Kolom
Mengapa Dukun Berubah Jadi Paranormal
Gde Mahesa
Zaman sekarang terkadang orang bingung membedakan mana dukun, paranormal, dan “orang pintar”. Bahkan spiritualis disamakan dengan dukun. Kita “kulik” kronologinya.
Sebenarnya jika cermat hal ini hanya merupakan pergeseran penyebutan dan bukan kebetulan, yang mana ini adalah proses sosiologi bahasa yang dipengaruhi 3 faktor besar : Kolonialisme, Modernisasi, dan Stigma Media.
Kata dasar “dukun”, berasal dari Jawa Kuno. Maknanya netral, bahkan terhormat.
Dukun sebenarnya mengandung arti “ahli”. Yaitu orang yang memiliki ilmu khusus. Seperti Dukun Bayi, Dukun Pijat, Dukun Jamu, Dukun Usada, dll.
Di era Majapahit, mereka disebut Acaraki atau Wli Paidwan atau Dokter Keraton. Setara tabib.
Pergeseran kata “DUKUN” menjadi “ORANG PINTAR”
Dimulai pada masa kolonial dan awal kemerdekaan antara abad 19-20.
Mengapa Terjadi Pergeseran Nama?
Stigma Negatif dari Kolonial & Misionaris : Istilah “dukun” mulai dikaitkan dengan takhayul, klenik, dan ilmu hitam oleh penguasa kolonial serta misionaris. Untuk membedakannya dari “dokter” dari Eropa yang “rasional”, dengan masyarakat pribumi yang memulai memakai istilah lebih halus.
Strategi Legitimasi Lokal :
“Orang Pintar” tentunya terdengar lebih berwibawa dan lebih “bersih” secara sosial dibanding “dukun”. Kesannya lebih bijak, lebih tahu, dan tidak langsung identik dengan hal-hal mistis yang menakutkan. Ini untuk mendapatkan penerimaan di masyarakat yang semakin agamis di keyakinan agama dan modern.
Perubahan “ORANG PINTAR ” Menjadi PARANORMAL.
Dimulai sejak Era Orde Baru hingga Reformasi, mulai th 1980-an sampai sekarang. Kenapa bisa bergeser ? Ada beberapa sebab di antaranya:
1. Pengaruh Media Massa & Pop Culture : Kata “Paranormal” adalah serapan dari Bahasa Inggris Paranormal. Istilah ini dipopulerkan oleh media TV, media cetak, dan film. Sehingga kesannya lebih modern, lebih “ilmiah”, dan lebih marketable.
2. Diferensiasi Layanan :
“Dukun” terkesan tradisional, ndeso, dan hanya untuk penyakit fisik. Sedangkan “Paranormal” kesannya urban, modern, dan fokus pada masalah non-fisik : jodoh, rezeki, pesugihan, karier, gangguan gaib. Hal ini tentunya mempengaruhi segmentasi pasar.
3. Menghindari Stigma Hukum & Agama : Pasca kemerdekaan, praktik perdukunan terkadang berbenturan dengan hukum atau dianggap syirik oleh sebagian kelompok agama.
Sehingga istilah “Paranormal” menjadi “payung” yang lebih aman secara sosial dan legal.
Sehingga bisa disimpulkan yang intinya fungsi dan ilmunya sama, tetapi “kemasannya” berubah sesuai zaman.
Ini adalah adaptasi bahasa agar tetap relevan dan diterima oleh masyarakat pada masanya.
Jadi, “dukun” tidak hilang. Dia hanya “ganti baju” agar tidak ditolak zamannya.
Lalu bagaimana dengan “Spiritual” yang kadang juga dianggap sebagai dukun, orang pintar juga paranormal? Spiritualis mempunyai definisi inti seorang yang fokus pada pencarian makna hidup, kesadaran diri, hubungan dengan Tuhan atau Semesta, dan pengembangan batin. Tujuannya adalah transformasi diri ke dalam.
Misalkan : Seorang pertapa, sufi, yogi, biarawan, atau praktisi meditasi yang tidak mengambil bayaran dan tidak mengklaim bisa “menyelesaikan masalah orang lain”.
Sebab spiritualis sejati tidak butuh pengakuan.
Namun Dukun selain fokus pada herbal, pijat, dan ramuan. Sisi spiritualnya adalah ritual dan doa sebagai bagian dari resep.
Tentunya ini dekat dengan spiritualitas. Dan dalam ritual fokus pada upacara tolak bala, bersih desa, ruwatan. Ini adalah peran sosial keagamaan.
Jadi seorang dukun bisa sangat spiritual, tetapi juga bisa murni “teknisi”. Dia tahu mantranya, tahu ramuannya, tetapi tidak menjalani laku batin.
Sedangkan “Paranormal” adalah seorang yang menawarkan jasa terkait fenomena di luar nalar, supranatural, atau gaib, biasanya dengan imbalan.
Tujuannya adalah menyelesaikan masalah klien secara cepat.
Hal ini tentunya ranah yang paling komersil. Validitas “spiritual”-nya adalah yang paling diperdebatkan.
Mengapa semua bisa dicampur-adukkan? Sebab alasan yang bisa dijelaskan :
- Penggunaan alat yang hampir sama fungsinya. Semua menggunakan hal yang mirip : mantra, doa, meditasi, energi.
Masyarakat awam sulit membedakan mana yang untuk “batin” dan mana yang untuk “jasa”.
- Stigma “Gaib” Di Indonesia, apa pun yang berbau “gaib” atau “non-medis” langsung masuk satu keranjang bernama “klenik”. Padahal isinya sangat berbeda.
- Banyak “paranormal” yang mengklaim diri sebagai “guru spiritual” agar terlihat lebih berwibawa dan laku. Sebaliknya, banyak spiritualis yang disangka dukun karena caranya yang nyeleneh.
Semua Spiritualis Sejati tidak sama dengan Dukun, dan tidak sama dengan Paranormal.
Analogi spiritualis, nyaris seperti ilmuwan yang meneliti air.
Dukun itu ibarat tukang sumur yang tahu cara menggali air untuk keperluan pedesaan. Sedangkan Paranormal bagai penjual air kemasan yang mengklaim airnya bisa bikin awet muda dan menawan.
Airnya sama, tetapi yang berbeda adalah kedalamannya.
Bullllll… Bullllll… Klepussss…..
