Sekali Berdiri, Dua Tiga Keindahan Tersaji

 Sekali Berdiri, Dua Tiga Keindahan Tersaji
Tempat menikmati keindahan alam dari Bukit Parangtritis. Foto: Gde Mahesa

ALKISAH, Bukit Parangtritis pernah menjadi lokasi antah berantah. Sekalipun manusia lalu-lalang di dekat bukit itu, tetapi tak satu pun sudi menjamah. Bak pertapa turun dari puncak gunung, Mbah Boy mendatangi Bukit Parangtritis yang terletak di Kretek Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta lalu mengubah daerah wingit itu menjadi sebuah bukit penuh makna.

Mohamad Boy Rifai alias Mbah Boy. Foto: Gde Mahesa

Kini, Bukit Parangtritis itu dinamakan Kampung Edukasi Watu Lumbung. “Lurah”-nya Mohamad Boy Rifai, yang akrab disapa Mbah Boy. Kepada Jayakarta News, Mbah Boy mengisahkan drama babat alas yang ia lakukan di Bukit Parangtritis, hingga menjadi destinasi wisata yang diminati banyak pengunjung saat ini. “Sebelumnya saya cukup lama hidup di keglamoran dunia film dan media massa terkenal di Ibu Kota. Puncaknya saya reguk antara tahun 1977 sampai 1985,” ujar Mbah Boy mengawali kisah.

Bersamaan surutnya dunia perfilman di Tanah Air, surut pula aktivitas Mbah Boy di Jakarta. Meski tanpa ikrar suci, tetapi teguh pendirian di hati, ia ingin mengubur keglamoran kehidupan masa lalu, dan bertekad madheg pandito. Pergi meninggalkan ingar-bingar Jakarta, dan menyepi di bukit sunyi. “Bukan kok ingin menjadi tokoh spiritual, tetapi ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat, alam, dan Tuhan semesta alam,” ujar lelaki murah senyum itu.

Bak kata bijak: “niat baik akan mengalir menemukan jalannya”, maka Boy pun demikian. Seseorang yang sangat berpengaruh pada zamannya, menunjuk dan mempersilakan Bukit Parangtritis miliknya sebagai tempat “pertapaan” Boy. Seperti pepatah Jawa “tumbu ketemu tutup”, klop.

Untuk terakhir kalinya, Boy sempat menatap langit Jakarta dan mengucap selamat tinggal. Tarikh mencatat kejadian itu tahun 2003. Mantap hati melangkah menuju Yogya Kota Istimewa. Bukan di kota tepatnya. Melainkan 25 kilometer pajalanan darat ke arah pantai selatan.

Sebelum menyentuh bibir pantai Parangtritis, tepatnya di simpang Kretek (setelah jembatan), belok kiri. Anda tahu? Jalan ini sejatinya diapit oleh panorama indah. Sebelah kiri, terbujur Sungai Opak yang legendaris. Sisi sebelah kanan, sebuah bukit pegunungan yang menjulang. Boy pun mengarah ke kanan, mendaki bukit Parangtritis, tempat ia akan memulai kehidupannya yang baru sebagai Mbah Boy.

Seperti dikatakan sebelumnya, tahun 2003, belum ada yang menjamah apalagi mengelola bukit itu. Selain dikenal wingit alias angker, juga sekilas tampak tidak menjanjikan apa pun. Terbayang, betapa sulit bercocok tanam di bukit berbatu. Terbayang pula, betapa sulit menggali air bersih. Tapi bukan Boy yang punya bayangan seperti itu. Boy justru memandang bukit itu penuh cinta. “Inilah pesanggrahanku,” gumam Boy ketika itu.

Mendaki dan terus mendaki, hingga akhirnya Boy sampai di puncak bukit. Berbagai rintangan akibat tidak adanya jalur pendakian, sulitnya medan, banyaknya semak belukar, dan lain-lain, terbayar lunas ketika Boy berada di puncak sana. Dengan sekali berdiri, dua-tiga keindahan tersaji.

“Di selatan, kita memandang Pantai Parangtritis menghampar dengan deburan ombak yang luar biasa. Memandang ke utara, tampak Sungai Opak dengan air tenang yang berlimpah. Menghadap ke timur jika pagi hari, kita akan songsong terbitnya sang matahari. Menghadap ke barat jika sore hari, akan kita saksikan matahari berangkat ke peraduan,” papar Boy antusias seraya menambahkan, “jika cuaca cerah, kita dapat bonus pemandangan sangat indah dua gunung di utara sana, gunung Merapi dan Merbabu.”

Menikmati debur ombak Parangtritis dari atas bukit. Foto: Ist

Syahdan, hari ini, 15 tahun kemudian, Bukit Parangtritis berubah total di tangah Mbah Boy. Sebagai pelopor, Boy menempati bukit paling atas. Ia sudah membangun rumah kayu, dapur, dan beberapa rumah panggung lengkap dengan fasilias MCK untuk menginap para tamu. Bagian tanaman hutan, ia biarkan. “Sebab di atas sana, ada cekungan. Kalau musim hujan, berfungsi sebagai penampung air alami. Area sekeliling, juga baik untuk wisata alam, jogging track menuju puncak bukit. Saya sudah buatkan rute jalan melingkar dengan titik start dan finish yang berbeda,” urai Boy.

Di lahan yang cukup produktif, ia tanam aneka jenis sayuran dan buah-buahan serta pohon penghijauan lain. Sedang di tanah yang tandus dan tidak produktif, ia pilihkan jenis tanaman yang sesuai, di antaranya sorgum. Tanaman jenis rumput-rumputan yang masih satu keluarga dengan padi, jagung, dan gandum. Biji sorgum, mengandung karbohidrat yang sangat tinggi. Biji sorgum, bisa juga dibuat seperti pop corn dengan cita rasa yang sangat gurih.

Di Kampung Edukasi Watu Lumbung, semua makanan nyaris tidak ada yang diimpor dari luar kawasan. Dimasak di pawon tradisional khas masyarakat zaman old. “Konsepnya, sama-sama belajar tentang alam, kearifan lokal, dan budaya tradisi. Di sini semua serba sederhana dan alami,” ujar Boy.

Dari pawon tradisional, terolah menu makanan tradisional. Semua serba alami. Lezatnya tak terkira. Foto: Gde Mahesa
Buah cipluk, aneka umbi-umbian, jagung…. semua dipanen dari lahan sendiri. Foto: Gde Mahesa

Boy juga menyiapkan banyak gimmick bagi pengunjung. Baik pengunjung temporer maupun yang berniat menginap. Salah satunya, kegiatan menamam pohon di lokasi mana pun yang disuka. Untuk kegiatan itu, Boy akan membalasnya dengan kejutan yang menyenangkan sebagai bentuk apresiasi. “Ini salah satu upaya konservasi alam, agar burung-burung tak jemu berkicau sepanjang hari,” tambahnya.

Boy tidak mengelola Kampung Edukasi Watu Lumbung ala tempat wisata modern. Di sini, serba alamiah, tidak ada layanan khusus, melainkan melibatkan pengunjung secara aktif. Boleh ikut masuk dapur dan memasak. Anggap di rumah sendiri. Makan apa pun yang ada. Masak, apa pun bahan yang tersedia. “Konsep ini banyak yang suka, termasuk turis asing. Mereka mengaku senang, seolah menemukan peradaban lain yang begitu familiar, akrab satu sama lain tanpa embel-embel status sosial,” ujar Mbah Boy.

Bubu atau wuwu

Bagaimana ihwal tarif? Ah… ini pun unik. Jangan harap datang bill payment atau kuitansi tagihan. Pengunjung dipersilakan memasukkan sendiri uang ke dalam bubu atau wuwu. Bubu adalah alat penangkap sekaligus perangkap ikan (trap fish) tradisional. Nah, di lokasi Watu Lumbung, Boy menggantungkan bubu di beberapa titik dan anjungan.

Sesuai namanya Kampung Edukasi Watu Lumbung, di sini juga mengenalkan permainan tempo doeloe, mengajarkan survive di dalam hutan, menyediakan kuliner ndeso dengan wedang sereh tentunya juga makanan daerah seperti thiwul, sawut dan makanan ndeso lainnya. Buat cemilan, ada kalanya Boy menghidangkan peyek kacang, pop corn sorgum, dan lain-lain, yang semua dihasilkan dari area Watu Lumbung.

“Saya akan sangat menghargai siapa pun yang datang kemari dan menyumbang buku bekas. Bukan buku baru, sebab kalau baru pasti belum dibaca. Saya ingin buku yang sudah dibaca oleh pemiliknya. Saya akan mengapresiasi dengan memberinya kejutan,” kata Mbah Boy.

Begitulah sekilas Kampung Edukasi Watu Lumbung, selayang pandang. Saat ini, sudah cukup banyak berdiri tempat kuliner di sekitar Bukit Parangtritis. Ada yang membuatnya ala rumah pohon, ada yang membuat rumah panggung, rumah bambu, dan lain-lain. Kalau malam Minggu, tempat ini sangat ramai. Kafe-kafe tradisional di atas bukit, menjadi tempat yang sangat eksotik sekaligus romantis.

Mereka, para pengelola, adalah termasuk binaan Mbah Boy. “Saya tidak mungkin mengelola seuruh bukit ini sendirian. Saya persilakan yang ingin bergabung membangun Bukit Parangtritis ini sebagai destinasi wisata alam. Terhadap mereka, tidak saya bebani biaya sewa yang memberatkan. Konsepnya tetap kekeluargaan, tapi sepanjang memakai lahan yang berada di bawah pengawasan saya, maka saya menetapkan rambu-rambu, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Orientasinya satu, pelestarian alam dan kearifan lokal,” ujar Mbah Boy menutup perbincangan dengan Jayakarta News sambil menikmati wayah Candikolo. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *