Kolom
Spanyol Juara: Di Balik Mahkota Kedua La Roja
Oleh : Heri Mulyono
Spanyol menjuarai Piala Dunia FIFA 2026 setelah menundukkan Argentina 1-0 lewat perpanjangan waktu di MetLife Stadium, Minggu (19/7) malam waktu setempat. Gelar kedua ini bukan kejutan, melainkan buah sistem pembinaan yang dirawat selama lebih dari dua dekade.
Gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-105 mengakhiri kebuntuan panjang di final yang berlangsung tegang sejak menit pertama. Sepanjang 98 menit waktu normal, pertahanan Argentina yang dikawal kiper Emiliano Martínez tampil nyaris sempurna, mencatatkan sebelas penyelamatan, jumlah terbanyak yang pernah dibukukan seorang kiper dalam sebuah final Piala Dunia.
Namun keunggulan jumlah pemain setelah kartu merah untuk gelandang Enzo Fernández pada masa injury time membuka celah yang akhirnya dieksploitasi Spanyol di babak tambahan.
Kemenangan ini melengkapi rekor luar biasa La Furia Roja, julukan tim nasional Spanyol, yang hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen sekaligus menjadikan mereka tim pertama dalam sejarah yang menjuarai Piala Dunia dengan catatan pertahanan seketat itu.
Gelar ini juga menjadi rangkaian ketiga trofi mayor beruntun bagi Spanyol setelah UEFA Nations League 2023 dan Piala Eropa 2024, sebuah dominasi yang oleh banyak pengamat disebut sebagai era keemasan kedua sepak bola Spanyol setelah generasi Xavi Hernández dan Andrés Iniesta pada 2008-2012.
Bukan Kebetulan, Melainkan Rencana 25 Tahun
Bagi banyak analis, kemenangan Spanyol bukan hasil keberuntungan sesaat. Mantan bek internasional Prancis, Willy Sagnol, yang membawa timnya menjadi runner-up Piala Dunia 2026, menyebut kekuatan Spanyol saat ini adalah hasil perencanaan dan latihan yang dijalankan konsisten selama seperempat abad. Ia membandingkannya dengan era 1980-an dan 1990-an, ketika Spanyol tampil menjanjikan namun gagal menerjemahkan bakat menjadi gelar.
Titik balik itu, menurut penelusuran sejumlah media olahraga, terjadi pada awal 2000-an ketika Federasi Sepak Bola Spanyol atau RFEF mulai membangun sistem pembinaan usia muda secara terpusat. Koordinator pembinaan usia muda RFEF, Gines Melendez, disebut menjadi salah satu arsitek di balik penataan jenjang kompetisi dan kurikulum pelatihan yang menyeragamkan filosofi bermain sejak level akademi hingga tim nasional senior.
Fondasi filosofis Spanyol modern sesungguhnya lahir lebih awal, dari tangan seorang pelatih asing. Johan Cruyff, legenda Belanda yang datang ke Barcelona pada 1970-an sebagai pemain dan kembali pada akhir 1980-an sebagai pelatih, membawa doktrin Total Football: sepak bola dimainkan dengan penguasaan ruang dan kecerdasan membaca permainan, bukan semata kekuatan fisik.
Cruyff pula yang meletakkan fondasi akademi La Masia, yang kelak menjadi rahim bagi generasi pemain yang mengantarkan Spanyol juara Piala Dunia 2010 sekaligus dua kali juara Piala Eropa pada 2008 dan 2012. Filosofi itu berkembang menjadi tiki-taka, gaya permainan umpan-umpan pendek dan penguasaan bola yang mencapai puncak kejayaannya bersama Pep Guardiola di Barcelona.
Ketika Kesuksesan Justru Memicu Kewaspadaan
Yang menarik, justru pada puncak kejayaan itulah Spanyol memutuskan membenahi diri lebih jauh. Menurut Direktur Sepak Bola LaLiga, Juan Florit Zapata, kesadaran untuk menata pembinaan usia muda secara lebih sistematis justru muncul pada 2015, tak lama setelah Spanyol menikmati masa keemasannya.
LaLiga membentuk Departemen Pengembangan Akademi karena ada kekhawatiran bahwa rasa puas diri akan membuat negara lain segera menyusul.
Dua tahun pertama, 2015 hingga 2017, dihabiskan LaLiga untuk membangun komunikasi dan kepercayaan dengan klub-klub anggota. Setelah memahami kebutuhan di lapangan, fase berikutnya diarahkan pada pembentukan komitmen kolektif antarklub, yang akhirnya melahirkan Rencana Nasional Akademi LaLiga pada 2022, sebuah proyek bersama 42 klub profesional dari Divisi I dan II.
Hasilnya terukur: tahun lalu, lebih dari 160 pemain jebolan akademi tampil di tim utama klub-klub LaLiga, menjadikan Spanyol negara nomor satu di Eropa dalam mencetak pemain sepak bola profesional.
La Masia milik Barcelona memang paling tersohor, tetapi ia hanyalah satu simpul dari ekosistem yang jauh lebih besar. Real Madrid memiliki akademi La Fabrica, Athletic Bilbao mengembangkan Lezama, Real Sociedad membina lewat Zubieta, Valencia mengelola Paterna, sementara Villarreal dan klub-klub lain turut berinvestasi besar pada pembinaan usia muda.
Setiap klub punya filosofi berbeda, namun semuanya meyakini satu hal yang sama: masa depan dibangun lewat pembinaan jangka panjang, bukan jalan pintas.***
