Ada Sate Ayam Kampung di Pasar Gading

 Ada Sate Ayam Kampung di Pasar Gading

Foto Laksmi Wuryaningtyas

Foto Laksmi Wuryaningtyas

Pasar tradisional sudah lama menjadi incaran wisatawan. Dari pasar tradisional ini, kita bisa menyimak budaya setempat melalui aneka makanan atau bahan pangan dan peralatan dapur khas daerah. Di pasar tradisional ini kita juga bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat serta menyimak kebiasaan mereka. Lihat saja di salah satu sudut kota Yogyakarta ini.

Sore hari, banyak pekerja yang mampir dulu ke pasar tradisional untuk belanja kebutuhan dapur, khususnya pekerja perempuan. Ada juga anak-anak kost yang belanja di pasar tradisional. Mereka umumnya beli sayuran segar untuk dimasak di rumah. Belanja sayur di sore hari? Ya. Kenapa tidak?

 

Foto Laksmi Wuryaningtyas
Foto Laksmi Wuryaningtyas
Foto Laksmi Wuryaningtyas

Belanja sayuran segar sore hingga malam hari bisa dilakukan di Pasar Gading. Pasar tradisional ini berlokasi di Jalan DI Panjaitan, Mantrijeron, persis di seberang Plengkung Gading. Di sini, banyak yang berburu sayuran segar pada sore dan malam hari. Pasar ini memang buka sejak pukul 05.00 pagi hingga pukul 21.00 malam. “Kalau malam hari sayurannya malah segar-segar,” kata Nunik, salah seorang pelanggan yang sering belanja di Pasar Gading.

Sebagaimana umumnya pasar tradisional, Pasar Gading juga menyediakan sayuran dan sembako. Yang menarik, ada mie lethek kering yang bisa dibeli buat oleh-oleh. Maklum, mie lethek yang terkenal itu biasanya hanya bisa kita santap saat berada di Yogyakarta. Untuk mie lethek yang kering, agak sulit didapatkan. Tapi ternyata di Pasar Gading ada pedagang yang jual mie lethek kering.

Untuk yang sedang cari makan malam, di pasar Gading juga ada warung sate ayam kampung yang cukup legendaris. Namanya Warung Sate Pak Pawiro. Biasanya para pelanggan menyebutnya Sate Gading.  Rasanya lumayan enak. Seporsi sate isi 10 tusuk plus lontong harganya Rp 28.000. Untuk warga Jakarta yang jarang sekali mendapatkan sate ayam kampung, dijamin puas makan di sini.

Irisan dagingnya tebal-tebal. Ada berbagai pilihan. Sate daging, sate kulit, dan sate ati ampela. Minumnya cukup teh manis panas aroma melati yang dihargai Rp 3.000 segelas. Sayangnya, warung sate ini hanya buka 4,5 jam saja, mulai pukul 15.30 hingga pukul 20.00.

Foto Laksmi Wuryaningtyas

Warung sate ini berada di lantai bawah Pasar Gading. Sedangkan pedagang sayuran dan sembako kebanyakan menempati lantai atas. Bangunan Pasar Gading memang terdiri dua lantai. Jumlah pedagangnya juga tak terlalu banyak. Ada lebih kurang 170 pedagang. Selain sayuran, sembako, telur, daging ayam, ikan, kelapa parut, warung makan, ada juga peralatan dapur dari bambu dan tanah liat serta jamu tradisional. Untuk yang suka mengoleksi peralatan dapur tradisional, cukup belanja di Pasar Gading.

Pasar Gading mudah dijangkau wisatawan, karena di sekitarnya banyak terdapat hotel-hotel murah kelas backpacker. Tercatat ada lebih dari 80 hotel di wilayah itu. Dari stasiun Tugu atau Malioboro, Pasar Gading juga bisa dijangkau dengan menggunakan bus Transjogja jalur 3A langsung turun di halte portable Gading.

Selesai makan dan belanja di Pasar Gading, wisatawan bisa menikmati suasana malam hari di Alun Alun Kidul. Di kawasan ini kita bisa naik odong odong hias keliling alun-alun, atau sekadar menikmati wedang ronde sambil lesehan. Untuk umat muslim, bisa juga sholat Isya di Masjid Jogokaryan yang terkenal itu. Dari Pasar Gading, masjid ini hanya berjarak lebih kurang 800 meter. (Laksmi Wuryaningtyas)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *