Prof Hermawan Sulistyo Bicara Kuliner: Saya Bisa Masak 40 Jenis Sambal

 Prof Hermawan Sulistyo Bicara Kuliner: Saya Bisa Masak  40 Jenis Sambal

Profesor Kikiek memamerkan koleksi kopi-kopi nusantara miliknya

Profesor Kikiek memamerkan koleksi kopi-kopi nusantara miliknya

Tidak akan menyangka, obrolan asyik mengenai kuliner akan keluar dari seorang profesor sekelas Mas Kikiek. Bukan hanya makanan kelas tinggi, tapi juga aneka sambal, telor goreng sampai resep khusus mie instan. Anda akan terpukau, berbincang dengannya mengenai kegemarannya itu, yaitu: makanan.

Kalau bagi kebanyakan orang, makanan merupakan kebutuhan, beda dengan profesor satu ini. Makanan baginya adalah kesenangan. Karena itu, katanya, “Pokoknya, jangan kasih tau saya ada makanan enak dan buku bagus, pasti saya kejar sampai dapat,” katanya sambil tertawa kepada Jayakarta News suatu sore, baru-baru ini di Kantornya yang terletak di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Hermawan Sulistyo, akrab dipanggil Mas Kikiek. Pria kelahiran Desa Geneng, Ngawi, 4 Juli 1957 ini adalah  profesor riset bidang perkembangan politik di LIPI; sejarawan bergelar doktor dari Arizona State University, Amerika Serikat; juga Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional Universitas Bhayangkara, Jakarta.

Prof Kikiek

Deretan gelar serius itu, masih diikuti karyanya yang juga serius. Bayangkan, dia menghasilkan 130 judul buku selama perjalanan karirnya yang lebih dari 40 tahun. Dari judulnya saja, bulu roma sudah bergidik bacanya.  Misalnya: Palu Arit Di Ladang Tebu (Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan,  Jombang-Kediri 1965-1966); Lawan! (Jejak-jejak Jalanan di Balik Kejatuhan Soeharto); Dari Negeri Majikan ke Negeri Pelayan (Reformasi Birokrasi Indonesia); Intercourse with Tragedy; Bom Thamrin; Serial Tempe Bernama Indonesia 1-10.

Bayangkan, kami bincang-bincang dengan seru mengenai kesukaannya itu. Bukan cuma menyantapnya, tapi juga mengolahnya alias masak sendiri di dapur.  “Tapi saya hanya masak  makanan-makanan yang saya suka saja,” ujar penggemar masakan-masakan di kawasan mediterania ini, seperti Turki dan Yunani.  Dan, karena dia menyukai sambal, maka katanya, “Saya bisa 30-40 jenis sambal masak sendiri.”

Dia langsung mencontohkan, Sambel Tempe Busuk. Untuk Sambel Tempe Busuk ini, Mas Kikiek pun punya beberapa teknik mengolahnya sehingga juga akan menghasilnya berbagai rasa nantinya.

“Ini sambelnya orang Jawa, enak banget. Tempenya bisa digoreng dulu, atau dipanggang, direbus atau dikukus. Rasanya pasti beda. Nah, bawang putihnya juga apakah mau digoreng dulu, atau mentah. Apakah  mau dikasih parutan kelapa atau tidak. Dari sambel ini saja saya bisa bikin delapan macam yang rasanya juga beda-beda.”

Dari pembicaraan mengenai sambal, Mas Kikiek lanjut mengenai masak telor ceplok atau telor mata sapi. Ini memang masakan sederhana, tapi Mas Kikiek punya resep sendiri. “Telor ceplok, taburi garam, bawang putih bubuk dan tambahkan rosemary,” paparnya sambil menambahkan, “Tapi, minyaknya jangan pakai minyak goreng biasa. Pakai minyak wijen.”  Lalu, sambil tersenyum lebar,  pria Dan 4 yang pernah menjabat sebagai  Sekjen Institut Karate-do Indonesia (PP-INKAI) ini pun  menandaskan, ”Pasti enak banget!”

Bincang-bincang ini begitu menyenangkan. Pria yang oleh Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian ini dikatakan sebagai profesor unik, ilmuwan yang berani dan tegas, tidak sedikitpun terlihat menggurui. Sangat santai dan menyenangkan.  Belum berakhir soal masakan,  Mas Kikiek pun menyakan, “Suka Indomie, nggak?” Begitu Jayakarta News bilang, suka, maka resep khususnya pun dipaparkan. Dengan semangat dia menjelaskan, “Goreng dulu telornya,  begitu mau kering, siram air, lalu cemplungin semua bumbu biar meresap, baru cemplungin mie, terakhir menjelang mateng, baru cemplungin sayurnya. Dan begitu terakhir, tambah beberapa tetes saja minyak wijen, pasti enaaak banget.”

Namun, sayang, dari 130 judul buku karyanya, belum satupun buku kuliner yang ditulis mantan Host acara kuliner di salah satu televisi swasta ini. Kenapa? “Yaahh waktu itu,  makan ya makan saja, tidak terpikir mau membuat buku kuliner,” katanya sambil tertawa.

Semoga, buku selanjutnya, buku kuliner, ya Mas Kikiek…

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *