Relawan Ajak Warga ke Garis Depan Perangi Covid-19

 Relawan Ajak Warga ke Garis Depan Perangi Covid-19

Andre Rahadian, Ketua Tim Koordinator Relawan Gugus Tugas Covid-19. (foto: BNPB)

Jayakarta News – Para dokter dan petugas medis, bukan garda terdepan penanganan wabah Covid-19. Garda terdepan adalah masyarakat itu sendiri. Para dokter justru ada di garis belakang, mengobati korban di garda terdepan.

Begitu kurang lebih statemen Kepala Gugus Tugas Covid-19, Letjen Doni Monardo beberapa waktu lalu. Sebuah pernyataan yang jika direnungkan, sangat tepat. Karenanya, kami Tim Koordinator Relawan (TKR), mengarahkan para relawan non medis bergerak ke garda terdepan.

“Tujuannya memotivasi dan memberi penyuluhan masyarakat sebagai garda terdepan perang melawan Covid-19,” ujar Koordinator Tim Relawan Gugus Tugas Covid-19, Andre Rahadian, di Jakarta, Senin (11/5/2020).

Diawali dengan kampanye tidak mudik. Sedikitnya, relawan di 90 kota sudah melakukan gerakan tersebut melalui berbagai media. Termasuk bekerjasama dengan ormas-ormas yang tergabung dalam TKR.

“Fasilitas medsos juga kami optimalkan. Salah satunya akun instragam TKR. Akun IG kami mendapat dukungan luar biasa. Penambahan follower setiap hari meningkat signifikan. Kami terus mengunggah foto dan infografis, antara lain agar masyarakat menyadari peran dan fungsinya sebagai garda terdepan penanganan Covid-19. Semakin disiplin warga, semakin cepat kita bisa mengendalikan pandemi ini,” imbuh Andre.

Mahasiswa Perantauan

TKR Gugus Tugas Covid-19 juga mengikat kerjasama dengan klaster mahasiswa, seperti Cipayung Plus, BEM DKI dan IKA UNJ. Tim relawan ini menyisir mahasiswa perantauan yang ada di Jabodetabek. Tidak sedikit di antara mereka yang terlantar.

Data TKR per Jumat (8/5/2020), Cipayung Plus melaporkan adanya 1.073 mahasiswa terlantar. Kemudian dari IKA UNJ mendata ada 354 mahasiswa. Perkumpulan Mahasiswa Flores Timur mencatat ada 183 mahasiswa yang butuh bantuan. Terakhir, BEM DKI mencatat ada 100 mahasiswa yang perlu bantuan.

Oleh TKR Gugus Tugas, semua data secepatnya diverifikasi. Mahasiswa perantauan yang sudah terverifikasi segera diberi bantuan. Para mahasiswa yang terdampak tadi, akan terus dipantau dan dibantu secara berkala oleh TKR.

Dengan demikian, setidaknya mereka bisa tenang tetap berada di Jabodetabek. Tidak berpikir untuk memaksakan diri mudik. “Bahkan kita harapkan, para mahasiswa perantauan ini ikut membantu TKR di baris terdepan, mengedukasi masayarakat sekitar agar mematuhi protokol kesehatan arahan pemerintah selama masa PSBB,” tambahnya.

Hal lain yang tengah diupayakan TKR Gugus Tugas adalah menjajagi kerjasama dengan aplikasi InaRisk. Jika sudah terealisasi, diharapkan TKR memiliki aplikasi penilaian relawan. Melalui aplikasi ini para relawan bisa dikerahkan ke level RT dan RW untuk tak bosan-bosan, tak lelah-lelah menganjurkan masyarakat untuk tetap di rumah, mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan semua protap penanganan Covid-19.

Sejauh ini, Andre Rahadian merasa dukungan media relatif belum optimal. Akibatnya, masih banyak masyarakat yang belum peduli terhadap semua arahan pemerintah dalam hal ini Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Masih banyak dijumpai warga berseliweran tanpa mengenakan masker. Masih ada satu-dua ditik manusia berkerumun. “Karenanya kami terus memproduksi flyer berisi konten edukasi kepada masyarakat. Melalui medsos juga kami sebar video edukasi masyarakat. Bahkan sedang digagas kemasan video edukasi yang menghibur. Ya, semacam edutainment,” kata Andre.

Ke depan, Andre berharap para kepala daerah atau para kepala gugus tugas daerah lebih terbuka kepada tim relawan. Diakui, masih ada beberapa relawan di daerah yang kesulitan mengakses informasi ke gugus tugas daerah. “Ini sudah kami laporkan kepada Kepala Gugus Tugas. Harapan kami kerjasama TKR dengan Gugus Tugas Daerah, sama baiknya seperti kerja sama yang kami jalin di pusat,” pungkasnya. (*/rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *