Kabar
Sambetan sebagai Tontonan dalam Sinema
Seno Gumira Ajidarma
___________________________________
Tidak diperlukan pasca-sinema, cukup sinema interdisipliner, seperti film Para Perasuk (Wregas Bhanuteja, 2026), untuk menempatkannya pada posisi di depan dalam pencapaian sinema Indonesia. Sebuah film yang bekerja dengan koreografi, mitologi baru, dan persoalan urban.
__________________________________

yang memadu gerak bersama Roh Semut

Guru
SEMUT RANGRANG MAKAN KARANG
Penabuh
MAKAN SAYANG SAMPAI KENYANG
Kata yang sering terdengar adalah kerasukan, dan biasanya disusul kata setan – ya, kerasukan setan. Bukan perasuk, apalagi rasuk, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahkan hanya ada merasuk untuk mengganti kata rasuk. Kata yang populer, kerasukan, mungkin dianggap bahasa daerah, karena arti merasuk sama dengan kerasukan, meski kata setan digantikan oleh roh jahat.
Dalam film maupun buklet Para Perasuk, fungsi merasuk (kerasukan) tergantikan oleh sambet, bukan kesambet yang lebih sering terdengar, karena jika dalam kesambet dan kerasukan posisi manusia adalah pasip, tidak berdaya, dan tiada mampu mengendalikan diri saat anasir asing merasuk, maka dalam konteks sambet yang berlangsung adalah sambetan.
Pada sambetan posisi manusia adalah aktip, berdaya mengundang roh (yang bukan setan jahat), dan mampu mengendalikan roh tersebut dalam pengertian bekerja sama, bukan menenung atau menyantet, melainkan untuk berkesenian.
Adalah pengundang roh ini yang disebut perasuk, yang dengan begitu tidak kerasukan dan tiada pula merasuki, tetapi boleh disebut merasukkan, ketika roh yang bekerja sama itu dirasukkan kepada para pelamun dalam peristiwa kesenian yang melibatkan penonton.
Penonton yang berminat, tertarik, tergairahkan, dan memenuhi syarat dalam prosedur ritualnya akan menjadi penampil yang disebut pelamun itu. Dalam dunia sambetan, pelamun berada pada peringkat terbawah, di atasnya perasuk, dan di atasnya lagi guru yang akan mempersiapkan alam sambet, sebelum tontonan sambetan itu dimulai.
Demikianlah, sebagaimana dapat diikuti kelengkapannya dari manual resmi Para Perasuk, sambetan adalah representasi suatu budaya-bawahan (sub-culture) yang berlokasi di Desa Latas, dua jam saja dari Jakarta.
***
Fiksi di atas menjadi latar suatu kasus, bahwa mata air di Desa Latas terancam akan tergusur, padahal berfungsi sentral dalam ritual sambet, ketika para perasuk merujuknya sumber daya perasukan. Dalam posisi bertahan, tanpa mata air maka tradisi tontonan sambetan itu akan sama sekali hilang, ditelan zaman baru yang di mana-mana menggusur dan menghancurkan.
Kasus yang merentangkan alur Para Perasuk ini tampak penting, tetapi jika alur disusun ulang sebagai bingkai-bingkai lingkaran (lihat bagan), kasus penggusuran itu menjadi lingkaran terluar yang hanya berfungsi membingkai. Lingkaran terpenting jadinya adalah lingkaran terdalam sebagai pusat sekaligus sumber cerita.
Dalam konteks alur, tentunya di lingkaran terdalam itulah terdapatnya pusat roh, tempat roh bulus, roh kutu, roh lintah, dan lain-lainnya digauli para perasuk—yang merasukkan roh pilihannya ke dalam diri dalam suatu prosedur kerja sama penuh persyaratan, dalam suatu disiplin yang mutlak dipenuhi. Dari kutu sampai macan, membuat pusat roh ini menjadi metafor sentra ekosistem.
Dari pusat roh ke alam sambet, berlangsung proses kelayakan dan pematangan dengan segenap kegagalan dan keberhasilan, yang masih belum berhenti dalam peristiwa sambetan, sebagai bentuk kesenian yang dipentaskan. Memang demi dan untuk kesenian, bukan pemujaan roh-roh binatang. Lagi pula dengan kata kunci “konsentrasi”, roh binatang adalah peran dan hanya peran bagi suatu olah gerak, yang menuntut penghayatan total demi kewajaran ekspresi.

Sebagaimana konsep Teater Tanpa Penonton gagasan Danarto (1941-2018), bahwa dalam teater masa depan penonton terlibat, dilibatkan, dan melibatkan diri ke dalam pertunjukan; dalam sambetan para pelamun yang membuka diri untuk menerima kerja sama perasukan, termasuk kategori terakhir itu. Tampak purbawi, sambetan menjadi teater kontemporer, yang berbumi mitologi baru. Masa lalu dalam alur film ini bukan kebudayaan adiluhung, melainkan kegagalan ekonomi.
***
Maka bagaimanakah sambetan menjadi sebuah film? Jangan salah. Sementara Desa Latas dan kasus penggusuran di dalamnya adalah fiksi, sambetan dengan segenap faktor roh itu pun produk imajinasi, bukan hasil penelitian etnografi. Tentu fiksi itu faktual dan imajinasi itu referensial, tetapi mengajukan sambetan sebagai alternatif cara dan pilihan hidup, berikut pengungkapan dunia-dalam sambetan, yang adalah gubahan baru, menjadikan Para Perasuk suatu pengajuan wacana sinematik di depan—untuk menghindari istilah terdepan—dengan sejumlah alasan:
Pertama, Para Perasuk tidak mengambil pilihan ekstrem yang lazim, sebagai bentuk seni yang biasanya menerima risiko berjarak dari publik atas nama kebaruan; melainkan justru tergubah dalam langgam seni urban industrial yang memanfaatkan segenap aparatus sinematik secara populer. Segenap penanda adanya film sebagai media terserap dan tersamarkan (transparent immediacy) dalam penggambaran sambetan sampai adegan-adegan di pusat roh yang dominan.
Kedua, segenap gerak dalam sambetan sebagai tontonan maupun proses merasukkan diri, merupakan koreografi baru yang dengan segala kelengkapan aspek teatrikal-dramatik, musikal, literer, maupun artistik terhadirkan dalam senyawa filmis yang terbebaskan dari keterbatasan sekadar rekaman pertunjukan. Dalam Para Perasuk, kerja kamera, penyuntingan, dan efek-efek khusus, seperti spektakel perasuk dan pelamun roh kutu melompat dan bersalto dalam gerak lambat sampai langit, menjadi bagian dari koreografi, bukan di luarnya.
Ketiga, sambetan dalam Para Perasuk terhindar dari klenik umik-umik, ketika orientasi perujukan roh para binatang melulu dipersembahkan kepada estetika gerak tari—dan ini seni kontemporer—sementara gagasan roh di situ jauh dari substansial binti material. Bukan roh yang mengejawantah, melainkan gagasan. Konsentrasi yang dituntutkan, tiada lebih dan tiada kurang sama dan sebangun dengan tugas para aktornya di luar film untuk menyerap peran, bukan melalui tapa-brata, melainkan pembelajaran dan latihan.
Keempat, dalam teori psikologi analitis Carl Gustav Jung (1875-1961) terdapat psikologi mite selain psikologi mimpi, tempat hadirnya arketipe atawa bayangan purba diperbincangkan. Sering disalahmengerti sebagai bayangan-bayangan mitologis tertentu, arketipe sebetulnya kecenderungan untuk membentuk bayangan-bayangan semacam itu dari suatu motif, sebagai bayangan sadar—bukan warisan leluhur. Jadi tidak ada takhayul. Menurut Jung, kecenderungan yang instinktif itu sama nyata seperti dorongan burung-burung membangun sarang atau semut-semut menyusun rumah-rumahnya (Jung 1986, 99-100).
Salah mengerti yang sama bisa menimpa Para Perasuk, tetapi kenaifan pandangan seperti itu secara tidak langsung terantisipasi oleh gubahannya sebagai representasi budaya urban, yang tak menabukan humor, bahkan dapat ditafsir geli terhadap diri sendiri. Seperti terkesan dari susastra mantra-mantra bagi masing-masing roh seperti berikut:

Guru
KADAL LEWAT BAWAH SENDAL
Penabuh
GANJAL KAWAT SAWAH DANGKAL

Guru
CACING PANCING KUCING RUNCING
Penabuh
KRINCING KRINCING BUNYI KENCING

Guru
KUTU KASUR SARUNG KAWAT
Penabuh
BANGUN TIDUR LANGSUNG LONCAT

Guru
KUDA DINGIN MASUK ANGIN
Penabuh
BIKIN INGIN JADI RAJIN

Guru
KOTA HUTAN LINTAH
Penabuh
KITA MAKAN MENTAH-MENTAH
Tidak usah diragukan betapa terdapat semangat bercanda, yang terkadang mengambil peluang kritik sosial (“kota hutan lintah kita makan mentah-mentah”), tetapi dari paparan diksi seperti sendal, kawat, cacing pancing, sawah, dan kota, bahkan penggunaan Bahasa Indonesia itu sendiri, spekulasi warisan leluhur purba dapat ditunda—meski kesan yang didapatkan, sebagai kibul maupun karangan, konstruksi naratifnya menjulang. Para Perasuk adalah sebuah film yang merajut dan menisik disiplin seni lain untuk melebur secara mulus, ketika aparatus sinematiknya terselamur bagaikan tiada.
Kelima, sebagai produk budaya urban, tak dapat diingkari bekerjanya eksotisme: menarik karena tak dikenal publik perkotaan, antara menjauhi kemiskinan desa asal dan mencari kembali identitas budaya yang bukan sekadar luntur, melainkan harus dibangun sama sekali dari reruntuhan tradisi.
Maka dapat disaksikan bahwa dalam pengungkapan gagasan roh binatang, apabila gambar dan lirik berpasangan sebagai manifes kejenakaan; gerak tari dalam beat setara musik rock memendam pergulatan laten jiwa manusia dan roh makhluk-makhkluk, sebagai metafor keterpaduan ekologis, yang menyatu dalam ungkapan tari terbaik.
Mengingat wacana seperti ini disampaikan oleh para aktor yang bekerja tanpa perlu kerasukan, dengan peran pengolah tubuh dalam tontonan sambetan, dan para pekerja filmnya berjati diri bukan perasuk, menegaskan pencapaian estetik Para Perasuk sebagai sinema interdisipliner.
