Kolom
Urap, Masakan Warisan Abad X
Gde Mahesa
Urap berasal dari bahasa Jawa yang artinya urip atau hidup, dimana hidup bukan hanya sekadar mengacu pada raga, namun juga batin (cipta, rasa, dan karsa). Kesempurnaan orang hidup harus menggunakan akal-budi dalam mencapai tujuan mulia yang dibutuhkan raga.
Namun juga tidak boleh mengesampingkan kebutuhan batin yang harus dipenuhi.
Urap atau gudangan juga disebut kuluban ini merupakan masakan Jawa yang terkenal lezat, sebab merupakan salah satu kliner Nusantara yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Medang atau pada tahun 929 Masehi, yang konon sejarahnya tertulis pada Prasasti Linggasuntan dengan kalimat “wrak-wrak” yang diartikan urap.
Prasasti yang konon ditemukan di wilayah Jawa Timur, merupakan bukti penting kehidupan sosial, budaya, dan kuliner masyarakat era Kerajaan Medang, dan mencatat berbagai aktivitas agraris masyarakat, termasuk penggunaan sayuran dan kelapa dalam makanan sehari-hari.
Makna kandungan filosofi urap :
- Simbol Harmoni dan Persatuan: Urap melambangkan kehidupan yang terdiri dari berbagai macam status, sifat, dan perbedaan manusia di masyarakat. Kelapa parut berbumbu bertindak sebagai pengikat atau penyatu berbagai macam sayuran yang berbeda.
- Simbol Kemakmuran dan Syukur: Urap sering menjadi bagian dari sajian tumpeng. Bentuk tumpeng sendiri melambangkan gunung, yang dalam mitologi Jawa dan Hindu dianggap suci (sebagai tempat bersemayam dewa) dan simbol hubungan spiritual antara manusia dan Sang Pencipta. Urap yang mendampingi tumpeng melambangkan rezeki dari bumi yang berlimpah.
Urap sama sekali tidak mengandung daging, dan dapat dimakan begitu saja sebagai makanan vegetarian atau sebagai sayuran teman nasi sebagai bagian dari hidangan lengkap. Urap biasanya merupakan syarat atau hidangan penting sebagi sayur pengiring yang disatukan dengan kelapa parut berbumbu, dan merupakan pelengkap tumpeng Jawa. Tampil dengan kesederhanaan, namun penuh daya pikat.
Dalam budaya masyarakat Jawa, urap mengandung filosofi mendalam yang melambangkan kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur kepada alam. Kombinasi berbagai jenis sayuran dalam satu hidangan mencerminkan harmoni dan kebersamaan, sementara bumbu kelapa yang menyatukan seluruh elemen melambangkan persatuan.
Rasa urap yang gurih dan bikin nagih ini juga mencerminkan prinsip keseimbangan hidup antara alam dan manusia, di mana manusia diajarkan untuk selalu hidup harmonis dengan alam dan sesama.
Sayuran yang harus ada dalam urap adalah kangkung, bayam, taoge, dan kacang panjang. Setiap sayur, memiliki makna filosofis sendiri-sendiri.
Kangkung, misalnya, adalah sayuran yang bisa tumbuh di air dan di darat. Filosofinya, diharapkan hal itu juga bisa berlaku pada manusia yang harus bisa adaptif alias sanggup hidup di mana saja dan dalam kondisi apapun.
Bayam adalah sayur yang melambangkan kehidupan yang ayem tentrem (aman dan damai).
Lalu taoge atau kecambah, merupakan sayur kecil yang mengandung makna kreativitas tinggi. Hanya seseorang yang kreativitasnya tinggi, bisa berhasil dalam hidupnya.
Adapun kacang panjang, ia wajib hadir utuh, tanpa dipotong. Maksudnya agar manusia pun selalu berpikir panjang sebelum bertindak, selain sebagai perlambang umur panjang. Kacang panjang utuh umumnya tidak dibuat hidangan, tetapi hadir sebagai hiasan yang mengelilingi tumpeng.
Sedangkan bumbu urap yang terbuat dari parutan kelapa bermakna urip atau hidup dalam artian bahwa selama orang itu hidup dapat menghidupi atau menafkahi seluruh keluarga.
Pada masyarakat Jawa, urap ikut memainkan peran penting dalam berbagai tradisi dan upacara adat, sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dalam konteks ini, urap melambangkan keseimbangan antara elemen duniawi (sayuran) dan spiritual (bumbu kelapa).
Sruputtt kopi pahitnya…. bullll bullll klepussss…..
