Sohieb Toyaroja Pameran “Kebo Iwa”

 Sohieb Toyaroja Pameran “Kebo Iwa”

Pelukis Sohieb Toyaroja/foto: humas

JAYAKARTA NEWS— Pelukis Sohieb Toyaroja kembali menggelar pameran tunggal. Kali ini, pameran bertajuk “Kebo Iwa: Sukma Suci Nusantara” digelar di Gallery Kunstkring, Menteng Jakarta Pusat, 14 – 28 Juli 2022. Sebuah pameran yang mengangkat dimensi spiritual tertinggi terwujudnya Sumpah Palapa Patih Gajah Mada.

“Tanpa pengorbanan Kebo Iwa bisa jadi tidak ada Nusantara. Dengan kata lain, berkat pengorbanan Kebo Iwa maka lahir Nusantara, yang kemudian menjadi inspirasi pejuang kita mendirikan NKRI,” ujar pelukis kelahiran Kediri, tahun 1968 itu.

Alkisah, Maha Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa dengan misi suci penyatuan Nusantara. Saat itu Kerajaan Majapahit di bawah kendali Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Kerajaan Bedahulu (Bali) dengan Maha Patih Kebo Iwa, adalah salah satu yang harus ditaklukkan.

Bukan sekali dua prajurit Majapahit mencoba menaklukkan Kebo Iwa, baik dengan cara ksatria ataupun nista. Perang tanding Kebo Iwa dan Gajah Mada melewati batas siang dan malam. Sama digdaya.

Di tengah napas yang terengah, bertanyalah Kebo Iwa kepada Gajah Mada, mengapa harus ada sengketa. Mengapa harus saling mencabut nyawa. Diwartakanlah ihwal Sumpah Palapa. Ihwal sumpahnya untuk menyatukan Nusantara. Hanya dengan merajut persatuan, antar-nusa akan tercipta Nusantara yang tenteram dan sentosa.

Kebo Iwa menerimanya sebagai sumpah mulia. Bahkan ia pun rela jika nyawa harus pisah dari raga. Kebo Iwa menunjukkan di mana letak pintu sukmanya. Patih Gajah Mada membunuh Kebo Iwa tidak dengan jumawa. Gajah Mada tahu, Kebo Iwa mati bukan karena kalah, tapi rela mati demi terwujudnya Sumpah Palapa.

Sukma suci Kebo Iwa pun moksa ke swarga loka. Sumpah Palapa Gajah Mada, menjadi paripurna dengan pengorbanan Kebo Iwa. Nilai-nilai pengorbanan dan kepahlawanan Kebo Iwa mengusik “kreativitas-batin” pelukis Sohieb Toyaroja, dan menjadikannya sebagai ide besar penciptaan karya. Persembahan Pameran Lukisan “Kebo Iwa, Sukma Suci Nusantara” adalah upaya menguak sisi terdalam lahirnya Nusantara sebagai inspirasi kepada anak bangsa.

Sohieb dikenal sebagai pelukis dengan ciri khas sapuan palet yang ekspresif. Ia banyak menggelar pameran tunggal dengan tema-tema sejarah dan spiritual. Tahun 2016 misalnya, ia menggelar pameran tunggal “Spitirual Journey” di Kunstkring. Setahun berikutnya, 2017, pameran fenomenal digelar memperingati 72 tahun kemerdekaan Indonesia. Pameran itu diberinya tajuk “72 Tokoh Indonesia & 7 Presiden RI” di Epiwalk Epicentrum, Kuningan – Jakarta.

Tahun 2021, ia bahkan dinobatkan banyak kalangan sebagai “pelukis Semar”, berkat pameran tunggalnya “Semar Ngruwat Jagad”, di Kunstkring Galleri, dan Jogja Gallery. Di luar itu semua, ia juga mengelola Bellevue Art Space, di Cinere, Kota Depok.

Kembali ke tema pameran “Kebo Iwa”, Sohieb menyebutnya sebagai sebuah “panggilan jiwa”. Pengalamannya mukim di Bali pada satu periode kehidupannya, membuat ia merasa dekat dengan sosok Maha Patih Kerajaan Bedahulu (Abad ke-8 sampai Abad ke-14). “Bangsa ini harus mengingat peran besar Kebo Iwa dalam sejarah terwujudnya Nusantara, sebagai cikal-bakal NKRI,” ujarnya.

Kisah Kebo Iwa dan Gajah Mada ini menjadi warisan budaya Indonesia agar dipahami kemudian dilestarikan oleh generasi penerus bangsa. Sohieb bahkan melemparkan gagasan pembangunan Museum Kebo Iwa di Bali. “Saya akan menyampaikan gagasan tersebut. Semoga melalui pameran ini, jalan menuju pembangunan Museum Kebo Iwa bisa terwujud,” tekad Sohieb Toyaroja.***din

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.