potensi bangkitnya kelompok separatis Kurdi, serta krisis energi akibat gangguan suplai gas.
- Negara yang Terdampak Serangan Langsung:
- UEA: Beberapa titik strategis seperti bandara internasional Zayed (Abu Dhabi), bandara Dubai, pelabuhan Jebel Ali, dan kawasan Palm Jumeirah dilaporkan terdampak.
- Qatar: Pangkalan udara al Udeid, basis militer terbesar AS di kawasan, menjadi sasaran rudal.
- Bahrain: Sebagai lokasi Armada Kelima Angkatan Laut AS, memperketat keamanan dan menutup sejumlah fasilitas diplomatik.
