‘Kalis’, tentang Kekalahan Perempuan

 ‘Kalis’,  tentang Kekalahan Perempuan

‘Kalis’, untuk 21 tahun ke atas (foto : Stro TV).

JAYAKARTA NEWS—Banyak film nasional yang berkisah tentang perjalanan hidup dan suka duka seorang pelacur. Slamet Rahardjo membuat film ‘Rembulan dan Matahari’ yang berkisah kehidupan para pelacur di Bongkaran. Kemudian Arifin C. Noer mengangkat kisah pelacur Suci dalam ‘Suci Sang Primadona’. Namun, semuanya diceritakan dari luar komplek pelacuran.

Nah, kali ini sutradara Agus H. Mawardi mengintip ke dalam tembok dunia hitam dengan pendekatan realis. Lima mini seri yang tayang di Stro TV mulai Jumat (28/8/2020) bertajuk ‘Kalis’ (suci, bersih) boleh disimak dan direnungkan. Mini seri ini dibuat untuk 21 tahun ke atas. Dalam episode 1 yang penulis tonton trailernya, beberapa adegan memang tergolong ‘panas’.

Ada adegan ‘oral sex’ yang diperankan oleh pemain utama Reynavenzka Deyandra. Uniknya, sembari menggoyangkan badannya, Tyo membacakan puisi karya WS Rendra. Ini ‘gila’ dan sangat realis. Mengintip tembok-tembok kamar komplek dengan pendekatan sastrawi dan kamera yang sungguh artistik. Apakah ini tak menimbulkan kontroversi ?

“Saya sudah siap membuat cerita di era new normal. Adegan ‘oral sex’ merupakan opening visualisasi cerita ini. Dan di awal filmnya, ada tulisan ‘warning content’,” kilah Agus Mawardi. Sejujurnya, tambah Agus Mawardi yang pernah membuat film ‘Valentine’, ‘Noni Belanda’ dan ‘Wening’, mini seri ini bertumpu pada kekalahan perempuan.

“Dengan uang, Kalis kalah. Mengapa Kalis yang berasal dari kasta rendah selalu malang dan buruk nasibnya ditengah pergumulan kehidupan Ibukota? Mengapa perempuan selalu kalah?. Malam hari, sebelum praktik di komplek, Kalis melumuri bibirnya dengan cabai. Ini dilakukan sebagai prosesi sakral bersih diri sesuai pesan ayahnya,” beber Agus Mawardi.

Produser Devi Monika menekankan pada ‘human tragedy’ pada kisah Kalis ini. “Tolong jangan sepotong-sepotong lihatnya. Harus sampai tamat, 5 episode. Hampir di tiap episode, selalu ada scene dramatis puitis. Dan ini sangat realis, meski tokoh-tokohnya fiktif. Tapi coba lihat dan cari sosok Kalis, pasti ada,” imbuh Devi Monika.

Pemain utama Rheinavenzka Deyandra yang baru sekali main film mengaku karakter Kalis sangat menantang dirinya. “Saya perlu ekstra emosi di sini. Untung sutradara banyak membimbing saya bagaimana pembawaan seorang pelacur yang hidupnya enggak bahagia. Juga mbak Rita D sebagai penulis skenario. Bagaimana kiat menghidupi anaknya semata wayang akibat hamil di luar nikah, diusir oleh ayah kandung dan keluarganya dan ujungnya, Kalis mencoba bertahan hidup di jalanan.

Apakah pemerintah peduli dengan nasib ratusan atau ribuan pelacur di negara kita? Lalu, bagaimana dengan klinik aborsi yang tetap beroperasi di jalan Raden Saleh? Nonton film ini, pesannya gamblang, jaga anak-anak perempuan kita. O ya, sederet pemain andal mewarnai mini seri ini Rheinavanzka Deyandra, Tyo Pakusadewo, Nagra Kautsar Pakusadewo, Eggy Fedly, Avan Sanjaya dll. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *