Jangan Biarkan BNPB Berjalan di Jalan Sunyi

 Jangan Biarkan BNPB Berjalan di Jalan Sunyi
Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, memotong tumpeng ulang tahun BNPB ke-11, beberapa waktu lalu. (foto: ist)
Catatan Egy Massadiah

Terkesima saya mendengar diksi Letnan Jenderal TNI Doni Monardo. Katanya, “Rawatlah alam, maka alam akan menjaga kita.” Nadanya lebih mirip kalimat aktivis lingkungan, dibanding suara Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang baru dilantik 9 Januari 2019 lalu.

Bisa dipahami, jika kita mengetahui apa yang ada dalam visi dan misi pribadinya, untuk sukses mengemban amanat jabatan. Baginya, BNPB tidak boleh melulu hanya menjadi “pemadam kebakaran” yang hanya beraksi ketika terjadi musibah atau bencana alam.

Menurut Doni, BNPB selain tugas utama penanggulangan bencana, juga harus mulai berpikir 100 tahun ke depan. Generasi sekarang, harus berani mengoreksi apa pun warisan masa lalu yang keliru. Satu contoh, dahulu tidak ada masalah ketika seseorang atau sekelompok orang menebang pepohonan untuk alasan-alasan tempat tinggal atau bercocok tanam. Mereka tidak pernah berpikir menanam lagi. Saat ini dan ke depan, tidak boleh lagi.

Generasi milenial harus membayar kekeliruan masa lalu yang membiarkan hutan-hutan digunduli. Jika tidak ingin terjadi lagi musibah longsor dan banjir, maka gerakan penghijauan harus menjadi gerakan nasional. Gerakan yang diinisiasi pemerintah, dan diikuti seluruh rakyat.

Doni Monardo menekankan, betapa kalau alam sampai murka, tidak ada yang bisa melawan. Karena itu pula, ia menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam. Saya dipesan oleh Doni, “Egy, kita tidak boleh egois. Kita harus berpikir jangka panjang. Berpikir untuk anak-cucu kita. Mereka harus kita warisi alam yang hijau, alam yang di dalamnya terdapat keseimbangan ekosistem.”

Analogi-analogi Kepala BNPB yang belum genap 20 hari bekerja, tetapi sudah banyak berbuat itu, terkadang memang perlu perenungan dalam untuk memaknainya.

Sebagai contoh, ia menyebutkan betapa pohon-pohon itu berbicara kepadanya, mengadukan perlakukan tidak adil dan kecenderungan semena-mena manusia kepada pepohonan.

“Padahal, pohon pun sama seperti manusia. Ia tumbuh, besar, dan menjadi tua. Tentu dalam prosesnya pohon juga perlu perhatian. Pendek kata, Indonesia membutuhkan sangat banyak dokter pohon,” kata Doni.

Dokter-dokter pohon itu tidak saja bertugas mempercantik penampilan pohon, tetapi juga merawat kesehatannya. Jika perlu dipangkas daunnya, dipangkas. Jika perlu dipotong dahannya, ya potong dahannya. Jika ada benalu, harus dibersihkan. Jika sudah cukup umur, dan sudah waktunya diganti pohon baru, maka segera diganti, jangan sampai menunggu roboh dan mencelakakan orang.

Jika tidak, maka bencana alam yang diakibatkan faktor kelalaian manusia, akan terus terjadi. Bagi Doni, longsor dan banjir, mutlak karena ulah manusia. Berbeda dengan letusan gunung berapi, tsunami, atau gempa bumi, yang dinilai Doni terjadi karena faktor alam.

“Faktor alam lebih bisa diprediksi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi kalau akibat ulah manusia, maka memperbaikinya juga harus dengan perbuatan. Salah satunya menanam pohon, dan menghijaukan lahan-lahan tandus, hutan dan gunung gundul,” papar Doni.

Melibat betapa besar eskalasi kerusakan lingkungan, maka BNPB tidak bisa bekerja sendiri. Kalimat konkretnya, jangan biarkan BNPB berjalan di jalan sunyi. Jangan limpahkan semua beban berat itu hanya di pundak BNPB, melainkan harus didukung masyarakat luas.

“Karenanya, peristiwa banjir dan longsor di Sulsel, saya akan menantang mahasiswa di sana, agar tidak hanya bisa demo tapi mari tunjukkan bahwa mahasiswa-mahasiswa Sulsel juga peduli lingkungan, dan mau bersama-sama BNPB menanam pohon di lahan-lahan tandus, atau di gunung-gunung yang gundul akibat hutan yang dijarah manusia,” kata Doni antusias.

BNPB akan memetakan luas area tandus di 54 gunung yang ada di Sulawesi Selatan. Setelah itu, akan ditawarkan kepada kampus-kampus untuk menghijaukannya.

Selain dunia mahasiswa, BNPB juga akan mengajak institusi TNI-Polri untuk turut serta, di samping BUMN dan swasta. “Tidak hanya menanam, tetapi harus dilanjutkan dengan mengontrol dan merawat. Hasil terbaik, akan diberi apresiasi,” tandas jenderal bintang tiga yang mantan Danjen Kopassus itu, seraya menambahkan, “jangan lupa, Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan atau KKSS juga harus ambil bagian.”

Gerakan menanam pohon, diakui memang bukan sebuah gerakan anyar di Indonesia. Meski begitu, Doni menilai, gerakan yang ada bersifat proyek dan sporadis. Hasilnya tidak maksimal. Berbeda dengan program yang dilakukan atas dasar kesadaran.

Karena itu, BNPB akan melakukan sosialisasi, bila perlu semacam penyuluhan kepada masyarakat tentang betapa pentingnya peran pohon di atas bumi yang kita huni ini.

Islam memiliki perhatian dan kepedulian yang sangat besar terhadap penanaman pohon. Karena begitu penting dan utamanya menanam pohon, Rasulullah SAW pernah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, seandainya tangan seseorang memegang pohon, lalu esok harinya adalah hari kiamat, seandainya pun jika pohon itu ditanam bisa dipastikan tidak akan tumbuh, maka Rasulullah SAW menganjurkannya untuk tetap menanam pohon itu. Itu tetap berpahala. Hal ini menjadi indikasi kuat betapa pentingnya menanam pohon menurut ajaran Islam.

Kepedulian Islam terhadap penanaman pohon ini salah satunya didasari peran dan fungsi pohon yang sangat vital bagi kehidupan manusia dan bagi bumi sebagai tempat tinggal manusia. Pepohonan merupakan urat nadi bagi bumi dan sumber kehidupan bagi manusia.

Dalam pandangan Islam, menanam pohon sama dengan menghidupkan bumi dan memberi kehidupan bagi penghuninya. Hal ini dapat kita pahami dari pendapat mufassirin ketika menafsirkan surah Yassin (36) ayat 33, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.”

Abu Hayyan al-Andalusi (w 745 H) dalam tafsirnya al-Bahr al-Muhith, saat menafsirkan ayat 33 surah Yasin ini mengemukakan bahwa bumi yang mati adalah bumi yang tidak ada pohon-pohonnya.

Penulis dan Doni Monardo, Kepala BNPB. (foto: ist)

Saya mendadak jadi teringat saat hadir di tasyakuran Ulang Tahun BNPB ke-11, tanggal 25 Januari 2019 lalu di Sentul. Saat itu, duduk di sebelah saya, Mayjen TNI (Pur) Jaswandi, mantan Pangdam Jaya, rekan satu angkatan Doni Monardo.

Ia menitip pesan, “Sampaikan ke Pak Doni, BNPB ini tempat yang baik untuk menggapai surganya Allah, tetapi juga sangat dekat  ke nerakanya Allah.”

Pesan itu bisa dimaknai, BNPB adalah badan penanggulangan bencana. Bencana acap dikaitkan dengan tanda-tanda zaman, bahkan acap dikaitkan dengan teguran Tuhan. Di sisi lain, manusia lalai juga bisa mengakibatkan terjadinya bencana.

Amboi, betapa selarasnya kehidupan manakala alam dan manusia saling menjaga. Manusia merawat alam dengan baik, dan alam pun akan menjaga manusia.

Dalam banyak kesempatan Doni Monardo juga selalu mengingatkan tentang pentingnya memperhatikan nilai-nilai luhur kearifan lokal. Jika kita pandai membaca ‘sasmita’ atau tanda-tanda spiritual, sejatinya leluhur kita sudah mewariskan banyak pertanda, terkait alam.

Ia menyebut contoh Pulau Jawa. “Coba perhatikan, mengapa pesisir utara lebih ramai dan lebih banyak dibanding pesisir selatan. Ini pasti bukan tanpa sebab. Salah satu pertimbangannya adalah ombak besar samudera hindia, dibanding ombak Laut Jawa. Belakangan kita juga tahu, bahwa patahan lempeng bumi ada di bagian selatan. Dan mungkin masih banyak sasmita lain, yang harus kita gali. Untuk itu, diperlukan banyak ahli untuk membuat road map antisipasi bencana alam secara preventif komprehensif ,” urai Doni.

Sungguh, persoalan musibah dan bencana bukan persoalan mudah. Perlu keterlibatan semua pihak untuk mengantisipasi dan mengatasinya.

Sebuah renungan di antara derita saudara-saudaraku di Sulawesi Selatan yang sedang berjuang melawan alam yang murka. ***

Egy Massadiah, Magisger Komunikasi, Pegiat Teater

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *