Ekonomi & Bisnis
Pemerintah akan Kurangi Impor Gula Rafinasi
- /home/jayakartanews.com/public_html/wp-content/plugins/mvp-social-buttons/mvp-social-buttons.php on line 27
https://jayakartanews.com/wp-content/uploads/2025/09/Gudang-Gula-1000x600.png&description=Pemerintah akan Kurangi Impor Gula Rafinasi', 'pinterestShare', 'width=750,height=350'); return false;" title="Pin This Post">
- Share
- Tweet /home/jayakartanews.com/public_html/wp-content/plugins/mvp-social-buttons/mvp-social-buttons.php on line 72
https://jayakartanews.com/wp-content/uploads/2025/09/Gudang-Gula-1000x600.png&description=Pemerintah akan Kurangi Impor Gula Rafinasi', 'pinterestShare', 'width=750,height=350'); return false;" title="Pin This Post">
JAYAKARTA NEWS – Pemerintah akan mulai mengurangi impor gula rafinasi karena masih ditemukan masuk ke pasar umum. Penyerapan gula petani pun terus ditingkatkan.
“Pemerintah tentu semuanya mendukung petani tebu. Untuk itu, pemerintah akan kurangi importasi yang berkaitan dengan gula rafinasi sekitar 200 ribu ton,” ujar Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi, seperti dikutip Senin (15/9/2025).
Menurut Arief, gula rafinasi harus dikendalikan karena hanya diperuntukan buat industri, bukan untuk ke pasaran umum seperti gula konsumsi.
Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan diminta untuk mengawasi gula rafinasi ini, karena ada ditemukan di Serang, Banten.
“Di sana masih ada gula rafinasi. Sementara harusnya ini untuk industri. Penindakan hukumnya itu wilayahnya Satgas Pangan Polri,” ungkap Arief.
Arief memastikan realisasi penyerapan gula petani terus meningkat. Terlebih Danantara telah suntik ID FOOD sebesar Rp 1,5 triliun.
Di samping itu, Arief juga menyampaikan perkembangan penyerapan gula petani yang telah dilaksanakan BUMN, yakni ID FOOD dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), serta swasta.
Langkah ini untuk mengatasi kelesuan lelang gula di tingkat petani. Terlebih produksi gula kristal putih di September ini diproyeksikan menjadi titik kulminasi panen di 2025 ini.
“Intinya kebijakan pemerintah itu mendukung para petani, impor sebisa mungkin jangan. Pokoknya intinya kita sama petani,” jelas Arief.
Arief mengungkapkan, perkembangan penyerapan gula petani dari ID FOOD dan SGN, berjalan bertahap. Saat ini sisa yang belum terserap sekitar 21 ribu ton.
Kemudian yang swasta juga diminta bantu penyerapan gula petani. “Jangan sampai petani tak mau nanam tebu, karena tebunya saat sudah jadi gula, tapi ternyata gulanya tak laku,” tandas Arief.
Per 10 September, total realisasi serapan gula petani yang dipantau Bapanas telah menyentuh angka 60,6 ribu ton. Rinciannya terdiri dari ID FOOD Group 31,5 ribu ton. Lalu asosiasi pedagang/swasta totalnya 22,2 ribu ton dan SGN 6,9 ribu ton.
Sementara sisa gula petani yang belum terserap sebanyak 21,3 ribu ton dan masih ada pengajuan baru sekitar 30 ribu ton, sehingga total target serapan berada di angka 112 ribu ton.
Menurut Proyeksi Neraca Gula Konsumsi per 2 September, produksi gula kristal putih menunjukkan pada September ini merupakan titik kulminasi panen dengan estimasi dapat mencapai 777,6 ribu ton.
Sementara total produksi gula kristal putih sepanjang 2025 ini diperkirakan mencapai 2,5 juta ton. Dari itu ditambahkan stok awal 2025 dan impor raw sugar diperoleh total ketersediaan di angka 4,1 juta ton.
Sementara kebutuhan konsumsi gula Konsumsi setahun di angka 2,8 juta ton, sehingga diproyeksikan stok gula konsumsi secara nasional sampai akhir 2025 masih terdapat 1,3 juta ton.
“Jadi kita sampai dengan akhir tahun, kemungkinan neraca kita masih kelebihan 1,3 juta ton gula konsumsi, sehingga kita lagi berusaha supaya tidak impor. Maksudnya harus diatur produksinya. Kalau kelebihan 1,3 juta ton, itu seharusnya tidak perlu impor,” beber Arief. (yog)
